Showing posts with label Nilai Tukar Rupiah. Show all posts
Showing posts with label Nilai Tukar Rupiah. Show all posts

Tuesday, January 20, 2015

Investor Aktif Bertransaksi, Pasar uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll  - Pada perdagangan Selasa (20/1) nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta  sore bergerak melemah dua poin menjadi Rp 12.592 dibanding sebelumnya di posisi Rp 12.590 per dolar AS.  Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 13 poin, balik arah ke zona hijau berkat aksi beli investor domestik. Dana asing Rp 337 miliar mengalir keluar lantai bursa, total sudah Rp 2,7 triliun sejak awal tahun.  Setelah naik sampai ke 5.162, Indeks langsung terkena koreksi.


Produk domestik bruto (PDB) tahunan Tiongkok tumbuh 7,3 persen pada kuartal ke-4 2014, lebih tinggi dari estimasi 7,2 persen.   Produksi industri Tiongkok meningkat 7,9 persen untuk bulan Desember 2014, lebih baik dari prediksi kenaikan 7,4 persen.  Tiongkok yang merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia itu menjadi salah satu penopang bagi mata uang Rupiah sehingga tidak tertekan lebih dalam terhadap dolar AS.  Keputusan pemerintah Indonesia yang kembali menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi serta menurunkan harga elpiji 12 Kg dan semen dapat meredakan kecemasan atas ancaman perlambatan ekonomi Indonesia.


Meski demikian,  sentimen dari bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) masih cukup kuat masih membebani laju rupiah. Federal Reserve telah memberi sinyal untuk mulai menaikan suku bunga tahun ini, hal itu berbeda dengan kebijakan negara maju lainnya.  Pada minggu lalu, bank sentral Swiss telah memberlakukan suku bunga negatif 0,75 persen dan kebijakan ini juga diikuti oleh bank sentral Denmark yang kemarin menurunkan suku bunga depositonya menjadi minus 0,2 persen.  Kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa (20/1) ini tercatat mata uang rupiah bergerak melemah menjadi Rp 12.659 dibanding hari sebelumnya, Senin (19/1) di posisi Rp 12.612 per dolar AS.


Dari bursa saham, menutup perdagangan Sesi I, IHSG melemah 25,705 poin (0,50%) ke level 5.126,388 terkena tekanan jual investor asing. Indeks menjadi satu-satunya yang ‘merah’ di antara bursa Asia yang kompak menguat.  Investor domestik masih jadi penggerak bursa sejak awal tahun ini dengan konsisten membeli saham. Sedangkan investor asing belum berhenti melepas saham.  Tercatat aksi beli investor domestik di saham-saham unggulan berhasil membawa Indeks balik arah ke zona hijau jelang penutupan perdagangan.


Pada akhir  perdagangan, Selasa (20/1), IHSG menguat 13,997 poin (0,27%) ke level 5.166,090. Sementara Indeks LQ45 naik 3,636 poin (0,41%) ke level 890,900.  Transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 337,631 miliar di pasar reguler dan negosiasi.  Perdagangan hari ini berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 232.303 kali dengan volume 5,987 miliar lembar saham senilai Rp 6,269 triliun. Sebanyak 110 saham naik, 169 turun, dan 101 saham stagnan.


Sementara bursa-bursa regional akhirnya bergerak kompak menguat hingga penutupan perdagangan hari ini. Ekonomi Tiongkok yang tumbuh lambat tidak jadi penghambat laju bursa regional.  Berikut situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 melonjak 352,01 poin (2,07%) ke level 17.366,30, Indeks Hang Seng naik 212,67 poin (0,90%) ke level 23.951,16, Indeks Komposit Shanghai menanjak 56,70 poin (1,82%) ke level 3.173,05, dan  Indeks Straits Times menguat 23,76 poin (0,72%) ke level 3.331,46. [geng]



Investor Aktif Bertransaksi, Pasar uang Domestik Bergerak Variatif

Monday, January 19, 2015

Nantikan Sentimen Penggerak, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll - Pada perdagangan Senin (19/1) pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pagi hingga siang, bergerak melemah sebesar 13 poin menjadi Rp 12.603 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.590 per dolar AS.  Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan awal pekan dengan naik tipis 3 poin. Investor domestik menahan IHSG dengan aksi beli di saham unggulan. Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG naik tipis 3,780 poin (0,07%) ke level 5.152,159.


Penurunan harga BBM itu diperkirakan membuat laju inflasi menurun sehingga dapat menjadi sentimen positif bagi rupiah. Namun ekspektasi penurunan inflasi itu sejauh ini hanya mampu mengangkat performa di pasar surat utang negara (SUN) bertenor 10 tahun.  Tekanan rupiah terhadap dolar AS diperkirakan masih bertahan.  Potensi penguatan mata uang rupiah masih ada, namun tetap perlu mewaspadai setiap sentimen negatif yang muncul.  Pasca rilis penurunan harga bahan bakar minyak subsidi hingga harga semen masih berpotensi untuk mendukung rupiah untuk berbalik positif.


Nantinya imbas penurunan tersebut akan dapat membuat harga-harga sejumlah bahan pokok menurun sehingga inflasi dapat dikendalikan.  Di sisi lain,  Bank Indonesia (BI)  yang mempertahankan tingkat suku bunga acauan (BI rate) di level 7,75% masih akan direspon positif seiring tidak terlalu reaktifnya BI menanggapi sentimen yang ada.


Dari bursa saham,  Indeks  sempat naik sampai ke titik tertingginya di 5.171 tapi hanya bertahan sebentar karena aksi jual masih marak.  Menutup perdagangan Sesi I, IHSG menipis 0,261 poin (0,01%) ke level 5.148,118. Investor domestik tak kuat mengimbangi aksi jual investor asing.  Sejumlah saham lapis dua yang terkena aksi jual investor asing. Tiga sektor akhirnya melemah, yaitu sektor industri dasar, infrastruktur, dan agrikultur.  Pada akhir perdagangan awal pekan, Senin (19/1), IHSG ditutup menguat tipis 3,714 poin (0,07%) ke level 5.152,093. Sementara Indeks unggulan LQ45 ditutup naik tipis 0,921 poin (0,10%) ke level 887,264.


