Showing posts with label Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif. Show all posts
Showing posts with label Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif. Show all posts

Tuesday, January 20, 2015

Investor Aktif Bertransaksi, Pasar uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll  - Pada perdagangan Selasa (20/1) nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta  sore bergerak melemah dua poin menjadi Rp 12.592 dibanding sebelumnya di posisi Rp 12.590 per dolar AS.  Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 13 poin, balik arah ke zona hijau berkat aksi beli investor domestik. Dana asing Rp 337 miliar mengalir keluar lantai bursa, total sudah Rp 2,7 triliun sejak awal tahun.  Setelah naik sampai ke 5.162, Indeks langsung terkena koreksi.


Produk domestik bruto (PDB) tahunan Tiongkok tumbuh 7,3 persen pada kuartal ke-4 2014, lebih tinggi dari estimasi 7,2 persen.   Produksi industri Tiongkok meningkat 7,9 persen untuk bulan Desember 2014, lebih baik dari prediksi kenaikan 7,4 persen.  Tiongkok yang merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia itu menjadi salah satu penopang bagi mata uang Rupiah sehingga tidak tertekan lebih dalam terhadap dolar AS.  Keputusan pemerintah Indonesia yang kembali menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi serta menurunkan harga elpiji 12 Kg dan semen dapat meredakan kecemasan atas ancaman perlambatan ekonomi Indonesia.


Meski demikian,  sentimen dari bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) masih cukup kuat masih membebani laju rupiah. Federal Reserve telah memberi sinyal untuk mulai menaikan suku bunga tahun ini, hal itu berbeda dengan kebijakan negara maju lainnya.  Pada minggu lalu, bank sentral Swiss telah memberlakukan suku bunga negatif 0,75 persen dan kebijakan ini juga diikuti oleh bank sentral Denmark yang kemarin menurunkan suku bunga depositonya menjadi minus 0,2 persen.  Kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa (20/1) ini tercatat mata uang rupiah bergerak melemah menjadi Rp 12.659 dibanding hari sebelumnya, Senin (19/1) di posisi Rp 12.612 per dolar AS.


Dari bursa saham, menutup perdagangan Sesi I, IHSG melemah 25,705 poin (0,50%) ke level 5.126,388 terkena tekanan jual investor asing. Indeks menjadi satu-satunya yang ‘merah’ di antara bursa Asia yang kompak menguat.  Investor domestik masih jadi penggerak bursa sejak awal tahun ini dengan konsisten membeli saham. Sedangkan investor asing belum berhenti melepas saham.  Tercatat aksi beli investor domestik di saham-saham unggulan berhasil membawa Indeks balik arah ke zona hijau jelang penutupan perdagangan.


Pada akhir  perdagangan, Selasa (20/1), IHSG menguat 13,997 poin (0,27%) ke level 5.166,090. Sementara Indeks LQ45 naik 3,636 poin (0,41%) ke level 890,900.  Transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 337,631 miliar di pasar reguler dan negosiasi.  Perdagangan hari ini berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 232.303 kali dengan volume 5,987 miliar lembar saham senilai Rp 6,269 triliun. Sebanyak 110 saham naik, 169 turun, dan 101 saham stagnan.


Sementara bursa-bursa regional akhirnya bergerak kompak menguat hingga penutupan perdagangan hari ini. Ekonomi Tiongkok yang tumbuh lambat tidak jadi penghambat laju bursa regional.  Berikut situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 melonjak 352,01 poin (2,07%) ke level 17.366,30, Indeks Hang Seng naik 212,67 poin (0,90%) ke level 23.951,16, Indeks Komposit Shanghai menanjak 56,70 poin (1,82%) ke level 3.173,05, dan  Indeks Straits Times menguat 23,76 poin (0,72%) ke level 3.331,46. [geng]



Investor Aktif Bertransaksi, Pasar uang Domestik Bergerak Variatif

Monday, January 19, 2015

Nantikan Sentimen Penggerak, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll - Pada perdagangan Senin (19/1) pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pagi hingga siang, bergerak melemah sebesar 13 poin menjadi Rp 12.603 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.590 per dolar AS.  Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan awal pekan dengan naik tipis 3 poin. Investor domestik menahan IHSG dengan aksi beli di saham unggulan. Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG naik tipis 3,780 poin (0,07%) ke level 5.152,159.


