Showing posts with label Dolar AS. Show all posts
Showing posts with label Dolar AS. Show all posts

Tuesday, January 20, 2015

Dunia Diambang Deflasi

Sebuah jajak pendapat terkini yang dilakukan oleh Bloomberg Global Poll menunjukkan dunia diambang deflasi, meskipun jatuhnya harga minyak dan menguatnya Dolar AS akan mendorong pertumbuhan ekonomi dunia.


FINANCEROLL – Tiga perempat panelis yang terdiri dari pialang dan analis menyatakan bahwa jatuhnya harga minyak mentah sejak Juni silam sebesar 55% akan mendorong pertumbuhan ekonomi dunia. Sebanyak 85% diantara mereka menyatakan bahwa kenaikan Dolar AS, khususnya terhadap Euro dan Yen akan memberikan pukulan yang menyakitkan.


Dua hal tersebut akan menjadi tren penting yang membentuk pasar uang saat ini. Jatuhnya harga minyak sebagai cerminan perlambatan ekonomi global akan terus tertekan jika Dolar AS terus menguat. Dalam pertemuan tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Switzerland pekan ini, isu ini akan menjadi topik utama.


Praktiknya, setiap industri merupakan konsumen energi dan dengan jatuhnya harga minyak maka akan membuat harga produksi menurun pula. Pada akhirnya hal ini tentu akan meningkatkan derajat keuntungan yang diraih dan meningkatkan daya beli konsumen dimana pada akhirnya juga akan mendorong lebih banyak lagi investasi produksi.


Pandangan demikian ini masih berseberangan dengan setidaknya 72 persen pihak yang menilai bahwa jatuhnya harga minyak saat ini lebih mencerminkan terjadinya suplai yang berlebihan daripada adanya permintaan minyak yang turun. Meskipun harga minyak telah jatuh bahkan yang paling besar sejak 2008, organisasi kartel minyak Organization of Petroleum Exporting Countries (OPEC) sendiri masih menolak untuk mengurangi kapasitas produksi mereka.



Dunia Diambang Deflasi

Wednesday, January 14, 2015

AS Kembali Menjadi Mesin Ekonomi Dunia

FINANCEROLL – Amerika Serikat kembali mengambil alih pimpinan ekonomo global setelah 15 tahun lamanya singgasana itu diduduki Cina dan Negara-negara berkembang.


Tahun 2015 ini diperkirakan AS akan menikmati pertumbuhan ekonomi sebesar 3.2 persen. Ini akan menjadi sebuah catatan penting sebagai kinerja terbaiknya sejak 2005. Membaiknya lapangan kerja AS mempercepat pertumbuhan angka konsumsi nasional.


Berbagai analisa yang diberikan oleh JPMorgan Chase & Co., Deutsche Bank AG dan BNP Paribas SA. menyebutkan bahwa hasil dari membaiknya kondisi tersebut akan membuat AS tidak lagi ketinggalan dengan pertumbuhan ekonomi global, sesuatu yang sebelumnya belum terlihat sejak 1999, berdasarkan data dari International Monetary Fund. Alhasil ini mengembalikan mahkota sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi global. Kondisi AS saat ini adalah yang terbaik sejak 1990an.


Data terkini menunjukkan AS bangkit kembali, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Jumat (09/01) bahwa jumlah pembayaran upah (payrolls) mengalami peningkatan sebesar 252 ribu selama bulan Desember 2014. Kenaikan ini sesuai dengan tingkat pengangguran AS yang mengalami penurunan ke 5.6 persen, pencapaian ini merupakan yang terbaik dengan angka pengangguran terendah sejak Juni 2008. Pertumbuhan lapangan kerja ini merupakan hasil dari kenaikan lapangan kerja di sektor-sektor pabrikan, layanan kesehatan, dan jasa. Sekitar 3 juta lebih rakyat AS menemukan pekerjaan di 2014, angka ini merupakan yang paling besar sepanjang 15 tahun terakhir ini. Dengan membaiknya lapangan kerja ini, optimis akan meningkatkan derajat permintaan AS disaat kondisi pasar global masih lesu.


