Financeroll – Ingvar Kamprad Elmtaryd Agunnaryd (IKEA), dua penggal kata di depan adalah nama pendiri peritel mebel yang kini mendunia. Dan dua penggal kata berikutnya merujuk pada tempat kelahirannya di Swedia. Di sebuah perkampungan kecil, Selatan Swedia, enam dekade lalu Kamprad mengawali semuanya. Kini IKEA merupakan perusahaan perabotan rumah tangga raksasa, dengan gerai tersebar di 46 negara. 18 Desember lalu, gerai terbesarnya dibuka di Gwangmyeong, Korea Selatan.
Kamprad mungkin tak pernah menyangka, bahwa bisnisnya akan berkembang pesat hingga berekspansi jauh sampai ke Tangerang, pertengahan Oktober 2014 lalu. Barangkali juga sebuah kebetulan, Kamprad yang pengusaha mebel terkemuka dunia, membuka gerai tokonya yang ke 364, di sebuah negeri yang pada bulan yang sama juga melantik seorang pengusaha mebel asal Solo, sebagai presiden ketujuh, Joko Widodo (Jokowi). Meski kaya dan terkenal, keduanya hidup sederhana. Jika Joko Widodo suka makan Sate Buntel, Kamprad menggemari Swedish Meatballs, bola daging dengan saus krim gurih, khas Swedia.
Setiap gerai IKEA dibuka, selalu disambut dengan antusias. Di Indonesia, kehebohan seputar pembukaan gerai furniture ini dikabarkan oleh hampir semua media massa. Pada hari pertama, gerai dikunjungi oleh 17.000 orang, yang memadati showroom dan restoran IKEA.
Menurut Ririn Basuki, Public Relations IKEA Indonesia, meski lokasi gerai agak jauh dari pusat Jakarta, namun tidak menyurutkan langkah pengunjung untuk datang. Di akhir pekan, lokasi parkir yang menampung 1.200 mobil, selalu penuh. “Konsep IKEA yang mengedepankan bentuk, fungsi, kualitas, keberlanjutan, dan keterjaungkauan harga pada setiap produknya, dapat diterima oleh konsumen di Indonesia”, tutur Ririn.
Terkait padatnya pengunjung di akhir pekan, Melani, seorang eksekutif perusaahan di Jakarta, mengeluhkan sulitnya mencari ruang kosong di lokasi parkir, hingga memaksanya ke luar lokasi yang cukup jauh untuk menempatkan mobilnya.
Dalam beberapa waktu ke depan, IKEA belum berencana untuk membuka gerai baru di Indonesia. Pada setiap gerainya, IKEA menawarkan rangkaian produk yang dirancang dengan baik, melalui penelitian dan pengembangan, kontrol kualitas yang ketat, serta mengutamakan keberlanjutan dalam jangka panjang. Setiap produk perabot IKEA dikemas secara datar (flat), untuk memungkinkan konsep do it yourself (DIY).
Visi IKEA adalah untuk menciptakan kehidupan sehari-hari yang lebih baik bagi banyak orang dengan menawarkan produk yang dirancang dengan baik dan harga terjangkau, sehingga lebih banyak orang yang dapat membelinya, untuk menciptakan kehidupan yang lebih mudah dan menyenangkan. Dengan mendatangi gerai IKEA, pengunjung tindak hanya berbelanja, melainkan juga mendapatkan inspirasi menata rumah.
Asmindo (Asosiasi Mebel Indonesia) pernah menyampaikan, bahwa kedatangan IKEA bukanlah ancaman, melainkan berkah bagi industri furnitur Indonesia, karena produk-produknya, cara menjualnya, desain showroom-nya, gaya marketingnya harusnya bisa menginspirasi industri ini.
Di sisi lain, pemerintah sudah membuat kesepakatan dengan IKEA agar bisa memasarkan produk-produk lokal buatan asli Indonesia untuk dijual di seluruh toko IKEA di dunia. Gerai IKEA Indonesia ini menjual 7.000 jenis produk dengan merk IKEA. Dari total itu, 550 merupakan produk lokal dibawah merek IKEA.
Sejalan dengan itu, Sri Agustina, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan mengatakan, IKEA memenuhi ketentuan pengecualian dalam revisi Permendag Nomor 70 Tahun 2013. Sebagai toko modern, IKEA memerlukan keseragaman produk dan bersumber dari satu jaringan pemasaran global.
Dalam kesempatan Media Briefing, Mikael Sami, First Secretary Economic and Trade Section, Delegation of the European Union to Indonesia, Brunei Darussalam, and ASEAN menyampaikan komitmen perusahaan-perusahaan Eropa di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, untuk menjalankan bisnis dengan cara-cara yang berkesinambungan dan menunjukkan keterlibatan untuk ikut mengembangkan komunitas lokal. [geng]
IKEA: Dari Agunnaryd Hingga ke Alam Sutera
No comments:
Post a Comment