Showing posts with label Bursa Efek Indonesia (BEI). Show all posts
Showing posts with label Bursa Efek Indonesia (BEI). Show all posts

Sunday, January 18, 2015

Tahun Ini, Bukaka Teknik Rencanakan Relisting di Bursa

Financeroll – Manajemen  Bursa Efek Indonesia (BEI) menyampaikan bahwa PT Bukaka Teknik Utama merencanakan untuk melakukan pencatatan saham kembali atau relisting tahun ini,  setelah pada 2007 lalu dihapus (delisting) dari papan perdagangan.


Menurut Direktur Penilaian Perusahaan BEI Hoesen,  manajemen perusahaan itu sudah mengabarkan ke bursa untuk relisting, mereka menggunakan buku laporan keuangan periode Desember 2014 sebagai salah satu syaratnya.  Saat ini  bursa sedang menunggu hasil audit laporan keuangan perseroan, diperkirakan selesai pada Februari mendatang, jika prosesnya lancar pada tahun ini Bukaka Teknik Utama dapat melakukan pencatatan sahamnya kembali.


Setelah hasil audit laporan keuangan yakni menentukan harga sahamnya, harga terakhir ketika delisting bisa berubah karena berbeda dengan kondisi sekarang.  Selain Bukaka Teknik Utama, Mitra Energi Persada juga merencanakan untuk melakukan pencatatan saham kembali di BEI.  Saham perseroan dihapus dari papan  pada 2007  karena keberlangsungan usaha yang tidak jelas.  Rencana Bukaka Teknik Utama melakukan relisting yakni untuk mencari dana melalui pasar modal untuk mendukung kegiatan ekspansinya.  Perseroan  memiliki kegiatan utama meliputi rekayasa dan pembuatan infrastruktur produk dan jasa terkait.


Disampaikan juga,  Direktur Utama BEI Ito Warsito menambahkan bahwa pihaknya meyakini pada tahun 2015 ini semua sektor usaha berminat untuk mencatatkan sahamnya di bursa dalam rangka untuk meningkatkan modal ekspansi.  Untuk sektor yang mendominasi pada tahun ini, dalam waktu dekat akan ada sektor pertambangan, manufaktur, dan jasa.   Ketiga sektor itu sedang melakukan penjajakan untuk merealisasikan niatnya untuk masuk pasar modal, beberapa diantaranya sempat tertunda rencananya 2014 karena ketidakpastian situasi politik dan kondisi global yang perekonomiannya sedang melambat.


Menurut Ito, target BEI untuk menambah jumlah emiten saham di industri pasar modal Indonesia sebanyak 32 perusahaan pada tahun ini akan tercapai, atau lebih baik dari 2014 lalu yang hanya sebanyak 23 perusahaan, di bawah target sebanyak 30 perusahaan.  [geng]



Tahun Ini, Bukaka Teknik Rencanakan Relisting di Bursa

Thursday, November 20, 2014

Jaga Keteraturan Pasar, BEI Suspensi Saham Sierad Produce

 


Financeroll – Manajemen Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan perdagangan sementara (suspensi) saham PT Sierad Produce Tbk (SIPD) sejak perdagangan sesi pertama Kamis (30/11).  Suspensi terhadap saham SIPD terkait penjelasan lebih lanjut mengenai pelaksanaan penawaran umum terbatas (PUT), khususnya terkait rasio dan harga pelaksanaan.  Demikian disampaikan  I Gede Nyoman Yetna, Kadiv Penilaian Perusahaan Group BEI, dalam keterbukaan informasinya.


 Menurut Nyoman, suspensi  juga dilakukan dalam rangka menjaga pasar yang teratur, wajar dan efisien. Pada perdagangan kemarin, saham SIPD ditutup pada harga Rp 53.  BEI juga menyampaikan telah mencabut suspensi perdagangan saham TRAM milik PT Trada Maritime Tbk. Dengan demikian, saham TRAM kini telah ditransaksikan kembali di seluruh pasar mulai perdagangan sesi pertama hari ini.