AS berhasil memisahkan diri dari sebagian negara didunia yang masih berjibaku dengan krisis keuangan. Keberhasilan mereka dalam mengendalikan ledakan hutang membuat AS keluar dari jeratan resesi yang paling buruk sejak era Great Depression. Jumlah penghutang yang terlambat memenuhi pembayarannya mengalami penurunan hingga sebesar 1,51 persen di kuartal ketiga 2014. Angka ini jauh dibawah rata-rata dalam 15 tahun terakhir ini sebesar 2.3 persen, termasuk hutang kartu kredit dan pinjaman properti dan kendaraan bermotor. Rumah tangga AS memang mendapatkan manfaat dengan penguatan lapangan kerja saat ini, ditambah dengan jatuhnya harga minyak mentah membuat pendapatan mereka lebih baik. Dari AAA dilaporkan bahwa harga gasoline dinegeri itu mencapai harga termurahnya sejak Mei 2009 pada harga $2.13 per Galon pada 11 Januri kemarin.


Upah perjam memang masih menurun sebesar 0.2 persen dibulan lalu, menahan laju kenaikan upah di AS. Meski demikian, hanya masalah waktu saja sebelum tingkat upah melaju naik. Kenaikan upah akan berimbas pada potensi kenaikan tingkat belanja rumah tangga. Masyarakat AS dikenal sebagai masyarakat konsumtif, dengan kecenderungan membeli kendaraan baru, perlengkapan rumah tangga, pakaian dan lain-lain. Tingkat belanja mereka di bulan November 2014 mencapai 0,6 persen  atau meningkat dua kali lipat dari bulan Oktober, ungkap Departemen Perdagangan AS di Washington. Penjualan kendaraan ringan saja sepanjang tahun 2014 mampu terjual 16.5 juta, ini merupakan yang paling besar sejak 2006.


Perekonomian AS mampu menutup perjalanan akhir 2014 ini dengan manis. Penguatan yang terjadi akan berdampak terhadap industri otomotif, yang diharapkan mampu membukukan kenaikan secara beruntun dalam enam tahun ini pada 2015 dimana diperkirakan penjualan tahun ini bisa mencapai 17 juta unit.


Pada 2013, tingkat konsumsi masyarakat AS mencapai $11.5 trilyun, angka ini lebih besar daripada PDB negara lain di tahun ini, termasuk dengan Cina sendiri, ungkap IMF di Washington. Data ini tidak hanya menunjukkan perbedaan yang menyolok diantara negara, yang disebut purchasing power parity – dimana sering terkait dengan laju inflasi suatu negara pula. Tahun ini, PDB AS diperkirakan akan tumbuh 3.7 persen, naik dari tahun lalu yang mencapai 2.5 persen. AS akan memberikan kontribusi hampir 18 persen pada pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan tahun ini hanya akan tumbuh 3.6 percen. Kontribusi AS masih yang tertinggi dibandingkan negara-negara maju lainnya yang berkontribusi rata-raat sekitar 11 persen, sebagaimana laporan IMF pada 9 Januari kemarin.


Ditengah penguatan yang terjadi di AS, negara-negara berkembang BRIC — Brazil, RussiaIndia dan Cina mendapati masa-masa yang sulit . Dalam 15 tahun terakhir, mereka sebelumnya menjadi pusat perhatian investor dunia. Peringkat kredit Brazil untuk pertama kalinya diturunkan dalam satu dekade ini, sementara Rusia sendiri tengah menghadapi resesi. Perekonomian negeri Beruang merah tersebut rentan dengan jatuhnya harga minyak dan sanksi yang dijatuhkan Eropa. Dua negara asia, India dan Cina mendapat perlambatan dalam pertumbuhan ekonomi mereka. Nampaknya peran negara-negara berkembang sebagai mesin penggerak pertumbuhan ekonomi global telah usai. Brazil dan Rusia adalah dua negara BRIC yang paling diujung tanduk saat ini, kegagalan mereka dalam menangani krisis keuangannya bisa menjadikan mereka kehilangan mahkota sebagai negara berkembang. Meski demikin, selamban-lambannya pertumbuhan ekonomi Cina, tetap saja kontribusi mereka ke perekonomian dunia masih lebih baik daripada AS dilihat dari hasil berdasarkan purchasing power parity.


AS memang selangkah didepan diantara negara-negara maju lainnya, ungkap Paul Mortimer-Lee, kapala ekonom BNP Paribas di New York. Presiden ECB Mario Draghi dan para koleganya masih dengan kebijakan pembelian kembali aset mereka untuk menghindari deflasi. Langkah ini sebelumnya manjur dilakukan oleh AS pada 2009. Sementara kebijakan anggaran AS juga dianggap lebih efektif dari kawasan Euro, tambah Mortimer-Lee.


