Showing posts with label Rusia. Show all posts
Showing posts with label Rusia. Show all posts

Monday, December 22, 2014

Jagung dan Jagung Masih Dalam Tekanan

Financeroll – Pada sesi perdagangan siang ini, komoditas jagung dan gandung tertekan dan meneruskan penurunan harga dalam beberapa hari terakhir karena pelemahan rubel terhadap US Dollar dan ketidaksediaan para eksportir gandumg Rusia untuk melakukan sertifikasi atas pengiriman komoditas-komoditas ekspor dan import.


Jagung berjangka untuk pengiriman Maret turun 1.00 basis point atau 0.24 persen dan bertengger pada level 410.75 USD/bu. Sementara itu, gandum berjangka untuk pengiriman Maret turun 2.75 basis point atau 0.44 persen dan berada pada posisi 623.00 USD/bu.



Jagung dan Jagung Masih Dalam Tekanan

Krisis Rubel Dorong Kejatuhan Harga Gandum Dunia

Financeroll – Krisis rubel mengganggu harga pasar gandum global. Mata uang Rusia memperpanjang  kejatuhannya  ke rekor terendah terhadap dolar pekan lalu sehingga memperlambat pengiriman biji-bijian untuk mengamankan stok dan menjaga harga domestik . Rusia adalah eksportir terbesar keempat dan telah mengambil langkah-langkah untuk  mendorong hedge fund tiga  agar  menjaga  harga tetap lebih tinggi.


Gandum berjangka  melonjak ke level tertinggi sejak Mei pekan lalu setelah asosiasi eksportir  Rusia menolak  sertifikasi untuk  penjual dan pembeli komoditas biji-bijian.  Kejatuhan harga ini juga disebabkan oleh pernyataan Presiden Vladimir Putin yang memperingatkan bahwa krisis ekonomi bisa berlarut-larut selama dua tahun dan disokong pula oleh cuaca dingin yang mengancam tanaman musim dingin di AS, eksportir  gandum terbesar.


Gandum untuk pengiriman Maret naik 4,2 persen pekan lalu ke level  $ 6,3225 per bushel di Chicago Board of Trade, kenaikan  keempat secara berturut-turut. The Bloomberg Komoditi Index dari 22 bahan baku turun 1,9 persen karena MSCI All-Country World Index dari ekuitas naik 2,3 persen. The Bloomberg Indeks Dollar Spot naik 0,9 persen. Gandum turun 0,5 persen menjadi $ 6,29 pada waktu perdagangan Singapura hari ini.



Krisis Rubel Dorong Kejatuhan Harga Gandum Dunia

Sunday, December 21, 2014

Pendapatan OPEC Tinggal Separuh, Investor Mulailah Beli Saham

Jatuhnya harga minyak mentah saat ini benar-benar menjadi berkah, terlebih bagi bursa saham AS yang diperkirakan akan mengakhiri catatan penutup tahun ini dengan manis.


FINANCEROLL – Berdasarkan data terkini dari AAA, jatuhnya harga minyak mentah membuat harga ritel gasoline disekitar $2.477, untuk pertama kalinya harga ritel gasoline dibawah $2.50 sejak Januari 2009. Hal ini seiring dengan kesadaran kelas menengah AS dan masyarakat bawah yang ingin bisa menyisihkan uang lebih banyak untuk membeli hadiah Natal dan bepergian mengunjungi sanak saudara.


Syukurlah, apa yang terjadi ini merupakan minyak perangsang bagi kebangkitan ekonomi AS lebih lanjut. Bagaimana tidak, dengan jatuhnya harga minyak membuat jutaan rakyat AS bisa lebih banyak menyisihkan uangnya untuk belanja di akhir tahun dan bepergian kesanak-familinya. Tentunya ini adalah sesuatu yang belum pernah dilihat oleh para investor dalam beberapa bulan ini.


AAA juga menyatakan bahwa setidaknya 98.6 juta rakyat AS akan melakukan perjalanan setidaknya 50 mil atau bahkan lebih selama musim liburan akhir tahun ini, umumnya meraka akan melakukan perjalan darat dengan mengendarai kendaraan sendiri. Bagi sebagian yang memilih moda angkutan udara, jatuhnya harga minyak juga menurunkan harga bahan bakar pesawat terbang. Alhasil harga tiket pesawat juga menurun, sesuatu yang akan menarik minat konsumen untuk bepergian pula dengan pesawat terbang.Kesempatan ini tentu tidak disia-siakan oleh maskapai-maskapai penerbangan untuk meraup penumpang yang lebih banyak lagi. Setidaknya, para investor yang menjadi pemegang saham maskapai tentu sudah melihat potensi dibalik jatuhnya harga minyak mentah saat ini.