Tercatat transaksi investor asing sampai sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 705,79 miliar di pasar reguler dan negosiasi.  Perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 228.222 kali dengan volume 6,355 miliar lembar saham senilai Rp 5,805 triliun. Sebanyak 136 saham naik, 141 turun, dan 95 saham stagnan.


Di sisi lain, pasar saham Tiongkok anjlok sangat dalam setelah pemerintah setempat menghentikan perdagangan tiga broker terbesarnya untuk investigasi soal transaksi marjin yang berisiko tinggi.  Bursa-bursa Asia lainnya masih bisa menguat didorong oleh sentimen positif dari Wall Street semalam, seperti pasar saham Jepang dan Singapura.


Sementara situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 naik 150,13 poin (0,89%) ke level 17.014,29, Indeks Hang Seng anjlok 365,03 poin (1,51%) ke level 23.738,49, Indeks Komposit Shanghai terjun bebas 260,14 poin (7,70%) ke level 3.116,35, dan  Indeks Straits Times menguat 5,26 poin (0,16%) ke level 3.305,94. [geng]


 



Nantikan Sentimen Penggerak, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Saturday, January 17, 2015

Nantikan Sentimen Penggerak, Pasar Uang Domestik Melambat

Financeroll – Pada perdagangan akhir pekan, Jumat (16/1) nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta hingga siang  melemah sebesar 16 poin menjadi Rp 12.564 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.548 per dolar AS.  Sementara pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun  40 poin mengikuti koreksi pasar saham lainnya di Asia. Investor khawatir rendahnya harga minyak dunia akan menggerus pertumbuhan ekonomi dunia.  Indeks masih bergerak dalam rentang tipis.


Investor melihat langkah SNB itu sebagai sinyal bahwa Swiss cemas dengan perekonomiannya dan Eropa.  Di sisi lain, lanjut dia, merebaknya kecemasan atas perekonomian dunia juga cukup membebani kinerja rupiah di awal sesi Asia. Ketua Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde menyatakan aktivitas investasi dan konsumsi di banyak perekonomian cukup lemah, termasuk di Tiongkok.


Sikap Bank Indonesia (BI) yang masih mempertahankan level suku bunga acuan (BI rate) mungkin dapat meredam potensi pelemahan rupiah yang berlebih. Bank Indonesia, pada Kamis  (15/1) tetap mempertahankan suku bunga di level 7,75 persen. Kebijakan suku bunga yang tinggi tersebut masih dibutuhkan untuk meredam inflasi dan membantu perbaikan defisit neraca transaksi berjalan.   Mata uang rupiah masih berada dalam sentimen pelemahan, diperkirakan pergerakan rupiah di kisaran Rp 12.520-Rp 12.615 per dolar AS pada akhir pekan ini (Jumat, 16/1) ini.


Pengamat pasar uang dari Bank Himpunan Saudara, Rully Nova menambahkan bahwa level BI rate itu menandakan tingkat inflasi masih sesuai dengan ekspektasi dan masih sesuai dalam menjaga fundamental ekonomi Indonesia di tengah melambatnya perekonomian global.  Masih adanya ekspektasi positif akan menopang rupiah tidak tertekan terlalu dalam.


Dari bursa saham, mengakhiri perdagangan Sesi I, IHSG turun tipis 1,624 poin (0,03%) ke level 5.187,088. Pelaku pasar masih lakukan aksi wait and see menanti kejelasan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).  Aksi jual malah semakin ramai terjadi setelah pengumuman turunnya harga BBM. Indeks langsung meluncur ke titik terendahnya.  Menutup  perdagangan akhir pekan   IHSG anjlok 40,333 poin (0,78%) ke level 5.148,379. Sementara Indeks LQ45 jatuh 7,342 poin (0,82%) ke level 886,343.  Saham-saham unggulan dan lapis dua langsung jadi sasaran aksi jual. Pemodal asing paling semangat melepas saham.


Tercatat transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp miliar di seluruh pasar.  Perdagangan hari ini berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 246.477 kali dengan volume 5,32 miliar lembar saham senilai Rp 5,573 triliun. Sebanyak 83 saham naik, 203 turun, dan 94 saham stagnan.


Bursa saham Tiongkok mencuat sendirian dengan penguatan lebih dari satu persen sementara bursa Asia lainnya terjebak di zona merah. Lemahnya harga minyak dunia dikhawatirkan menggerus pertumbuhan ekonomi global.  Berikut situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 anjlok 244,54 poin (1,43%) ke level 16.864,16, Indeks Hang Seng jatuh 247,39 poin (1,02%) ke level 24.103,52, Indeks Komposit Shanghai melonjak 40,04 poin (1,20%) ke level 3.376,50, dan  Indeks Straits Times amblas 42,57 poin (1,27%) ke level 3.296,27. [geng]



Nantikan Sentimen Penggerak, Pasar Uang Domestik Melambat

Thursday, January 15, 2015

Rupiah Menguat ke Posisi Rp 12.545 / USD

Financeroll - Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Kamis (15/1) sore, bergerak menguat sebesar 35 poin menjadi Rp 12.545 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.580 per dolar AS.  Ekspektasi pelaku pasar Bank Indonesia akan mempertahankan level tingkat suku bunga acuan (BI rate) di level 7,75%, itu menjadi salah satu penopang mata uang rupiah.


Level BI rate itu menandakan tingkat inflasi masih sesuai dengan ekspektasi dan masih sesuai dalam menjaga fundamental ekonomi Indonesia di tengah melambatnya perekonomian global.  Di sisi lain,  optimisme investor terhadap prospek investasi di Indonesia juga terlihat masih tinggi menyusul hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) oleh pemerintah Indonesia yang mengalami kelebihan permintaan. Situasi itu juga memberikan dukungan bagi stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.


Meski demikian, penguatan rupiah terhadap dolar AS masih cenderung tertahan menyusul neraca transaksi berjalan Indonesia yang masih tercatat defisit.  Dalam jangka menengah-panjang pergerakan rupiah akan sejalan mengikuiti fundamentalnya, salah satu acuannya yakni data neraca transaksi berjalan.


