Showing posts with label Pelemahan rupiah. Show all posts
Showing posts with label Pelemahan rupiah. Show all posts

Wednesday, December 17, 2014

Garuda dan Pertamina Belum Akan Negosiasi Uang Seiring Pelemahan Rupiah

Financeroll – Pelemahan nilai tukar rupiah diperkirakan dapat mengancam korporasi pemilik utang valuta asing sangat besar. Dua badan usaha milik negara (BUMN) pemilik utang valas menggunung adalah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. dan PT Pertamina (Persero).


I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, Direktur Garuda Indonesia, mengatakan belum akan melakukan negosiasi utang terutama sejak terjadi pelemahan nilai tukar rupiah.


Dengan melaporan keuangan dalam dolar Amerika Serikat, jadi tidak perlu khawatir. Hanya cash flow saja yang akan kena.


Pelemahan rupiah berdampak positif bagi pencatatan neraca karena laporan keuangan GIAA dibuat dalam nominal dolar AS. Alasannya, utang rupiah tercatat lebih kecil dan rasio biaya juga lebih kecil sehingga arus kas terpengaruh positif.


Nilai tukar rupiah akan lebih stabil seperti dengan keingan perusahaan-perusahaan sejenis yang memiliki pendapatan dalam bentuk rupiah. Pasalnya, EBITDA margin diperkirakan akan tergerus apabila terus terjadi pelemahan nilai tukar.


Industri airlines pada kondisi terbaik marginnya 3%, hampir semua airlines merugi sekarang.


Garuda Indonesia memiliki utang jangka panjang per 30 September 2014 sebesar US$578,1 juta atau setara Rp6,93 triliun dari sebelumnya US$324,6 juta.


Liabilitas jangka panjang emiten berkode saham GIAA yang jatuh tempo dalam satu tahun mencapai US$255,64 juta, dan utang obligasi sebesar US$162,7 juta atau setara dengan Rp1,95 triliun.


Sementara itu, Direktur PT Pertamina (Persero) Arif Budiman mengaku belum akan melakukan negosiasi utang valas, meskipun rupiah terus melemah. Sementara ini posisi masih cukup.


Dalam laporan keuangan per Juni 2014, disebutkan utang perseroan melonjak 21,15% menjadi US$8,68 miliar, dari sebelumnya US$7,185 miliar. Aset Pertamina hingga 30 Juni 2014 mencapai US$51,91 miliar, naik dari sebelumnya US$49,34 miliar.


Total liabilitas Pertamina hingga paruh pertama tahun ini mencapai US$34,18 miliar, naik dari sebelumnya sebesar US$32,05 miliar. Sedangkan ekuitas tercatat mencapai US$17,72 miliar dari sebelumnya US$17,28 miliar.



Garuda dan Pertamina Belum Akan Negosiasi Uang Seiring Pelemahan Rupiah

Saturday, October 18, 2014

Pelemahan Rupiah Didorong Merosotnya Harga Minyak Dunia

Financeroll – Menteri Keuangan Chatib Basri menilai pelemahan rupiah tidak akan berdampak besar pada keseimbangan fiskal.


Pengaruh perubahan nilai rupiah pada APBN bisa diimbangi oleh merosotnya harga minyak dunia di pasar global.


Chatib menjelaskan minyak dunia saat ini berada pada titik harga yang sangat rendah. Harga minyak yang rendah mampu mengurangi beban subsidi energi dalam APBN-P 2014.


Harga Brent yang sempat turun ke level US$87 per barel, terendah sejak 2007, sebagai indikator penurunan harga minyak dunia.


Ada beban APBN tentu, tapi di sisi lain harga minyak turun, jadi harus hitung nett-nya berapa.


Kondisi itu membuat Chatib yakin nilai tukar rupiah yang saat ini telah melalui Rp12.200 per dolar AS tidak akan mendongkrak defisit APBN-P 2014 melampaui batas.


Anggaran sampai akhir tahun mestinya sih oke, yang nanti dilihat adalah nanti pada 2015. Tapi bisa jadi pemerintahan baru nanti tahu langkahnya.


Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan mengatakan pemerintah baru memiliki beberapa opsi untuk mengurangi tekanan penurunan rupiah pada perekonomian tahun depan.


Salah satu opsi utama, lanjutnya, adalah perubahan harga BBM bersubsidi. Namun kebijakan penaikan harga BBM bersubsidi harus diiringi oleh kebijakan mengurangi tekanan inflasi.


Inflasi yang terlalu tinggi akan memaksa Bank Indonesia menaikkan suku bunga. Suku bunga yang tinggi justru meningkatkan beban perekonomian domestik melalui kenaikan biaya pinjaman.


Selain itu, kenaikan inflasi juga mendorong kelompok buruh untuk bergerak ke jalan menuntut kenaikan upah minimum.


Sektor riil juga hadapi tekanan, daya beli masyarakat akibat penyesuaian BBM, biaya kredit tinggi, dan ketiga biaya upah buruh. Ini mesti diperhatikan.



Pelemahan Rupiah Didorong Merosotnya Harga Minyak Dunia