Tahun 2014 ini pertumbuhan industri properti dinilai menurun dari tahun 2013, yang disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya seperti pemilihan umum, tingkat inflasi yang cenderung naik, serta kebijakan BI yang menetapkan aturan tentang Loan-to-Value ratio serta kenaikan suku bunga KPR dan KPA. Menyambut tahun 2015, Lamudi menyampaikan tren yang akan terjadi di industri properti di Indonesia tahun depan. Mulai dari isu pengubahan hukum kepemilikan asing, naiknya minat investor asing, hingga pertumbuhan yang diprediksi masih akan terus terjadi di tahun 2015 mendatang.
FINANCEROLL – Seiring dengan berakhinya 2014, portal properti global Lamudi melihat kepada lima kunci tren yang harus diperhatikan di pasar negara berkembang pada tahun 2015 nanti.
Perubahan hukum kepemilikan asing
Di banyak negara berkembang, orang asing dilarang membeli properti. Di Filipina misalnya, konstitusi negara melarang non-Filipino memiliki tanah, tidak beda hal nya dengan yang terjadi di tanah air sendiri. Namun demikian, banyak tanda bahwa hal ini akan berubah. 2015 akan menjadi tahun dimana negara-negara di ASEAN bergabung membentuk satu pasar bebas. Pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini diharapkan dapat meningkatkan investasi asing langsung di Indonesia dan pasar belum terjangkau lainnyadi wilayah ini, sehingga menaruh tekanan pada pembuat kebijakan untuk merubah larangan ini. Di tahun 2015, hukum kepemilikan asing juga akan menjadi fokus di negara lainnya seperti Myanmar tentang pembukaan properti sektor di negara tersebut kepada investor asing.
Kenaikan minat investor
Investasi asing langsung (Foreign Direct Investment, – FDI) di negara-negara berkembang akhir-akhir ini mencapai rekor tertingginya dan tren ini diprediksi akan terus berlanjut ke 2015. Sumbangsih Afrika dalam projek FDI global ini juga naik secara konstan dalam dekade terakhir. Laporan terakhir dari African Developmant Bank, UNDP dan Organisasi Kooperasi Ekonomi dan Perkembangan meramalkan bahwa FDI di benua ini akan mencetak rekord 80 trilliun USD pada 2014, dengan real estate sebagai kontributor utama. Pada bulan May, survey ketertarikan Afrika dari Ernst & Young menemukan bahwa projek FDI di real estate, hospitality dan sektor konstruksi telah meningkat 63 persen, membuatnya menjadi sektor kelima paling menarik bagi investor asing.
Pertumbuhan kelas menengah menaikan permintaan
Indonesia adalah salah satu negara dengan pertumbuhan kelas menengah yang signifikan. Dibalik kekuatan pertumbuhan ekonomi di negara ini, jumlah kelas menengah dan makmur Indonesia diharapkan mencapai lebih dari 140 juta orang pada 2020, menurut Boston Consulting Group. Dampak dari tren ini tidak bisa disepelekan, mengingat hal ini akan dirasakan juga di 2015. Seiring bertambah mampunya orang-orang, dan tingkat pendidikan yang lebih baik, memikirkan jenjang karir dan mempunyai daya beli yang tinggi – termasuk dalam pasar properti. Mereka cenderung membeli rumah lebih dini, menyebabkan naiknya pergantian dan permintaan bagi properti.
Internet mobile mengubah industri properti
Di seluruh negara berkembang, semakin banyak orang yang beralih ke online setiap tahunnya. Namun revolusi internet di negara-negara berkembang ini berbeda dengan digital wave yang telah lebih dulu menyerang negara maju. Bagi banyak orang di wilayah ini, akses pertama mereka ke internet adalah melalui telepon genggam atau smartphone. Tren ini paling jelas terlihat di Amerika Latin. Selama lebih dari enam bulan terakhir, lebih dari 1.1 juta kunjungan di website Lamudi Meksiko dilakukan dari telepon genggam. Di Kolombia, lebih dari setengah (51.25 persen) dari sesi baru di website Lamudi.com.co datang dari telepon genggam. Bagi mereka yang bekerja di industri real estate, ini berarti bahwa fokus pada tahun 2015 harus berpindah ke mobile untuk memasarkan properti mereka dan meraih angka maksimum dari potensial konsumer.
Pertumbuhan tinggi dan optimisme berlanjut
Di survey online terbaru yang dilakukan Lamudi, agen real estate di seluruh pasar negara berkembang memprediksikan pertumbuhan tinggi bagi sektor properti nasional di tahun mendatang. Di Arab Saudi, hampir seperempat dari agen percaya bahwa akan ada pertumbuhan dari delapan hingga 10 persen pada tahun depan. Hasil yang sama juga terlihat di wilayah lain di Asia dan Timur Tengah. Di Sri Lanka, dimana sektor real estate berkembang pesat sejak berakhirnya perang sipil, lebih dari setengah agen yang disurvey oleh Lamudi meramalkan pertumbuhan delapan persen atau lebih. Survey ini juga mencatat tingginya level optimistik di antara properti agen, dengan 65 persen broker di Pakistan, Sri Lanka, Myanmar dan juga Indonesia menjelaskan pendapat mereka secara positif untuk 2015. Optimisime di kalangan broker Filipina khususnya cukup tinggi, hampir 93 persen peserta survey merasa positf tentang tahun mendatang.
Tren Industri Properti 2015
No comments:
Post a Comment