Eropa sendiri disarankan Even Alberto Alesina, seorang profesor dari Harvard University agar melakukan pemangkasan pajak secara agresif untuk meningkatkan keuangan mereka. Sebaliknya, Jepang sendiri nampaknya memilih perekonomiannya kembali sebagaimana saat resesi dengan menaikkan pajak konsumsi hingga sebesar 8 persen dari sebelumnya yang hanya 5 persen pada 1 April 2014. (Lukman Hqeem | @hqeem | 2AC9FBE6)



AS Kembali Menjadi Mesin Ekonomi Dunia

Monday, January 5, 2015

Nikkei Akan Tembus 20,000

FINANCEROLL – Untuk pertama kalinya sejak April 2000, Indek saham Nikkei 225 diperkirakan akan menembus 20,000 pada 2015 ini. Ada enam faktor yang bisa mendorong kenaikan Indek Nikkei 225 ini, yaitu melemahnya Yen, harga minyak mentah yang murah, ekonomi AS yang membaik, pembagian deviden oleh Bank of Japan dan Dana Investasi Pensiun Pemerintah, reformasi tata kelola korporasi, dan proposal pengurangan pajak korporat. Sebuah jajak yang sebelumnya dilakukan oleh Nikkei Veritas di bulan Desember 2014 menyatakan bahwa 36 dari 58 pengamat pasar menyatakan optimisnya bahwa Nikkei tahun ini akan menembus 20,000 dengan level tertinggi bisa mencapai ke 20,440.


Prediksi kenaikan ini juga tercermin dari menguatnya pendapatan korporat di Jepang. Meskipun perekonomian di negeri Jepang masih lambat, pendapatan korporat masih tinggi diatas perekonomian umumnya, ungkap Kathy Matsui dari Goldman Sachs Jepang. Diyakini bahwa keuntungan per saham di lantai bursa utama Tokyo Stock Exchange akan naik 22% pada tahun pertama hingga Maret 2015 ini dibandingkan tahun lalu, melemahnya Yen memberikan keuntungan bagi para eksportir. Dibandingkan rekannya di AS, Eropa dan Asia lainnya, perusahaan-perusahaan di Jepang berpeluang membukukan keuntungan lebih baik.


Menurut perkiraan dari Ryota Sakagami dari SMBC Nikko Securities mengatakan bahwa para investor asing akan menjadi pembeli besar atas saham-saham Jepang ketika nilai keuntungan per saham mengalami peningkatan tajam.  Diperkirakan, total yang akan dibeli oleh investor asing sejak September 2012 akan tumbuh sekitar 28 trilyun yen ($230 milyar) pada September 2015. Laju kenaikan ini tidak terpaut jauh dari pertumbuhan yang terjadi pada periode April 2003 – Juli 2007 sebesar 39 trilyun yen, ketika PM Junichiro Koizumi melakukan serangkaian perubahan sehingga menarik minat investor asing secara besar-besaran.


Reformasi tata kelola perusahaan yang lebih baik juga menjadi daya tarik investor asing kepada saham-saham Jepang. Dominic Rossi, Kepala Investasi Global dari Fidelity Worldwide Investment Inggris menyatakan bahwa jika rata-rata tingkat pendapatan saham jepang bisa naik keatas 10%, dari sekitar 8% saat ini dengan remormasi tersebut, para investor tentu semakin tertarik.


Jika Nikkei memang menembus 20,000, kapitalisasi pasar TSE bisa mencapai 600 trilyun yen, kurang lebih sama saat akhir 1989, ketika indek saham ditutup pada angka tertingginya sepanjang masa di 38,915.


Disisi lain, resiko juga bisa saja muncul. Bagi sebagian pihak, saat saham-saham AS kembali mencetak kenaikannya di akhir akhir 2014, menjadi perhatian akan seberapa lama kenaikan ini masih akan berlanjut. David Tepper, seorang manajer investasi AS menyatakan bahwa kondisi saat ini mirip dengan tahun 1998, ketika Russia dinyatakan bangkrut akibat hutang. Bursa saham AS melejit di tahun selanjutnya, namun turun tajam di tahun 2000 saat terjadi ledakan perusahaan-perusahaan dot-com.


Jatuhnya harga minyak disisi lain akan memberikan tekanan bagi negara sedang berkembang. Allan Conway, dari Schroders Inggris menyatakan bahwa para investor telah menarik dana investasinya di negara-negara berkembang sejak tahun lalu, dan dana-dana ini dalam posisi menunggu adanya fluktuasi yang lebih tinggi di 2015.


