Showing posts with label pelaku pasar keuangan. Show all posts
Showing posts with label pelaku pasar keuangan. Show all posts

Tuesday, December 30, 2014

Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.445 / USD

Financeroll – Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa (30/12) sore, bergerak melemah sebesar 10 poin menjadi Rp 12.445 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.435 per dolar AS.  Merebaknya risiko politik Yunani mendorong dolar AS mengalami penguatan di pasar uang global dan domestik.


Kondisi itu membuat khawatir pelaku pasar keuangan di negara-negara berkembang. Krisis politik di Yunani itu dapat membuat krisis utang di kawasan negara-negara Euro dapat memburuk.  Meski demikian, penguatan dolar AS terhadap rupiah masih cenderung tertahan di tengah antisipasi investor terhadap data ekonomi Amerika Serikat yakni data kepercayaan konsumen AS dan juga data manufaktur Tiongkok.


Investor masih terlihat waspada mencermati perkembangan ekonomi global. Kondisi itu membuat outlook mata uang rupiah menjadi netral.  Mata uang rupiah kembali berada di area negatif setelah sempat menguat tipis pada perdagangan sesi pagi tadi.  Faktor global mendorong mata uang rupiah pada akhir tahun ini kembali tertekan.


Masih adanya sentimen pemulihan ekonomi Amerika Serikat kembali membayangi laju mata uang rupiah, beberapa data-data ekonomi AS diantaranya tingkat keyakinan konsumen dan klaim pengangguran diekspektasikan positif. Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Selasa (30/12) ini tercatat mata uang rupiah bergerak melemah menjadi Rp 12.436 dibandingkan hari sebelumnya, Senin (29/12) di posisi Rp 12.434 per dolar AS.  [geng]



Rupiah Melemah ke Posisi Rp 12.445 / USD

Tuesday, October 21, 2014

Transaksi Melambat, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll - Pada perdagangan Selasa (21/10) pergerakan nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, menguat 41 poin menjadi Rp 11.991 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.032 per dolar AS.  Mata uang rupiah mempertahankan penguatannya terhadap dolar AS menyusul spekulasi pelaku pasar uang bahwa perlambatan pertumbuhan global akan menunda kenaikan suku bunga AS (Fed rate).  Seentara laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 11 poin terkena sentimen melambatnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok.


Terpantau kurs Rupiah dalam beberapa hari terakhir mengalami penguatan di tengah pergeseran ekspektasi the Fed terkait waktu penaikan suku bunga AS.  Rupiah masih memiliki potensi menguat sampai pertemuan the Fed pada tanggal 28-29 Oktober mendatang untuk menentukan kebijakan selanjutnya.  Data ekonomi Tiongkok yang tidak terlalu buruk juga meredakan kekhawatiran atas outlook perekonomian global. Produk domestik bruto (PDB) mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,3% pada kuartal III 2014 atau lebih tinggi dari estimasi 7,2%.


Meski  demikian,  pergerakan rupiah cenderung terbatas seiring dengan investor juga menantikan rincian susunan kabinet pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla dalam menjalankan kebijakannya ke depan. Setelah eforia pelantikan presiden ini, susunan kabinet pemerintahan Jokowi-JK juga diharapkan sesuai dengan ekspektasi pasar. Pelaku pasar keuangan mengharapkan bahwa posisi menteri diisi oleh orang profesional.


Dari bursa saham, menutup perdagangan Sesi I, IHSG turun 19,622 poin (0,39%) ke level 5.020,910 setelah muncul sentimen negatif dari bursa regional.  Pada triwulan III-2014, pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu tercatat 7,3% dibandingkan periode yang sama pada 2013. Melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yaitu 7,5%.  Investor langsung merespons negatif kabar tersebut. Investor asing yang awalnya berburu saham langsung berbalik melepas saham.


Pada akhir perdagangan IHSG ditutup turun 11,188 poin (0,22%) ke level 5.029,344. Sementara Indeks LQ45 ditutup melemah 1,599 poin (0,19%) ke level 853,432.

Tujuh indeks sektoral di lantai bursa jatuh ke zona merah. Tiga sektor masih bisa menguat, yaitu konsumer, konstruksi, dan infrastruktur.


Tercatat Perdagangan hari ini berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 173.451 kali dengan volume 4,795 miliar lembar saham senilai Rp 4,728 triliun. Sebanyak 129 saham naik, 159 turun, dan 90 saham stagnan. Bursa-bursa regional berakhir mixed sore hari ini. Aksi jual muncul setelah Tiongkok melaporkan ekonominya yang melambat di triwulan terakhir.


Adapun  situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 anjlok 306,95 poin (2,03%) ke level 14.804,28, Indeks Hang Seng naik tipis 18,32 poin (0,08%) ke level 23,088.58, ndeks Komposit Shanghai melemah 17,07 poin (0,72%) ke level 2.339,66..  Indeks Straits Times menguat 12,46 poin (0,39%) ke level 3.193,51. [geng]



Transaksi Melambat, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Sunday, October 19, 2014

Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp 12.040-Rp 12.088 per USD

Financeroll – Momentum pelantikan presdien terpilih,  Joko Widodo (Jokowi) dan Wakilnya Jusuf Kalla (JK) nampaknya memberikan sentimen positif pada pergerakan mata uang rupiah. Menjelang pelantikan Jokowi,  kurs Rupiah pun menguat dan meninggalkan level Rp 12.100 per USD.


Bloomberg Dollar Index, Senin (20/10), Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) menguat 52 poin atau 0,43 persen ke Rp 12.057 per USD. Hari  ini, Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 12.040-Rp 12.088 per USD.


Reaksi positif pelaku pasar keuangan di dalam negeri terhadap kondisi politik di dalam negeri yang mulai kondusif, mendorong keyakinan pemerintahan baru nanti akan dapat menjalankan pogram yang dicanangkan sebelumnya dengan lancar.  Sentimen positif didominasi dari dalam negeri, kondisi politik sebelumnya yang memanas sudah mulai kondusif. Adanya pertemuan Joko Widodo dengan Prabowo Subianto membuat psikologis investor yakin ke depannya terhadap pasar investasi.


Ke depan,  susunan kabinet pemerintahan baru nanti akan kembali menjadi perhatian pelaku pasar keuangan di dalam negeri. Diharapkan, kabinet pemerintahan baru nanti diisi oleh sosok yang sesuai dengan kemampuannya.  Meski  demikian,   sentimen politik ini hanya bersifat sementara, pelaku pasar juga harus mencermati kondisi ekonomi global yang cenderung melambat. [geng]



Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp 12.040-Rp 12.088 per USD