Financeroll – Pada perdagangan akhir pekan, Jumat (16/1) nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta hingga siang melemah sebesar 16 poin menjadi Rp 12.564 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.548 per dolar AS. Sementara pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 40 poin mengikuti koreksi pasar saham lainnya di Asia. Investor khawatir rendahnya harga minyak dunia akan menggerus pertumbuhan ekonomi dunia. Indeks masih bergerak dalam rentang tipis.
Investor melihat langkah SNB itu sebagai sinyal bahwa Swiss cemas dengan perekonomiannya dan Eropa. Di sisi lain, lanjut dia, merebaknya kecemasan atas perekonomian dunia juga cukup membebani kinerja rupiah di awal sesi Asia. Ketua Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde menyatakan aktivitas investasi dan konsumsi di banyak perekonomian cukup lemah, termasuk di Tiongkok.
Sikap Bank Indonesia (BI) yang masih mempertahankan level suku bunga acuan (BI rate) mungkin dapat meredam potensi pelemahan rupiah yang berlebih. Bank Indonesia, pada Kamis (15/1) tetap mempertahankan suku bunga di level 7,75 persen. Kebijakan suku bunga yang tinggi tersebut masih dibutuhkan untuk meredam inflasi dan membantu perbaikan defisit neraca transaksi berjalan. Mata uang rupiah masih berada dalam sentimen pelemahan, diperkirakan pergerakan rupiah di kisaran Rp 12.520-Rp 12.615 per dolar AS pada akhir pekan ini (Jumat, 16/1) ini.
Pengamat pasar uang dari Bank Himpunan Saudara, Rully Nova menambahkan bahwa level BI rate itu menandakan tingkat inflasi masih sesuai dengan ekspektasi dan masih sesuai dalam menjaga fundamental ekonomi Indonesia di tengah melambatnya perekonomian global. Masih adanya ekspektasi positif akan menopang rupiah tidak tertekan terlalu dalam.
Dari bursa saham, mengakhiri perdagangan Sesi I, IHSG turun tipis 1,624 poin (0,03%) ke level 5.187,088. Pelaku pasar masih lakukan aksi wait and see menanti kejelasan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Aksi jual malah semakin ramai terjadi setelah pengumuman turunnya harga BBM. Indeks langsung meluncur ke titik terendahnya. Menutup perdagangan akhir pekan IHSG anjlok 40,333 poin (0,78%) ke level 5.148,379. Sementara Indeks LQ45 jatuh 7,342 poin (0,82%) ke level 886,343. Saham-saham unggulan dan lapis dua langsung jadi sasaran aksi jual. Pemodal asing paling semangat melepas saham.
Tercatat transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp miliar di seluruh pasar. Perdagangan hari ini berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 246.477 kali dengan volume 5,32 miliar lembar saham senilai Rp 5,573 triliun. Sebanyak 83 saham naik, 203 turun, dan 94 saham stagnan.
Bursa saham Tiongkok mencuat sendirian dengan penguatan lebih dari satu persen sementara bursa Asia lainnya terjebak di zona merah. Lemahnya harga minyak dunia dikhawatirkan menggerus pertumbuhan ekonomi global. Berikut situasi dan kondisi bursa regional sore ini: Indeks Nikkei 225 anjlok 244,54 poin (1,43%) ke level 16.864,16, Indeks Hang Seng jatuh 247,39 poin (1,02%) ke level 24.103,52, Indeks Komposit Shanghai melonjak 40,04 poin (1,20%) ke level 3.376,50, dan Indeks Straits Times amblas 42,57 poin (1,27%) ke level 3.296,27. [geng]
Nantikan Sentimen Penggerak, Pasar Uang Domestik Melambat