Sementara itu, data penjualan ritel Amerika Serikat tadi malam telah memgurangi kekhawatiran pasar akan prospek kenaikan suku bunga AS (Fed rate) yang lebih cepat dari seharusnya.  Kondisi itu cukup membebani nilai tukar dolar AS tadi malam sehingga memberikan sentimen positif untuk rupiah.  Sebaliknya pada kurs tengah Bank Indonesia, mata uang lokal ini bergerak melemah menjadi Rp 12.617 dibandingkan hari sebelumnya, Rabu (14/1) di posisi Rp 12.580 per dolar AS.  [geng]



Rupiah Menguat ke Posisi Rp 12.545 / USD

Wednesday, January 14, 2015

Rabu Sore, Rupiah Menguat ke Posisi Rp 12.591 / USD

Financeroll - Pergerakan nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu (14/1) sore, bergerak melemah sebesar 11 poin menjadi Rp 12.591 dibanding posisi sebelumnya Rp 12.580 per dolar AS.  Harga minyak dunia dan komoditas yang cenderung masih melemah menjadi salah satu sentimen negatif bagi mata uang Rupiah terhadap Dolar AS.


Pelaku pasar khawatir terhadap perbaikan defisit neraca perdagangan Indonesia akan terhambat dikarenakan ekspor Indonesia masih didominasi oleh hasil komoditas.  Menurunnya harga komoditas akan berpengaruh negatif bagi kinerja ekspor Indonesia.  Di sisi lain, pelaku pasar uang juga sedang menanti kebijakan Bank Indonesia (BI)  terkait tingkat suku bunga acuan (BI rate) yang sedianya akan diumumkan pada Kamis 15 Januari pekan ini.  Sementara itu,  sentimen alih risiko dari aset negara berkembang ke safe haven masih terjadi, mata uang dolar AS yang merupakan salah satu aset safe haven masih cukup diminati investor sehingga menahan laju rupiah.


Pelemahan pasar saham dan semakin terpuruknya harga minyak dunia menggiring investor masuk ke aset safe haven.  Dari Amerika Serikat,  akan dirilis data ekonomi penjualan ritel untuk bulan Desember 2014. Diproyeksikan, data itu mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya sehingga dolar AS kembali mempertahankan penguatannya.  Kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Rabu (14/1) ini tercatat mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp 12.580 dibandingkan hari sebelumnya, Selasa (13/1) di posisi Rp 12.608 per dolar AS. [geng]



Rabu Sore, Rupiah Menguat ke Posisi Rp 12.591 / USD

Monday, January 12, 2015

Selasa Siang, Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.600 / USD

Financeroll - Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa (13/1) pagi hingga siang bergerak melemah sebesar 10 poin menjadi Rp 12.600 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.590 per dolar AS.  Kurs Rupiah bergerak melemah namun dengan fluktuasi yang masih stabil seiring dengan faktor internal yang masih cukup mendukung untuk menahan laju dolar AS meningkat lebih tinggi.


Sentimen pembangunan infrastruktur masih cukup kuat menopang rupiah, perbaikan infrastruktur akan membuat perekonomian Indonesia tetap akan tumbuh meski dibayangi perlambatan ekonomi global.  Di sisi lain,  pemerintah yang akan melakukan harmonisasi terhadap harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi dan ditundanya kenaikan tarif listrik menyusul tren pemurunan harga minyak dunia akan menahan laju inflasi domestik.


Meskipun demikian,  diharapkan harmonisasi harga tidak terlalu sering dilakukan karena dapat membuat kebiajakan investasi pelaku pasar kurang menentu.  Tidak ada data ekonomi penting yang diumumkan, dolar AS menguat setelah sebelumnya turun selama beberapa hari.  Meski rupiah mengalami tekanan terhadap dolar AS, ke depan ruang penguatan masih ada.  Hari ini pelaku pasar menanti rilis data neraca perdagangan Tiongkok serta kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS). [geng]



Selasa Siang, Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.600 / USD

Sunday, January 11, 2015

Senin Siang, Rupiah Menguat ke Posisi Rp 12.557 / USD

Financeroll – Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta Senin  (12/1) pagi hingga siang bergerak menguat 73 poin menjadi Rp 12.557 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.630 per dolar AS.  Kurs  rupiah menguat bersama mata uang Asia lainnya terhadap dolar AS di pasar global.


Meskipun  tingkat pengangguran AS turun, dolar AS cenderung kehilangan momentum penguatannya. Turunnya data Non-Farm payrolls (jumlah upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja di luar pekerja pemerintahan) serta turunnya tingkat partisipasi tenaga kerja AS mencegah dolar AS naik.


Salah satu penopang mata uang rupiah juga dipicu sentimen positif dari dalam negeri seiring ekspektasi menurunnya tingkat inflasi.  Ditundanya kenaikan tarif listrik, ekspektasi inflasi di 2015 akan turun.  Selain itu,  masih cukup kuatnya ekspektasi pelaku pasar keuangan terhadap neraca perdagangan Indonesia menambah sentimen positif bagi mata uang domestik.


Kombinasi antara turunnya inflasi serta perbaikan neraca perdagangan Indonesia akan mendukung rupiah yang lebih kuat ke depannya.  Laju mata uang dolar AS tertahan seiring dengan penguatan mata uang yen Jepang serta poundsterling Inggris setelah data indeks manufakturnya mengalami peningkatan.  Kondisi itu dapat dimanfaatkan pelaku pasar uang untuk mentransaksikan rupiah. Laju rupiah diharapkan masih berkesempatan mengalami penguatan lanjutan dengan adanya pengutan mata uang ’hard currency’ lainnya. [geng]



Senin Siang, Rupiah Menguat ke Posisi Rp 12.557 / USD

Tuesday, January 6, 2015

Aksi Jual Masih Dominan, Pasar Uang Domestik Melambat

Financeroll - Pada perdagangan Selasa (6/1) nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak melemah sebesar 84 poin menjadi Rp 12.669 dibanding posisi sebelumnya Rp 12.585 per dolar AS.   Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 38 poin menyusul koreksi d yang terjadi sebagian saham di lantai bursa. Tekanan jual gencar dilakukan investor asing.  Tekanan ambil untung langsung marak terjadi sejak awal pembukaan perdagangan.


