Showing posts with label Bank Indonesia (BI). Show all posts
Showing posts with label Bank Indonesia (BI). Show all posts

Sunday, January 18, 2015

Sepekan Terakhir, Rupiah Menguat 47 Poin

Financeroll – Sepanjang pekan terakhir, nilai tukar  Rupiah mampu bertahan  di jalur  positif seiring dolar AS yang melambat. Data tenaga kerja dan manufaktur AS menunjukkan angka yang negatif.  Merujuk pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dilansir Bank Indonesia (BI),  nilai tukar rupiah menguat 47 poin (0,37%) ke posisi 12.593 per Jumat (16/1) dibandingkan akhir pekan sebelumnya di posisi 12.640.


Kurs Rupiah tercatat menguat sepekan kemarin. Akankah bertahan? Mulai berkurangnya sentimen rilis hasil the Federal Open Market Committee (FOMC) meeting memberikan kesempatan pada rupiah untuk dapat menguat karena laju dolar AS sedang berkurang daya pacunya.  Rilis pelemahan pada non-farm payrolls dan manufacturing payrolls AS memberikan sentimen negatif pada dolar AS dan memicu pelemahan nilai tukarnya.


Meski nilai tukar yuan menguat seiring meningkatnya ekspor China, tidak diimbangi dengan pergerakan Euro dan Poundsterling yang malah menunjukkan pelemahannya. Turunnya data Jerman dan Italia yang dibarengi dengan rilis masih rendahnya tingkat inflasi Inggris memberikan tekanan negatif bagi kedua mata uang tersebut.


Dengan pelemahan Euro dan Poundsterling kembali dimanfaatkan dolar AS untuk kembali menguat dan tentunya berimbas negatif pada Rupiah.  Kurs  rupiah mampu berbalik positif di tengah ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga BI rate. Masih adanya kecenderungan pelemahan pada data-data makroekonomi Indonesia, terutama tren pelemahan rupiah yang dikhawatirkan akan berlanjut memberikan spekulasi BI akan kembali menaikkan BI rate untuk meredam data-data negatif tersebut.


Di sisi lain,  penguatan rupiah juga didukung penguatann Yen setelah terindikasi peralihan dari komoditas ke mata uang yang dinilai stabil.  Setelah bergerak positif, laju rupiah kembali tertekan seiring belum dirilisnya level BI rate saat itu membuat dorongan terhadap laju rupiah kian berkurang.  Masih cenderung melemahnya harga minyak mentah dunia yang berimbas pada harga-harga komoditas membuat pelaku pasar cenderung beralih ke mata uang safe heaven, yang salah satunya dolar AS.[geng]



Sepekan Terakhir, Rupiah Menguat 47 Poin

Thursday, January 15, 2015

Bursa Regional Bergerak Positif, IHSG Ditutup Menguat

Financeroll – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 29 poin, kompak menguat bersama bursa-bursa regional. Saham-saham unggulan dikoleksi investor domestik.  Indeks sempat naik cukup tinggi di awal perdagangan, sampai ke level 5.193. Aksi jual investor asing menghambat penguatan IHSG.


Menutup perdagangan Sesi I, IHSG menguat 20,648 poin (0,40%) ke level 5.180,316. meski investor asing gencar melepas saham. Saham-saham unggulan menahan Indeks di jalur hijau.  Sembilan indeks sektoral berhasil menguat, hanya sektor perdagangan yang masih merah. Investor juga masih menanti pengumuman BI Rate oleh Bank Indonesia (BI).


Pada akhir perdagangan, Kamis (15/1), IHSG ditutup melaju 29,044 poin (0,56%) ke level 5.188,712. Sementara Indeks LQ45 ditutup menguat 6,749 poin (0,76%) ke level 893,685.  Dana asing belum berhenti mengalir keluar lantai bursa sejak awal tahun ini. Transaksi investor asing sore ini terpantau melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 620,14 miliar di seluruh pasar.


Tercatat perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 229.336 kali dengan volume 7,082 miliar lembar saham senilai Rp 6,111 triliun. Sebanyak 180 saham naik, 99 turun, dan 93 saham stagnan. Bursa regional bisa menepis sentimen negatif dari pasar global, mulai dari melemahnya Wall Street hingga harga minyak dunia yang tiarap. Bursa regional kompak menguat di akhir perdagangan hari ini.


Sejumlah saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Blue Bird (BIRD) naik Rp 475 ke Rp 11.575, Indocement (INTP) naik Rp 475 ke Rp 24.850, Matahari (LPPF) naik Rp 450 ke Rp 14.650, dan Impack (IMPC) naik Rp 275 ke Rp 5.775.


