Showing posts with label dan Tiongkok. Show all posts
Showing posts with label dan Tiongkok. Show all posts

Wednesday, November 26, 2014

Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.164 / USD

Financeroll - Pergerakan  nilai  tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu (26/11) sore, bergerak mendatar dengan kecenderungan melemah tipis menjadi Rp 12.164 dibandingkan posisi sebelumnya Rp  12.163 per dolar AS.  Mata uang rupiah bergerak mendatar dengan kecenderungan melemah di tengah antisipasi investor pasar uang terhadap data-data ekonomi Indonesia yang sedianya akan dipublikasi pada awal Desember mendatang.


Penaikan harga BBM bersubsidi akan mendorong inflasi November 2014, namun diyakini kenaikan inflasi masih dapat terjaga menyusul langkah cepat Bank Indonesia yang menaikan suku bunga acuan (BI rate). Sementara untuk data neraca perdagangan, akan mengalami penurunan defisit meski belum signifikan.


Di sisi lain, laju mata uang rupiah juga masih dibayangi oleh data produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat kuartal III 2014 yang tumbuh 3,9 persen sehingga potensi dolar AS melanjutkan penguatan di pasar uang domestik cukup terbuka.  Ekonomi AS memang cenderung lebih baik dibandingkan negara maju lainnya seperti di negara-negara kawasan Eropa, Jepang,  dan Tiongkok.


Meski rupiah cenderung melemah, namun pergerakannya masih relatif stabil. Kondisi Rupiah yang cukup stabil itu dimulai sejak pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.  Diharapkan kebijakan pemerintah itu dapat mendorong ekspektasi pelaku pasar di dalam negeri positif terhadap fundamental ekonomi Indonesia ke depan sehingga mampu menopang mata uang domestik.


Pada pekan ini,  kurs Rupiah akan bergerak di kisaran Rp 12.135-Rp 12.185 per dolar AS.  Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Rabu (26/11) ini tercatat mata uang Rupiah bergerak menguat menjadi Rp 12.160 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.166 per dolar AS.  [geng]



Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.164 / USD

Thursday, October 16, 2014

Wait And See, Pasar Uang Domestik Melambat

Financeroll – Pergerakan  nilai tukar rupiah yang ditransaksikan di pasar spot antarbank di Jakarta, Kamis sore, melemah 25 poin menjadi Rp 12.251 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.226 per dolar AS.  Saat ini pergerakan rupiah cenderung konsolidasi menjelang pelantikan Presiden-Wapres RI nanti dan susunan kabinet pemerintahan baru.  Sementara  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 11 poin gara-gara tekanan jual investor asing.


Pelaku pasar uang di dalam negeri akan cenderung mengambil posisi aman dengan melepas rupiah dan mengalihkan ke mata uang dolar AS.  Diharapkan, sentimen politik di dalam negeri tidak memanas sehingga nilai tukar rupiah ke depan bergerak stabil dengan potensi penguatan.  Dari eksternal,  ekonomi AS diperkirakan masih tumbuh baik meski dibayangi perlambatan global seperti yang terjadi di negara-negara kawasan Eropa, Jepang, dan Tiongkok.  Pernyataan Gubernur The Fed Jannet Yellen yang cukup optimistis terhadap prospek ekonomi AS menjadi salah satu penopang dolar AS kembali menguat.


Sebagian pelaku pasar juga menilai bahwa outlook perekonomian AS masih sejalan sesuai target sehingga dolar AS masih mempunyai kekuatan untuk menguat.  Sebelaiknya, pada kurs tengah Bank Indonesia (BI) mata uang domestik ini bergerak menguat menjadi Rp 12.207 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.229 per dolar AS.


Dari bursa saham, menutup  perdagangan Sesi I, IHSG turun tipis 2,677 poin (0,05%) ke level 4.960,263. Indeks masih berusaha balik arah ke zona hijau setelah pagi tadi dibuka melemah.  Aksi jual masih didominasi oleh investor asing. Pelaku pasar domestik masih mengkoleksi saham di tengah ramainya aksi jual.  Pada akhir perdagangan, Kamis (16/10/2014), IHSG berkurang 11,326 poin (0,23%) ke level 4.951,614. Sementara Indeks LQ45 turun 1,851 poin (0,22%) ke level 837,262.


Tercatat indeks sempat positif sebentar, sampai ke level 4.976 tapi akhirnya turun lagi. Aksi jual investor asing memaksa IHSG jatuh ke zona merah. Transaksi investor asing sore ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 326,984 miliar di seluruh pasar.  Perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 235.309 kali dengan volume 8,365 miliar lembar saham senilai Rp 7,704 triliun. Sebanyak 104 saham naik, 148 turun, dan 71 saham stagnan.


Tercatat volume dan nilai transaksi hari ini sedikit meningkat karena ada dua aksi tutup sendiri, yaitu di saham PT Suryamas Dutamakmur Tbk (SMDM) dan saham PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO) masing-masing dengan Rp 1,5 triliun dan Rp 925 miliar di pasar negosiasi.  Tekanan negatif dari pasar global membuat bursa regional kompak melemah sore hari ini. Bursa saham Jepang jatuh paling dalam hingga lebih dari 2%.


Sedangkan situasi perkembangan bursa regional sore tadi: Indeks Nikkei 225 terjun 335,14 poin (2,22%) ke level 14.738,38, Indeks Hang Seng anjlok 239,11 poin (1,03%) ke level 22.900,94, Indeks Komposit Shanghai turun 17,17 poin (0,72%) ke level 2.356,50, dan Indeks Straits Times jatuh 35,67 poin (1,12%) ke level 3.163,05. [geng]



Wait And See, Pasar Uang Domestik Melambat