Penurunan harga BBM itu diperkirakan membuat laju inflasi menurun sehingga dapat menjadi sentimen positif bagi rupiah. Namun ekspektasi penurunan inflasi itu sejauh ini hanya mampu mengangkat performa di pasar surat utang negara (SUN) bertenor 10 tahun.  Tekanan rupiah terhadap dolar AS diperkirakan masih bertahan.  Potensi penguatan mata uang rupiah masih ada, namun tetap perlu mewaspadai setiap sentimen negatif yang muncul.  Pasca rilis penurunan harga bahan bakar minyak subsidi hingga harga semen masih berpotensi untuk mendukung rupiah untuk berbalik positif.


Nantinya imbas penurunan tersebut akan dapat membuat harga-harga sejumlah bahan pokok menurun sehingga inflasi dapat dikendalikan.  Di sisi lain,  Bank Indonesia (BI)  yang mempertahankan tingkat suku bunga acauan (BI rate) di level 7,75% masih akan direspon positif seiring tidak terlalu reaktifnya BI menanggapi sentimen yang ada.


Dari bursa saham,  Indeks  sempat naik sampai ke titik tertingginya di 5.171 tapi hanya bertahan sebentar karena aksi jual masih marak.  Menutup perdagangan Sesi I, IHSG menipis 0,261 poin (0,01%) ke level 5.148,118. Investor domestik tak kuat mengimbangi aksi jual investor asing.  Sejumlah saham lapis dua yang terkena aksi jual investor asing. Tiga sektor akhirnya melemah, yaitu sektor industri dasar, infrastruktur, dan agrikultur.  Pada akhir perdagangan awal pekan, Senin (19/1), IHSG ditutup menguat tipis 3,714 poin (0,07%) ke level 5.152,093. Sementara Indeks unggulan LQ45 ditutup naik tipis 0,921 poin (0,10%) ke level 887,264.


Tercatat transaksi investor asing sampai sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 705,79 miliar di pasar reguler dan negosiasi.  Perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 228.222 kali dengan volume 6,355 miliar lembar saham senilai Rp 5,805 triliun. Sebanyak 136 saham naik, 141 turun, dan 95 saham stagnan.


Di sisi lain, pasar saham Tiongkok anjlok sangat dalam setelah pemerintah setempat menghentikan perdagangan tiga broker terbesarnya untuk investigasi soal transaksi marjin yang berisiko tinggi.  Bursa-bursa Asia lainnya masih bisa menguat didorong oleh sentimen positif dari Wall Street semalam, seperti pasar saham Jepang dan Singapura.


Sementara situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 naik 150,13 poin (0,89%) ke level 17.014,29, Indeks Hang Seng anjlok 365,03 poin (1,51%) ke level 23.738,49, Indeks Komposit Shanghai terjun bebas 260,14 poin (7,70%) ke level 3.116,35, dan  Indeks Straits Times menguat 5,26 poin (0,16%) ke level 3.305,94. [geng]


 



Nantikan Sentimen Penggerak, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Friday, January 2, 2015

Transaksi Belum Masif, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll - Pada perdagangan Jumat (2/1) nilai tukar rupiah bergerak melemah sebesar 43 poin menjadi Rp 12.430 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp 12.387 per dolar AS, menyusul data inflasi dan neraca perdagangan yang dirilis BPS.  Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih  bertahan di zona hijau. Indeks tidak  menyentuh teritori negatif. Perdagangan perdana pada 2015 dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).  Menutup perdagangan  IHSG berada di posisi 5.242,77, naik 15,82 poin atau 0,3%.


Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laju inflasi Desember 2014 mencapai 2,46% sehingga laju inflasi tahun kalender 2014 maupun secara tahunan (yoy) tercatat sebesar 8,36%.  Inflasi lebih tinggi dari prediksi kalangan analis sebesar 7,92%. Meningkatnya inflasi dapat menggerogoti daya beli konsumen sehingga dapat membuat ancaman berlanjutnya perlambatan ekonomi Indonesia di kuartal IV 2014.