Ekspektasi pasar terkait bank sentral AS (Federal Reserve) akan menaikkan suku bunga (Fed rate) masih membayangi pasar keuangan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.  Dari dalam negeri,   data perekonomian Indonesia yang telah dirilis menunjukkan perlambatan kinerja. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan November 2014 mengalami defisit sebesar 420 juta dolar AS.


Inflasi Desember 2014 mencapai 2,46 persen, lebih tinggi dari perkiraan Bank Indonesia (BI) yang sebesar 2,1-2,2 persen.  Ke depan, inflasi diperkirakan juga masih kembali tinggi, begitupun dengan kinerja neraca perdagangan Indonesia yang juga diperkirakan kembali defisit. Kondisi itu masih menjadi sentimen negatif bagi Rupiah.


Harapan positif di pasar mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah untuk mendorong pembangunan infrastruktur akan menjadi modal bagi pondasi mata uang rupiah untuk tidak tertekan lebih dalam.  Diharapkan harapan itu segera terealisasi dan dirasakan dampaknya.  Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa (6/1) ini tercatat mata uang rupiah bergerak melemah menjadi Rp 12.658 dibandingkan hari sebelumnya, Senin (5/1) di posisi Rp 12.589 per dolar AS.


Dari bursa saham IHSG anjlok 40,943 poin (0,78%) ke level 5.179,052 setelah terkena tekanan jual. Saham-saham unggulan jadi sasaran aksi jual.  Seluruh indeks sektoral di lantai bursa pun kompak melemah sejak pagi tadi. Posisi terendah yang sempat disinggahi Indeks siang ini ada di level 5.176,339.


Pada akhir perdagangan  IHSG berkurang 50,935 poin (0,98%) ke level 5.169,06. Sementara Indeks LQ45 mundur 10,067 poin (1,12%) ke level 888,203.  Dana asing masih terus mengalir ke luar lantai bursa sejak akhir tahun lalu. Transaksi investor asing sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 439,993 miliar di seluruh pasar.


Tercatat perdagangan hari ini berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 267.596 kali dengan volume 5,922 miliar lembar saham senilai Rp 4,701 triliun. Sebanyak 64 saham naik, 234 turun, dan 77 saham stagnan.  Bursa saham Tiongkok menjadi satu-satunya yang berhasil ditutup menguat sore ini. Bursa-bursa Asia lainnya jatuh ke zona merah akibat koreksi tajam Wall Street semalam.


Sementara situasi dan kondisi bursa regional sore hari ini:  Indeks Nikkei 225 amblas 525,52 poin (3,02%) ke level 16,883.19, Indeks Hang Seng melemah 235,91 poin (0,99%) ke level 23.485,41, Indeks Komposit Shanghai naik tipis 0,93 poin (0,03%) ke level 3.351,45, dan  Indeks Straits Times anjlok 46,51 poin (1,40%) ke level 3.281,77. [geng]



Aksi Jual Masih Dominan, Pasar Uang Domestik Melambat

Sunday, January 4, 2015

Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp 12.513 -12.526  per USD

Financeroll – Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengawali pekan ini dibuka menguat.  Meski demikain, Rupiah masih di level  12.500-an.  Berdasarkan  Bloomberg Dollar Index, Senin (5/1), Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) menguat 31 poin atau 0,25 persen ke  12.513 per USD dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level  12.545 per USD.  Diperkirakan  pergerakan Rupiah berada di  kisaran 12.513 – Rp 12.526  per USD.


Neraca perdagangan kembali defisit membuat Rupiah melemah tajam pekan lalu. Hal ini diiringi penguatan dolar sehingga rupiah melemah tajam pekan lalu.  Dollar index yang masih kuat berpeluang menjaga sentimen pelemahan rupiah hari ini.  Kembali menguatnya dolar AS setelah terimbas melemahnya laju Euro seiring langkah European Central Bank (ECB) yang akan mengeluarkan stimulus dan berita kembali defisitnya neraca perdagangan di mana nilai ekspor dan impor di bulan November 2014 mengalami penurunan dan lonjakan inflasi Desember 2014 menjadi sentimen negatif yang melemahkan nilai tukar Rupiah.


Laju rupiah berada di bawah target level support 12.442. Terlihat harapan positif kami terhadap data-data makro ekonomi yang dirilis tidak sesuai dengan harapan sehingga membuat nilai tukar Rupiah bergerak melemah. Waspadai berlanjutnya pelemahan nilai tukar Rupiah. Rupiah berpeluang melaju dalam kisaran 12.470-12.482 per dolar AS jika mengacu pada kurs tengah BI.


Laju nilai tukar rupiah bergerak di zona merah di tengah sempitnya hari perdagangan dan berbarengan dengan rilis berita penyempurnaan PBI Nomor 16/21/PBI/2014 tanggal 29 Desember 2014 tentang Penerapan Prinsip Kehati-hatian dalam Pengelolaan Utang Luar Negeri Korporasi Nonbank dan Surat Edaran Ekstern Nomor 16/24/DKEM tanggal 30 Desember 2014 perihal Penerapan Prinsip Kehati-hatian dalam Pengelolaan Utang Luar Negeri Korporasi Nonbank.


Kembali menguatnya dolar AS setelah terimbas melemahnya laju Euro seiring langkah European Central Bank (ECB) yang akan mengeluarkan stimulus dan berita kembali defisitnya neraca perdagangan di mana nilai ekspor dan impor di bulan November 2014 mengalami penurunan dan lonjakan inflasi Desember  2014 menjadi sentimen negatif  yang melemahkan nilai tukar  Rupiah.


Laju rupiah berada di bawah target level support 12.442. Terlihat harapan positif kami terhadap data-data makro ekonomi yang dirilis tidak sesuai dengan harapan sehingga membuat nilai tukar Rupiah bergerak melemah. Waspadai berlanjutnya pelemahan nilai tukar Rupiah. Rupiah berpeluang melaju dalam kisaran 12.470-12.482 per dolar AS jika mengacu pada kurs tengah BI.  [geng]



Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp 12.513 -12.526  per USD

Saturday, January 3, 2015

Sepekan Terakhir, Rupiah Melemah 7 Poin

Financeroll – Sepanjang pekan terakhir, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS seiring masih defisitnya neraca perdagangan dan inflasi Desember yang berada di atas ekspektasi.  Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dilansir Bank Indonesia (BI) nilai tukar rupiah dalam sepekan terakhir melemah 7 poin (0,056%) ke posisi 12.474 per dolar AS pada pekan yang berakhir Jumat, 2 Januari 2015 dibandingkan pekan sebelumnya di angka 12.467 pekan yang berakhir 24 Desember 2014.