Adapun  saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategoritop losers antara lain Trikomsel (TRIO) turun Rp 330 ke Rp 1.065, Multi Bintang (MLBI) turun Rp 175 ke Rp 11.700, Siloam (SILO) turun Rp 125 ke Rp 13.100, dan Logindo (LEAD) turun Rp 105 ke Rp 2.220.


Sementara situasi dan kondisi bursa-bursa di Asia hingga siang hari ini:  Indeks Nikkei 225 melompat 312,74 poin (1,86%) ke level 17.108,70, Indeks Hang Seng naik 238,31 poin (0,99%) ke level 24.350,91, Indeks Komposit Shanghai meroket 114,02 poin (3,54%) ke level 3.336,45, dan  Indeks Straits Times menguat 11,19 poin (0,34%) ke level 3.337,35. [geng]


 



Bursa Regional Bergerak Positif, IHSG Ditutup Menguat

Sunday, December 7, 2014

Sepekan Terakhir, Rupiah Melemah 100 Poin

Financeroll – Sepanjang pekan terakhir, nilai tukar rupiah kalah terhadap dolar AS seiring berbagai sentimen yang cenderung menguntungkan mata uang AS  itu.    Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dilansir Bank Indonesia (BI), dalam  nilai tukar rupiah melemah 100 poin (0,81%) ke posisi 12.296 per 5 Desember 2014 dibandingkan akhir pekan sebelumnya di 12.196 per 28 November.


Laju Rupiah di awal pekan masih seperti sebelumnya dan sesuai dengan perkiraan di mana dengan maraknya permintaan terhadap dolar AS membuat rupiah sulit keluar dari zona merah.  Kurs  Rupiah pun masih melanjutkan pergerakan negatifnya.   Berita mengenai perkiraan akan meningkatnya penjualan ritel AS sepanjang periode black Friday memberikan angin positif pada dolar AS.  Dari rilis data-data ekonomi, tampaknya direspons negatif atas tingginya inflasi yang diperkirakan dapat melampaui tingkat suku bunga acuan.


Meski neraca perdagangan mencatatkan surplus, tidak terlalu direspons baik oleh rupiah karena terjadi penurunan impor maupun ekspor yang memberikan gambaran masih lemahnya penjualan ekspor dan perlambatan di dalam negeri dengan melemahnya impor.  Adanya perkiraan indeks economic optimism AS akan mengalami kenaikan memberikan sentimen positif pada laju dolar AS dan Rupiah pun kembali terkena imbasnya.  Tetapi, masih adanya respons positif terhadap rilis data ekonomi Indonesia masih dapat menahan pelemahan tersebut.


Rilis kenaikan chain store sales, redbook, construction spending, dan ISM New York Index memberikan sentimen positif pada dolar AS.  Rupiah masih melanjutkan pelemahan hingga level psikologis 12.300 telah terlewati.   Sentimen dari berbalik naiknya harga saham-saham produsen dan kenaikan data ISM non manufacturing PMI memberikan sedikit pandangan bahwa ekonomi AS akan segera pulih, meski bertahap.


Di lain hari, meski laju Yen masih bergerak melemah dan dolar AS terus menunjukkan apresiasinya, laju rupiah mampu bergerak menguat setelah memanfaatkan penguatan Euro terhadap dolar AS.  Di sisi lain, sebagian pelaku pasar juga memanfaatkan penguatan euro untuk trading buy dan profit taking pada dolar AS meski tidak terlalu signifikan.  Sebab, dolar AS masih mendapat katalis positif dari sentimen rilis lebih rendahnya initial jobless claim AS dari perkiraan. [geng]



Sepekan Terakhir, Rupiah Melemah 100 Poin

Friday, December 5, 2014

Akhir Pekan, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll - Pada perdagangan akhir pekan (5/12) nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak melemah lima poin menjadi Rp 12.295 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.290 per dolar AS.  Kurs nilai tukar rupiah masih berada di area negatif, namun fluktuasinya cukup stabil diperkirakan ada intervensi dari Bank Indonesia (BI).  Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat  10 poin menutup perdagangan akhir pekan. Indeks belum kuat bertahan di level 5.200 gara-gara aksi ambil untung.  Indeks belum masuk teritori negatif sejak pembukaan perdagangan.


