Showing posts with label The Fed. Show all posts
Showing posts with label The Fed. Show all posts

Tuesday, January 6, 2015

The Fed Inginnya Suku Bunga Dinaikkan Pertengahan Tahun Ini

Financeroll – Tekanan untuk mempercepat normalisasi moneter Amerika Serikat semakin mengencang di internal The Federal Reserve.


Setelah Presiden the Fed Philadelphia Charles Plosser, kini giliran Presiden the Fed Cleveland Loretta Mester melontarkan keyakinan bahwa kenaikan suku bunga bisa dilakukan pada pertengahan 2015.


Normalisasi akan dilakukan segera setelah situasi ekonomi membaik. Waktu kenaikan malah bisa lebih cepat dari dugaan pasar.


The Fed tengah menyiapkan publik dan pasar. Diyakini inflasi akan naik secara bertahap sesuai target. Jadi diperkirakan bisa naik sebelum paruh pertama tahun depan.


Sebelumnya suku bunga acuan bank sentral semestinya menjadi 1,1% pada akhir semester I/2015.


Plosser bersama Direktur Riset Ekonom the Fed Philadelphia Michael Dotsey menjabarkan argumentasi itu melalui perangkat bernama model Estimated Dynamic Optimization (EDO).


Dari simulasi yang telah digunakan the Fed sejak 2006, The Federal Reserve harus menaikkan suku bunga untuk mengimbangi percepatan ekonomi domestik.


Fed funds rate sendiri sejak akhir 2008 atau pada saat krisis finansial global mulai menghajar perekonomian Paman Sam dan dunia bertahan di level 0-0,25%.


Pasca pertemuan FOMC Desember 2014, pasar dan ekonom akan terus mengawasi pertemuan FOMC pada April, Juni dan Juli sebagai saat pertama kenaikan suku bunga acuan.


Sekalipun berbeda kubu dengan Plosser yang dikenal hawkish atau propengetatan, Mester sebagai salah satu anggota kelompok centris tetap meyakinkan pasar agar tidak panik.


Pasalnya rezim normalisasi moneter baru bisa dimulai jika data penyerapan tenaga kerja sudah sejalan dengan target inflasi.


Anggota FOMC telah memiliki kesepahaman bahwa kebijakan suku bunga acuan jangka pendek the Fed harus sesuai dengan tingkat bunga riil.


Namun seperti halnya Presiden the Fed Janet Yellen, dengan langkah bank sentral tetap bergantung dan dituntun oleh data-data performa ekonomi domestik dan bukanlah berbasis waktu.



The Fed Inginnya Suku Bunga Dinaikkan Pertengahan Tahun Ini

Wednesday, December 31, 2014

IMF Himbau Negara Berkembang Diminta Waspadai Exit Strategy The Fed

Financeroll – Negara berkembang diminta untuk waspada dan cermat dalam mengamati normalisasi moneter yang akan ditempuh oleh The Federal Reserve.


International Monetary Fund (IMF) memperkirakan the Fed akan segera menerapkan exit strategy segera setelah penaikan suku bunga pertama, yang diperkirakan ditempuh akhir semester I/2015.


Strategi tersebut adalah melepaskan aset-aset yang terakumulasi ketika bank sentral melancarkan program quantitative easing (QE).


The Fed sendiri menghentikan program QE pada Oktober 2014 setelah memborong berbagai macam obligasi swasta dan pemerintah hingga kepemilikannya atas surat berharga mencapai US$4,5 triliun.


IMF menambahkan karakteristik dan respons sebuah negara berkembang juga menentukan seberapa besar dampak yang akan diterima.


Dua faktor kunci, lanjut Fund, adalah pasar finansial yang likuid dan fundamental yang lebih kokoh. Langkah-langkah seperti intervensi pasar uang dan kendali modal (capital control), lanjut IMF, sangat disarankan untuk menghindari instabilitas dan kerusakan sistem keuangan.


Namun, dua langkah tersebut mungkin hanya efektif dalam jangka pendek,” ungkap Fund dalam working paper ‘Spillovers from United States Monetary Policy on Emerging Markets: Different This Time’.


Sebuah kurva di working paper tersebut menunjukkan bahwa pasar negara berkembang lebih rentan menerima goncangan dari kebijakan the Fed pada periode setelah krisis finansial global 2007-2009 ketimbang periode sebelum krisis.