Kurs  nilai tukar rupiah di awal pekan terlihat mampu berbalik positif.  Bahkan, rupiah berhasil melampaui perkiraan kami sebelumnya di mana tampaknya mendekati penghujung tahun, laju dolar AS masih menunjukkan penguatannya seiring dengan maraknya sentimen pemulihan ekonomi AS.


Masih adanya imbas dari rilis data-data ekonomi AS yang kian naik, lanjut Reza, membuat sentimen negatif masih akan menyelimuti sehingga waspadai potensi pelemahan lanjutan.  Kebetulan juga penguatan ini terjadi seiring berita  diumumkannya kebijakan baru pemerintah terhadap harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.


Laju nilai tukar rupiah menutup tahun 2014 di zona positif meskipun jika dihitung secara tahunan (year on year) tercatat melemah. Akhir 2013, laju rupiah berada pada posisi 12.217-12.140 dan di akhir tahun ini bertengger di posisi 12.494-12.409.


Selain itu, sepanjang perdagangan juga terpantau laju rupiah cenderung variatif di mana sempat mengalami pelemahan seiring dengan masih kuatnya laju dolar AS. Akan tetapi, rupiah mampu berbalik positif seiring dengan terapresiasinya laju Yen dan Yuan serta beriringan dengan menghijaunya laju IHSG yang ditopang oleh aksi beli investor asing.


Meski  demikian, kembali menguatnya dolar AS setelah terimbas melemahnya laju Euro seiring langkah European Central Bank (ECB) yang akan mengeluarkan stimulus, membuat rupiah kembali melemah.


Terlebih, dengan berita kembali defisitnya neraca perdagangan di mana nilai ekspor dan impor di bulan November 2014 mengalami penurunan. Belum lagi dengan lonjakan inflasi Desember 2014 yang menjadi sentimen negatif sehingga melemahkan nilai tukar rupiah.  [geng]



Sepekan Terakhir, Rupiah Melemah 7 Poin

Friday, January 2, 2015

Transaksi Belum Masif, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll - Pada perdagangan Jumat (2/1) nilai tukar rupiah bergerak melemah sebesar 43 poin menjadi Rp 12.430 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp 12.387 per dolar AS, menyusul data inflasi dan neraca perdagangan yang dirilis BPS.  Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih  bertahan di zona hijau. Indeks tidak  menyentuh teritori negatif. Perdagangan perdana pada 2015 dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).  Menutup perdagangan  IHSG berada di posisi 5.242,77, naik 15,82 poin atau 0,3%.


Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laju inflasi Desember 2014 mencapai 2,46% sehingga laju inflasi tahun kalender 2014 maupun secara tahunan (yoy) tercatat sebesar 8,36%.  Inflasi lebih tinggi dari prediksi kalangan analis sebesar 7,92%. Meningkatnya inflasi dapat menggerogoti daya beli konsumen sehingga dapat membuat ancaman berlanjutnya perlambatan ekonomi Indonesia di kuartal IV 2014.


Di sisi lain,  neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar USD 20 juta pada November 2014, juga masih lebih rendah dari ekspektasi kalangan pasar.  Performa ekspor masih rendah sehingga surplus di bawah ekspektasi, mengisyaratkan Indonesia masih akan alami defisit neraca transaksi berjalan yang dapat memberi sentimen negatif terhadap Rupiah.


Dari bursa saham, tercatat transaksi  belum terlalu masif . Ini merupakan fenomena yang terjadi setiap awal tahun, dan kebetulan hari ini merupakan hari kejepit nasional sehingga banyak investor yang masih meliburkan diri.  Hanya terjadi 155.661 kali transaksi yang melibatkan 5,6 miliar unit saham senilai Rp 4,57 triliun. Sebanyak 149 saham menguat, 136 melemah, dan 79 stagnan.


Saham barang konsumsi merupakan yang paling diburu investor, dengan penguatan mencapai 1,26%. Sementara saham yang cukup banyak dilepas adalah aneka industri sehingga sektor ini melemah 0,5%.  Sejumlah saham yang menguat signifikan dan menjadi top gainers antara lain Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.100 di posisi Rp 61.800, Maskapai Reasuransi Indonesia (MREI) naik Rp 740 menjadi Rp 4.980, dan Indofood Sukses Makmur (INDF) naik Rp 700 menjadi Rp 7.450.


Sejumlah saham yang melemah dan masuk jajaran top losers di antaranya HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 650 menjadi Rp 68.000, Matahari Department Store (LPPF) turun Rp 225 menjadi Rp 14.775, dan Bank Mestika Dharma (BBMD) turun Rp 200 menjadi Rp 1.400.  Bursa saham regional bergerak mixed cenderung menguat. Berikut perkembangan sejumlah bursa saham di Asia:  Hang Seng naik 252,78 poin (1,07%) menjadi 23.857,82, KOSPI menguat 10,85 poin (0,57%) menjadi 1.926,44, dan Straits Times menguat 2,92 poin (0,09%) menjadi 3.368,07. [geng]



Transaksi Belum Masif, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Tuesday, December 30, 2014

2014, Inflasi Indonesia Diperkirakan Hingga 8,2 Persen

Financeroll – Di pengujung 2014, kondisi ekonomi dan politik di Indonesia masih penuh dinamika dan tekanan.  Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang lalu  diikuti melemahnya nilai tukar Rupiah tak serta merta membuat masyarakat kehilangan harapan dan pesimistis.


Bank Indonesia (BI) memprediksi laju inflasi sepanjang 2014 mencapai lebih dari 8% yaitu 8,1-8,2%. Ini berarti di kisaran batas atas perkiraan BI 7,7-8,1%.  Inflasi lebih disebabkan, karena administered prices(kenaikan BBM dan transportasi) dan volatile food (bahan pangan) sehingga perlu koordinasi sehingga inflasinya dapat lebih terkendali. Sumbangan inflasi terbesar memang terjadi pada Desember 2014 di mana dampak penyesuaian harga bahan bakar minyak ( BBM) yang dilakukan pemerintah mulai dirasakan.