Nilai tukar rupiah berpotensi mengalami pelemahan kembali seiring dengan menurunnya cadangan devisa Indonesia pada akhir November 2014 menjadi 111,1 miliar dolar AS, atau turun sekitar 900 juta dolar AS dari posisi akhir Oktober 2014 yang sebesar 112 miliar dolar AS.  Sentimen saat ini belum ada yang cukup mendukung bagi penguatan mata uang rupiah.  Investor juga terlihat waspada menanti data non-farm payroll AS (jumlah upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja) yang dapat memberikan petunjuk tambahan atas kondisi perekonomian konsumen minyak terbesar di dunia itu.  Jika data itu menegaskan perbaikan kondisi tenaga kerja AS maka dapat menimbulkan asumsi mendorong Federal Reserve untuk lebih cepat menaikan suku bunga di 2015.


Di sisi lain, outlook kebijakan the Fed itu akan menentukan pergerakan dolar AS sehingga akan turut mempengaruhi pergerakan rupiah.  Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Jumat (5/12) ini tercatat mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp 12.296 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.318 per dolar AS. [geng]


Dari bursa saham, menutup  perdagangan Sesi I, IHSG menguat tipis 9,562 poin (0,18%) ke level 5.186,722. Sayangnya laju IHSG harus melambat akibat aksi ambil untung.  Laju penguatan Indeks mulai melambat setelah mencapai titik tertingginya di 5.206. Aksi ambil untung terjadi di saham-saham yang sudah naik tinggi.  Pada akhir  perdagangan IHSG ditutup tumbuh 10,834 poin (0,21%) ke level 5.187,994. Sementara Indeks LQ45 naik 1,595 poin (0,18%) ke level 893,777.  Untungnya, aksi jual ini tidak sampai membuat IHSG jatuh ke zona merah. Aksi ini terjadi di saham-saham tambang, konsumer, dan konstruksi.


Tercatat transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih senilai Rp 737,081 miliar di seluruh pasar.  Perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 215.861 kali dengan volume 6,032 miliar lembar saham senilai Rp 4,830 triliun. Sebanyak 141 saham naik, 152 turun, dan 95 saham stagnan.


Beberapa bursa di Asia menutup perdagangan dengan kompak menguat. Bursa saham Tiongkok memimpin penguatan.  Berikut situasi dan kondisi bursa regional sore hari ini:  Indeks Nikkei 225 naik 33,24 poin (0,19%) ke level 17.920,45, Indeks Hang Seng menguat 170,08 poin (0,71%) ke level 24.002,64, Indeks Komposit Shanghai melonjak 38,19 poin (1,32%) ke level 2.937,65, dan  Indeks Straits Times bertambah 13,91 poin (0,42%) ke level 3.318,73. [geng]



Akhir Pekan, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Monday, December 1, 2014

Data Inflasi Dirilis , Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll - Pada perdagangan Senin (1/12) nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta  bergerak melemah 90 poin menjadi Rp 12.295 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.205 per dolar AS.  Kondisi mata uang dolar AS yang terus bergerak menguat di pasar Asia berdampak negatif bagi nilai tukar rupiah di pasar uang domestik.  Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 14 poin berkat aksi beli selektif di saham-saham unggulan. Indeks semakin mendekati level 5.200.  Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG naik tipis 0,492 poin (0,01%) ke level 5.150,380.


Laju mata uang rupiah masih bergerak stabil menyusul data ekonomi Indonesia yang tidak terlalu buruk, meski mencatatkan inflasi namun itu sudah diprediksi. Sementara neraca perdagangan mencatatkan surplus.  Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi menyumbang inflasi November 2014 yang sebesar 1,5 %.  Laju inflasi tahun kalender Januari-November 2014 telah mencapai 5,75% dan inflasi secara tahunan (yoy) tercatat sebesar 6,23 %.


Sementara neraca perdagangan Oktober 2014 mengalami surplus sebesar USD  23,2 juta, dimana kinerja ekspor mencapai USD  15,35 miliar dan impor sebesar USD  15,33 miliar. Keputusan pemerintah untuk menaikan harga BBM bersubsidi meningkatkan harapan akan lebih cepatnya perbaikan defisit neraca transaksi berjalan Indonesia.  Ini mungkin dapat meredam potensi pelemahan rupiah yang berlebihan. Seiring pelemahan  pada transaksi antarbank di Jakarta, pada kurs tengah Bank Indonesia (BI)  mata uang lokal ini juga bergerak melemah menjadi Rp 12.264 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.196 per dolar AS.