Kondisi Eropa sendiri masih dibayang-bayangi dengan berbagai masalah. Pemilu di Yunani juga menyisakan persoalan di benua biru. Sementara dibelahan timur, perekonomian Jepang yang menderita dengan enam penyakit utama, yaitu menguatnya Yen, tertundanya kesepakatan perdagangan bebas dengan negara-negara lain, naiknya harga listrik, tingginya pajak korporat, kakunya hukum perburuhan dan regulasi lingkungan yang berat. Enam masalah tersebut nampaknya masih ada di tahun ini, dengan beberapa pengecualian Yen yang saat ini melemah. Jika reformasi Jepang tidak berjalan, maka akan mendorong para investor melakukan aksi jual saham-saham Jepang.


Mohamed El-Erian, Kepala Penasehat Ekonomi Allianz, menyatakan bahwa tahun 2015 ini merupakan tahun “divergence,” mengacu pada terbelahnya pertumbuhan ekonomi dan lingkungan moneter di AS, Jepang dan negara-negara berkembang yang tidak lazim. Hal ini membuat neraca perekonomian dunia tidak nyaman, alhasil ini menjadi sebuah pertanyaan terbuka bahwa sejauh Saham-saham Jepang bisa naik di tahun ini. (Lukman Hqeem | @hqeem)



Nikkei Akan Tembus 20,000

Saturday, January 3, 2015

Rupiah Awal Tahun Terdepresi ke Rp12.544/US$

Financeroll – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah tajam pada akhir perdagangan awal tahun baru 2015.


Berdasarkan data Dollar Index, rupiah terdepresiasi 1,27% ke Rp12.545/US$ pada pukul 15.59 WIB. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp12.414-Rp12.573/US$.


Berdasarkan Dollar Index, rupiah dibuka melemah 0,37% ke Rp12.434/US$. Selanjutnya, rupiah bahkan terpuruk 1,26% ke Rp12.544/US$ pada 14.09 WIB.


Pergerakan Rupiah/US$


















TanggalRp/US$
02/0112.545
31/1212.388
30/1212.434
29/1212.441
26/1212.409
25/1212.440
24/1212.469

Rupiah Awal Tahun Terdepresi ke Rp12.544/US$

Thursday, December 25, 2014

Greenback AS Menguat Sejenak

Financeroll – Pergerakan valuta asing Dolar terhadap mata uang lainnya di sesi Jumat (26/12) siang terpantau menguat.


EURUSD melemah -0.08% ke level 1.2216, GBPUSD menguat 0.02% ke level 1.5554, USDJPY menguat 0.10% ke level 120.22, USDCHF menguat 0.04% ke level 0.9842.


Volume perdagangan memang sedang sepi dikarenakan natal dan masih dalam suasana libur tahun baru, dalam sebuah laporan yang direvisi, University of Michigan mengatakan indeks sentimen konsumen menurun ke 93.6 bulan ini dari 93.8 di bulan November. Pasar mengharapkan indeks untuk jatuh ke 93.1 pada bulan Desember.


Sedangkan Biro Sensus Amerika mengatakan penjualan rumah baru jatuh 1,6% bulan lalu menjadi 438,000 unit dari total 445,000 unit pada bulan Oktober. Pasar mengharapkan penjualan rumah baru untuk turun 460.000 pada bulan November.


Data juga menunjukkan bahwa pengeluaran pribadi AS meningkat 0,6% pada bulan November, melebihi harapan untuk naik 0,5%, setelah direvisi naik 0,3% di bulan Oktober. Pada laporan GDP AS yang naik 5.0% pada kuartal ketiga, melebihi harapan untuk tingkat pertumbuhan 4,3%,


Index dolar AS yang mengukur greenback terhadap mata uang utama lainnya adalah naik 0.37% untuk 90.28.



Greenback AS Menguat Sejenak

Rasio Uang Palsu Rupiah Lebih Rendah Dari Denominasi Dolar AS

Financeroll – Rasio uang palsu berdenominasi rupiah jauh lebih rendah dibandingkan dengan rasio uang palsu berdenominasi dolar AS.


Direktur Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia Dian Karmila mengatakan rasio uang palsu pada Desember 2014 adalah 7 lembar per satu juta lembar uang. Rasio ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan rasio uang palsu USD yang mencapai 100 lembar per satu juta lembar uang.