Selain itu,  Bank Indonesia (BI) memprediksikan inflasi Desember ada pada kisaran 2,1-2,2%.   Inflasi Desember lebih banyak dipengaruhi oleh dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebab pada November dampak kenaikan harga BBM masih relatif kecil. Selain itu, ada juga dampak ikutan akibat kenaikan harga BBM seperti harga transportasi dan bahan makanan. Serta diikuti oleh liburan Natal dan Tahun Baru.


Perekonomian Indonesia tahun 2015 diproyeksikan tumbuh pada kisaran 5,8%, kata Anggota DPR Komisi XI dan Direktur Eksekutif Megawati Institute Arief Budimanta.  Dalam acara “Forum Alumni IPB mengenai Outlook Perekonomian Indonesia Tahun 2015″,  di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (30/12).


Menurut Arief,  faktor utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2015 adalah investasi dan konsumsi swasta.  Selain itu, proyek-proyek infrastruktur pemerintah akan segera direalisasikan di semester dua tahun 2015.  Selain itu,  faktor eksternal masih mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2015, terutama perbaikan ekonomi Amerika Serikat dan melemahnya perekonomian Tiongkok.


Di sisi lain, kinerja perekonomian global pada 2015 diproyeksikan lebih baik dibandingkan 2014, kendati perbaikannya tidak signifikan. Pada proyeksi terakhirnya, Oktober 2014, Dana Moneter Internasional atau IMF mengingatkan stagnasi di negara-negara maju saat mengumumkan pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia di markasnya, Washington, Amerika Serikat (AS).


Menurut IMF, risiko-risiko yang dihadapi perekonomian global tahun 2014 meningkat, dari mulai krisis politik Rusia-Ukraina hingga pergolakan di Timur Tengah. Selain itu, ancaman terhadap perekonomian dunia makin besar jika wabah Ebola di Afrika barat tidak tertangani.  IMF juga menyatakan, luka mendalam akibat krisis ekonomi yang dimulai pada 2008 terbukti sulit disembuhkan, khususnya di Eropa. Tapi, IMF juga menyatakan bahwa kekuatan ekonomi negara-negara maju bisa ditingkatkan dengan investasi di sektor infrastruktur dan dibiayai oleh negara. [geng]



2014, Inflasi Indonesia Diperkirakan Hingga 8,2 Persen

Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.445 / USD

Financeroll – Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa (30/12) sore, bergerak melemah sebesar 10 poin menjadi Rp 12.445 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.435 per dolar AS.  Merebaknya risiko politik Yunani mendorong dolar AS mengalami penguatan di pasar uang global dan domestik.


Kondisi itu membuat khawatir pelaku pasar keuangan di negara-negara berkembang. Krisis politik di Yunani itu dapat membuat krisis utang di kawasan negara-negara Euro dapat memburuk.  Meski demikian, penguatan dolar AS terhadap rupiah masih cenderung tertahan di tengah antisipasi investor terhadap data ekonomi Amerika Serikat yakni data kepercayaan konsumen AS dan juga data manufaktur Tiongkok.


Investor masih terlihat waspada mencermati perkembangan ekonomi global. Kondisi itu membuat outlook mata uang rupiah menjadi netral.  Mata uang rupiah kembali berada di area negatif setelah sempat menguat tipis pada perdagangan sesi pagi tadi.  Faktor global mendorong mata uang rupiah pada akhir tahun ini kembali tertekan.


Masih adanya sentimen pemulihan ekonomi Amerika Serikat kembali membayangi laju mata uang rupiah, beberapa data-data ekonomi AS diantaranya tingkat keyakinan konsumen dan klaim pengangguran diekspektasikan positif. Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa (30/12) ini tercatat mata uang rupiah bergerak melemah menjadi Rp 12.436 dibandingkan hari sebelumnya, Senin (29/12) di posisi Rp 12.434 per dolar AS.  [geng]



Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.445 / USD

Monday, December 29, 2014

Investor Lokal Koleksi Saham, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll – Pergerakan nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin (29/12) sore, bergerak melemah 23 poin menjadi Rp 12.432 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.409 per dolar AS.  Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 11 poin berkat aksi beli investor domestik. Transaksi berjalan sepi karena sudah banyak pelaku pasar yang berlibur.  Aksi beli menyasar saham-saham unggulan. Indeks mampu naik hingga ke titik tertingginya hari ini di 5.185.


Prospek mata uang rupiah saat ini cenderung ditentukan oleh dinamika kebijakan moneter di Amerika Serikat, khususnya menyangkut wacana kenaikan suku bunga acuan pada tahun 2015 mendatang.  Di sisi lain, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal ke-3 yang meningkat sebesar 5 persen merupakan pertumbuhan kuartalan tertingi sejak 2003 lalu.  Pekan ini data ekonomi penting Amerika Serikat yang mungkin bisa menjadi market mover adalah data tingkat keyakinan konsumen dan manufaktur.


Mendekati penghujung tahun 2014, dolar AS masih akan menunjukan penguatannya seiring dengan maraknya sentimen dari pemulihan ekonomi AS.  Meski demikian, mata uang rupiah masih dalam kondisi yang stabil seiring dengan Bank Indonesia (BI)  yang tetap menjaga kisaran mata uang domestik di level Rp 12.300-Rp 12.500 per dolar AS.  Sementara itu, kurs tengah BI  pada Senin (29/12) ini tercatat mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp 12.434 dibandingkan hari sebelumnya, Rabu (24/12) di posisi Rp 12.467 per dolar AS.


Dari bursa saham, menutup  perdagangan Sesi I, IHSG menguat tipis 5,648 poin (0,11%) ke level 5.172,631. Indeks berhasil menghindari zona merah meski dengan penguatan yang tipis.  Sejumlah saham di sektor agrikultur memimpin penguatan. Tujuh indeks sektoral berhasil menguat, kecuali tiga yang melemah yaitu infrastruktur, finansial, dan pertambangan.  Pada akhir perdagangan awal pekan  IHSG ditutup menanjak 11,390 poin (0,22%) ke level 5.178,373. Sementara Indeks LQ45 melaju 1,953 poin (0,22%) ke level 892,815.  Aksi beli banyak dilakukan investor domestik. Sedangkan transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 84,083 miliar di seluruh pasar.