Sebagai informasi, harga saham TRAM saat disuspensi berada di Rp 1.845 namun kemudian melemah ketika perdagangannya dibuka ke level Rp 1.385 per saham. [geng]



Jaga Keteraturan Pasar, BEI Suspensi Saham Sierad Produce

Friday, November 14, 2014

Minim Transaksi,  Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll – Pada perdagangan akhir pekan, Jumat (14/11) nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta  menguat tipis enam poin menjadi Rp 12.194 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.200 per dolar AS.  Laju mata uang rupiah mampu bergerak positif meski masih dalam kisaran yang terbatas, ekonomi Jerman dan Perancis yang tumbuh pada kuartal III 2014 menjadi salah satu sentimen positif.  Sementara pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir datar.  Setelah bergerak fluktuatif, IHSG ujung-ujungnya hanya naik tipis kurang dari satu poin. Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG menipis 1,030 poin (0,02%) ke level 5.047,638.


Selain itu, produk domestik bruto (PDB) Jerman naik sekitar 0,1% periode Juli-September dan Perancis 0,3% pada kuartal ketiga, setelah mengalami kontraksi 0,1% pada kuartal kedua. Meski  demikian,   data dari negara itu yang merupakan salah satu pusat perekonomian di Eropa masih memberikan sinyal pertumbuhan yang lambat sehingga ada kekhawatiran di sebagain kalangan pelaku pasar keuangan.  Kondisi itu membuat pergerakan mata uang rupiah cenderung mendatar.


Sentimen dari tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI rate) yang dipertahankanm masih menjadi sentimen positif bagi rupiah.  Meski sifatnya spekulatif namun pelaku pasar perlu juga mengantisipasi potensi pembalikan arah setelah kenaikan ini.  Sebaliknya pada kurs tengah Bank Indonesia  (BI) tercatat mata uang lokal ini bergerak melemah menjadi Rp 12.206 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.191 per dolar AS.    Indeks bergerak fluktuatif, naik-turun antara zona positif dan negatif. Belum ada katalis positif yang bisa jadi penggerak saham-saham.  Menutup perdagangan Sesi I, IHSG turun tipis 4,732 poin (0,09%) ke level 5.043,936.


Tercatat indeks hanya sempat naik ke posisi tertingginya hari ini di 5.068 tapi setelah itu langsung jatuh lagi ke zona merah. Investor domestik yang paling aktif bertransaksi.  Pada akhir perdagangan akhir pekan, Jumat (14/11), IHSG naik tipis 0,820 poin (0,02%) ke level 5.049,488. Sementara Indeks unggulan LQ45 menguat tipis 0,965 poin (0,11%) ke level 865,517.  Harga saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) tak banyak berubah. Investor asing juga masih memilih untuk melepas saham sejak pagi tadi.  Transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 229,803 miliar di seluruh pasar. Sedangkan di pasar reguler ada pembelian bersih Rp 213,935 miliar.


Perdagangan kemarin  berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 170.194 kali dengan volume 5,11 miliar lembar saham senilai Rp 4,699 triliun. Sebanyak 121 saham naik, 154 turun, dan 92 saham stagnan.  Bursa-bursa di Asia rata-rata menutup perdagangan akhir pekan di zona hijau. Bursa saham Tiongkok kena koreksi akibat aksi ambil untung. [geng]



Minim Transaksi,  Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Akhir Pekan, IHSG Ditutup Mendatar

 


Financeroll – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir datar menutup perdagangan akhir pekan. Setelah bergerak fluktuatif, IHSG ujung-ujungnya hanya naik tipis kurang dari satu poin. Membuka perdagangan pagi tadi, IHSG menipis 1,030 poin (0,02%) ke level 5.047,638. Investor kembali memilih lakukan aksi tunggu sampai ada kepastian harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi.


Indeks bergerak fluktuatif, naik-turun antara zona positif dan negatif. Belum ada katalis positif yang bisa jadi penggerak saham-saham.  Menutup perdagangan Sesi I, IHSG turun tipis 4,732 poin (0,09%) ke level 5.043,936. Investor belum bersemangat sehingga perdagangan berjalan lesu.


Bursa domestik hanya sempat naik ke posisi tertingginya hari ini di 5.068 tapi setelah itu langsung jatuh lagi ke zona merah. Investor domestik yang paling aktif bertransaksi.  Pada akhir perdagangan akhir pekan, Jumat (14/11), IHSG naik tipis 0,820 poin (0,02%) ke level 5.049,488. Sementara Indeks unggulan LQ45 menguat tipis 0,965 poin (0,11%) ke level 865,517.


Harga saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) tak banyak berubah. Investor asing juga masih memilih untuk melepas saham sejak pagi tadi.  Transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 229,803 miliar di seluruh pasar. Sedangkan di pasar reguler ada pembelian bersih Rp 213,935 miliar.


Tercatat perdagangan hari ini berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 170.194 kali dengan volume 5,11 miliar lembar saham senilai Rp 4,699 triliun. Sebanyak 121 saham naik, 154 turun, dan 92 saham stagnan.  Bursa-bursa di Asia rata-rata menutup perdagangan akhir pekan di zona hijau. Bursa saham Tiongkok kena koreksi akibat aksi ambil untung.


Beberapa saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Samudera Indonesia (SMDR) naik Rp 1.825 ke Rp 11.600, Semen Indonesia (SMGR) naik Rp 375 ke Rp 15.975, Indocement (INTP) naik Rp 275 ke Rp 24.200, dan Indo Kordsa (BRAM) naik Rp 260 ke Rp 3.500.


Adapun  saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Tembaga Mulia (TBMS) turun Rp 1.000 ke Rp 8.800, Indo Tambangraya (ITMG) turun Rp 550 ke Rp 17.650, Astra Agro (AALI) turun Rp 400 ke Rp 23.250, dan Bukit Asam (PTBA) turun Rp 375 ke Rp 11.975.


Sementara situasi dan kondisi bursa regional sore ini, antara lain:  Indeks Nikkei 225 naik 98,04 poin (0,56%) ke level 17.490,83, Indeks Hang Seng bertambah 67,44 poin (0,28%) ke level 24.087,38, Indeks Komposit Shanghai melemah 6,78 poin (0,27%) ke level 2.478,82, dan  Indeks Straits Times menguat 4,84 poin (0,15%) ke level 3.309,77. [geng]



Akhir Pekan, IHSG Ditutup Mendatar

Friday, November 7, 2014

Aksi Lepas Saham Lebih Dominan, Pasar Uang Domestik Melemah

Financeroll - Pada perdagangan akhir pekan, Jumat (7/11) Laju nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta melemah sebesar 36 poin menjadi Rp 12.184 dibanding sebelumnya Rp 12.148 per dolar AS.  Penguatan dolar AS masih didukung oleh sentimen fundamental dari ekonomi Amerika Serikat menyusul beberapa data ekonomi yang dinilai mengalami perbaikan sehingga mendorong pelaku pasar uang cenderung masuk ke instrumen dolar AS.  Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 46 poin gara-gara tekanan jual investor asing. Indeks pun balik lagi ke kisaran 4.900-an.  Indeks tak bertahan lama di zona hijau, hanya mampu naik ke titik tertingginya hari ini di 5.040,971.


Mata uang dolar AS dinilai masih menarik menyusul data klaim pengangguran AS yang baru dirilis menunjukan mengalami penurunan, dengan demikian pemulihan ekonomi di AS  masih berlanjut.  Di sisi lain,  dolar AS juga terbantu oleh terkoreksinya mata uang Euro setelah bank sentral Eropa (ECB) menegaskan kesiapannya untuk melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut jika dibutuhkan.  Meski  demikian, penguatan dolar AS masih dibatasi oleh antisipasi investor yang bersikap waspada menjelang publikasi data “non-farm payroll” dan tingkat pengangguran AS yang sedianya akan dipublikasikan pada akhir pekan waktu setempat.


Data itu menjadi salah satu indikator yang dapat turut menentukan seberapa cepat Federal Reserve akan mulai menaikan suku bunganya.  Dari dalam negeri,  masih cukup kuatnya kabar yang beredar mengenai wacana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebelum awal tahun 2015 menahan laju dolar AS terhadap rupiah lebih tinggi di pasar keuangan dalam negeri.  Sementara itu kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada hari Jumat ini (7/11), tercatat mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp 12.149 dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 12.179 per dolar AS.


Dari bursa saham, menutup perdagangan Sesi I, IHSG turun 24,939 poin (0,50%) ke level 5.009,292 gara-gara aksi jual investor asing. Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menjadi satu-satunya bursa yang merah di regional.  Aksi jual mulai melanda bursa regional sehingga banyak pasar saham yang akhirnya melemah. Indeks pun sempat terjerembab ke posisi terendahnya hari ini di 4.979.  Pada akhir perdagangan,   IHSG jatuh 46,807 poin (0,93%) ke level 4.987,424. Sementara Indeks LQ45 anjlok 10,330 poin (1,20%) ke level 847,286.  Hanya satu indeks sektoral yang mampu menguat, yaitu sektor pertambangan. Hampir semua sektor merah gara-gara aksi jual.