Disisi lain, jatuhnya harga minyak mentah ini memang tidak bisa membahagiakan semua pihak. Kartel minyak, OPEC diperkirakan kehilangan separuh pendapatannya. Sebagaimana kita pahami bahwa jatuhnya harga minyak mentah dan komoditi lainnya telah menjadi pukulan yang hebat. Setidaknya sejak pertemuan OPEC pada 27 November kemarin, baik Arab Saudi dan Kuwait telah sama-sama berusaha untuk menunjukkan langkah-langkah penyelamatan pasar disaat harus berjuang pula agar bahtera ini tidak tenggelam oleh sekutu-sekutu mereka yang menurun pendapatannya akibat jatuhnya harga minyak.


Pihak EIA memperkirakan pendapatan di 2014 akan sekitar $700 milyar atau mengalami penurunan sebesar 8% dari 2013. Sesuatu yang tidak terlalu buruk memang. Sebaliknya, bagi kartel minyak diperkirakan mereka akan kehilangan pendapatan hampir $400 milyar di tahun 2015 ini. Ini merupakan separuh pendapatan mereka di 2013 yang bisa menjadi sebuah ancaman serius bagi negara-negara anggota OPEC yang sangat tergantung pendapatannya dari dari minyak untuk membiayai sejumlah program sosial.


Arab Saudi, Kuwait, dan Irak memiliki separuh dari total pendapatan negara-negara OPEC, sehingga saat negara-negara seperti Venezuela dan Angola tidak bisa bertahan dengan jatuhnya harga minyak, hanya masalah waktu saja sebelum kartel tersebut membuat keputusan lain atau sama-sama memangkas produksi minyak jika tidak ingin melihat sejawatnya tenggelam.


Memang OPEC yang telah kehilangan separuh pendapatannya dalam dua tahun ini dan Rubel Rusia yang turun seiring dengan jatuhnya harga minyak, namun belum tentu harga minyak sendiri masih akan seburuk itu.


Mustahil memang untuk merujuk harga pasar secara tepat, namun dari padangan umum terbersit bahwa setidaknya diakhir Juni nanti harga minyak mentah akan kembali naik. Dengan asumsi yang demikian, diyakini bahwa saham-saham sektor ini akan menjadi tujuan yang tepat untuk menjadi sasaran aksi beli kembali saat ini. Khususnya saham-saham sektor minyak dan energi dari daratan Amerika Utara.


Sebelumnya, ketakutan pasar akan jatuhnya harga minyak membuat saham-saham tersebut ditinggalkan oleh para investor. Aksi jual yang dilakukan dan berpaling dari mereka saat menyentuh harga termurahnya dalam lima tahun terakhir ini adalah sesuatu yang absurb. Jika kita berharap harga saham tersebut akan kembali semurah saat 2009 silam dan baru kita akan membelinya, maka langkah ini kurang tepat.


Jadi kenapa masih terbang kesana-kemari, apakah panik ? nampaknya memang demikian. Harga minyak tidak akan kemana-mana, meski harga minyak telah jatuh. Buktinya perusahaan-perusahaan minyak tetap saja mengebor minyak . Ini berarti bahwa harga minyak tidak akan jatuh begitu dalam. Menunggu harga minyak mentah naik kembali, Investor bisa memilah untuk membeli saham-saham di lantai bursa.



Pendapatan OPEC Tinggal Separuh, Investor Mulailah Beli Saham

Wednesday, December 17, 2014

Dollar Mulai Kendor Terhadap Rubel

Financeroll – Rubel mengakhiri pelemahannya dalam dua minggu terakhir dan tegeser sedikit ke atas setelah Bank Sentral Rusia mengatakan bahwa tidak akan ragu-ragu untuk menjual cadangan mata uang asing untuk meningkatkan rubel bila diperlukan dan memberikan kelonggaran cadangan modal pada perbankan Rusia.


Rubel USDRUB, menguat 1,63% dan diperdagangkan pada level 61 terhadap dolar pada penutupan perdagangan hari Rabu setelah jatuh pada hari Selasa ke rekor rendah dari titik tertingginya 80,1 terhadap dolar, sebelum kembali ke area sekitar 67.90 pada akhir perdagangan.

Bank sentral Rusia mengatakan Rabu bahwa mereka akan melonggarkan kontrol pada bank yang memungkinan pihak perbankan Rusia untuk mengurangi modal cadangan terhadap kredit bermasalah. Bank sentral negara juga membuka peluang pemberi pinjaman untuk mennguatkan nilai tukar pada kuartal terakhir tahun ini dan akan mengadakan lelang valuta asing tambahan bila diperlukan.