Di sisi lain,  neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar USD 20 juta pada November 2014, juga masih lebih rendah dari ekspektasi kalangan pasar.  Performa ekspor masih rendah sehingga surplus di bawah ekspektasi, mengisyaratkan Indonesia masih akan alami defisit neraca transaksi berjalan yang dapat memberi sentimen negatif terhadap Rupiah.


Dari bursa saham, tercatat transaksi  belum terlalu masif . Ini merupakan fenomena yang terjadi setiap awal tahun, dan kebetulan hari ini merupakan hari kejepit nasional sehingga banyak investor yang masih meliburkan diri.  Hanya terjadi 155.661 kali transaksi yang melibatkan 5,6 miliar unit saham senilai Rp 4,57 triliun. Sebanyak 149 saham menguat, 136 melemah, dan 79 stagnan.


Saham barang konsumsi merupakan yang paling diburu investor, dengan penguatan mencapai 1,26%. Sementara saham yang cukup banyak dilepas adalah aneka industri sehingga sektor ini melemah 0,5%.  Sejumlah saham yang menguat signifikan dan menjadi top gainers antara lain Gudang Garam (GGRM) naik Rp 1.100 di posisi Rp 61.800, Maskapai Reasuransi Indonesia (MREI) naik Rp 740 menjadi Rp 4.980, dan Indofood Sukses Makmur (INDF) naik Rp 700 menjadi Rp 7.450.


Sejumlah saham yang melemah dan masuk jajaran top losers di antaranya HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 650 menjadi Rp 68.000, Matahari Department Store (LPPF) turun Rp 225 menjadi Rp 14.775, dan Bank Mestika Dharma (BBMD) turun Rp 200 menjadi Rp 1.400.  Bursa saham regional bergerak mixed cenderung menguat. Berikut perkembangan sejumlah bursa saham di Asia:  Hang Seng naik 252,78 poin (1,07%) menjadi 23.857,82, KOSPI menguat 10,85 poin (0,57%) menjadi 1.926,44, dan Straits Times menguat 2,92 poin (0,09%) menjadi 3.368,07. [geng]



Transaksi Belum Masif, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Tuesday, December 30, 2014

Investor Aktif Bertransaksi, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll – Pada perdagangan Selasa (30/12) nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta  bergerak melemah sebesar 10 poin menjadi Rp 12.445 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.435 per dolar AS.  Sementara laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat sebesar 48 poin.   Sebelumnya, Indeks sempat jatuh ke zona merah tapi hanya sampai di 5.175 setelah itu naik kembali. Rentang pergerakan IHSG lebih tipis dibandingkan perdagangan kemarin.


Investor masih terlihat waspada mencermati perkembangan ekonomi global. Kondisi itu membuat outlook mata uang rupiah menjadi netral.  Mata uang rupiah kembali berada di area negatif setelah sempat menguat tipis pada perdagangan kemarin.  Faktor global mendorong mata uang rupiah pada akhir tahun ini kembali tertekan.


Masih adanya sentimen pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) kembali membayangi laju mata uang rupiah, beberapa data-data ekonomi AS diantaranya tingkat keyakinan konsumen dan klaim pengangguran diekspektasikan positif. Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa (30/12) ini tercatat mata uang rupiah bergerak melemah menjadi Rp 12.436 dibandingkan hari sebelumnya, Senin (29/12) di posisi Rp 12.434 per dolar AS.


Dari bursa saham, menutup  perdagangan Sesi I, Selasa (30/12), IHSG naik tipis 7,610 poin (0,15%) ke level 5.185,983. Indeks bertahan di zona hijau meski bursa-bursa di Asia berjatuhan ke zona merah.  Selain itu, aksi beli selektif di saham-saham unggulan berhasil menahan posisi IHSG tetap positif.


Maraknya aksi beli jelang penutupan perdagangan langsung membuat IHSG melambung.  pada akhir perdagangan terakhir tahun ini, IHSG melonjak 48,574 poin (0,94%) ke level 5.226,947. Sementara Indeks unggulan LQ45 menanjak 5,767 poin (0,65%) ke level 898,581.


