Financeroll – Normalisasi kebijakan moneter AS berisiko bagi posisi akun transaksi modal dan finansial dalam neraca pembayaran Indonesia (NPI).
Seperti diketahui, NPI terdiri atas akun transaksi berjalan yang merekam transaksi ekspor-impor barang dan jasa, serta akun transaksi modal dan finansial yang mencatat investasi langsung maupun di pasar modal dan keuangan.
Kalau bunga di AS membaik nanti perlu diwaspadai kapital dan financial accountnya, karena itu yang selama ini membantu pembiayaan current account deficit.
Konsensus analis menyepakati the Fed mulai menaikkan suku bunganya atau Fed funds rate pada kuartal II/2015. Pada akhir tahun depan posisi suku bunga AS diproyeksikan menjadi 1,375% dari posisi saat ini 0,25%.
Sementara data dari BI selama 5 tahun terakhir menunjukkan peranan akun tersebut terhadap surplus NPI begitu besar sementara sumbangan dari ekspor-impor kian ciut. Pada 2013 surplus akun transaksi finansial tercatat US$22,71 miliar sedangkan transaksi modal surplus US$21 juta. Sementara kegiatan ekspor-impor justru menorehkan minus.
Sebelumnya Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II M. Chatib Basri juga memperingatkan pemerintah baru untuk mendahulukan stabilitas ekonomi ketimbang mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Juga dihimbau pemerintah baru untuk menetapkan defisit anggaran di bawah 2% guna meminimalisasi kebutuhan pembiayaan asing.
Peneliti dari Universitas Indonesia Athor Subroto bahkan memperkirakan BI masih berpotensi besar untuk menaikkan suku bunga acuannya untuk mengamankan stabilitas dalam negeri. Selain untuk mengatasi masalah fundamental, langkah ini juga bisa menjaga hot money tak kabur dari pasar dalam negeri yang masih dangkal.
Dalam pembahasan Rancangan APBN 2015, Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), partai pengusung Presiden Joko Widodo, mengusulkan perubahan asumsi pertumbuhan ekonomi menjadi 5,8% dari usulan dalam Nota Keuangan sebesar 5,6%.
Normalisasi Kebijakan Moneter AS Berisiko Bagi NPI
No comments:
Post a Comment