Dari bursa saham, menutup  perdagangan Sesi I, IHSG naik tipis 6,203 poin (0,12%) ke level 5.156,091. Indeks balik arah positif setelah pengumuman inflasi. Pagi tadi aksi jual sempat membawa indeks ke teritori negatif.  Pada akhir  perdagangan awal pekan, Senin (1/12), IHSG ditutup bertambah 14,400 poin (0,28%) ke level 5.164,288. Sementara Indeks LQ45 ditutup naik 4,365 poin (0,49%) ke level 890,699.  Transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 67,711 miliar di seluruh pasar.


Tercatat perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 218.731 kali dengan volume 6,346 miliar lembar saham senilai Rp 5,744 triliun. Sebanyak 134 saham naik, 170 turun, dan 79 saham stagnan.  Harga minyak dunia yang masih dalam tren melemah membuat pelaku pasar khawatir, akhirnya banyak terjadi aksi jual. Bursa-bursa regional pun rata-rata berakhir di zona merah hari ini.


Sedangkan situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 naik 130,25 poin (0,75%) ke level 17.590,10, Indeks Hang Seng anjlok 620,00 poin (2,58%) ke level 23.367,45, Indeks Komposit Shanghai menipis 2,68 poin (0,10%) ke level 2.680,16, dan  Indeks Straits Times jatuh 45,72 poin (1,36%) ke level 3.304,78. [geng]



Data Inflasi Dirilis , Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Saturday, November 29, 2014

Sepekan Terakhir, Rupiah Melemah 31 Poin

Financeroll – Sepanjang pekan terakhir, nilai tukar rupiah kalah terhadap dolar AS. Salah satu pemicunya adalah isu Bank Indonesia (BI) mengakumulasi dolar AS yang sedang rendah.  Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang dilansir  BI  dalam sepekan terakhir, nilai tukar rupiah melemah 35 poin (0,28%) ke posisi 12.196 per 28 November 2014, dibandingkan akhir pekan sebelumnya di angka 12.161 pada 21 November.


Masih berlanjutnya pelemahan pada laju yen dan yuan setelah masing-masing bank sentralnya mengeluarkan kebijakan, tidak membuat laju rupiah ikut melemah di awal pekan.  Tampaknya pelemahan tersebut dapat diimbangi dengan sikap pelaku pasar yang masih merespons positif kebijakan kenaikan suku bunga BI rate untuk antisipasi kenaikan inflasi dan pengurangan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM).


Berbalik menguatnya Yen setelah mengalami pelemahan dalam beberapa hari terakhir dimanfaatkan untuk beralih ke yen.  Akibatnya rupiah ikut terkena aksi jualnya dan berbalik melemah,  Selain itu, adanya penilaian bahwa BI sedang memanfaatkan rendahnya Dolar AS untuk akumulasi memberikan sentiment positif bagi dolar AS.  Kurs Rupiah pun sedikit melemah terimbas kondisi tersebut.


Laju Rupiah, mampu berbalik menguat sejalan dengan berbalik menguatnya euro setelah dirilisnya penilaian Jerman yang selamat dari resesi.  Adanya optimisme ekspor dari negara-negara industri Euro terutama negara-negara besar seperti Jerman, Perancis, dan beberapa lainnya yang akan mengalami peningkatan dengan melemahnya Euro sebelumnya juga menambah sentimen positif.


Di lain hari, kurs  Rupiah tampaknya tidak kuat dengan aksi jual sehingga cenderung bergerak melemah.  Tampaknya sentimen yang ada kurang dapat memberikan konfirmasi penguatan lanjutan.  Melemahnya Yuan seiring langkah pemerintah yang akan melonggarkan ekonominya turut berimbas pada penurunan rupiah.  Hingga akhir pekan, laju rupiah masih cenderung melemah.  [geng]



Sepekan Terakhir, Rupiah Melemah 31 Poin

Wednesday, November 26, 2014

Pre Opening: IHSG Diperkirakan Mixed, Cenderung Menguat

Financeroll – Pergerakan  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini diperkirakan bergerak mixed, cenderung menguat. IHSG akan berada dikisaran level 5060-5170. Rekomendasi: ASII, BBNI, ADRO, HRUM, BBTN, INTP, ADHI, dan ICBP. Secara teknikal, major trend masih bullish namun minor trend sideways dan kembali tutup di atas MA5-nya dengan MA(20,50) golden cross. Stochastic overbought sementara RSI dan MACD positif.


Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mengungkapkan jika inflasi November 2014 hingga minggu ketiga bisa mencapai 1,3%-1,4%. Menurutnya, inflasi inti masih terjaga walaupun akan terjadi kenaikan pada bulan berikutnya. Bank sentral memprediksi inflasi Desember 2014 akan melaju hingga diatas 2%, atau merupakan yang tertinggi di tahun ini.


Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (26/11) ditutup menguat 0,27% pada level 5133. Sektor aneka industri menyumbangkan penguatan terbesar. Investor asing melakukan net buy senilai Rp 260,9 miliar. Indeks di bursa Wall Street ditutup menguat ditengah optimisme akan kekuatan ekonomi AS meskipun terjadi perlambatan ekonomi global. Indeks Dow Jones dan S&P500 ditutup pada level tertinggi.


Kurangnya berita-berita baru belum dapat memberikan dukungan. IHSG menutup perdagangan relatif menguat diikuti oleh adanya minat beli asing kemarin dengan membentuk pola bullish harami yang masih memberi sinyal positif. Maka, kami memperkirakan IHSG akan bergerak cenderung menguat pada hari ini.


Data initial claims pekan lalu meningkat pada level 313 ribu dari pekan sebelumnya 292 ribu. Data durable orders bulan Oktober tumbuh 0,4% setelah bulan sebelumnya mengalami penurunan 0,9%, lebih baik dibandingkan estimasi yang diperkirakan turun 0,6%. Data personal income bulan Oktober tumbuh sesuai estimasi 0,2%, setelah bulan sebelumnya naik 0,4%. Sedangkan data personal spending membaik dengan tumbuh 0,2% dari bulan sebelumnya yang stagnan, meskipun sedikit di bawah estimasi yang tumbuh 0,3%.


Selain itu, data Chicago PMI bulan November berada pada level 60,8 dari bulan sebelumn ya yang berada pada level 66,2. Sedangkan Michigan Sentimen bulan November berada pada 88,8 dari sebelumnya 89,4. Untuk data new home sales meningkat menjadi 458 ribu dari 455 ribu. Namun pending home sales turun 1,1%.


Dari pasar Asia, pergerakan pasar saham dipengaruhi oleh hasil pertemuan OPEC yang sepakat tidak memangkas produksi minyak dunia. Koreksi pasar saham Asia ditunjukkan oleh indeks Nikkei 225 di Jepang sebesar -0,40%. Sedangkan indeks KOSPI Composite di Korea Selatan menguat +0,25%. Sementara harga kontrak berjangka (futures) komoditas bergerak mixed. Harga minyak mentah WTI turun -0,23% ke level US$73,52 per barel. Sedangkan harga emas Comex menguat 0,01% ke posisi US$1.197,60 per troy ounce. [geng]



Pre Opening: IHSG Diperkirakan Mixed, Cenderung Menguat

Aksi Beli Lebih Dominan, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll - Pada perdagangan  Rabu (26/11) pergerakan  nilai  tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta  bergerak mendatar dengan kecenderungan melemah tipis menjadi Rp 12.164 dibandingkan posisi sebelumnya Rp  12.163 per dolar AS.  Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil rebound 14 poin berkat penguatan saham-saham di sektor aneka industri. Aksi beli mulai marak jelang penutupan perdagangan.  Pada awal perdagangan pagi tadi, IHSG naik 6,294 poin (0,12%) ke level 5.125,239 di tengah koreksi bursa-bursa Asia.


Penaikan harga BBM bersubsidi akan mendorong inflasi November 2014, namun diyakini kenaikan inflasi masih dapat terjaga menyusul langkah cepat Bank Indonesia (BI) yang menaikan suku bunga acuan (BI rate). Sementara untuk data neraca perdagangan, akan mengalami penurunan defisit meski belum signifikan.  Laju mata uang rupiah juga masih dibayangi oleh data produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat kuartal III 2014 yang tumbuh 3,9 persen sehingga potensi dolar AS melanjutkan penguatan di pasar uang domestik cukup terbuka.  Ekonomi AS memang cenderung lebih baik dibandingkan negara maju lainnya seperti di negara-negara kawasan Eropa, Jepang,  dan Tiongkok.


Meski rupiah cenderung melemah, namun pergerakannya masih relatif stabil. Kondisi Rupiah yang cukup stabil itu dimulai sejak pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.  Diharapkan kebijakan pemerintah itu dapat mendorong ekspektasi pelaku pasar di dalam negeri positif terhadap fundamental ekonomi Indonesia ke depan sehingga mampu menopang mata uang domestik.  Pada pekan ini,  diperkirakan kurs Rupiah akan bergerak di kisaran Rp 12.135-Rp 12.185 per dolar AS.  Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Rabu (26/11) ini tercatat mata uang Rupiah bergerak menguat menjadi Rp 12.160 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.166 per dolar AS.


