Financeroll – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus meningkatkan kerjasama internasional antara Indonesia dengan Jerman khususnya di bidang industri. Hubungan diplomatik dan ekonomi Indonesia – Jerman telah berjalan lebih dari 60 tahun, bahkan hingga saat ini hubungan bilateral semakin erat seiring semakin baiknya pertumbuhan ekonomi di kedua negara.
Hal tersebut disampaikan Menteri Perindustrian dalam sambutannya yang dibacakan Dirjen Kerja Industri Internasional (KII), Agus Tjahajana, pada acara Kunjungan Delegasi Republik Federasi Jerman di Kementerian Perindustrian, Jakarta. Acara yang dihadiri Wakil Duta Besar Republik Federasi Jerman di Indonesia H.E. Mr. Thorsten Hutter, Direktur Jenderal Kerjasama Ekonomi Kementerian Luar Negeri Republik Federasi Jerman, H.E. Mr. Dieter Heller, serta para pelaku usaha dan industri asal Jerman.
Sebelum membahas tentang potensi kerjasama di bidang industri, Agus terlebih dahulu menyampaikan tentang perkembangan kondisi makro perekonomian dan juga perkembangan sektor industri di Indonesia. Sebagaimana diketahui, Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi cukup tinggi yang konsisten selama 10 tahun terakhir.
Indonesia mampu membukukan pertumbuhan 6,3 persen pada tahun 2012 dan 5,8 persen pada tahun 2013, di saat banyak negara maju di dunia mengalami stagnasi. Pertumbuhan tersebut salah satunya dikontribusikan terutama oleh sektor industri yang mampu memberikan sumbangan sebesar 24 persen dari total PDB nasional. Selama 5 tahun terakhir yaitu periode 2010-2014, hampir seluruh cabang-cabang sektor industri pengolahan non-migas mengalami pertumbuhan positif. Bahkan kinerja 5 tahun terakhir telah menjadi unsur kekuatan sektor industri untuk lebih mempercepat laju pertumbuhan ekonomi nasional di masa yang akan datang.
Pertumbuhan industri pengolahan non-migas yang cukup signifikan tersebut ditopang oleh tingginya produksi dan kontribusi cabang-cabang industri, antara lain: industri makanan, minuman dan tembakau; industri alat angkut, mesin dan peralatannya; serta industri kimia. Cabang-cabang industri tersebut terus menjadi penggerak utama pertumbuhan sektor industri. Sementara itu, total perdagangan kedua negara pada tahun 2013 mencapai US$ 7,3 Miliar atau meningkat sekitar 0,64 persen dibanding tahun sebelumnya.
Indonesia tercatat mengalami defisit perdagangan sebesar US$ 1,5 Miliar yang meningkat 38,6 persen dibandingkan tahun 2012. Adapun impor produk industri Indonesia dari Jerman didominasi barang modal dan bahan penolong/baku khususnya di sektor industri. Sebaliknya Indonesia hanya mampu mengekspor produk hasil sumber daya alam seperti crude palm oil, biji tembaga, rempah-rempah, kayu dan olahan kayu dan karet.
Di bidang investasi, pada tahun 2013 Jerman menduduki peringkat ke 24 dengan nilai investasi US$ 53,6 Juta dan bidang usaha yang diinvestasikan di Indonesia didominasi antara lain sektor semen dan farmasi. Realisasi ini sangat jauh dari potensi Jerman secara keseluruhan. Melihat kenyataan tersebut, sebenarnya masih sangat terbuka peluang bagi industri Indonesia – Jerman untuk terus meningkatkan kerjasama. Oleh karena itu, Dirjen KII mengharapkan pertemuan ini dapat ditindak lanjuti dalam menciptakan peningkatan kerjasama Indonesia – Jerman khususnya di bidang industri dan investasi.
Dengan segala potensi yang dimiliki oleh Indonesia saat ini, baik pasar, sumber daya alam maupun tingginya pertumbuhan kelas menengah Indonesia, tidak diragukan lagi bahwa perekonomian Indonesia diproyeksikan akan terus mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi ke depannya. Saya meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi dimaksud akan semakin membuka potensi kerjasama pengembangan bidang industri baru dan juga kerjasama infrastruktur pendukung industri,” tegas Agus.
Kementerian Perindustrian mencatat beberapa potensi kerjasama industri Indonesia – Jerman yang cukup besar untuk dikembangkan kedepannya, yaitu: Pertama, Kerjasama investasi pada industri alat berat. Diharapkan kerjasama tersebut dapat mendukung pembangunan berbagai infrastruktur baru di seluruh wilayah Indonesia seperti pelabuhan, jembatan, bandar udara, dan rel kereta api.
Kedua, Kerjasama investasi pengolahan gas alam. Besarnya potensi kerjasama investasi di bidang ini, khususnya pengembangan konsep mini LNG, didukung oleh makin tingginya kebutuhan akan gas alam di Indonesia untuk mendukung sektor industri dan pembangkit energi di Indonesia.
Ketiga, Kerjasama program restrukturisasi permesinan tekstil. Diharapkan kerjasama tersebut dapat mendukung pengembangan industri tekstil nasional melalui investasi mesin dan peralatannya, serta peningkatan kapasitas infrastruktur.
Keempat, kerjasama di bidang standarisasi. Kerjasama bidang ini ditekankan kepada transfer know-how dari perusahaan/institusi Jerman kepada lembaga layanan inspeksi di Indonesia. -DT-
Indonesia Jalin Kerjasama Industri Internasional Indonesia Dengan Jerman
No comments:
Post a Comment