Financeroll – Laju nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin (29/12) sore, bergerak melemah 23 poin menjadi Rp 12.432 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.409 per dolar AS. Indeks dolar AS masih cenderung menguat terhadap rupiah menjelang akhir tahun disebabkan oleh antisipasi pelaku pasar menghadapi kemungkinan kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS pada tahun depan.
Prospek mata uang rupiah saat ini cenderung ditentukan oleh dinamika kebijakan moneter di Amerika Serikat, khususnya menyangkut wacana kenaikan suku bunga acuan pada tahun 2015 mendatang. Di sisi lain, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal ke-3 yang meningkat sebesar 5 persen merupakan pertumbuhan kuartalan tertingi sejak 2003 lalu.
Pekan ini data ekonomi penting Amerika Serikat yang mungkin bisa menjadi market mover adalah data tingkat keyakinan konsumen dan manufaktur. Dari dalam negeri, beban defisit neraca transaksi berjalan yang ditanggung oleh pemerintah masih menjadi salah satu faktor penahan laju mata uang rupiah untuk menguat lebih tinggi.
Mendekati penghujung tahun 2014, dolar AS masih akan menunjukan penguatannya seiring dengan maraknya sentimen dari pemulihan ekonomi AS. Meski demikian, mata uang rupiah masih dalam kondisi yang stabil seiring dengan Bank Indonesia (BI) yang tetap menjaga kisaran mata uang domestik di level Rp 12.300-Rp 12.500 per dolar AS. Sementara itu, kurs tengah BI pada Senin (29/12) ini tercatat mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp 12.434 dibandingkan hari sebelumnya, Rabu (24/12) di posisi Rp 12.467 per dolar AS. [geng]
Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.432 / USD
No comments:
Post a Comment