Showing posts with label Data ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Data ekonomi. Show all posts

Thursday, December 11, 2014

Jatuhnya Harga Minyak dan Emas, Berkah Bagi Konsumen

Jatuhnya harga minyak mentah saat ini menjadi berkah bagi kalangan investor yang kembali memburu dengan aksi beli di lantai bursa. Data ekonomi AS yang menunjukkan kondsi ekonomi yang lebih baik, telah membangkitkan kepercayaan diri pelaku pasar, bahkan membuat Indek Dow Jones melejit hingga 180 poin.



FINANCEROLL –  Harga emas menapaki jalur penurunan dalam dua hari ini, setelah data penjualan ritel yang lebih baik dari perkiraan awal meskipun hal ini sudah diantisipasi investor. Harga Emas dalam perdagangan berjangka untuk kiriman bulan Februari mengalami penurunan $11.40, atau 0.9%, ke harga $1,218,00 per ons. Bursa saham AS sendiri merespon positif data ekonomi tersebut dan menguat sejak awal perdagangan. Lazimnya, kondisi ekonomi yang buruk akan membuat investor memilih berinvestasi di emas dan bursa saham mengalami penurunan. Sebaliknya, jika kondisi ekonomi membaik, bursa akan menguat dan Emas akan terkoreksi.


Angka penjualan ritel AS sebagaimana yang diungkapkan Departemen Perdagangan AS telah mengalami kenaikan yang lebih baik dari perkiraan. Alhasil daya pikat Emas sebagai alat investasidan pelindung saat inflasi mengalami peluruhan. Emas memang sudah gentar dan menurun sebelum data tersebut diterbitkan. Jatuhnya harga emas bahkan merupakan kelanjutan dari penurunan yang terjadi sebelumnya. Emas makin terpukul dengan data terkini yang  menyatakan klaim pengangguran AS lebih rendah dari perkiraan pasar. Klaim yang diajukan sebesar  294 ribu sementara perkiraan awal adalah 296 ribu.


Harga emas yang kembali terpuruk, akhiri kenaikannya dan telah menyentuh dasarnya. Meskipun harga emas diangap telah menyentuh dasar, bukan berarti akan langsung berbalik menguat kembali sebagai dampak pentalan harga, mengingat harga emas masih terbuka untuk sementara waktu berada di dasar. (Lukman Hqeem | @hqeem )



Jatuhnya Harga Minyak dan Emas, Berkah Bagi Konsumen

Monday, November 24, 2014

IFO Jerman; Sentimen Bisnis Naik, Mengejutkan.

Sentimen bisnis Jerman, secara mengejutkan mengalami kenaikan di bulan November ini, mengindikasikan negara Eropa ini telah mendapatkan salah satu pijakan pertumbuhan ekonomi yang kuat dibulan-bulan ini.



FINANCEROLL – The Ifo Institute menyatakan pada Senin (24/11) bahwa Indek Sentimen Bisnis mengalami kenaikanke angka 104.7 dari sebelumnya 103.2 dibulan Oktober, pecahkan penurunan yang terjadi selama enak bulan terakhir ini. Prakiraan awal adalah diangka 103.


Presiden IFO, Werner Sinn menyatakan bahwa penurunan yang terjadi dalam perekomian Jerman nampaknya telah terhenti sejenak, memang pada musim semi dan panas kemarin mengalami sedikit kontraksi produksi di kuartal kedua yang terkikis kecil pada kuartal ketiga. Banyak pihak yang memperkirakan pada kuartal empat ini pertumbuhannya akan melemah.


Meski demikian, ekspansi ekonomi Jerman ini masih sesuai dengan lajurnya dan berharap terus membaik di tahun yang akan datang. Optimisme ini didukung tingkat pengangguran yang rendah, harga minyak yang turun serta depresiasi Euro. Tentunya akan menguntungkan negara exportir, seperti Jerman.(Lukman Hqeem | @hqeem)




IFO Jerman; Sentimen Bisnis Naik, Mengejutkan.

Friday, November 7, 2014

Aksi Lepas Saham Lebih Dominan, Pasar Uang Domestik Melemah

Financeroll - Pada perdagangan akhir pekan, Jumat (7/11) Laju nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta melemah sebesar 36 poin menjadi Rp 12.184 dibanding sebelumnya Rp 12.148 per dolar AS.  Penguatan dolar AS masih didukung oleh sentimen fundamental dari ekonomi Amerika Serikat menyusul beberapa data ekonomi yang dinilai mengalami perbaikan sehingga mendorong pelaku pasar uang cenderung masuk ke instrumen dolar AS.  Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 46 poin gara-gara tekanan jual investor asing. Indeks pun balik lagi ke kisaran 4.900-an.  Indeks tak bertahan lama di zona hijau, hanya mampu naik ke titik tertingginya hari ini di 5.040,971.