IMF Himbau Negara Berkembang Diminta Waspadai Exit Strategy The Fed

IMF Peringatkan The FED Untuk Ekseskusi Normalisasi Moneter Dengah Cermat

Financeroll – Dana Moneter Internasional (IMF) menyalakan alarm untuk The Federal Reserve agar lebih cermat ketika akan mengeksekusi normalisasi moneter seiring dengan laju ekonomi Amerika Serikat yang melampaui perkiraan.


Jika the Fed tidak cermat, langkah tersebut berpotensi menjerumuskan perekonomian dunia yang masih berupaya masuk ke dalam fase pemulihan ke dalam resesi lanjutan.


Peringatan IMF itu terungkap dalam kertas kerja ‘Spillovers from United States Monetary Policy on Emerging Markets: Different This Time’


Di situ, tim IMF menyebutkan pasar finansial negara berkembang akan tergoncang jika the Fed terlalu terburu-buru melakukan penaikan suku bunga acuan.


Akibatnya, lanjut lembaga yang berbasis di Washington itu, pertumbuhan negara-negara berkembang akan tertekan dan berujung pada perlemahan ekonomi dunia. Motor ekonomi dunia selain AS seperti Eropa, China dan Jepang juga tengah dirudung resesi.


“Singkatnya, mereka semestinya tidak terburu-buru menjual aset yang terakumulasi selama periode QE, atau minimal, menjualnya dengan cara yang mudah diprediksi,” ujar tim IMF.


Sebelum pertemuan rutin Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) terakhir tahun ini, IMF telah mengingatkan negara-negara berkembang tentang potensi terjadinya taper tantrum jilid dua.


Taper tantrum merujuk pada reaksi beringas investor dan pelaku pasar di pasar negara berkembang ketika the Fed secara mendadak melansir pernyataan penghentian quantitative easing (QE) Mei 2013.



IMF Peringatkan The FED Untuk Ekseskusi Normalisasi Moneter Dengah Cermat

Wednesday, December 17, 2014

MSCI Kembali Naik Paska The Fed

Financeroll – Bursa Asia menguat setelah The Federal Reserve akan bersabar untuk meningkatkan suku bunga, dan pelemahan yen mendorong penguatan bursa Jepang.


Indeks MSCI Asia Pacific naik 0,7% ke level 134,55 pada perdagangan Kamis (18/12/2014) pukul 09.04 waktu Tokyo atau pukul 07.04 WIB.


“Bursa Asia cukup nyaman dengan apa yang terjadi di AS,” ujar Angus Gluskie, Managing Director White Funds Management, seperti dikutip Bloomberg.


Indeks Jepang Topix naik 2,4%, indeks Korea Selatan Kospi naik 0,6%, indeks Australia S&P/ASX 200 naik 1,6%, indeks Selandia Baru NZX 50 naik 0,4%.



MSCI Kembali Naik Paska The Fed

Tuesday, December 16, 2014

The FED: Putusan Bank Tak Terpengaruh Krisis Rusia

Financeroll – Krisis ekonomi Rusia tidak akan menghentikan bank sentral AS untuk menarik janjinya mempertahankan tingkat bunga rendah dalam “jangka waktu tertentu” meski para pembuat kebijakan mengakui kian tingginya risiko global, menurut sejumlah ekonom.


“Para pejabat bank sentral yang melakukan pertemuan hari ini dan besok kemungkinan akan mengatakan tengah memantau pasar secara hati-hati setelah pelemahan nilai tular rubel Rusia mengancam destabilisasi kawasan lainnya,” ujar David Stockton, mantan direktur riset the Fed.


Pada waktu yang sama, jelasnya, mereka akan fokus pada penguatan ekonomi AS dan kemungkinan bahasa yang akan digunakan adalah mereka akan bersabar untuk menaikkan tingkat bunga.


“Kebijakan bergerak lambat dan hal itu dilakukan dengan sengaja sebagai bentuk respons atas bukti yang kuat hasil akumulasi pada pertemuan terakhir, dan bukan sebagai respons atas data yang menumpuk akibat guncangan pasar keuangan,” ujar Stockton, seorang senior fellow pada Peterson Institute for International Economics sebagaimana dikutip Bloomberg, Rabu (17/12/2014).


Sejumlah pejabat tidak ingin mengisyaratkan bahwa krisis Rusia akan “mengalihkan mereka dari alur kebijakan yang sudah ditentukan yang kemungkinan akan diperketat pada pertengahan 2015.