Tercatat seluruh indeks sektoral pun akhirnya menguat berkat aksi beli tersebut. Investor asing masih terus melepas saham sampai hari ini.  Transaksi investor asing di pasar reguler tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) tipis senilai Rp 15,947 miliar. Sedangkan di seluruh pasar terpantau net buy (beli bersih) sebesar Rp 2,495 triliun akibat transaksicrossing saham.


Transaksi  berjalan cukup ramai dengan frekuensi sebanyak 212.309 kali dengan volume 10,797 miliar lembar saham senilai Rp 9,089 triliun. Sebanyak 141 saham naik, 131 turun, dan 72 saham stagnan.  Volume dan nilai transaksi perdagangan hari ini naik cukup tinggi berkat aksi tutup sendiri (crossing) saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) senilai Rp 2,5 triliun oleh broker CLSA Indonesia (KZ).


Di sisi lain, bursa regional yang pagi tadi kompak menguat kini berubah 180 derajat menjadi kompak melemah. Rendahnya harga minyak dunia memberi sentimen negatif.  Sementara situasi dan kondisi bursa-bursa regional sore ini: Indeks Nikkei 225 melonjak 279,07 poin (1,57%) ke level 17.450,77, Indeks Hang Seng menanjak 272,08 poin (1,14%) ke level 23.501,10, Indeks Komposit Shanghai menipis 2,20 poin (0,07%) ke level 3.165,81, dan  Indeks Straits Times berkurang 5,18 poin (0,15%) ke level 3.362,51. [geng]



Investor Aktif Bertransaksi, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Monday, December 29, 2014

Investor Lokal Koleksi Saham, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll – Pergerakan nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin (29/12) sore, bergerak melemah 23 poin menjadi Rp 12.432 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.409 per dolar AS.  Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 11 poin berkat aksi beli investor domestik. Transaksi berjalan sepi karena sudah banyak pelaku pasar yang berlibur.  Aksi beli menyasar saham-saham unggulan. Indeks mampu naik hingga ke titik tertingginya hari ini di 5.185.


Prospek mata uang rupiah saat ini cenderung ditentukan oleh dinamika kebijakan moneter di Amerika Serikat, khususnya menyangkut wacana kenaikan suku bunga acuan pada tahun 2015 mendatang.  Di sisi lain, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal ke-3 yang meningkat sebesar 5 persen merupakan pertumbuhan kuartalan tertingi sejak 2003 lalu.  Pekan ini data ekonomi penting Amerika Serikat yang mungkin bisa menjadi market mover adalah data tingkat keyakinan konsumen dan manufaktur.


Mendekati penghujung tahun 2014, dolar AS masih akan menunjukan penguatannya seiring dengan maraknya sentimen dari pemulihan ekonomi AS.  Meski demikian, mata uang rupiah masih dalam kondisi yang stabil seiring dengan Bank Indonesia (BI)  yang tetap menjaga kisaran mata uang domestik di level Rp 12.300-Rp 12.500 per dolar AS.  Sementara itu, kurs tengah BI  pada Senin (29/12) ini tercatat mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp 12.434 dibandingkan hari sebelumnya, Rabu (24/12) di posisi Rp 12.467 per dolar AS.


Dari bursa saham, menutup  perdagangan Sesi I, IHSG menguat tipis 5,648 poin (0,11%) ke level 5.172,631. Indeks berhasil menghindari zona merah meski dengan penguatan yang tipis.  Sejumlah saham di sektor agrikultur memimpin penguatan. Tujuh indeks sektoral berhasil menguat, kecuali tiga yang melemah yaitu infrastruktur, finansial, dan pertambangan.  Pada akhir perdagangan awal pekan  IHSG ditutup menanjak 11,390 poin (0,22%) ke level 5.178,373. Sementara Indeks LQ45 melaju 1,953 poin (0,22%) ke level 892,815.  Aksi beli banyak dilakukan investor domestik. Sedangkan transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 84,083 miliar di seluruh pasar.