Dari bursa saham, investor belum terlalu bersemangat karena minimnya sentimen positif. Namun saham-saham unggulan bisa menguat berkat aksi beli selektif.  Menutup  perdagangan SesiI I, IHSG menipis 8,472 poin (0,17%) ke level 5.110,473. Aksi jual investor asing membuat indeks jatuh ke zona merah. Indeks bergerak di rentang yang tipis.  Tercatat setelah naik di awal perdagangan, IHSG tak lama langsung kena koreksi. Investor asing masih terus melepas saham gara-gara kurangnya sentimen positif.  Menutup perdagangan   IHSG menguat 14,091 poin (0,28%) ke level 5.133,036. Sementara Indeks unggulan LQ45 tumbuh 3,310 poin (0,38%) ke level 884,587.


Selain saham di sektor aneka industri, saham-saham di agrikultur, pertambangan, konstruksi, manufaktur, dan konstruksi juga rata-rata berhasil menguat. Investor asing memutuskan beli saham di menit-menit terakhir.  Transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 692,357 miliar di seluruh pasar, sedangkan di pasar reguler hanya Rp 137,269 miliar.


Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 218.617 kali dengan volume 5,74 miliar lembar saham senilai Rp 4,703 triliun. Sebanyak 145 saham naik, 140 turun, dan 103 saham stagnan.  Bursa-bursa regional masih bergerak variatif hingga siang hari ini. Pasar saham Tiongkok dan Hong Kong mampu bertahan di zona hijau. [geng]



Aksi Beli Lebih Dominan, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Sunday, November 9, 2014

Rupiah Diperkirakan Bergerak Di Atas Level 12.170 / USD

Financeroll – Awal pekan ini, Senin (10/11) pergerakan  nilai tukar Rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) berada di atas level resisten Rp 12.170 per USD. Laju Rupiah saat ini sedang mencoba berbalik menguat.  Meski demikian, lajunya masih rentan terhadap pembalikan arah dan pergerakannya pun cenderung variatif.


Kurs Rupiah pada perdagangan hari ini, menurut kurs Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan berada pada kisaran Rp 12.165-Rp 12.130 per USD.  Sebelumnya, berhasil terapresiasi Rupiah setelah pelaku pasar merespons positif rilis data-data Jerman dan Perancis yang lebih baik dari sebelumnya sehingga berimbas pada laju Euro.


Adanya ekspektasi akan penurunan pada payrolls AS membuat laju dolar terkena profit taking dan melemah.  Di sisi lain, penguatan tipis Yen setelah rilis kenaikan investasi di Jepang turut melemahkan dolar sehingga dapat dimanfaatkan Rupiah untuk menguat. [geng]


 



Rupiah Diperkirakan Bergerak Di Atas Level 12.170 / USD

Thursday, October 23, 2014

Nantikan Sentimen Pendukung, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll - Pada perdagangan Kamis (23/10) nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta melemah 40 poin menjadi Rp 12.053 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.013 per dolar AS.  Penguatan dolar AS pada pasar global membebani kinerja nilai tukar rupiah.   Sementara itu, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil tembus lagi level psikologis 5.100 setelah naik 29 poin. Investor mengoleksi saham secara selektif sambil menunggu pengumuman jajaran kabinet pemerintahan baru.


Dolar AS menguat setalah naiknya inflasi Amerika Serikat, itu menegaskan bahwa ekspektasi berakhirnya program pembelian obligasi bank sentral AS (the Fed) menjelang pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 30 Oktober mendatang.  Tercatat  indeks dolar AS juga terbantu oleh data indeks harga konsumen AS yang lebih bagus dari perkiraan pasar. Selain itu, kekhawatiran baru soal banyaknya perbankan Eropa yang tidak lulus “stress test” juga menjadi salah satu pendorong dolar AS.


Di sisi lain,  investor juga masih mengambil posisi “wait and see” terhadap susunan kabinet pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang mendampingi selama lima tahun ke depan.  Diharapkan, pemerintahan Jokowi-JK dapat menjalankan kebijakan reformasi struktural yang diekspektasikan dapat mendorong perekonomian Indonesia.  Nilai tukar rupiah mengalami koreksi terhadap dolar AS pada Kamis ini (23/10), outlook mata uang domestik masih cukup netral berada di kisaran Rp 12.000-Rp 12.060 per dolar AS.  Seiring pelemahannya di transaksi antarbank di Jakarta, pada kurs tengah Bank Indonesia (BI) mata uang domestik juga bergerak melemah menjadi Rp 12.034 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.026 per dolar AS.


