Showing posts with label Pertamina. Show all posts
Showing posts with label Pertamina. Show all posts

Saturday, January 17, 2015

PT Pertamina Nyatakan Penurunan Harga BBM Untuk Luar Jawa, Madura dan Bali

Financeroll – PT Pertamina (Persero) menyatakan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Premium yang dimumukan Presiden Joko Widodo Rp6.600 per liter hanya untuk wilayah Luar Jawa, Madura, dan Bali.


VP Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan harga tersebut untuk luar Jamali yang merupakan penugasan dari pemerintah. Khusus untuk Jawa dan Madura harga mencapai Rp6.700 per liter.


“Harga tersebut khusus untuk Luar Jamali,” katanya di Jakarta.


Sementara untuk wilayah Bali harga mencapai Rp7.000 per liter karena besaran pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) mencapai 10%.


Untuk wilayah Jamali, marjin keuntungan Pertamina belum mencapai 5% atau masih di bawah ketentuan Perpres yang menetapkan marjin keuntungan 5% hingga 100%.


Selain itu, harga untuk Luar Jawa juga masih marjin usaha perseroan masih di bawah 2%. Tujuannya agar perbedaan antara Jawa dan Luar Jawa tidak banyak.


Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo baru saja mengumumkan penurunan harga baru BBM sebagai konsekuensi pencabutan subsidi seiring merosotnya harga minyak dunia.


Premium turun dari Rp7.600 menjadi Rp6.600 per liter, sementara harga solar turun dari Rp7.250 per liter menjadi Rp6.400 per liter. Harga tersebut mulai diberlakukan pada Senin (19/1/2015).



PT Pertamina Nyatakan Penurunan Harga BBM Untuk Luar Jawa, Madura dan Bali

Friday, January 16, 2015

PT Pertamina Akan Menurunkan Harga Gas Elpiji 12 Kg Jadi Rp3.600 Pertabung

Financeroll – PT Pertamina (Persero) akan menurunkan harga elpiji kemasan tabung 12 kg sebesar Rp3.600 per tabung atau Rp300 per kg.


Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Bambang di Jakarta, mengatakan akan menurunkan harga elpiji 12 kg.


Pertamina mendapat arahan pemerintah untuk menurunkan harga elpiji menyusul penurunan harga di pasar internasional.


Pemerintah minta agar yang penting tidak rugi.


Penurunan Rp300 per kg tersebut setara dengan keuntungan yang didapat pascakenaikan 2 Januari 2015.


Kalau kemarin masih untung Rp300 per kg, maka harga elpiji 12 kg yang akan dikurangi Rp3.600 per tabung.


Penurunan harga elpiji tidak bisa disamakan dengan BBM.


Harga elpiji ini sebelumnya rugi, sehingga penurunan tidak bisa banyak agar tidak rugi lagi.


Sebelumnya, Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan pemerintah akan mengumumkan penurunan harga BBM dan elpiji pada Jumat (16/1/2015). Penurunan tersebut merespons harga minyak dan elpiji yang turun.



PT Pertamina Akan Menurunkan Harga Gas Elpiji 12 Kg Jadi Rp3.600 Pertabung

Tuesday, January 6, 2015

Kebijakan Penaikan Harga Elpiji Tidak Berdampak Pada Ruang Fiskal

Financeroll – Kebijakan penaikan harga elpiji 12 kilogram sebesar Rp18.000 yang dilakukan oleh Pertamina tidak berdampak pada ruang fiskal pemerintah.


Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan pemerintah tidak mendapatkan untung apa-apa sehubungan dengan langkah perusahaan minyak negara tersebut.


Pemerintah tidak ada untung. Yang ada selama ini Pertamina mensubsidi tanpa dibiayai untuk yang sebenarnya bukan barang subsidi.


Elpiji 12 kilogram merupakan produk komersil sehingga tidak mendapat alokasi subsidi energi dari pemerintah.


Lalu Pertamina menaikkan harga karena untuk mengejar harga keekonomian di tengah penurunan harga gas dunia.


Harga keekonomian turun sekaligus sekarang dengan harga gas menurun.


Direktur Pemasaran PT Pertamina Ahmad Bambang sebelumnya mengatakan sesuai dengan peta jalan, perseroan menaikkan harga elpiji nonsubsidi untuk menekan kerugian.


Pertamina rugi US$340 juta dari elpiji 12 kilogram selama Januari-November 2014.


Harga patokan liquefied petroleum gas (LPG) internasional atau Saudi Aramco Contract Price terus menurun seiring dengan merosotnya harga minyak dunia.


Bila penurunan harga LPG terus terjadi, diprediksi kenaikan elpiji 12 kg tidak perlu dilakukan dua kali pada tahun ini untuk mengejar harga keekonomian.


Sebelumnya Pertamina juga menaikkan harga elpiji 12 kilogram Rp1.500 per kilogram pada September 2014.



Kebijakan Penaikan Harga Elpiji Tidak Berdampak Pada Ruang Fiskal

Friday, January 2, 2015

Harga Avtur Pun Ikut Turun 7%-8%

Financeroll – Harga avtur Pertamina peride 1—14 Januari 2015 mengalami penurunan 7%—8% dibandingkan dengan harga periode sebelumnya 15—31 Desember 2014.


