Financeroll – Pelemahan nilai tukar rupiah diperkirakan dapat mengancam korporasi pemilik utang valuta asing sangat besar. Dua badan usaha milik negara (BUMN) pemilik utang valas menggunung adalah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. dan PT Pertamina (Persero).
I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, Direktur Garuda Indonesia, mengatakan belum akan melakukan negosiasi utang terutama sejak terjadi pelemahan nilai tukar rupiah.
Dengan melaporan keuangan dalam dolar Amerika Serikat, jadi tidak perlu khawatir. Hanya cash flow saja yang akan kena.
Pelemahan rupiah berdampak positif bagi pencatatan neraca karena laporan keuangan GIAA dibuat dalam nominal dolar AS. Alasannya, utang rupiah tercatat lebih kecil dan rasio biaya juga lebih kecil sehingga arus kas terpengaruh positif.
Nilai tukar rupiah akan lebih stabil seperti dengan keingan perusahaan-perusahaan sejenis yang memiliki pendapatan dalam bentuk rupiah. Pasalnya, EBITDA margin diperkirakan akan tergerus apabila terus terjadi pelemahan nilai tukar.
Industri airlines pada kondisi terbaik marginnya 3%, hampir semua airlines merugi sekarang.
Garuda Indonesia memiliki utang jangka panjang per 30 September 2014 sebesar US$578,1 juta atau setara Rp6,93 triliun dari sebelumnya US$324,6 juta.
Liabilitas jangka panjang emiten berkode saham GIAA yang jatuh tempo dalam satu tahun mencapai US$255,64 juta, dan utang obligasi sebesar US$162,7 juta atau setara dengan Rp1,95 triliun.
Sementara itu, Direktur PT Pertamina (Persero) Arif Budiman mengaku belum akan melakukan negosiasi utang valas, meskipun rupiah terus melemah. Sementara ini posisi masih cukup.
Dalam laporan keuangan per Juni 2014, disebutkan utang perseroan melonjak 21,15% menjadi US$8,68 miliar, dari sebelumnya US$7,185 miliar. Aset Pertamina hingga 30 Juni 2014 mencapai US$51,91 miliar, naik dari sebelumnya US$49,34 miliar.
Total liabilitas Pertamina hingga paruh pertama tahun ini mencapai US$34,18 miliar, naik dari sebelumnya sebesar US$32,05 miliar. Sedangkan ekuitas tercatat mencapai US$17,72 miliar dari sebelumnya US$17,28 miliar.
Garuda dan Pertamina Belum Akan Negosiasi Uang Seiring Pelemahan Rupiah
No comments:
Post a Comment