Dari bursa saham, menutup perdagangan Sesi I, IHSG naik 12,927 poin (0,25%) ke level 5.087,250. Indeks mendekati level 5.100 berkat aksi beli investor asing. Perdagangan berjalan sepi karena aksi tunggu investor.  Saham-saham yang kemarin naik cukup tinggi sempat dilepas untuk ambil untung. Untungnya aksi beli kembali muncul dan mendorong indeks balik arah ke zona hijau.


Pada akhir perdagangan, IHSG ditutup 29,195 poin (0,58%) ke level 5.103,518. Sementara Indeks LQ45 ditutup melaju 5,255 poin (0,61%) ke level 867,719.  Perdagangan berjalan sepi karena aksi tunggu investor menunggu pengumuman jajaran kabinet Presiden RI Joko Widodo (Jokowi). Aksi beli masih dilakukan oleh investor asing. Transaksi investor asing sore ini tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) tipis senilai Rp 7,55 miliar di seluruh pasar.


Tercatat perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 193.612 kali dengan volume 4,486 miliar lembar saham senilai Rp 5,361 triliun. Sebanyak 165 saham naik, 123 turun, dan 102 saham stagnan.  Hanya pasar saham Singapura yang berhasil menemani BEI di teritori positif. Bursa-bursa Asia lainnya terjebak di zona merah.


Sementara situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 melemah 56,81 poin (0,37%) ke level 15.138,96, Indeks Hang Seng turun 70,79 poin (0,30%) ke level 23.333,18, Indeks Komposit Shanghai anjlok 24,14 poin (1,04%) ke level 2.302,42, dan  Indeks Straits Times menanjak 34,07 poin (1,06%) ke level 3.236,81. [geng]


 



Nantikan Sentimen Pendukung, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Wednesday, October 15, 2014

Sentimen Negtif  Mereda, Pasar Uang Domestik Menggeliat

Financeroll – Pada perdagangan Rabu (15/10) pelemahan mata uang rupiah mulai terbatas. Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta  melemah enam poin menjadi Rp 12.212 dibanding posisi sebelumnya Rp 12.206 per dolar AS.   Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 40 poin berkat aksi beli di saham-saham yang sudah murah. Indeks makin mendekati lagi level 5.000.  Indeks terus menanjak sejak awal perdagangan sampai ke titik tertingginya hari ini di 4.972. IHSG masih terus berusaha kembali ke level psikologis 5.000.


Salah satu program yang ditunggu kalangan pasar keuangan di dalam negeri yakni realisasi kenaikan harga BBM bersubsidi. Dinaikkannya harga BBM itu diharapkan memberi ruang untuk mendorong pengembangan infrastruktur. Berkembangnya infrastruktur dapat mendorong salah satu lembaga pemeringkat menaikkan peringkat Indonesia menjadi investment grade.   Kembali menguatnya dolar AS terhadap rupiah seiring dengan bisnis Jerman dan produksi industri di negara-negara kawasan Eropa yang mengalami penurunan.


Inflasi Tiongkok yang mencatatkan perlambatan menimbulkan harapan pelonggaran moneter bank sentral Tiongkok (PBoC) untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonominya.  Seiring pelemahannya di transaksi antarbank di Jakarta, pada kurs tengah Bank Indonesia (BI) mata uang domestik ini juga bergerak melemah menjadi Rp 12.229 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.195 per dolar AS.


Dari bursa saham, menutup perdagangan Sesi I, IHSG melaju 36,793 poin (0,75%) ke level 4.959,375 setelah mulai ramai aksi beli di lantai bursa. Investor lokal paling banyak berburu saham ketimbang asing.  Saham-saham yang harganya sudah murah akibat koreksi kini jadi incaran investor. Saham-saham lapis dua naik cukup tinggi berkat aksi beli ini.


Pada akhir perdagangan  IHSG ditutup menguat 40,358 poin (0,82%) ke level 4.962,940. Sementara Indeks LQ45 menanjak 7,769 poin (0,93%) ke level 839,113.  Saham-saham komoditas jadi penghambat laju IHSG setelah kena koreksi akibat dilepas investor asing. Transaksi investor asing sore ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 182,897 miliar di seluruh pasar.