Tercatat perdagangan hari ini berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 176.436 kali dengan volume 7,783 miliar lembar saham senilai Rp 4,527 triliun. Sebanyak 150 saham naik, 129 turun, dan 97 saham stagnan.  Bursa-bursa di Asia rata-rata berhasil menutup perdagangan di zona hijau awal pekan ini berkat sentimen positif Wall Street pekan lalu. Hanya pasar saham Jepang yang masih melemah.


Sementara situasi dan kondisi bursa-bursa regional sore hari ini:  Indeks Nikkei 225 melemah 89,12 poin (0,50%) ke level 17.729,84, Indeks Hang Seng melonjak 423,84 poin (1,82%) ke level 23.773,18, Indeks Komposit Shanghai naik 10,41 poin (0,33%) ke level 3.168,02, dan  Indeks Straits Times bertambah 12,05 poin (0,36%) ke level 3.365,73. [geng]



Investor Lokal Koleksi Saham, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Thursday, December 11, 2014

Aksi Ambil Untung Cukup Masif, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll – Kurs  nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, pada Kamis (11/12) sore, bergerak menguat sebesar 35 poin menjadi Rp 12.303 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.338 per dolar AS, seiring dengan aksi ambil untung para pelaku pasar keuangan.  Sementara pergerakan IHSG sempat naik ke zona hijau jelang penutupan perdagangan, namun  jatuh lagi lantaran  aksi jual saham unggulan. IHSG Berakhir turun 12 poin.  Menutup perdagangan Sesi I, IHSG turun 13,296 poin (0,26%) ke level 5.152,111 akibat koreksi di saham-saham unggulan.


Kurs  rupiah akan melemah pada kisaran rata-rata Rp 12.500 per dolar AS, hingga pertengahan 2015, sebagai akibat dari membaiknya perekonomian Amerika Serikat (AS).  Perekonomian AS dan potensi kenaikan suku bunga The Fed pada semester II-2015 ikut membuat negara berkembang mengantisipasi dengan menyesuaikan suku bunga acuan, sehingga likuiditas perbankan menjadi ketat.


Tercatat indeks menyentuh zona hijau sampai di level 5.166. Beberapa saham masih ada yang mampu menguat tapi tidak bisa menahan IHSG tetap positif.  Pada akhir perdagangan  IHSG ditutup terkoreksi 12,712 poin (0,25%) ke level 5.152,695. Sementara Indeks unggulan LQ45 terpangkas 3,588 poin (0,40%) ke level 886,485


Dana asing masih belum selesai keluar dari lantai bursa. Transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 512,108 miliar di seluruh pasar. Perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 245.986 kali dengan volume 6,507 miliar lembar saham senilai Rp 5,266 triliun. Sebanyak 138 saham naik, 174 turun, dan 83 saham stagnan.


Jatuhnya harga minyak dunia menjadi kekhawatiran akan melambatnya ekonomi global. Bursa-bursa regional pun kompak melemah sore hari ini.   Berikut situasi dan kondisi bursa regional sore hari ini:  Indeks Nikkei 225 melemah 155,18 poin (0,89%) ke level 17.257,40, Indeks Hang Seng anjlok 211,98 poin (0,90%) ke level 23.312,54, Indeks Komposit Shanghai turun 14,26 poin (0,49%) ke level 2.925,74, dan  Indeks Straits Times berkurang 4,86 poin (0,15%) ke level 3.320,95. [geng]



Aksi Ambil Untung Cukup Masif, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Friday, December 5, 2014

Akhir Pekan, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll - Pada perdagangan akhir pekan (5/12) nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta bergerak melemah lima poin menjadi Rp 12.295 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.290 per dolar AS.  Kurs nilai tukar rupiah masih berada di area negatif, namun fluktuasinya cukup stabil diperkirakan ada intervensi dari Bank Indonesia (BI).  Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat  10 poin menutup perdagangan akhir pekan. Indeks belum kuat bertahan di level 5.200 gara-gara aksi ambil untung.  Indeks belum masuk teritori negatif sejak pembukaan perdagangan.