Tercatat perdagangan hari ini berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 176.436 kali dengan volume 7,783 miliar lembar saham senilai Rp 4,527 triliun. Sebanyak 150 saham naik, 129 turun, dan 97 saham stagnan.  Bursa-bursa di Asia rata-rata berhasil menutup perdagangan di zona hijau awal pekan ini berkat sentimen positif Wall Street pekan lalu. Hanya pasar saham Jepang yang masih melemah.


Sementara situasi dan kondisi bursa-bursa regional sore hari ini:  Indeks Nikkei 225 melemah 89,12 poin (0,50%) ke level 17.729,84, Indeks Hang Seng melonjak 423,84 poin (1,82%) ke level 23.773,18, Indeks Komposit Shanghai naik 10,41 poin (0,33%) ke level 3.168,02, dan  Indeks Straits Times bertambah 12,05 poin (0,36%) ke level 3.365,73. [geng]



Investor Lokal Koleksi Saham, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Sunday, December 28, 2014

Senin Siang, Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.433 / USD

Financeroll – Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin (29/12) pagi hingga siang bergerak melemah sebesar 24 poin menjadi Rp 12.433 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.409 per dolar AS.  Kurs rupiah kembali melemah terhadap dolar AS.


Pelaku pasar uang cenderung memegang dolar AS menyusul masih akan berlanjutnya pemulihan ekonomi Amerika Serikat, dengan kondisi seperti itu, maka laju rupiah akan tertahan penguatannya.  Tampaknya mendekati penghujung tahun 2014 dolar AS masih akan menunjukkan penguatannya seiring dengan maraknya sentimen dari pemulihan ekonomi AS.


Meski  demikian,   mata uang rupiah masih dalam kondisi yang stabil seiring dengan Bank Indonesia yang tetap menjaga kisaran mata uang domestik di level Rp 12.300 – Rp 12.500 per dolar AS.  BI masih menjaga pasar keuangan domestik, BI juga mempunyai beberapa kebijakan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.


Aktivitas di pasar keuangan domestik cenderung minim menjelang libur tahun baru dan cuti bersama sehingga tekanan rupiah tidak akan terlalu dalam di tengah sentimen pertumbuhan PDB Amerika Serikat.  Sentimen rupiah sebenarnya masih cukup positif, namun faktor global terkait AS masih tetap akan membayangi. [geng]



Senin Siang, Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.433 / USD

Monday, December 22, 2014

Selasa Siang, Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.455 / USD

Financeroll –  Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Selasa (23/12) pagi hingga siang bergerak melemah sebesar 14 poin menjadi Rp 12.455 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.441 per dolar AS.  Kurs dolar AS mengalami penguatan di awal sesi Asia sehingga menggerus kinerja rupiah. Dolar AS kembali menguat seiring dengan sebagian investor tetap yakin bahwa Federal Reserve akan mulai menaikan suku bunganya di 2015.  Di sisi lain, investor juga masih terlihat waspada mencermati perkembangan ekonomi global terutama dari Amerika Serikat, nanti malam AS akan merilis beberapa data ekonomi diantaranya produk domestik bruto (PDB), dan penjualan rumah.


Selain itu, Data tersebut akan mendapatkan perhatian pelaku pasar keuangan karena dapat turut menentukan seberapa solidnya pemulihan ekonomi AS  dalam mempengaruhi ekspektasi pasar atas outlook investasi.  Meski  rupiah melemah, ia mengemukakan bahwa outlook mata uang rupiah saat ini masih netral dimana mata uang Garuda mungkin akan diperdagangkan di kisaran Rp 12.420-Rp 12.475 per dolar AS untuk hari ini (Selasa, 23/12).


Potensi rupiah untuk kembali berada di area positif cukup terbuka seiring dengan terapresiasinya laju mata uang rubel Rusia setelah Tiongkok menawarkan bantuan dan “currency swaps“.  Diharapkan sentimen positif masih berpihak pada nilai tukar rupiah. Diperkirakan mata uang rupiah bergerak di kisaran Rp 12.415-Rp 12.475 per dolar AS. [geng]



Selasa Siang, Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.455 / USD

Sunday, December 21, 2014

Senin Siang, Rupiah Menguat ke Posisi Rp 12.468 / USD

Financeroll – Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Jumat (22/12) pagi hingga siang bergerak menguat sebesar 94 poin menjadi Rp 12.468 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.562 per dolar AS.  Laju nilai tukar rupiah kembali mengalami apresiasi dimana masih adanya intervensi dari Bank Indonesia (BI) sehingga ruang penguatan masih cukup terbuka bagi mata uang domestik.  Pernyataan BI yang dinilai cukup positif dimana memberikan sinyal kepastian level yang akan dijaga, yaitu di level Rp 11.900-Rp 12.300 per dolar AS.


Di sisi lain,  pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memberikan sinyal belum akan menaikan suku bunga AS (Fed rate) memberikan angin segar bagi mata uang rupiah untuk dapat bertahan di area positif.  Sentimen mata uang ’emerging market’, termasuk rupiah kembali berbalik positif, salah satu faktor utama dari penguatan kurs “emerging market” itu yakni aksi sebagian investor yang mulai mengabaikan sentimen Fed rate. Situasi itu, membuka potensi bagi investor untuk kembali masuk ke dalam negeri setelah sempat melepas portofolionya di ’emerging market’ akibat cukup kuatnya ekspektasi the Fed akan menaikan suku bunganya


Selain itu,  sentimen dari dalam negeri juga cukup positif seiring dengan munculnya harapan terhadap pembangunan infrastruktur. Pembangunan infrastruktiur itu diyakini akan menopang perekonomian Indonesia ke depannya. [geng]


 


68 / USD



Senin Siang, Rupiah Menguat ke Posisi Rp 12.468 / USD

Sepekan Terakhir, Rupiah Melemah 468 Poin

Financeroll – Sepanjang pekan terakhir,  nilai tukar rupiah mencapai level terlemahnya sejak Agustus 1998.  Rupiah anjlok 468 poin dibandingkan akhir pekan sebelumnya.   Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dilansir Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah melemah 68 poin (0,54%) ke posisi 12.500 per dolar AS pada pekan yang berakhir Jumat, 19 Desember 2014 dibandingkan akhir pekan sebelumnya, 12.432 pada 12 Desember 2014.