Sementara situasi dan kondisi bursa regional sore hari ini:  Indeks Nikkei 225 menguat 137,01 poin (0,92%) ke level 15.073,52,  Indeks Hang Seng naik 92,08 poin (0,40%) ke level 23.140,05, Indeks Komposit Shanghai menanjak 14,19 poin (0,60%) ke level 2.373,67, dan  Indeks Straits Times tumbuh 9,02 poin (0,28%) ke level 3.203,42. [geng]


 



Sentimen Negtif  Mereda, Pasar Uang Domestik Menggeliat

Monday, October 13, 2014

Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp 12.200 / USD

Financeroll – Laju nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat  di level Rp 12.200 per USD.  Merujuk  Bloomberg Dollar Index, Senin (13/10), Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) ditutup menguat 21 poin atau 0,18 persen di Rp 12.200 per USD. Rupiah bergerak di kisaran Rp 12.189-Rp 12.225 per USD.


Pada transaksi hari ini, kurs  Rupiah sempat menguat hingga Rp12.189 per USD dan posisi terendah di Rp 12.225 per USD. Dalam pergerakan 52 mingguannya, Rupiah berada di kisaran Rp 10.766-Rp 12.282 per USD.


Sedangkan, Bank Indonesia (BI) mencatat kurs tengah Rupiah berada di level Rp12.202 per USD. Angka tersebut menguat dibandingkan periode sebelumnya di level Rp12.207 per USD. [geng]



Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp 12.200 / USD

Thursday, October 9, 2014

Sentimen Penggerak Cukup Kuat, Pasar Uang Dometik Bergerak Positif

Financeroll - Pada perdagangan Kamis (9/10) nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Kamis (9/10) sore, menguat 97 poin menjadi Rp 12.138 dibanding posisi sebelumnya Rp 12.235 per dolar AS.  Masih melambatnya inflasi AS menjadi salah satu faktor mata uang dolar AS mengalami tekanan.  Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rebound 43 poin didorong positifnya bursa global dan regional. Indeks gagal balik ke level 5.000.  Pada awal perdagangan pagi tadi, IHSG naik 34,706 poin (0,70%) ke level 4.993,225 disokong  penguatan bursa global dan regional.


Tingkat inflasi merupakan salah satu pencapaian penting bagi the Fed untuk menaikan suku bunganya selain data tenaga kerja.  Meski demikian, kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Kamis ini diprediksi hanya bersifat sementara menyusul kondisi politik di dalam negeri masih belum kondusif.   Sentimen dari kebijakan the Fed yang akan mengakhiri program quantitative easing (QE) juga masih membayangi laju mata uang rupiah untuk melanjutkan apresiasi.  Faktor teknikal juga menjadi salah satu pemicu mata uang rupiah kembali menguat, sebagian pelaku pasar mulai melepas dolar AS untuk merealisasikan keuntungan.


Di sisi lain, dolar AS sudah menguat cukup tinggi sehingga mendorong pelaku pasar uang jangka pendek di dalam negeri memanfaatkan momentum itu untuk merealisasikan keuntungan.  Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia (BI)  pada hari Kamis (9/10) tercatat mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp 12.190 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.241 per dolar AS.


Dari bursa saham, investor domestik mendominasi perdagangan.  Menutup perdagangan, melaju 45,673 poin (0,92%) ke level 5.004,192 berkat aksi beli investor domestik. Rata-rata penguatan indeks sektoral cukup tinggi, sekitar 1%.   Sejumlah saham unggulan dan lapis dua yang kemarin sudah turun kini jadi incaran investor. Jelang penutupan perdagangan, laju penguatan Indeks sedikit melambat akibat aksi ambil untung. Pada akhir perdagangan, Kamis (9/10/2014), IHSG ditutup tumbuh 35,360 poin (0,71%) ke level 4.993,879. Sementara Indeks LQ45 ditutup bertambah 7,029 poin (0,84%) ke level 844,396.


Tercatat sembilan sektor berhasil menguat, hanya sektor tambang yang masih melemah. Transaksi investor asing sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih senilai Rp 267,329 miliar di pasar reguler dan negosiasi.  Perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 184.844 kali dengan volume 4,808 miliar lembar saham senilai Rp 3,983 triliun. Sebanyak 196 saham naik, 92 turun, dan 91 saham stagnan.


Penguatan Wall Street semalam mendorong bursa-bursa di Asia rata-rata berakhir positif sore hari ini. Hanya pasar saham Jepang yang terkena koreksi.  Berikut situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 melemah 117,05 poin (0,75%) ke level 15.478,93, Indeks Hang Seng melonjak 271,20 poin (1,17%) ke level 23.534,53, Indeks Komposit Shanghai menguat 6,58 poin (0,28%) ke level 2.389,37, dan  Indeks Straits Times menanjak 36,21 poin (1,12%) ke level 3.262,92. [geng]



Sentimen Penggerak Cukup Kuat, Pasar Uang Dometik Bergerak Positif