Nilai tukar rupiah berpotensi mengalami pelemahan kembali seiring dengan menurunnya cadangan devisa Indonesia pada akhir November 2014 menjadi 111,1 miliar dolar AS, atau turun sekitar 900 juta dolar AS dari posisi akhir Oktober 2014 yang sebesar 112 miliar dolar AS.  Sentimen saat ini belum ada yang cukup mendukung bagi penguatan mata uang rupiah.  Investor juga terlihat waspada menanti data non-farm payroll AS (jumlah upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja) yang dapat memberikan petunjuk tambahan atas kondisi perekonomian konsumen minyak terbesar di dunia itu.  Jika data itu menegaskan perbaikan kondisi tenaga kerja AS maka dapat menimbulkan asumsi mendorong Federal Reserve untuk lebih cepat menaikan suku bunga di 2015.


Di sisi lain, outlook kebijakan the Fed itu akan menentukan pergerakan dolar AS sehingga akan turut mempengaruhi pergerakan rupiah.  Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada Jumat (5/12) ini tercatat mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp 12.296 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.318 per dolar AS. [geng]


Dari bursa saham, menutup  perdagangan Sesi I, IHSG menguat tipis 9,562 poin (0,18%) ke level 5.186,722. Sayangnya laju IHSG harus melambat akibat aksi ambil untung.  Laju penguatan Indeks mulai melambat setelah mencapai titik tertingginya di 5.206. Aksi ambil untung terjadi di saham-saham yang sudah naik tinggi.  Pada akhir  perdagangan IHSG ditutup tumbuh 10,834 poin (0,21%) ke level 5.187,994. Sementara Indeks LQ45 naik 1,595 poin (0,18%) ke level 893,777.  Untungnya, aksi jual ini tidak sampai membuat IHSG jatuh ke zona merah. Aksi ini terjadi di saham-saham tambang, konsumer, dan konstruksi.


Tercatat transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih senilai Rp 737,081 miliar di seluruh pasar.  Perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 215.861 kali dengan volume 6,032 miliar lembar saham senilai Rp 4,830 triliun. Sebanyak 141 saham naik, 152 turun, dan 95 saham stagnan.


Beberapa bursa di Asia menutup perdagangan dengan kompak menguat. Bursa saham Tiongkok memimpin penguatan.  Berikut situasi dan kondisi bursa regional sore hari ini:  Indeks Nikkei 225 naik 33,24 poin (0,19%) ke level 17.920,45, Indeks Hang Seng menguat 170,08 poin (0,71%) ke level 24.002,64, Indeks Komposit Shanghai melonjak 38,19 poin (1,32%) ke level 2.937,65, dan  Indeks Straits Times bertambah 13,91 poin (0,42%) ke level 3.318,73. [geng]



Akhir Pekan, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Tuesday, November 25, 2014

Investor Asing Lepas Saham, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll – Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa (25/11) sore menguat sebesar 16 poin menjadi Rp 12.137 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.153 per dolar AS.  Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpangkas 22 poin gara-gara aksi jual yang ramai di akhir  perdagangan. Indeks nyaris lengser dari level psikologis 5.100.  Menutup  perdagangan Sesi I, IHSG melemah 15,923 poin (0,31%) ke level 5.125,841.


Diharapkan,   kebijakan Tiongkok itu dapat mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), membaiknya ekonomi Tiongkok akan berdampak pada negara kawasan, termasuk Indonesia sehingga dapat menjaga stabilitas mata uang rupiah.


Meski  demikian, kondisi internal tetap lebih penting untuk diawasi ditengah antisipasi pemerintah dalam menjaga inflasi pasca penaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi. Sejauh ini, ekspektasi terhadap fundamental ekonomi Indonesia masih bagus. Diharapkan harga minyak dunia tetap stabil, karena jika harga minyak dunia naik maka dapat menghilangkan efek positif dari penaikan BBM bersubsidi itu,.


Penguatan rupiah masih cenderung terbatas seiring dengan investor yang masih khawatir dengan outlook kebijakan moneter AS.  Pasar masih khawatir menghadapi prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve tahun depan yang dapat menjaga kinerja dolar AS tetap tangguh.  Sebaliknya pada kurs tengah Bank Indonesia  mata uang lokal ini bergerak melemah menjadi Rp 12.166 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.122 per dolar AS.


