Showing posts with label Pasar Uang Domestik Melemah. Show all posts
Showing posts with label Pasar Uang Domestik Melemah. Show all posts

Friday, November 7, 2014

Aksi Lepas Saham Lebih Dominan, Pasar Uang Domestik Melemah

Financeroll - Pada perdagangan akhir pekan, Jumat (7/11) Laju nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta melemah sebesar 36 poin menjadi Rp 12.184 dibanding sebelumnya Rp 12.148 per dolar AS.  Penguatan dolar AS masih didukung oleh sentimen fundamental dari ekonomi Amerika Serikat menyusul beberapa data ekonomi yang dinilai mengalami perbaikan sehingga mendorong pelaku pasar uang cenderung masuk ke instrumen dolar AS.  Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 46 poin gara-gara tekanan jual investor asing. Indeks pun balik lagi ke kisaran 4.900-an.  Indeks tak bertahan lama di zona hijau, hanya mampu naik ke titik tertingginya hari ini di 5.040,971.


Mata uang dolar AS dinilai masih menarik menyusul data klaim pengangguran AS yang baru dirilis menunjukan mengalami penurunan, dengan demikian pemulihan ekonomi di AS  masih berlanjut.  Di sisi lain,  dolar AS juga terbantu oleh terkoreksinya mata uang Euro setelah bank sentral Eropa (ECB) menegaskan kesiapannya untuk melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut jika dibutuhkan.  Meski  demikian, penguatan dolar AS masih dibatasi oleh antisipasi investor yang bersikap waspada menjelang publikasi data “non-farm payroll” dan tingkat pengangguran AS yang sedianya akan dipublikasikan pada akhir pekan waktu setempat.


Data itu menjadi salah satu indikator yang dapat turut menentukan seberapa cepat Federal Reserve akan mulai menaikan suku bunganya.  Dari dalam negeri,  masih cukup kuatnya kabar yang beredar mengenai wacana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebelum awal tahun 2015 menahan laju dolar AS terhadap rupiah lebih tinggi di pasar keuangan dalam negeri.  Sementara itu kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada hari Jumat ini (7/11), tercatat mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp 12.149 dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 12.179 per dolar AS.


Dari bursa saham, menutup perdagangan Sesi I, IHSG turun 24,939 poin (0,50%) ke level 5.009,292 gara-gara aksi jual investor asing. Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menjadi satu-satunya bursa yang merah di regional.  Aksi jual mulai melanda bursa regional sehingga banyak pasar saham yang akhirnya melemah. Indeks pun sempat terjerembab ke posisi terendahnya hari ini di 4.979.  Pada akhir perdagangan,   IHSG jatuh 46,807 poin (0,93%) ke level 4.987,424. Sementara Indeks LQ45 anjlok 10,330 poin (1,20%) ke level 847,286.  Hanya satu indeks sektoral yang mampu menguat, yaitu sektor pertambangan. Hampir semua sektor merah gara-gara aksi jual.


Tercatat, transaksi investor asing hingga sore hari ini  melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 181,531 miliar. Sedangkan di pasar reguler saja net sell sebesar Rp 338,486.  Perdagangan hari ini berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 190.827 kali dengan volume 4,961 miliar lembar saham senilai Rp 4,572 triliun. Sebanyak 95 saham naik, 195 turun, dan 84 saham stagnan.


Sementara bursa di Asia pun terkena tekanan jual dan rata-rata menutup perdagangan akhir pekan di zona merah. Hanya bursa saham Jepang yang bertahan di zona hijau.  Berikut situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 naik 87,90 poin (0,52%) ke level 16.880,38, Indeks Hang Seng melemah 99,07 poin (0,42%) ke level 23.550,24, Indeks Komposit Shanghai turun 7,69 poin (0,32%) ke level 2.418,17, dan Indeks Straits Times berkurang 5,24 poin (0,16%) ke level 3,285.72. [geng]



Aksi Lepas Saham Lebih Dominan, Pasar Uang Domestik Melemah

Tuesday, October 14, 2014

Aksi Jual Terus Berlangsung, Pasar Uang Domestik Melemah

Financeroll - Pada perdagangan Selasa (14/10) nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa sore, melemah enam poin menjadi Rp 12.184 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.178 per dolar AS.  Penguatan mata uang dolar AS terhadap rupiah cenderung mulai tertahan menyusul kekhawatiran ivestor terhadap ekonomi global dan menigkatnya ketidakpastian waktu kenaikan tingkat suku bunga pertama oleh bank sentral AS (the Fed).   Sementara Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil rebound 9 poin di tengah perdagangan yang sepi. Aksi beli selektif terhadap saham-saham murah jadi pendorong naiknya IHSG.


Pelaku pasar uang juga masih menanti kepastian susunan kabinet pemerintahan baru mendatang dan kebijakan yang akan direalisasikan dalam jangka pendek.  Pelaku pasar uang di dalam negeri mengharapkan pemerintahan baru nanti dapat merealisasikan kenaikan harga BBM bersubsidi. Dinaikkannya harga BBM subsidi itu dapat membuat ruang fiskal lebih terbuka.