Nilai tukar rubel anjlok hari ini setelah investor panik menyusul langkah penaikan tingkat bunga yang dilakukan pemerintah yang gagal mengerem pelemahan nilai tukar tersebut. Kondisi itu kotras dengan Amerika Serikat yang mengalami perbaikan bursa tenaga kerja dan tingginya akibat bahan bakar yang murah



The FED: Putusan Bank Tak Terpengaruh Krisis Rusia

Monday, December 1, 2014

Fischer Menolak Inflasi Di Atas 2 Persen

Financeroll – Wakil ketua Federal Reserve AS Stanley Fischer mengatakan di Senin (1/12) dini hari tadi, Amerika Serikat membutuhkan sesuatu untuk menghasilkan inflasi yang lebih tinggi sebagai cara untuk meningkatkan upah.


Pada acara forum dewan Hubungan luar negeri, Fischer mengatakan dirinya tidak setuju dengan argumen bahwa target inflasi bank sentral diharuskan didorong untuk 4 persen, dia merasa keuntungan dalam tujuan inflasi Fed 2 persen memberikan ruang untuk manuver jika perlu untuk merangsang ekonomi, sementara juga mendorong perusahaan untuk meningkatkan upah dengan harapan harga dapat lebih tinggi dan pendapatan yang lebih kuat.


Fed harus menjaga inflasi secara signifikan di bawah 4 persen, lebih mudah bagi perusahaan untuk merespon kenaikan harga secara bertahap dan akhirnya perlu meningkatkan upah, daripada untuk menanggapi harga stagnan atau menurun dengan pemotongan upah.



Fischer Menolak Inflasi Di Atas 2 Persen

Monday, November 24, 2014

Emas Masih Turun Meski Eropa Membaik dan Cina Pangkas Suku Bunga

FINANCEROLL – Harga emas terus turun dari harga termahalnya dalam tiga minggu ini setelah Dolar terus menguat ditengah sentimen kenaikan suku bunga AS. Sentimen ini mengalahkan potensi yang timbul dari langkah Cina yang memangkas suku bunga utama dan kondisi ekonomi Eropa yang membaik.


Harga Emas di pasar spot turun sebesar 0.2 persen di harga $1,198.86 per ons sebelum diperdagangkan naik kembali di $1,203. Akhir pekan kemarin, harga emas sempat ke $1,207.93 yang merupakan harga termahal sejak 30 Oktober, menjadi puncak kenaikan dalam tiga minggu secara beruntun. Sementara dalam perdagangan emas berjangka, untuk pengiriman bulan Februari naik 0.2 persen ke $1,200.50 per ons di bursa Comex.


Selama dua bulan hingga Oktober kemarin, harga emas mengalami penurunan sebagai dampak langkah The Fed yang mendekati upaya untuk menaikkan suku bunga. Para pembuat kebijakan di The Fed menyatakan bahwa dampak melemahnya pertumbuhan ekonomi Global nampaknya terbatas di tanah AS, demikian hasil sari pertemuan reguler The Fed pada bulan Oktober lalu yang dipublikasikan pada 19 November kemarin. Indek Dolar AS mengalami penguatan signifikan paska pernyataan tersebut, bahkan mencapai yang paling kuat sejak 2009 atas mata uang lainnya.


Dalam pandangan fundamental, masih diyakini bahwa perekonomian AS mengarah pada pertumbuhan dan kondisi yang lebih baik dimasa yang akan datang. Hal ini meyakinkan rujukan bahwa Dolar AS masih berpeluang terus menguat, yang juga berarti bahwa Emas masih berpeluang turun lagi.


Potensi kenaikan suku bunga AS terus mengemuka, meluruhkan daya pikat Emas sebagai pilihan investasi. Harga emas naik 70 persen sejak Desember 2008 hingga Juni 2011 setelah The Fed melakukan aksi beli obligasi dan memangkas suku bunganya mendekati nol persen untuk memicu pertumbuhan ekonomi nasionalnya.