Meski Yuan China dan Won Korea Selatan melemah, tidak menghalangi Rupiah untuk dapat bergerak positif.  Penguatan Rupiah seiring juga dengan adanya sentimen positif tambahan dari penguatan Poundsterling dan pernyataan BI yang dinilai cukup positif.  BI memberikan sinyal kepastian level yang akan dijaga, yaitu di level 11.900 hingga 12.300 per dolar AS.


Tampaknya,   imbas intervensi BI tersebut cukup mampu membangkitkan persepsi positif terhadap rupiah.  Meski laju poundsterling, yuan, hingga yen cenderung melemah, tidak terlalu berimbas negatif pada laju Rupiah seiring spekulasi akan adanya intervensi dari Bank Indonesia. Hasil rapat the Federal Open Market Committee (FOMC) yang memberikan sinyal belum akan dinaikannya suku bunga The Fed memberikan angin segar bagi rupiah untuk dapat melanjutkan penguatannya.


Di sisi lain, muncul sentimen dari meningkatnya harga minyak mentah dunia seiring dengan kembali meningkatnya tensi geopolitik di Libya dan aksi mogok pekerja tambang minyak di Nigeria.  Akan tetapi hal itu belum signifikan mengimbangi masih berlanjutnya penguatan dolar AS.  Akibatnya, laju rupiah kembali kian tertekan.


Belum lagi dengan masih adanya persepsi bahwa seolah-olah BI menyetujui pelemahan tersebut karena dianggap sudah sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia.  Penilaian masih berlanjutnya peluang kenaikan BI rate dan penilaian maraknya jatuh tempo utang para korporasi turut menambah sentimen negatif.  Sentimen dari meningkatnya suku bunga Rusia menjadi 17% dari 10,5% secara tidak terduga dan terapresiasinya Yen setelah merespons masih turunnya harga minyak, tidak berimbas positif pada laju rupiah yang kian hari kian tertekan. [geng]



Sepekan Terakhir, Rupiah Melemah 468 Poin

Thursday, December 18, 2014

Penurunah Nilai Rupiah Justru Menguntungkan Emiten Pertambangan

Financeroll – Turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ternyata menguntungkan emiten sektor pertambangan.


Boling Aruan, Direktur Keuangan PT Sigmagold Inti Perkasa Tbk, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah justru menguntungkan bagi perseroan yang memiliki lini bisnis utama pertambangan pada tahun depan.


Meski saat ini lini bisnis pertambangan belum memberikan kontribusi bagi perseroan, pada tahun depan ditargetkan dapat menyumbang 50% terhadap total pendapatan.


Fokus sama tambang emas, pertumbuhan permintaan dalam negeri cukup baik, apalagi ekspor.


Investasi emas terbilang safe heaven ketika pasar uang tengah bergejolak seperti saat ini. Investor diperkirakan akan memilih emas sebagai instrumen investasi.


Kondisi demikian, membuat emiten berkode saham TMPI optimis tahun depan pertambangan emas akan memberikan kontribusi positif setelah mulai beroperasi.


Perusahaan pertambangan pelat merah PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk. diuntungkan oleh pelemahan nilai tukar rupiah terutama akibat aktivitas ekspor. Separuh batu bara emiten berkode saham PTBA tersebut dijual di pasar ekspor.


Joko Pramono, Sekretaris Perusahaan PTBA, mengatakan pada tahun depan menganggarkan belanja modal Rp4,5 triliun-Rp5 triliun untuk membangun elektrifikasi pertambangan.


Alokasi belanja modal (capital expenditure/Capex) tahun depan melonjak 127,27% dibandingkan tahun ini yang mencapai Rp2,2 triliun.


Belanja modal tahun depan untuk pengembangan alat tambang dengan tenaga listrik yang listriknya diproduksi sendiri menggunakan batu bara limbah.



Penurunah Nilai Rupiah Justru Menguntungkan Emiten Pertambangan

Sunday, December 14, 2014

Senin Siang, Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.584 / USD

Financeroll – Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi bergerak melemah sebesar 117 poin menjadi Rp 12.584 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.467 per dolar AS.  Indeks dolar AS kembali melanjutkan penguatannya terhadap mayoritas mata uang utama dunia setelah data ekonomi penjualan ritel dan klaim tunjangan pengangguran Amerika Serikat yang dirilis lebih bagus dari perkiraan.


Data penjualan ritel AS naik 0,7 persen di bulan November, atau lebih tinggi dari perkiraan sebesar 0,4 persen.  Sementara klaim pengangguran mingguan AS juga positif menjadi 294.000 lebih rendah dari perkiraan 295.000.  Data itu menunjukkan ekonomi yang membaik di tengah (Bank Sentral AS,red) Federal Reserve mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunganya sehingga membuat investor memposisikan kembali portofolionya. Kombinasi dari penguatan dolar AS dan ketatnya likuiditas dalam negeri menjelang akhir tahun turut membebani mata uang rupiah.


Di sisi lain,  proyeksi melambatnya ekonomi Tiongkok menambah kekhawatiran pelaku pasar uang di dalam negeri. Saat ini, pelaku pasar sedang menunggu data ekonomi Tiongkok yakni, produksi industri di bulan November.  Data itu cukup penting untuk menilai kesehatan ekonomi Tiongkok. Turunnya aktivitas industri bisa memberikan persepsi bahwa ekonomi Tiongkok memang sedang melambat dan ini akan memberikan sentimen negatif ke pasar keuangan global, termasuk Indonesia.


Belum adanya sentimen maupun berita positif membuat laju nilai tukar rupiah melanjutkan depresiasinya.  Bank Indonesia juga cenderung tidak mengeluarkan kebijakan untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi global serta inflasi domestik, kondisi itu menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar. [geng]



Senin Siang, Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.584 / USD