Dari bursa saham,  indeks hanya sempat naik ke titik tertingginya di 5.149 sebelum akhirnya meluncur ke zona merah. Hanya dua sektor yang berhasil menguat, sektor agrikultur dan finansial.  Pada akhir perdagangan, Selasa (25/11), IHSG ditutup jatuh 22,819 poin (0,44%) ke level 5.118,945. Sementara Indeks LQ45 ditutup anjlok 5,652 poin (0,64%) ke level 881,277.  Investor asing pagi tadi masih berburu saham, tapi tiba-tiba di akhir perdagangan malah jual saham. Transaksi investor asing sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 51,815 miliar di pasar reguler.


Transaksi investor asing di pasar negosiasi tercatat beli bersih (foreign net buy) senilai Rp 389,773 miliar. Hal ini akibat transaksi tutup sendiri saham PT MNC Land Tbk (KPIG) sebesar Rp 488,3 miliar. Perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 226.650 kali dengan volume 6,835 miliar lembar saham senilai Rp 6,233 triliun. Sebanyak 132 saham naik, 165 turun, dan 83 saham stagnan.


Sementara itu, bursa-bursa regional masih bergerak variatif hingga siang hari ini. Rata-rata bergerak di zona hijau, kecuali pasar saham Hong Kong dan Indonesia.  Berikut situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 naik 50,11 poin (0,29%) ke level 17.407,62, Indeks Hang Seng melemah 9,23 poin (0,21%) ke level 23.843,91, Indeks Komposit Shanghai melonjak 34,72 poin (1,37%) ke level 2.567,60, dan  Indeks Straits Times tumbuh 1,46 poin (0,04%) ke level 3.341,99. [geng]



Investor Asing Lepas Saham, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Friday, November 14, 2014

Minim Transaksi,  Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll – Pada perdagangan akhir pekan, Jumat (14/11) nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta  menguat tipis enam poin menjadi Rp 12.194 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.200 per dolar AS.  Laju mata uang rupiah mampu bergerak positif meski masih dalam kisaran yang terbatas, ekonomi Jerman dan Perancis yang tumbuh pada kuartal III 2014 menjadi salah satu sentimen positif.  Sementara pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir datar.  Setelah bergerak fluktuatif, IHSG ujung-ujungnya hanya naik tipis kurang dari satu poin. Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG menipis 1,030 poin (0,02%) ke level 5.047,638.


Selain itu, produk domestik bruto (PDB) Jerman naik sekitar 0,1% periode Juli-September dan Perancis 0,3% pada kuartal ketiga, setelah mengalami kontraksi 0,1% pada kuartal kedua. Meski  demikian,   data dari negara itu yang merupakan salah satu pusat perekonomian di Eropa masih memberikan sinyal pertumbuhan yang lambat sehingga ada kekhawatiran di sebagain kalangan pelaku pasar keuangan.  Kondisi itu membuat pergerakan mata uang rupiah cenderung mendatar.


Sentimen dari tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI rate) yang dipertahankanm masih menjadi sentimen positif bagi rupiah.  Meski sifatnya spekulatif namun pelaku pasar perlu juga mengantisipasi potensi pembalikan arah setelah kenaikan ini.  Sebaliknya pada kurs tengah Bank Indonesia  (BI) tercatat mata uang lokal ini bergerak melemah menjadi Rp 12.206 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.191 per dolar AS.    Indeks bergerak fluktuatif, naik-turun antara zona positif dan negatif. Belum ada katalis positif yang bisa jadi penggerak saham-saham.  Menutup perdagangan Sesi I, IHSG turun tipis 4,732 poin (0,09%) ke level 5.043,936.