Dollar Mulai Kendor Terhadap Rubel

Tuesday, December 16, 2014

The FED: Putusan Bank Tak Terpengaruh Krisis Rusia

Financeroll – Krisis ekonomi Rusia tidak akan menghentikan bank sentral AS untuk menarik janjinya mempertahankan tingkat bunga rendah dalam “jangka waktu tertentu” meski para pembuat kebijakan mengakui kian tingginya risiko global, menurut sejumlah ekonom.


“Para pejabat bank sentral yang melakukan pertemuan hari ini dan besok kemungkinan akan mengatakan tengah memantau pasar secara hati-hati setelah pelemahan nilai tular rubel Rusia mengancam destabilisasi kawasan lainnya,” ujar David Stockton, mantan direktur riset the Fed.


Pada waktu yang sama, jelasnya, mereka akan fokus pada penguatan ekonomi AS dan kemungkinan bahasa yang akan digunakan adalah mereka akan bersabar untuk menaikkan tingkat bunga.


“Kebijakan bergerak lambat dan hal itu dilakukan dengan sengaja sebagai bentuk respons atas bukti yang kuat hasil akumulasi pada pertemuan terakhir, dan bukan sebagai respons atas data yang menumpuk akibat guncangan pasar keuangan,” ujar Stockton, seorang senior fellow pada Peterson Institute for International Economics sebagaimana dikutip Bloomberg, Rabu (17/12/2014).


Sejumlah pejabat tidak ingin mengisyaratkan bahwa krisis Rusia akan “mengalihkan mereka dari alur kebijakan yang sudah ditentukan yang kemungkinan akan diperketat pada pertengahan 2015.


Nilai tukar rubel anjlok hari ini setelah investor panik menyusul langkah penaikan tingkat bunga yang dilakukan pemerintah yang gagal mengerem pelemahan nilai tukar tersebut. Kondisi itu kotras dengan Amerika Serikat yang mengalami perbaikan bursa tenaga kerja dan tingginya akibat bahan bakar yang murah



The FED: Putusan Bank Tak Terpengaruh Krisis Rusia

Monday, December 15, 2014

Ekonomi Rusia Kian Mengecil

Financeroll – Ekonomi Rusia akan terus mengecil pada tahun depan jika harga rata-rata minyak dunia berada dibawah $ 60 per barel, maka ekonomi Rusia akan masuk ke dalam “skenario stres,” kata bank sentral Rusia, menanggapi prospek ekonomi Rusia atas jatuhnya harga minyak mentah.


Dengan harga minyak saat ini yang berkemungkinan akan sama sampai akhir 2017, maka produk domestik bruto mungkin akan menyusut 4,5 persen menjadi 4,7 persen pada tahun 2015 dan 0,9 persen menjadi 1,1 persen pada tahun 2016, demikian menurut sebuah laporan yang dirilis bank sentral Rusia hari ini. Rubel langsung memberikan reaksi negatif dan kembali memperpanjang penurunan, jatuh lebih dari 10 persen persen terhadap US Dolar.


Inflasi diperkirakan bisa semakin masif menjadi 10,1 persen bulan ini dan bisa mencapai 11,5 persen pada kuartal berikutnya, demikian pemaparan case by case dari laporan bank sentral tersebut.


“Target inflasi 4 persen akan bisa dicapai pada akhir tahun 2017, bahkan jika faktor eksternal tetap tidak menguntungkan,” kata Deputi Gubernur Pertama, Ksenia Yudaeva dalam sebuah pernyataan. “Ini membutuhkan kebijakan moneter yang tetap ketat di tahun 2015.”


Belanja konsumen bisa berkontraksi 6,3 persen menjadi 6,5 persen tahun depan, sedangkan investasi modal mungkin akan menyusut pada kisaran 10,1 persen sampai 10,3 persen, demikian menurut skenario terpahit bank sentral Rusia.



Ekonomi Rusia Kian Mengecil

Rusia Naikan Suku Bunga Acuan 17%

Financeroll – Rusia lebih banyak menelan pil pahit untuk menopang ekonominya. Bank sentral rusia kemarin menaikkan bunga acuan sebesar 650 basis poin, yang berlaku mulai hari ini (16/12).


Dengan kenaikan itu, bunga acuan Rusia naik menjadi 17% dari 10,5%. “Keputusan ini akan membatasi depresiasi nilai tukar rubel dan risiko inflasi,” tulis bank sentral Rusia di laman resminya.


Kenaikan bunga ini merupakan yang keenam sepanjang tahun 2014. Rusia juga sudah menggelontorkan dana US$ 80 miliar dari cadangan devisanya untuk menghentikan pelemahan rubel yang kini terpangkas 49%. Pil pahit ini harus ditelan Rusia sejak menginvasi negara tetangganya, Ukraina Maret lalu.