Daftar harga di laman Pertamina.com menunjukkan harga avtur di Bandara Soekarno—Hatta untuk penerbangan domestik dipatok Rp8.239,41/liter atau turun 8,2% dibandingkan periode 15—21 Desember 2014 yang dipatok Rp8.978,42. Adapun, untuk penerbangan internasional Pertamina mematok harga US$59,4/liter.


Sementara itu, harga avtur di Bandara Hasanuddin Makassar ditetapkan Rp9.342,41/liter atau turun 7,2% dibandingkan periode dua pekan sebelumnya. Sementara itu, harga avtur untuk penerbangan internasional di bandara ibukota provinsi Sulawesi Selatan tersebut dipatok US$67,40/liter.


Sementara itu, harga avtur tertinggi dipatok untuk beberapa bandara di wilayah Papua. Harga avtur di Bandara Frans Kaisiepo Biak, misalnya, dipatok Rp10.114,51/liter untuk penerbangan domestik dan US$72,90/liter untuk penerbangan internasional.


Berikut harga avtur periode 1—14 Januari 2015 di 8 bandara utama di Tanah Air.


Harga Avtur Pertamina Periode 1—14 Januari 2015 di Bandara Utama


(Harga/liter berdasarkan penerbangan)





























BandaraInternasionalDomestik
Soekarno—HattaUS$59,40Rp8.239,41
Sepinggan BalikpapanUS$64,40Rp 8.934,30
Kualanamu MedanUS$64,90Rp 9.000,48
Frans Kaisiepo BiakUS$72,90Rp10.114,51
Hasanuddin MakassarUS$67,40Rp 9.342,41
Pattimura AmbonUS$72,90Rp 10.114,51
Lombok InternationalUS$69,40Rp 9.629,19
Ngurah RaiUS$63,40Rp 8.790,91

Harga Avtur Pun Ikut Turun 7%-8%

Thursday, January 1, 2015

PT Pertamina Pastikan Harga LPG 12 Kilogram Naik Rp1.500

Financeroll – PT Pertamina (Persero) memastikan harga elpiji 12 kilogram akan naik Rp18.000 pada Januari 2015.


Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang mengatakan perseroan akan menaikkan harga elpiji ukuran 12 kilogram pada Januari mendatang Rp1.500 per kilogram sesuai dengan peta jalan (roadmap) yang telah ditetapkan.


“Januari lah, kalau harganya segitu terus kami rugi,” katanya seusai Konferensi Pers Kinerja 2014 dan Rencana Kinerja 2015 di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta.


Namun, tidak disebutkan tanggal berapa kenaikan harga elpiji 12 kilogram akan diberlakukan. Saat ini harga patokan liquefied petroleum gas (LPG) internasional atau Saudi Aramco Contract Price terus menurun seiring dengan merosotnya harga minyak dunia.


Meskipun turun perusahaan masih mengalami kerugian dari bisnis penjualan elpiji 12 kilogram. Namun, jika penurunan harga LPG terus terjadi, maka diprediksi kenaikan tidak perlu dilakukan selama dua kali sepanjang 2015.


Sekarang cukup dinaikkan sekali sudah bisa untung.



PT Pertamina Pastikan Harga LPG 12 Kilogram Naik Rp1.500

Wednesday, December 17, 2014

Garuda dan Pertamina Belum Akan Negosiasi Uang Seiring Pelemahan Rupiah

Financeroll – Pelemahan nilai tukar rupiah diperkirakan dapat mengancam korporasi pemilik utang valuta asing sangat besar. Dua badan usaha milik negara (BUMN) pemilik utang valas menggunung adalah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. dan PT Pertamina (Persero).


I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, Direktur Garuda Indonesia, mengatakan belum akan melakukan negosiasi utang terutama sejak terjadi pelemahan nilai tukar rupiah.


Dengan melaporan keuangan dalam dolar Amerika Serikat, jadi tidak perlu khawatir. Hanya cash flow saja yang akan kena.


Pelemahan rupiah berdampak positif bagi pencatatan neraca karena laporan keuangan GIAA dibuat dalam nominal dolar AS. Alasannya, utang rupiah tercatat lebih kecil dan rasio biaya juga lebih kecil sehingga arus kas terpengaruh positif.


Nilai tukar rupiah akan lebih stabil seperti dengan keingan perusahaan-perusahaan sejenis yang memiliki pendapatan dalam bentuk rupiah. Pasalnya, EBITDA margin diperkirakan akan tergerus apabila terus terjadi pelemahan nilai tukar.


Industri airlines pada kondisi terbaik marginnya 3%, hampir semua airlines merugi sekarang.


Garuda Indonesia memiliki utang jangka panjang per 30 September 2014 sebesar US$578,1 juta atau setara Rp6,93 triliun dari sebelumnya US$324,6 juta.


Liabilitas jangka panjang emiten berkode saham GIAA yang jatuh tempo dalam satu tahun mencapai US$255,64 juta, dan utang obligasi sebesar US$162,7 juta atau setara dengan Rp1,95 triliun.


