Financeroll – Menteri Keuangan Chatib Basri menilai pelemahan rupiah tidak akan berdampak besar pada keseimbangan fiskal.
Pengaruh perubahan nilai rupiah pada APBN bisa diimbangi oleh merosotnya harga minyak dunia di pasar global.
Chatib menjelaskan minyak dunia saat ini berada pada titik harga yang sangat rendah. Harga minyak yang rendah mampu mengurangi beban subsidi energi dalam APBN-P 2014.
Harga Brent yang sempat turun ke level US$87 per barel, terendah sejak 2007, sebagai indikator penurunan harga minyak dunia.
Ada beban APBN tentu, tapi di sisi lain harga minyak turun, jadi harus hitung nett-nya berapa.
Kondisi itu membuat Chatib yakin nilai tukar rupiah yang saat ini telah melalui Rp12.200 per dolar AS tidak akan mendongkrak defisit APBN-P 2014 melampaui batas.
Anggaran sampai akhir tahun mestinya sih oke, yang nanti dilihat adalah nanti pada 2015. Tapi bisa jadi pemerintahan baru nanti tahu langkahnya.
Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan mengatakan pemerintah baru memiliki beberapa opsi untuk mengurangi tekanan penurunan rupiah pada perekonomian tahun depan.
Salah satu opsi utama, lanjutnya, adalah perubahan harga BBM bersubsidi. Namun kebijakan penaikan harga BBM bersubsidi harus diiringi oleh kebijakan mengurangi tekanan inflasi.
Inflasi yang terlalu tinggi akan memaksa Bank Indonesia menaikkan suku bunga. Suku bunga yang tinggi justru meningkatkan beban perekonomian domestik melalui kenaikan biaya pinjaman.
Selain itu, kenaikan inflasi juga mendorong kelompok buruh untuk bergerak ke jalan menuntut kenaikan upah minimum.
Sektor riil juga hadapi tekanan, daya beli masyarakat akibat penyesuaian BBM, biaya kredit tinggi, dan ketiga biaya upah buruh. Ini mesti diperhatikan.
Pelemahan Rupiah Didorong Merosotnya Harga Minyak Dunia