Adapun, Euro sebanyak 43 lembar per satu juta lembar uang, sedangkan Pound Sterling sebanyak 143 lembar per satu juta lembar uang.


Rasio uang palsu rupiah tergolong paling rendah.


Data Bank Indonesia menyebutkan temuan uang palsu hingga September 2014 mencapai 12.190 lembar. Uang palsu paling banyak ditemukan di wilayah Jawa Barat dan Banten dengan temuan sebanyak 5.143 lembar atau 42,2% dari total uang palsu di seluruh Indonesia.


Wilayah Jawa Timur menyusul di posisi kedua dengan temuan sebanyak 2.932 lembar uang palsu atau setara dengan 24,1% dari total temuan uang palsu.


Selanjutnya, Kantor Pusat BI mencatat temuan uang palsu sebanyak 2.414 lembar atau 19,8% dari total uang palsu yang ditemukan.



Rasio Uang Palsu Rupiah Lebih Rendah Dari Denominasi Dolar AS

Sunday, December 21, 2014

Pendapatan OPEC Tinggal Separuh, Investor Mulailah Beli Saham

Jatuhnya harga minyak mentah saat ini benar-benar menjadi berkah, terlebih bagi bursa saham AS yang diperkirakan akan mengakhiri catatan penutup tahun ini dengan manis.


FINANCEROLL – Berdasarkan data terkini dari AAA, jatuhnya harga minyak mentah membuat harga ritel gasoline disekitar $2.477, untuk pertama kalinya harga ritel gasoline dibawah $2.50 sejak Januari 2009. Hal ini seiring dengan kesadaran kelas menengah AS dan masyarakat bawah yang ingin bisa menyisihkan uang lebih banyak untuk membeli hadiah Natal dan bepergian mengunjungi sanak saudara.


Syukurlah, apa yang terjadi ini merupakan minyak perangsang bagi kebangkitan ekonomi AS lebih lanjut. Bagaimana tidak, dengan jatuhnya harga minyak membuat jutaan rakyat AS bisa lebih banyak menyisihkan uangnya untuk belanja di akhir tahun dan bepergian kesanak-familinya. Tentunya ini adalah sesuatu yang belum pernah dilihat oleh para investor dalam beberapa bulan ini.


AAA juga menyatakan bahwa setidaknya 98.6 juta rakyat AS akan melakukan perjalanan setidaknya 50 mil atau bahkan lebih selama musim liburan akhir tahun ini, umumnya meraka akan melakukan perjalan darat dengan mengendarai kendaraan sendiri. Bagi sebagian yang memilih moda angkutan udara, jatuhnya harga minyak juga menurunkan harga bahan bakar pesawat terbang. Alhasil harga tiket pesawat juga menurun, sesuatu yang akan menarik minat konsumen untuk bepergian pula dengan pesawat terbang.Kesempatan ini tentu tidak disia-siakan oleh maskapai-maskapai penerbangan untuk meraup penumpang yang lebih banyak lagi. Setidaknya, para investor yang menjadi pemegang saham maskapai tentu sudah melihat potensi dibalik jatuhnya harga minyak mentah saat ini.


Disisi lain, jatuhnya harga minyak mentah ini memang tidak bisa membahagiakan semua pihak. Kartel minyak, OPEC diperkirakan kehilangan separuh pendapatannya. Sebagaimana kita pahami bahwa jatuhnya harga minyak mentah dan komoditi lainnya telah menjadi pukulan yang hebat. Setidaknya sejak pertemuan OPEC pada 27 November kemarin, baik Arab Saudi dan Kuwait telah sama-sama berusaha untuk menunjukkan langkah-langkah penyelamatan pasar disaat harus berjuang pula agar bahtera ini tidak tenggelam oleh sekutu-sekutu mereka yang menurun pendapatannya akibat jatuhnya harga minyak.


Pihak EIA memperkirakan pendapatan di 2014 akan sekitar $700 milyar atau mengalami penurunan sebesar 8% dari 2013. Sesuatu yang tidak terlalu buruk memang. Sebaliknya, bagi kartel minyak diperkirakan mereka akan kehilangan pendapatan hampir $400 milyar di tahun 2015 ini. Ini merupakan separuh pendapatan mereka di 2013 yang bisa menjadi sebuah ancaman serius bagi negara-negara anggota OPEC yang sangat tergantung pendapatannya dari dari minyak untuk membiayai sejumlah program sosial.