Ruang fiskal yang besar dapat mendorong pengembangan infrastruktur, selama ini sektor itu menjadi salah satu  faktor pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi tertahan.   Potensi nilai tukar rupiah masuk ke dalam area positif cukup terbuka.  Seiring pelemahannya di transaksi antarbank di Jakarta, pada kurs tengah Bank Indonesia mata uang lokal ini juga bergerak melemah menjadi Rp 12.195 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.202 per dolar AS.


Dari bursa saham, menutup  perdagangan Sesi I, IHSG naik 10,083 poin (0,21%) ke level 4.923,136 berkat aksi beli di saham-saham yang sudah murah. Posisi IHSG sudah jenuh jual alias oversold.  Indeks sempat menanjak ke titik tertingginya hari ini di level 4.941. Saham-saham yang sudah terkoreksi tajam alias murah langsung dibeli investor.


Pada akhir  perdagangan, Selasa (14/10), IHSG naik tipis 9,529 poin (0,19%) ke level 4.922,582. Sementara Indeks LQ45 menguat tipis 3,041 poin (0,37%) ke level 831,344.  Aksi beli didominasi investor lokal. Pelaku pasar asing masih melepas saham, sore ini transaksinya tercatat (foreign net sell) senilai Rp 435,162 miliar di seluruh pasar.


Tercatat perdagangan hari ini berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 182.422 kali dengan volume 3,697 miliar lembar saham senilai Rp 4,078 triliun. Sebanyak 144 saham naik, 129 turun, dan 97 saham stagnan.  Bursa-bursa di Asia mengakhiri perdagangan dengan kompak melemah. Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi satu-satunya pasar modal yang menguat di Asia.


Sementara  situasi dan kondisi bursa-bursa regional sore hari ini:  Indeks Nikkei 225 terjun 364,04 poin (2,38%) ke level 14.936,51, Indeks Hang Seng melemah 95,41 poin (0,41%) ke level 23.047,97, Indeks Komposit Shanghai naik 6,53 poin (0,28%) ke level 2.359,47, dan  Indeks Straits Times menipis 1,65 poin (0,05%) ke level 3.200,50. [geng]



Aksi Jual Terus Berlangsung, Pasar Uang Domestik Melemah

Friday, October 10, 2014

Investor Asing Lepas Saham, Pasar Uang Domestik Melemah

Financeroll – Pergerakan nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Jumat (10/10) sore, melemah 37 poin menjadi Rp 12.223 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.186 per dolar AS.  Situasi politik di Indonesia masih menjadi sentimen negatif bagi mata uang Rupiah terhadap dolar AS.  Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpangkas 30 poin di tengah perdagangan yang sepi. Dana asing kembali keluar lantai bursa nilainya sekitar Rp 600 miliar.


Pelaku pasar masih menilai negataif kondisi politik di Indonesia. Sebenarnya, fundamental domestik baik, inflasi masih terjaga sekitar 4,53 persen, cadangan devisa sebesar 112 miliar dolar AS.  Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan juga masih bisa mencapai 5,2 persen pada tahun ini.


Sentimen global itu tidak sampai menyebabkan rupiah menembus Rp12.000 per dolar AS. Gubernur The Fed Janet Yellen pernah membuat mata uang ’emerging market’ termasuk rupiah merosot tetapi tidk sampai menembus Rp12.000.  Kondisi Indonesia tidak jauh berbeda dengan India. Setelah India memiliki Perdana Menteri baru yang diharapkan pasar, kondisi pasar keuangan disana cenderung membaik. Diharapkan Indonesia sama seperti itu menyusul harapan yang cukup positif terhadap pemerintahan baru nanti.


Mata uang rupiah masih akan berada dalam tren pelemahan selama suhu politik di dalam negeri masih panas. Sentimen dolar AS di eksternal cenderung melemah menyusul jadwal kenaikan suku bunga AS tidak lebih cepat dari perkiraan, sementara di dalam negeri indeks dolar AS masih menguat, itu menandakan kondisi sentimen domestik yang membayangi mata uang rupiah.  Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari Jumat (10/10) tercatat mata uang rupiah bergerak melemah menjadi Rp 12.207 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.190 per dolar AS.


Dari bursa saham, aksi jual saham langsung muncul sejak pembukaan perdagangan. Indeks sempat jatuh hingga ke titik terendahnya hari ini di level 4.933,385.  Pada penutupan perdagangan Sesi I, IHSG terpangkas 37,625 poin (0,75%) ke level 4.954,254 akibat aksi jual yang terjadi sejak pagi tadi. Saham-saham unggulan dan lapis dua jadi sasaran aksi jual.


Menutup perdagangan akhir pekan, Jumat (10/10), IHSG berkurang 30,919 poin (0,62%) ke level 4.962,960. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 5,720 poin (0,68%) ke level 838,676.  Saham-saham konsumer bisa bertahan positif berkat aksi beli selektif. Sayangnya sembilan sektor lainnya melemah sehingga menyeret IHSG ke zona merah.


Transaksi investor asing sore hari ini tercatat melakukan penjualan bersih senilai Rp 621,745 miliar di pasar reguler dan negosiasi.  Perdagangan hari ini berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 170.027 kali dengan volume 3,965 miliar lembar saham senilai Rp 4,2 triliun. Sebanyak 73 saham naik, 211 turun, dan 79 saham stagnan. [geng]



Investor Asing Lepas Saham, Pasar Uang Domestik Melemah