Financeroll – Pelaku usaha logistik dinilai perlu bersikap aktif menangkap potensi bisnis e-commerce yang rata-rata bertumbuh 40% per tahun.
Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan pola perdagangan dunia dan nasional telah berubah. Para konsumen banyak memanfaatkan kemudahan bertransaksi menggunakan internet. Dari segi bisnis logistik, pertumbuhan itu ditandai dengan menjamurnya warehousing (pergudangan).
Kendati pembelian melalui e-commerce di Indonesia belum mencapai 1% seluruh aktivitas jual beli rtiel di tanah air, namun tren pertumbuhan bisnis tersebut terus mengalami tren positif hingga mencapai 30%-40% per tahun.
Adapun, presentase bisnis e-commerce di Indonesia baru menyumbang 3%-4% dari total distribusi logistik nasional. Dari total distribusi e-commerce tersebut lebih banyak menggunakan jalur udara yang jauh lebih mahal ketimbang moda transportasi lain.
Kebutuhan bisnis ini luar biasa. Ke depan, tren pembelian barang melalui sistem elektronik akan terus bertumbuh lebih pesat mengingat penggunaan internet di dalam negeri akan terus terjadi, terlebih dengan acuan jumlah penduduk Indonesia yang saat ini mencapai sekitar 240 juta jiwa.
Karena itu, pertumbuhan e-commerce menjadi lahan garapan baru bagi para pelaku usaha logistik. Sayangnya, tren itu belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh pebisnis.
Pada sisi lain, potensi bisnis logistik e-commerce belum diatur secara detil oleh Kementerian Perdagangan. Misalnya, salah satunya pemerintah perlu memonitor pergerakan bisnis e-commerce di dunia, salah satunya adalah Cina yang telah menjalin kerja sama dengan Indonesia.
Jika pemerintah tidak memberikan perhatian terhadap model bisnis tersebut, bukan tidak mungkin bisnis e-commerce di dalam negeri justru merupakan barang impor.
Pelaku Usaha Logistik Harus Bersikap Aktif Menangkap Potensi Bisnis E-Commerce
No comments:
Post a Comment