Mata uang dolar AS dinilai masih menarik menyusul data klaim pengangguran AS yang baru dirilis menunjukan mengalami penurunan, dengan demikian pemulihan ekonomi di AS  masih berlanjut.  Di sisi lain,  dolar AS juga terbantu oleh terkoreksinya mata uang Euro setelah bank sentral Eropa (ECB) menegaskan kesiapannya untuk melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut jika dibutuhkan.  Meski  demikian, penguatan dolar AS masih dibatasi oleh antisipasi investor yang bersikap waspada menjelang publikasi data “non-farm payroll” dan tingkat pengangguran AS yang sedianya akan dipublikasikan pada akhir pekan waktu setempat.


Data itu menjadi salah satu indikator yang dapat turut menentukan seberapa cepat Federal Reserve akan mulai menaikan suku bunganya.  Dari dalam negeri,  masih cukup kuatnya kabar yang beredar mengenai wacana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebelum awal tahun 2015 menahan laju dolar AS terhadap rupiah lebih tinggi di pasar keuangan dalam negeri.  Sementara itu kurs tengah Bank Indonesia (BI) pada hari Jumat ini (7/11), tercatat mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp 12.149 dibandingkan posisi sebelumnya di Rp 12.179 per dolar AS.


Dari bursa saham, menutup perdagangan Sesi I, IHSG turun 24,939 poin (0,50%) ke level 5.009,292 gara-gara aksi jual investor asing. Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menjadi satu-satunya bursa yang merah di regional.  Aksi jual mulai melanda bursa regional sehingga banyak pasar saham yang akhirnya melemah. Indeks pun sempat terjerembab ke posisi terendahnya hari ini di 4.979.  Pada akhir perdagangan,   IHSG jatuh 46,807 poin (0,93%) ke level 4.987,424. Sementara Indeks LQ45 anjlok 10,330 poin (1,20%) ke level 847,286.  Hanya satu indeks sektoral yang mampu menguat, yaitu sektor pertambangan. Hampir semua sektor merah gara-gara aksi jual.


Tercatat, transaksi investor asing hingga sore hari ini  melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 181,531 miliar. Sedangkan di pasar reguler saja net sell sebesar Rp 338,486.  Perdagangan hari ini berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 190.827 kali dengan volume 4,961 miliar lembar saham senilai Rp 4,572 triliun. Sebanyak 95 saham naik, 195 turun, dan 84 saham stagnan.


Sementara bursa di Asia pun terkena tekanan jual dan rata-rata menutup perdagangan akhir pekan di zona merah. Hanya bursa saham Jepang yang bertahan di zona hijau.  Berikut situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 naik 87,90 poin (0,52%) ke level 16.880,38, Indeks Hang Seng melemah 99,07 poin (0,42%) ke level 23.550,24, Indeks Komposit Shanghai turun 7,69 poin (0,32%) ke level 2.418,17, dan Indeks Straits Times berkurang 5,24 poin (0,16%) ke level 3,285.72. [geng]



Aksi Lepas Saham Lebih Dominan, Pasar Uang Domestik Melemah

Wednesday, October 8, 2014

Agustus, Mesin Inti Pesanan Jepang Naik 4.7%

Financeroll – Pesanan mesin inti Jepang menguat pada kuartal ketiga di bulan Agustus, Kamis (9/10) setelah bisnis investasi mungkin bisa terus pulih setelah perusahaan mengekang pengeluaran mengikuti kenaikan pajak penjualan April.


Pesanan naik 4,7% pada bulan Agustus dari bulan sebelumnya lebih besar dari yang diharapkan oleh ekonom yang disurvei oleh The Wall Street Journal.


Pembuat kebijakan terus memantau pengeluaran oleh perusahaan, karena mereka melihatnya cukup penting dalam mendukung perekonomian setelah kenaikan pajak penjualan April 8% dari 5%.


Mesin pesanan meskipun tidak stabil, secara luas dianggap sebagai indikator utama dalam belanja modal. Peningkatan pada bulan Agustus menguat naik 3,5% pada bulan Juli dan turun 19,5% pada bulan Mei.


Perdana Menteri Shinzo Abe diharapkan untuk membuat keputusan pada bulan Desember mengenai apakah bisa menaikkan pajak penjualan sampai 10% dari 8% pada Oktober tahun 2015.



Agustus, Mesin Inti Pesanan Jepang Naik 4.7%