Rubel kemarin melemah 9,7% menjadi 64,44 per dollar AS. Ekonomi Rusia makin terpuruk dengan penurunan harga minyak Brent. Harga Brent yang menjadi acuan ekspor minyak dari Rusia ini tergerus menyentuh US$ 61,06 per barel kemarin di bursa berjangka ICE Futures, London



Rusia Naikan Suku Bunga Acuan 17%

Wednesday, November 26, 2014

Rusia Pertimbangkan Kebijakan Moneter Longgar

Financeroll – Bank Rusia akan mempertimbangkan kebijakan pelonggaran moneter di babak kedua 2015 jika inflasi mulai berada di bawah kontrol, demikian kata Direktur bank sentral sebagaimana dilaporkan kantor berita Rusia melaporkan.


“Di masa depan, karena tren inflasi cendrung stabil dan lebih rendah serta ekspektasi inflasi meningkat, kita siap untuk melonggarkan kebijakan moneter. Perkiraan kami menunjukkan bahwa hal itu sangat mungkin terjadi di paruh kedua 2015,” kata Elvira Nabiullina dalam pidatonya kepada majelis tinggi parlemen Rusia.


Inflasi konsumen telah melampaui plafon bank sentral dari 6,5% dan dapat mencapai 9% pada akhir tahun ini. Bank sentral telah menaikkan suku bunga empat kali tahun ini dalam upaya menjinakkan kenaikan inflasi, yang juga telah didorong oleh pelemahan rubel dan larangan Moskow atas impor pangan dari negara-negara yang memberlakukan sanksi terhadap Rusia setelah krisis di Ukraina timur.


Pengetatan moneter, yang mempengaruhi inflasi pada waktu yang sama, menuai kritik dari bisnis yang mengeluhkan bahwa tingkat inflasi yang lebih tinggi akan menaikkan biaya pinjaman bank.



Rusia Pertimbangkan Kebijakan Moneter Longgar

Thursday, November 20, 2014

Harga Emas Turun, Rusia Borong Emas


Setidaknya 19.7 metrik ton dibeli Rusia pada bulan lalu untuk meningkatkan cadangan devisa setelah harga emas jatuh bersamaan dengan harga minyak dan melemahnya Rubel.



FINANCEROLL – Dalam pernyataan Bank Sentral Rusia, mereka saat ini memiliki cadangan devisa dalam bentuk emas sebesar 1,169.5 ton atau 37.6 juta ons. Hingga bulan Oktober tahun ini mereka telah membeli setidaknya 134.3 ton menurut perhitungan Bloomberg, dari data International Monetary Fund (IMF). Pada 2014, Rusia telah membeli 150 ton emas, demikian dikatakan oleh Gubernur bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina dua hari lalu. Pernyataan ini seakan mengkonfirmasi setidaknya bulan ini Rusia telah membeli 15.7 ton emas lagi.


Pihak Bank Sentral Rusia menggunakan cadangan devisa internasional ini untuk meredam pelemahan Rubel sebagai dampak sanksi ke Rusia yang juga menimbulkan inflasi dan pelarian modal keluar negeri. Para pengambil kebijakan telah menaikkan suku bunga pada bulan lalu, untuk keempat kalinya sejak Maret silam sebagai langkah memperlambat laju inflasi. Rusia telah meningkatkan kepemilikan cadangan emasnya sebesar tiga kali lipat sejak 2005 dan saat ini memiliki tidak kurang 1,185 ton menurut Bloomberg, berdasarkan data IMF dan pernyataan terkini dari Nabiullina.


Dengan perkiraan bank sentral Rusia bahwa sanksi akan berlanjut hingga 2017, maka pertumbuhan di tahun yang akan datang diperkirakan akan mengalami stagnasi. Alhasil langkah memborong emas disaat harga emas menurun ini sebagai upaya mengurangi resiko. Resiko nyata saat ini adalah potensi pembekuan asset Rusia di Barat.


Ketika harga emas telah turun hingga 38 persen dari harga termahalnya di September 2011, Rusia memborong emas. Kini dengan harga dikisaran $1,190.34 per ons di bursa London, Rusia tentu makin agresif melakukan pembelian. Emas yang dimiliki Rusia sekitar 10 persen dari total cadangan devisa asing, demikian menurun World Gold Council, London. Angka ini sangat kecil dibandingkan dengan 70 persen yang dimiliki baik oleh AS dan Jerman, sebagai pemilik cadangan emas terbesar.(Lukman Hqeem)



Harga Emas Turun, Rusia Borong Emas