Sementara itu, Direktur PT Pertamina (Persero) Arif Budiman mengaku belum akan melakukan negosiasi utang valas, meskipun rupiah terus melemah. Sementara ini posisi masih cukup.


Dalam laporan keuangan per Juni 2014, disebutkan utang perseroan melonjak 21,15% menjadi US$8,68 miliar, dari sebelumnya US$7,185 miliar. Aset Pertamina hingga 30 Juni 2014 mencapai US$51,91 miliar, naik dari sebelumnya US$49,34 miliar.


Total liabilitas Pertamina hingga paruh pertama tahun ini mencapai US$34,18 miliar, naik dari sebelumnya sebesar US$32,05 miliar. Sedangkan ekuitas tercatat mencapai US$17,72 miliar dari sebelumnya US$17,28 miliar.



Garuda dan Pertamina Belum Akan Negosiasi Uang Seiring Pelemahan Rupiah

Saturday, December 6, 2014

Pinjaman Valuta Asing PT Pertamina Senilai US$1,6 Miliar

Financeroll – Perusahaan minyak dan gas pelat merah PT Pertamina (Persero) mengantongi pinjaman valuta asing senilai US$1,8 miliar setara dengan Rp21,6 triliun dari sindikasi 12 perbankan lokal dan luar negeri.


Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Mariani Soemarno menegaskan proses perolehan pinjaman valas tersebut telah diajukan sejak dirinya belum menjabat sebagai menteri. Pertamina mengajukan izin penerbitan global bond kepada Dahlan Iskan, menteri BUMN saat itu.


“Prosesnya sudah sejak sebelum saya menjadi menteri, itu proses sudah dari sebelumnya,” ungkapnya disela-sela acara BUMN menanam 3.000 pohon di Kanal Banjir Timur (KBT).


Pertamina meraih pinjaman senilai US$1,8 miliar dengan jangka waktu 5 tahun pada Oktober lalu. Fasilitas pinjaman sindikasi 12 perbankan itu secara resmi ditandatangani pada 18 November 2014.


Pinjaman tersebut terbagi dua, yakni sebesar US$500 juta merupakan onshore, dan sisanya senilai US$1,3 miliar adalah offshore secara bertahap.


Sejak awal tahun, Pertamina memang berencana untuk menerbitkan global medium-term notes (GMTN) senilai US$2,5 miliar untuk mendukung pengembangan bisnis tahun ini. Rencana itu kemudian dievaluasi pada pertengahan tahun.


Proses perizinan juga telah diajukan kepada Menteri BUMN saat itu. Dahlan Iskan telah memberikan restu atas penerbitan surat utang global jangka menengah milik perusahaan migas pemerintah tersebut.


Ketika itu, Moody’s Investor Service menegaskan peringkat Baa3 kepada Pertamina dengan outlook stabil. Moody’s juga menegaskan rating provisional Baa3 terhadap global medium-term notes milik Pertamina.


Meski Pertamina telah meraup fasilitas pinjaman berupa dana dari luar negeri, Rini menegaskan, perolehan tersebut tidak dapat serta merta digunakan. Dia meminta direksi Pertamina yang baru, yakni Dirut Dwi Soetjipto, untuk melaporkan rencana penggunan dana hasil global bond itu.


Sebelum fasilitas pinjaman itu digunakan, pemerintah meminta manajemen yang baru untuk menjelaskan secara rinci. Kemudian, nantinya akan dilakukan koordinasi dengan kementerian teknis lainya.


Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) Pertamina pada 2015 mendatang harus sejalan dengan program-program yang telah dicangkan oleh pemerinah.


Selain itu, Rini juga akan melakukan evaluasi secara menyeluruh utang Valas maupun rupiah yang dimiliki oleh Pertamina. Dia berharap Dwi Soetjipto sebagai dirut, dan tiga direksi lainnya mampu dan siap mengemban amanah tersebut.


“Saya meminta secara menyeluruh, yang sudah terpakai untuk apa saja, dan yang belum terpakai rencananya akan dipakai untuk apa saja, saya akan review semua,” jelasnya.


Dalam laporan keuangan Pertamina per Juni 2014, disebutkan utang Pertamina melonjak 21,15% menjadi US$8,68 miliar, dari sebelumnya US$7,185 miliar. Aset Pertamina hingga 30 Juni 2014 mencapai US$51,91 miliar, naik dari sebelumnya US$49,34 miliar.


Total liabilitas Pertamina hingga paruh pertama tahun ini mencapai US$34,18 miliar, naik dari sebelumnya sebesar US$32,05 miliar. Sedangkan ekuitas tercatat mencapai US$17,72 miliar dari sebelumnya US$17,28 miliar.


Per semester I/2014, Pertamina meraup penjualan dan pendapatan lain sebesar US$36,73 miliar, naik bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$34,64 miliar. Sedangkan laba bersih tercatat mencapai US$1,13 miliar, turun dari periode yang sama tahun lalu US$1,48 miliar.



Pinjaman Valuta Asing PT Pertamina Senilai US$1,6 Miliar