 


Disaat The Fed mengakhiri kebijakan stimulus, Cina juga memangkas suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2012. Langkah Cina ini sebagai upaya mendukung perekonomian mereka tetap bergairah. Bank of Japan juga terus mengembangkan kebijakan stimulusnya pada bulan Oktober dan Presiden Mario Draghi menyatakan pada 21 November kemarin bahwa European Central Bank (ECB) akan terus mendorong laju inflasi dan jika diperlukan akan meningkatkan pembelian aset kembali. (Lukman Hqeem | @hqeem)



Emas Masih Turun Meski Eropa Membaik dan Cina Pangkas Suku Bunga

Thursday, November 20, 2014

Harga Emas Turun, Rusia Borong Emas


Setidaknya 19.7 metrik ton dibeli Rusia pada bulan lalu untuk meningkatkan cadangan devisa setelah harga emas jatuh bersamaan dengan harga minyak dan melemahnya Rubel.



FINANCEROLL – Dalam pernyataan Bank Sentral Rusia, mereka saat ini memiliki cadangan devisa dalam bentuk emas sebesar 1,169.5 ton atau 37.6 juta ons. Hingga bulan Oktober tahun ini mereka telah membeli setidaknya 134.3 ton menurut perhitungan Bloomberg, dari data International Monetary Fund (IMF). Pada 2014, Rusia telah membeli 150 ton emas, demikian dikatakan oleh Gubernur bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina dua hari lalu. Pernyataan ini seakan mengkonfirmasi setidaknya bulan ini Rusia telah membeli 15.7 ton emas lagi.


Pihak Bank Sentral Rusia menggunakan cadangan devisa internasional ini untuk meredam pelemahan Rubel sebagai dampak sanksi ke Rusia yang juga menimbulkan inflasi dan pelarian modal keluar negeri. Para pengambil kebijakan telah menaikkan suku bunga pada bulan lalu, untuk keempat kalinya sejak Maret silam sebagai langkah memperlambat laju inflasi. Rusia telah meningkatkan kepemilikan cadangan emasnya sebesar tiga kali lipat sejak 2005 dan saat ini memiliki tidak kurang 1,185 ton menurut Bloomberg, berdasarkan data IMF dan pernyataan terkini dari Nabiullina.


Dengan perkiraan bank sentral Rusia bahwa sanksi akan berlanjut hingga 2017, maka pertumbuhan di tahun yang akan datang diperkirakan akan mengalami stagnasi. Alhasil langkah memborong emas disaat harga emas menurun ini sebagai upaya mengurangi resiko. Resiko nyata saat ini adalah potensi pembekuan asset Rusia di Barat.


Ketika harga emas telah turun hingga 38 persen dari harga termahalnya di September 2011, Rusia memborong emas. Kini dengan harga dikisaran $1,190.34 per ons di bursa London, Rusia tentu makin agresif melakukan pembelian. Emas yang dimiliki Rusia sekitar 10 persen dari total cadangan devisa asing, demikian menurun World Gold Council, London. Angka ini sangat kecil dibandingkan dengan 70 persen yang dimiliki baik oleh AS dan Jerman, sebagai pemilik cadangan emas terbesar.(Lukman Hqeem)



Harga Emas Turun, Rusia Borong Emas

Wednesday, November 19, 2014

Inflasi AS Terkendali, Harga Emas Dibawah $1,200

FINANCEROLL – Harga emas diperkirakan akan bergerak kembali dibawah $1,200 per ons setelah pejabat The Federal Reserve menyatakan mereka akan melihat sinyalemen penurunan ekspektasi publik atas laju inflasi AS.

Inflasi AS diperkirakan masih belum akan beranjak, sebagaimana diperkirakan sebagian investor. Sementara bursa saham AS mengalami kenaikan. Alhasil Harga emas makin menurun, bahkan tahun ini diperkirakan akan melanjutkan penurunan yang terjadi di tahun lalu. Salah satu pendorong keyakinan ini adalah membaiknya lapangan kerja AS yang membuat The Federal Reserve AS cukup percaya diri mengakhiri Kebijakan Kuantitatif (QE) jilid tiganya.

Efek melemahnya pertumbuhan ekonomi global nampaknya akan terbatasi di tanah AS. Hasil pertemuan bulan Oktober kemarin, yang diumumkanpada Rabu (19/11) menggaris bawahi alasan-alasan The Fed mengakhiri QE3 yang direspon menurun oleh harga emas.

Harga Emas bergerak turun hingga ke $1,182.62 per ons. Emas pada 7 November kemarin sempat ke harag terendah sejak April 2010, yaitu di harga $1,132.16 per ons.