Tercatat indeks hanya sempat naik ke posisi tertingginya hari ini di 5.068 tapi setelah itu langsung jatuh lagi ke zona merah. Investor domestik yang paling aktif bertransaksi.  Pada akhir perdagangan akhir pekan, Jumat (14/11), IHSG naik tipis 0,820 poin (0,02%) ke level 5.049,488. Sementara Indeks unggulan LQ45 menguat tipis 0,965 poin (0,11%) ke level 865,517.  Harga saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) tak banyak berubah. Investor asing juga masih memilih untuk melepas saham sejak pagi tadi.  Transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 229,803 miliar di seluruh pasar. Sedangkan di pasar reguler ada pembelian bersih Rp 213,935 miliar.


Perdagangan kemarin  berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 170.194 kali dengan volume 5,11 miliar lembar saham senilai Rp 4,699 triliun. Sebanyak 121 saham naik, 154 turun, dan 92 saham stagnan.  Bursa-bursa di Asia rata-rata menutup perdagangan akhir pekan di zona hijau. Bursa saham Tiongkok kena koreksi akibat aksi ambil untung. [geng]



Minim Transaksi,  Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Tuesday, October 21, 2014

Transaksi Melambat, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll - Pada perdagangan Selasa (21/10) pergerakan nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, menguat 41 poin menjadi Rp 11.991 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.032 per dolar AS.  Mata uang rupiah mempertahankan penguatannya terhadap dolar AS menyusul spekulasi pelaku pasar uang bahwa perlambatan pertumbuhan global akan menunda kenaikan suku bunga AS (Fed rate).  Seentara laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 11 poin terkena sentimen melambatnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok.


Terpantau kurs Rupiah dalam beberapa hari terakhir mengalami penguatan di tengah pergeseran ekspektasi the Fed terkait waktu penaikan suku bunga AS.  Rupiah masih memiliki potensi menguat sampai pertemuan the Fed pada tanggal 28-29 Oktober mendatang untuk menentukan kebijakan selanjutnya.  Data ekonomi Tiongkok yang tidak terlalu buruk juga meredakan kekhawatiran atas outlook perekonomian global. Produk domestik bruto (PDB) mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,3% pada kuartal III 2014 atau lebih tinggi dari estimasi 7,2%.


Meski  demikian,  pergerakan rupiah cenderung terbatas seiring dengan investor juga menantikan rincian susunan kabinet pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla dalam menjalankan kebijakannya ke depan. Setelah eforia pelantikan presiden ini, susunan kabinet pemerintahan Jokowi-JK juga diharapkan sesuai dengan ekspektasi pasar. Pelaku pasar keuangan mengharapkan bahwa posisi menteri diisi oleh orang profesional.


Dari bursa saham, menutup perdagangan Sesi I, IHSG turun 19,622 poin (0,39%) ke level 5.020,910 setelah muncul sentimen negatif dari bursa regional.  Pada triwulan III-2014, pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu tercatat 7,3% dibandingkan periode yang sama pada 2013. Melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yaitu 7,5%.  Investor langsung merespons negatif kabar tersebut. Investor asing yang awalnya berburu saham langsung berbalik melepas saham.


Pada akhir perdagangan IHSG ditutup turun 11,188 poin (0,22%) ke level 5.029,344. Sementara Indeks LQ45 ditutup melemah 1,599 poin (0,19%) ke level 853,432.

Tujuh indeks sektoral di lantai bursa jatuh ke zona merah. Tiga sektor masih bisa menguat, yaitu konsumer, konstruksi, dan infrastruktur.


Tercatat Perdagangan hari ini berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 173.451 kali dengan volume 4,795 miliar lembar saham senilai Rp 4,728 triliun. Sebanyak 129 saham naik, 159 turun, dan 90 saham stagnan. Bursa-bursa regional berakhir mixed sore hari ini. Aksi jual muncul setelah Tiongkok melaporkan ekonominya yang melambat di triwulan terakhir.


Adapun  situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 anjlok 306,95 poin (2,03%) ke level 14.804,28, Indeks Hang Seng naik tipis 18,32 poin (0,08%) ke level 23,088.58, ndeks Komposit Shanghai melemah 17,07 poin (0,72%) ke level 2.339,66..  Indeks Straits Times menguat 12,46 poin (0,39%) ke level 3.193,51. [geng]



Transaksi Melambat, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif