Showing posts with label harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Show all posts
Showing posts with label harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Show all posts

Monday, December 1, 2014

Selasa Siang, Rupiah Menguat ke Posisi Rp 12.254 / USD

Financeroll – Pergerakan nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa (2/12) pagi hingga siang bergerak menguat sebesar 26 poin menjadi Rp 12.254 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.280 per dolar AS.  Mata uang rupiah berpeluang menguat setelah rilis data ekonomi Indonesia terbilang positif menyusul laporan data perdagangan Indonesia bulan Oktober 2014 yang mencatatkan surplus sebesar 23,2 juta dolar AS.


Meski tidak ada reaksi berlebihan, namun cukup menopang mata uang rupiah terhadap dolar AS.  Inflasi November 2014 yang diumumkan naik ke level 6,23 persen secara tahunan menjadi salah satu penahan laju rupiah bergerak menguat lebih tinggi. Namun, inflasi sudah diprediksi setelah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.


Saat ini,  pelaku pasar sedang menanti data pengeluaran konstruksi Amerika Serikat yang diperkirakan membaik. Kondisi itu juga dapat menahan laju mata uang rupiah untuk bergerak lebih tinggi.  Laju mata uang rupiah masih bergerak stabil seiring dengan data ekonomi Indonesia yang tidak terlalu buruk, meski mencatatkan inflasi namun itu sudah diprediksi.  Diharapkan Bank Indonesia  (BI) menjaga laju rupiah agar tetap stabil terhadap dolar AS di tengah ekspektasi membaiknya ekonomi Amerika serikat.  [geng]



Selasa Siang, Rupiah Menguat ke Posisi Rp 12.254 / USD

Wednesday, November 26, 2014

Aksi Beli Lebih Dominan, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll - Pada perdagangan  Rabu (26/11) pergerakan  nilai  tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta  bergerak mendatar dengan kecenderungan melemah tipis menjadi Rp 12.164 dibandingkan posisi sebelumnya Rp  12.163 per dolar AS.  Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil rebound 14 poin berkat penguatan saham-saham di sektor aneka industri. Aksi beli mulai marak jelang penutupan perdagangan.  Pada awal perdagangan pagi tadi, IHSG naik 6,294 poin (0,12%) ke level 5.125,239 di tengah koreksi bursa-bursa Asia.


Penaikan harga BBM bersubsidi akan mendorong inflasi November 2014, namun diyakini kenaikan inflasi masih dapat terjaga menyusul langkah cepat Bank Indonesia (BI) yang menaikan suku bunga acuan (BI rate). Sementara untuk data neraca perdagangan, akan mengalami penurunan defisit meski belum signifikan.  Laju mata uang rupiah juga masih dibayangi oleh data produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat kuartal III 2014 yang tumbuh 3,9 persen sehingga potensi dolar AS melanjutkan penguatan di pasar uang domestik cukup terbuka.  Ekonomi AS memang cenderung lebih baik dibandingkan negara maju lainnya seperti di negara-negara kawasan Eropa, Jepang,  dan Tiongkok.


Meski rupiah cenderung melemah, namun pergerakannya masih relatif stabil. Kondisi Rupiah yang cukup stabil itu dimulai sejak pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.  Diharapkan kebijakan pemerintah itu dapat mendorong ekspektasi pelaku pasar di dalam negeri positif terhadap fundamental ekonomi Indonesia ke depan sehingga mampu menopang mata uang domestik.  Pada pekan ini,  diperkirakan kurs Rupiah akan bergerak di kisaran Rp 12.135-Rp 12.185 per dolar AS.  Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Rabu (26/11) ini tercatat mata uang Rupiah bergerak menguat menjadi Rp 12.160 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.166 per dolar AS.


Dari bursa saham, investor belum terlalu bersemangat karena minimnya sentimen positif. Namun saham-saham unggulan bisa menguat berkat aksi beli selektif.  Menutup  perdagangan SesiI I, IHSG menipis 8,472 poin (0,17%) ke level 5.110,473. Aksi jual investor asing membuat indeks jatuh ke zona merah. Indeks bergerak di rentang yang tipis.  Tercatat setelah naik di awal perdagangan, IHSG tak lama langsung kena koreksi. Investor asing masih terus melepas saham gara-gara kurangnya sentimen positif.  Menutup perdagangan   IHSG menguat 14,091 poin (0,28%) ke level 5.133,036. Sementara Indeks unggulan LQ45 tumbuh 3,310 poin (0,38%) ke level 884,587.


Selain saham di sektor aneka industri, saham-saham di agrikultur, pertambangan, konstruksi, manufaktur, dan konstruksi juga rata-rata berhasil menguat. Investor asing memutuskan beli saham di menit-menit terakhir.  Transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 692,357 miliar di seluruh pasar, sedangkan di pasar reguler hanya Rp 137,269 miliar.


Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 218.617 kali dengan volume 5,74 miliar lembar saham senilai Rp 4,703 triliun. Sebanyak 145 saham naik, 140 turun, dan 103 saham stagnan.  Bursa-bursa regional masih bergerak variatif hingga siang hari ini. Pasar saham Tiongkok dan Hong Kong mampu bertahan di zona hijau. [geng]



Aksi Beli Lebih Dominan, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.164 / USD

Financeroll - Pergerakan  nilai  tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu (26/11) sore, bergerak mendatar dengan kecenderungan melemah tipis menjadi Rp 12.164 dibandingkan posisi sebelumnya Rp  12.163 per dolar AS.  Mata uang rupiah bergerak mendatar dengan kecenderungan melemah di tengah antisipasi investor pasar uang terhadap data-data ekonomi Indonesia yang sedianya akan dipublikasi pada awal Desember mendatang.


Penaikan harga BBM bersubsidi akan mendorong inflasi November 2014, namun diyakini kenaikan inflasi masih dapat terjaga menyusul langkah cepat Bank Indonesia yang menaikan suku bunga acuan (BI rate). Sementara untuk data neraca perdagangan, akan mengalami penurunan defisit meski belum signifikan.


Di sisi lain, laju mata uang rupiah juga masih dibayangi oleh data produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat kuartal III 2014 yang tumbuh 3,9 persen sehingga potensi dolar AS melanjutkan penguatan di pasar uang domestik cukup terbuka.  Ekonomi AS memang cenderung lebih baik dibandingkan negara maju lainnya seperti di negara-negara kawasan Eropa, Jepang,  dan Tiongkok.


Meski rupiah cenderung melemah, namun pergerakannya masih relatif stabil. Kondisi Rupiah yang cukup stabil itu dimulai sejak pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.  Diharapkan kebijakan pemerintah itu dapat mendorong ekspektasi pelaku pasar di dalam negeri positif terhadap fundamental ekonomi Indonesia ke depan sehingga mampu menopang mata uang domestik.


Pada pekan ini,  kurs Rupiah akan bergerak di kisaran Rp 12.135-Rp 12.185 per dolar AS.  Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Rabu (26/11) ini tercatat mata uang Rupiah bergerak menguat menjadi Rp 12.160 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.166 per dolar AS.  [geng]



Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.164 / USD