Inflasi AS Terkendali, Harga Emas Dibawah $1,200

Thursday, November 13, 2014

Dudley: Suku Bunga Naik Terlalu Dini Dapat Beresiko Besar

Financeroll – Ekspektasi pasar mengenai suku bunga AS yang akan dinaikkan pada pertengahan tahun 2015 sangat tidak masuk akal, menurut Presiden Federal Reserve New York William Dudley.


Ketika dijamu pada waktu makan siang oleh Bank Sentral Abu Dhabi, Dudley menjawab pertanyaan yang mengatakan data non fam payroll AS telah konsisten dengan perilisan sebelumnya, dan tidak berubah dengan pandangan kebijakan outlooknya.


Dia mengatakan dirinya tidak bisa memberi waktu ketika The Fed akan mulai menaikkan suku bunga, tapi hal tersebut tergantung pada bagaimana perekonomian AS berkembang dan bagaimana keuangan pasar bereaksi.


“Tidak, aku tidak bisa memberikan Anda lebih spesifik dan panjang jawabannya: karena saya tidak tahu. Itu benar-benar tergantung pada bagaimana ekonomi berkembang dan bagaimana kemajuan tujuan kami maksimum berkelanjutan kerja dalam konteks kestabilan harga.”


Dalam sambutannya pada makan Siang sebelumnya, Dudley mengatakan kenaikan suku bunga terlalu dini akan menimbulkan risiko “jauh lebih besar” untuk Federal Reserve daripada bergerak terlalu terlambat.



Dudley: Suku Bunga Naik Terlalu Dini Dapat Beresiko Besar

Tuesday, November 11, 2014

Suku Bunga Mendekati Nol, Plosser Gugup

Financeroll – Suku bunga The Fed untuk mendekati nol membuat salah satu pembuat kebijakan The Fed Philadelphia Charles Plosser terlihat agak gugup menanggapinya.


Dalam sebuah wawancaranya di CNBC, Plosser mengatakan meskipun inflasi di bawah tingkat 2 persen, tidak ada alasan untuk menjaga tingkat suku bunga di era krisis saat ini, terutama dengan pengangguran AS yang sekarang begitu rendah.


“Kami telah nol selama hampir enam tahun dan tidak ada preseden dalam sejarahnya, bahkan ketika inflasi juga rendah, membuat kita gugup.” ucap Plosser.


Pejabat yang dijadwalkan mundur sebagai Presiden Philadelphia Maret tahun depan ialah di antara kelompok minoritas pejabat Fed yang ingin menutup buku tentang kebijakan moneter yang lebih cepat dari pertengahan-2015, dimana rekan-rekan pejabat lainnya meminta untuk kenaikan suku bunga.


Dia juga mengomentari dari dampak negatifnya terhadap menguatnya dolar terhadap perekonomian AS. “Mungkin ada beberapa kenaikan dolar lebih tinggi pada beberapa perusahaan, namun pada perekonomian AS, saya pikir itu akan masih berdampak kecil, sambung Plosser.


“Tugas dari kita ialah tidak menekan terhadap volatilitas dolar, tidak pula untuk menekan penyesuaian harga aset. Yang diperlukan ialah kita perlu menjaga mata agar berfokus pada tujuan jangka panjang.” Tutupnya.



Suku Bunga Mendekati Nol, Plosser Gugup

Wednesday, October 8, 2014

Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp 12.239 - 12.50 per USD

Financeroll  – Tekanan pada nilai tukar Rupiah masih terjadi saat neraca perdagangan dalam negeri defisit. Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat neraca perdagangan Indonesia Agustus 2014 mengalami defisit USD 318,1 juta.  Kurs Rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 12.239 – 12.50 per USD.


Faktor ekstrenal yang  tidak bisa hindari,  jika kondisi ekonomi  masih mengalami defisit ekspor dan impor ada surplus kalau kita jumlahkan non migas ada surplus.  Kenaikan The Fed yang masih menjadi permasalahn tren di dunia sehingga melemahkan nilai tukar rupiah dan nilai tukar mata uang di negara Asia.


Di sisi lain, Indonesia membutuhkan ekpor yang meningkat terutama manufaktur karana ekspor komiditi batu bara dan kepala sawit harganya turun.   Jadi  faktor luar negeri itu adanya faktor penguatan suku bunga AS. [geng]



Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp 12.239 - 12.50 per USD