Tercatat, transaksi investor asing hingga sore hari ini  melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 181,531 miliar. Sedangkan di pasar reguler saja net sell sebesar Rp 338,486.  Perdagangan hari ini berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 190.827 kali dengan volume 4,961 miliar lembar saham senilai Rp 4,572 triliun. Sebanyak 95 saham naik, 195 turun, dan 84 saham stagnan.


Sementara bursa di Asia pun terkena tekanan jual dan rata-rata menutup perdagangan akhir pekan di zona merah. Hanya bursa saham Jepang yang bertahan di zona hijau.  Berikut situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 naik 87,90 poin (0,52%) ke level 16.880,38, Indeks Hang Seng melemah 99,07 poin (0,42%) ke level 23.550,24, Indeks Komposit Shanghai turun 7,69 poin (0,32%) ke level 2.418,17, dan Indeks Straits Times berkurang 5,24 poin (0,16%) ke level 3,285.72. [geng]



Aksi Lepas Saham Lebih Dominan, Pasar Uang Domestik Melemah

Thursday, November 6, 2014

Sesi Pertama: Aksi Jual Mendominasi, IHSG Terpangkas

Financeroll – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkena koreksi cukup dalam gara-gara aksi jual investor asing. Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi satu-satunya bursa yang merah di regional. Pada awal perdagangan pagi tadi, IHSG menipis 0,866 poin (0,02%) ke level 5.033,365. Namun aksi beli investor domestik membawa IHSG balik arah ke zona hijau.


Terpantau Indeks tak bertahan lama di zona hijau, hanya mampu naik ke titik tertingginya hari ini di 5.040,971. Tekanan jual dari investor asing membuat indeks jatuh lagi ke teritori negatif.  Menutup perdagangan Sesi I, Jumat (7/11), IHSG turun 24,939 poin (0,50%) ke level 5.009,292. Sementara Indeks unggulan LQ45 melemah 5,493 poin (0,64%) ke level 852,123.


Selain itu, tak satu pun indeks sektoral yang mampu menguat, semua merah gara-gara aksi jual. Saham-saham unggulan yang pagi tadi naik siang ini langsung kena koreksi.  Perdagangan hari ini berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 101.469 kali dengan volume 2,864 miliar lembar saham senilai Rp 2,097 triliun. Sebanyak 97 saham naik, 147 turun, dan 78 saham stagnan.


Sejumlah saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers di antaranya adalah Tower Bersama (TBIG) naik Rp 400 ke Rp 9.125, Indofood CBP (ICBP) naik Rp 250 ke Rp 11.050, First Media (KBLV) naik Rp 205 ke Rp 2.900, dan Multi Prima (LPIN) naik Rp 175 ke Rp 6.375.


Adapun saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Indofood (INDF) turun Rp 425 ke Rp 23.125, Pioneerindo (PTSP) turun Rp 350 ke Rp 5.500, Lippo Cikarang (LPCK) turun Rp 225 ke Rp 8.575, dan BCA (BBCA) turun Rp 200 ke Rp 12.775.


Beberapa bursa regional kompak menguat hingga siang hari ini. Sentimen positif datang dari Wall Street yang semalam berhasil cetak rekor baru.  Kondisi bursa-bursa di Asia hingga siang hari ini: Indeks Nikkei 225 naik 72,13 poin (0,43%) ke level 16.864,61, Indeks Hang Seng bertambah 33,33 poin (0,14%) ke level 23.682,64, Indeks Komposit Shanghai menguat 14,43 poin (0,59%) ke level 2.440,29, dan  Indeks Straits Times tumbuh 4,14 poin (0,13%) ke level 3.295,10. [geng]



Sesi Pertama: Aksi Jual Mendominasi, IHSG Terpangkas

Tuesday, November 4, 2014

Perdagangan Perdana, Saham Blue Bird Melaju ke Posisi Rp 7.000 / Lembar

Financeroll – Pada perdagangan perdana, saham PT Blue Bird Tbk (BIRD) naik 500 poin (7,6%) ke Rp 7.000 per lembar dari harga penawaran perdana Rp 6.500 per lembar. Sahamnya terus menanjak secara perlahan.  Perseroan menawarkan sebanyak-banyaknya 531.400.000 lembar saham atau 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah penawaran umum perdananya (Initial Public Offering/IPO).


Merujuk data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (5/11), hingga pukul 09.20 waktu JATS harga saham BIRD berada di kisaran Rp 7.500 atau naik 1.000 poin (15,38%).  Transaksi sempat mencapai titik tertinggi di Rp 8.175 per lembar. Sahamnya aktif diburu investor asing. Sebanyak 74.240 lot sahamnya ditransaksikan 1.151 kali senilai Rp 56,6 miliar.


Untuk diketahui, perseroan sudah memangkas target dana IPO menjadi hanya Rp 2,4 triliun dari target awal sebesar-besarnya Rp 4,9 triliun. Harga saham yang ditetapkan lebih rendah dari kisaran penawaran saham awal, hanya Rp 6.500 per saham.  Perseroan sudah melakukan penawaran kepada investor domestik maupun asing. Sahamnya ditawarkan ke investor Singapura, Kuala Lumpur, Hong Kong, London, dan Amerika Serikat (AS).


Sesuai rencana, sekitar 50% dari dana IPO akan digunakan untuk membiayai belanja modal termasuk pembelian kendaraan dan akuisisi pool, sekitar 35,71% untuk melunasi pinjaman, dan sekitar 14,29% akan digunakan sebagai modal kerja perseroan dan entitas anak usaha.  PT Credit Suisse Securities Indonesia, PT Danareksa Sekuritas, dan PT UBS Securities Indonesia ditunjuk menjadi joint global co-ordinators dan bookrunners dalam IPO terbesar tahun 2014 ini.  Blue Bird merupakan emiten ke-19 yang masuk ke lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini. [geng]



Perdagangan Perdana, Saham Blue Bird Melaju ke Posisi Rp 7.000 / Lembar

Monday, October 13, 2014

Dengan Peringkat idA+, Summarecon Agung Terbitkan Obligasi Berkelanjutan

Financeroll – Emiten pengembang properti terkemuka, PT Summarecon Agung Tbk terbitkan obligasi berkelanjutan I, tahap II Tahun 2014 dengan tingkat bunga tetap.  Obligasi Berkelanjutan I  Summarecon Agung Tahap II Tahun 2014 (SMRA01CN2) Tingkat Bunga Tetap dicatatkan dengan nilai nominal sebesar Rp 800.000.000.000 berjangka waktu 5 tahun.  Demikian mengutip keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia  (BEI), di Jakarta, Senin (13/10),


Untuk diketahui, hasil pemeringkatan dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) untuk Obligasi ini adalah idA+ (Single A Plus/Stable Outlook). Bertindak sebagai Wali Amanat dalam emisi ini adalah PT Bank CIMB Niaga Tbk.  Sementara pencatatan Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Summarecon Agung Tahap II Tahun 2014 dicatatkan pada 13 Oktober 2014 hari ini di BEI. Sukuk Ijarah Berkelanjutan I Summarecon Agung Tahap II Tahun 2014 (SISMRA01CN2) yang dicatatkan dengan nilai nominal sebesar Rp 300.000.000.000,- jangka waktu 5 tahun.


Selain itu, hasil pemeringkatan dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) untuk Sukuk Ijarah ini adalah idA+(sy) (Single A Plus Syariah; Stable Outlook). Bertindak sebagai Wali Amanat dalam emisi ini adalah PT Bank CIMB Niaga Tbk. Total emisi Obligasi dan Sukuk Ijarah yang sudah tercatat sepanjang tahun 2014 adalah 34 Emisi dari 29 Emiten senilai Rp 30,692 Triliun.


Sebagai informasi, dengan pencatatan ini maka total emisi Obligasi dan Sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 262 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp 218,852 triliun dan USD 100 juta, diterbitkan oleh 108 emiten.  Surat Berharga Negara (SBN) tercatat di BEI berjumlah 94 seri dengan nilai nominal Rp 1,200,395 triliun dan 5 EBA senilai Rp 1,854 triliun. [geng]



Dengan Peringkat idA+, Summarecon Agung Terbitkan Obligasi Berkelanjutan