Bagi Rubel, mata uang Rusia –dengan status mengambang sesuai dengan nilai pasar, telah menjadikannya dari mata uang negara pasar berkembang kedua yang menjanjikan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk dalam sepekan sebagai dampak jatuhnya harga minyak dunia.
FINANCEROLL – Dalam sepekan, Rubel jatuh sebesar 9.3 persen di minggu lalu. Saat ini diperdagangkan pada kisaran 50.4085 per dolar AS. Sebagai catatan ini merupakan mata uang paling buruk diantara 24 mata uang negara pasar berkembang lainnga, setelah mengalami kenaikan terbesarnya dalam sepekan selama lebih dari dua tahun terakhir ini.
Gubernur Bank Sentral Rusia, Elvira Nabiullina pada bulan lalu memutuskan untuk membuat nilai tukar Rubel mengambang. Perubahan ini terkait dengan pergerakan harga minyak dunia, sebagai sumber pendapatan anggaran utama Rusia yang harganya mengalami penurunan setelah OPEC memutuskan untuk tetap memproduksi sebagaimana yang ditargetkannya. Jatuhnya harga minyak menjadi hambatan bagi perekonomian Rusia yang masih terkena sanksi ekonomi oleh Barat dan AS.
Masa depan Rubel masih akan melemah, mengingat segalanya nampak akan menghantamnya, ungkap Nabiullina. Oleh sebab itu dengan membuat nilai tukarnya mengambang akan lebih menguntungkan, tambahnya. Rubel sepanjang tahun ini memang melemah 37 persen atas Dolar AS. Ini merupakan catatan terburuk diantara 24 mata uang negara berkembang lain yang dipantau Bloomberg. Sepanjang bulan November saja, mereka turun 13 persen.
Nabiullina mengeluarkan kebijakan tersebut setelah Bank Sentral membelanjakan tak kurang $90 milyar cadangan devisanya dalam bentuk valuta asing dan emas saat nilai tukar mereka terus merosot. Bank of Russia mungkin akan melakukan intervensi dalam skala besar jika semua ini mengancam stabilitas keuangan, ungkap dia didepan parlemen di Moskow pada minggu lalu.
Terindikasi sejumlah aksi spekulan dalam menggoyang Rubel saat ini dengan memanfaatkan jatuhnya harga minyak mentah dunia, dalam salah satu perkiraan yang dilansir Bank of America menyatakan bahwa apabila harga minyak dikisaran $70 per barel, maka nilai tukar Rubel pada kisaran 50-52 rubel per dolar. Pasar sendiri memang menyambut baik kebijakan nilai tukar mengambang ini. Dengan pertimbangan fundamental pergerakan harga lebih mengacu pada pergerakan harga komoditi minyak, wajar apabila Rubel jatuh saat ini. Harga minyak turun dari $115 dibulan Juni hingga ke harga $70 dibulan November”.
Enam tahun lalu, para pembuat kebijakan di Rusia telah melepas $200 milyar dalam tujuh bulan, memangkas cadangan devisa mereka sebesar hampir 40 persen untuk memperkuat Rubel yang jatuh akibat harga komoditi anjlok setelah kebangkrutan Lehman Brothers Holdings Inc. Perkiraan umum saat ini menyatakan bahwa jika Rubel melemah hingga 50 per Dolar AS, maka Rusia akan melakukan intervensi kembali.
Melemahnya Rubel disisi lain akan memberikan keuntungan bagi neraca anggaran Rusia karena ini bisa mendorong peningkatan pendapatan devisa dari ekspor, dimana bisa menutup penurunan yang terjadi akibat turunnya harga Brent. Sumber pendapatan anggaran Rusia memang bersandar pada pendapatan Minyak dan Gas sebesar 50 persen.
Bank of Russia diperkirakan tidak akan melakukan intervensi apabila merosotnya Rubel ini sebagai akibat pukulan jatuhnya harga minyak dunia. Pasar uang akan lebih realistis setelah nilai tukar Rubel diambangkan sehingga benar-benar mencerminkan harga aktual dari minyak.
Nabiullina memang mendapat tekanan untuk menjaga perekonomian Rusia tetap baik dengan arus kredit yang bisa mengalir dalam perekonomian untuk keluar dari resesi ekonomi. Disaat yang sama dia juga harus menghindari semakin dalamnya jatuhnya nilai tukar Rubel yang bisa berakibat pada potensi kerusuhan dari ketidak percayaan rakyat Rusia dan membuat mereka ramai-ramai akan menukar ke Dolar AS.
Peluang Rusia masuk dalam resesi ekonomi sangat besar, sekitar 70%, demikian jajak yang dilakukan oleh pengamat ekonomi pada Oktober silam. Sanksi ekonomi yang diberikan Barat atas Rusia terkait krisis di Ukrainatelah memperlemah ekonomi Rusia. Jatuhnya Rubel saat ini memang sangat kecil terkait dengan kebijakan moneter Rusia, namun lebih kepada dampak dari jatuhnya harga minyak dunia.(Lukman Hqeem | @hqeem)