Arab Saudi, Kuwait, dan Irak memiliki separuh dari total pendapatan negara-negara OPEC, sehingga saat negara-negara seperti Venezuela dan Angola tidak bisa bertahan dengan jatuhnya harga minyak, hanya masalah waktu saja sebelum kartel tersebut membuat keputusan lain atau sama-sama memangkas produksi minyak jika tidak ingin melihat sejawatnya tenggelam.


Memang OPEC yang telah kehilangan separuh pendapatannya dalam dua tahun ini dan Rubel Rusia yang turun seiring dengan jatuhnya harga minyak, namun belum tentu harga minyak sendiri masih akan seburuk itu.


Mustahil memang untuk merujuk harga pasar secara tepat, namun dari padangan umum terbersit bahwa setidaknya diakhir Juni nanti harga minyak mentah akan kembali naik. Dengan asumsi yang demikian, diyakini bahwa saham-saham sektor ini akan menjadi tujuan yang tepat untuk menjadi sasaran aksi beli kembali saat ini. Khususnya saham-saham sektor minyak dan energi dari daratan Amerika Utara.


Sebelumnya, ketakutan pasar akan jatuhnya harga minyak membuat saham-saham tersebut ditinggalkan oleh para investor. Aksi jual yang dilakukan dan berpaling dari mereka saat menyentuh harga termurahnya dalam lima tahun terakhir ini adalah sesuatu yang absurb. Jika kita berharap harga saham tersebut akan kembali semurah saat 2009 silam dan baru kita akan membelinya, maka langkah ini kurang tepat.


Jadi kenapa masih terbang kesana-kemari, apakah panik ? nampaknya memang demikian. Harga minyak tidak akan kemana-mana, meski harga minyak telah jatuh. Buktinya perusahaan-perusahaan minyak tetap saja mengebor minyak . Ini berarti bahwa harga minyak tidak akan jatuh begitu dalam. Menunggu harga minyak mentah naik kembali, Investor bisa memilah untuk membeli saham-saham di lantai bursa.



Pendapatan OPEC Tinggal Separuh, Investor Mulailah Beli Saham

Thursday, December 11, 2014

Jatuhnya Harga Minyak dan Emas, Berkah Bagi Konsumen

Jatuhnya harga minyak mentah saat ini menjadi berkah bagi kalangan investor yang kembali memburu dengan aksi beli di lantai bursa. Data ekonomi AS yang menunjukkan kondsi ekonomi yang lebih baik, telah membangkitkan kepercayaan diri pelaku pasar, bahkan membuat Indek Dow Jones melejit hingga 180 poin.



FINANCEROLL –  Harga emas menapaki jalur penurunan dalam dua hari ini, setelah data penjualan ritel yang lebih baik dari perkiraan awal meskipun hal ini sudah diantisipasi investor. Harga Emas dalam perdagangan berjangka untuk kiriman bulan Februari mengalami penurunan $11.40, atau 0.9%, ke harga $1,218,00 per ons. Bursa saham AS sendiri merespon positif data ekonomi tersebut dan menguat sejak awal perdagangan. Lazimnya, kondisi ekonomi yang buruk akan membuat investor memilih berinvestasi di emas dan bursa saham mengalami penurunan. Sebaliknya, jika kondisi ekonomi membaik, bursa akan menguat dan Emas akan terkoreksi.


Angka penjualan ritel AS sebagaimana yang diungkapkan Departemen Perdagangan AS telah mengalami kenaikan yang lebih baik dari perkiraan. Alhasil daya pikat Emas sebagai alat investasidan pelindung saat inflasi mengalami peluruhan. Emas memang sudah gentar dan menurun sebelum data tersebut diterbitkan. Jatuhnya harga emas bahkan merupakan kelanjutan dari penurunan yang terjadi sebelumnya. Emas makin terpukul dengan data terkini yang  menyatakan klaim pengangguran AS lebih rendah dari perkiraan pasar. Klaim yang diajukan sebesar  294 ribu sementara perkiraan awal adalah 296 ribu.


Harga emas yang kembali terpuruk, akhiri kenaikannya dan telah menyentuh dasarnya. Meskipun harga emas diangap telah menyentuh dasar, bukan berarti akan langsung berbalik menguat kembali sebagai dampak pentalan harga, mengingat harga emas masih terbuka untuk sementara waktu berada di dasar. (Lukman Hqeem | @hqeem )



Jatuhnya Harga Minyak dan Emas, Berkah Bagi Konsumen