Showing posts with label Suku Bunga. Show all posts
Showing posts with label Suku Bunga. Show all posts

Monday, January 19, 2015

Bank Indonesia Diprediksi Pertahankan BI Rate Pada level 7,75%

Financeroll – PT Mandiri Sekuritas memprediksi Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 7,75% hingga akhir tahun ini.


Meskipun kondisi ekonomi diprediksi membaik, bias kebijakan pengetatan diprediksi masih akan terjadi untuk menjaga potensi risiko eksternal.


Kebijakan pemangkasan subsidi BBM dan menetapkan subsidi tetap di tengah turunnya harga minyak akan melonggarkan tekanan inflasi pada 2015.


Harga BBM ritel turun menjadi Rp7.600 per liter pada Januari 2015 dari Rp8.500 per liter pada bulan sebelumnya.


Mandiri Sekuritas memprediksi hal itu akan menurunkan inflasi Januari sebesar 0,3%.


Pola tersebut akan terjaga selama harga minyak masih turun. Secara keseluruhan, inflasi tahun ini diprediksi akan menjadi normal ke 5% dari 8,4% pada 2014.


Kendati demikian, hal itu bukan berarti BI akan menurunkan penjagaan pada kebijakan suku bunga karena risiko eksternal masih ada.


Di tengah kondisi tersebut, termasuk dampak dari penurunan harga minyak, Mandiri Sekuritas memprediksi defisit neraca perdagangan (current account deficit/CAD) akan menyempit menjadi 2,6%-2,8% dari GDP yang masih lebih tinggi dari level berkesinambungannya yaitu 2,5%.


Lebih lanjut, Mandiri Sekuritas meyakini bias pengetatan masih perlu dilakukan untuk mengantisipasi risiko aluran dana keluar (outflow) sebagai konsekuensi dari normaliasasi suku bunga The Fed.


The Fed akan menaikkan suku bunga pada semester II/2015. Karena itu, BI diprediksi akan tetap memberlakukan bias kebijakan pengetatan dan masih akan nyaman dengan prediksi BI Rate yang flat sebesar 7,75%.



Bank Indonesia Diprediksi Pertahankan BI Rate Pada level 7,75%

Tuesday, January 6, 2015

The Fed Inginnya Suku Bunga Dinaikkan Pertengahan Tahun Ini

Financeroll – Tekanan untuk mempercepat normalisasi moneter Amerika Serikat semakin mengencang di internal The Federal Reserve.


Setelah Presiden the Fed Philadelphia Charles Plosser, kini giliran Presiden the Fed Cleveland Loretta Mester melontarkan keyakinan bahwa kenaikan suku bunga bisa dilakukan pada pertengahan 2015.


Normalisasi akan dilakukan segera setelah situasi ekonomi membaik. Waktu kenaikan malah bisa lebih cepat dari dugaan pasar.


The Fed tengah menyiapkan publik dan pasar. Diyakini inflasi akan naik secara bertahap sesuai target. Jadi diperkirakan bisa naik sebelum paruh pertama tahun depan.


Sebelumnya suku bunga acuan bank sentral semestinya menjadi 1,1% pada akhir semester I/2015.


Plosser bersama Direktur Riset Ekonom the Fed Philadelphia Michael Dotsey menjabarkan argumentasi itu melalui perangkat bernama model Estimated Dynamic Optimization (EDO).


Dari simulasi yang telah digunakan the Fed sejak 2006, The Federal Reserve harus menaikkan suku bunga untuk mengimbangi percepatan ekonomi domestik.


Fed funds rate sendiri sejak akhir 2008 atau pada saat krisis finansial global mulai menghajar perekonomian Paman Sam dan dunia bertahan di level 0-0,25%.


Pasca pertemuan FOMC Desember 2014, pasar dan ekonom akan terus mengawasi pertemuan FOMC pada April, Juni dan Juli sebagai saat pertama kenaikan suku bunga acuan.


Sekalipun berbeda kubu dengan Plosser yang dikenal hawkish atau propengetatan, Mester sebagai salah satu anggota kelompok centris tetap meyakinkan pasar agar tidak panik.


Pasalnya rezim normalisasi moneter baru bisa dimulai jika data penyerapan tenaga kerja sudah sejalan dengan target inflasi.


Anggota FOMC telah memiliki kesepahaman bahwa kebijakan suku bunga acuan jangka pendek the Fed harus sesuai dengan tingkat bunga riil.


Namun seperti halnya Presiden the Fed Janet Yellen, dengan langkah bank sentral tetap bergantung dan dituntun oleh data-data performa ekonomi domestik dan bukanlah berbasis waktu.



The Fed Inginnya Suku Bunga Dinaikkan Pertengahan Tahun Ini

Monday, January 5, 2015

Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Kian Melambat

Financeroll – Suku bunga repo perbankan China turun terbesar dalam dua pekan terakhir setelah dana segar kembali masuk pasar di awal tahun. Suku bunga repo tujuh hari turun 50 basis poin menjadi 4,33%, kemarin.


Pada akhir tahun lalu, permintaan dana tinggi karena pengecekan dana oleh regulator serta permintaan dana menjelang liburan. Deng Haiqing, analis Citic Securities Co mengatakan, pencadangan menjelang libur mengetatkan pasar di akhir tahun. “Pekan ini, pengetatan di pasar uang mulai mereda karena tidak ada faktor yang mempengaruhi likuiditas,” kata Deng kepada Bloomberg.


Melonggarnya suku bunga repo ini sedikit memberi kabar baik di tengah kondisi ekonomi China yang sedang tertekan. Indeks manufaktur dalam Purchasing Managers’ Index (PMI) turun ke level 50,1 pada bulan Desember  2014 dari posisi 50,3 pada bulan sebelumnya.


Data resmi ini menunjukkan bahwa indeks manufaktur China berada di titik terendah dalam 1,5 tahun terakhir. Sedangkan, data PMI China keluaran HSBC Holdings Plc dan Markit Economics di level 49,6 yang menunjukkan kontraksi.


PMI sektor jasa justru membaik dari 53,9 pada bulan November 2014 menjadi 54,1 pada Desember 2014 lalu. Tapi, para pengamat menduga, pertumbuhan ekonomi China sepanjang tahun lalu berada di bawah target pemerintah pada 7,5%.


Analis Nomura Securities mengatakan, produksi pabrik yang tinggi menekan para produsen untuk memangkas harga. “Dengan rendahnya tekanan inflasi, kami memprediksi lebih banyak pelonggaran kebijakan pada kuartal pertama, termasuk pemangkasan rasio pencadangan perbankan sebesar 50 basis poin,” kata Nomura dalam risetnya.


Chang Jian, Kepala Ekonom China di Barclays memprediksi, penurunan biaya dana masih akan menjadi prioritas kebijakan China tahun ini. Pasalnya, penurunan suku bunga acuan pada November 2014 belum banyak berdampak pada suku bunga kredit.


Pertumbuhan 7,1%


Standard Chartered memprediksi, pertumbuhan ekonomi China tahun ini akan melambat menjadi 7,1% dibandingkan dengan prediksi tahun lalu sebesar 7,3%. Standard Chartered mendasarkan prediksi atas tren yang terjadi tahun lalu. “Mencapai angka pertumbuhan ini tidak akan mudah karena pelemahan pasar tenaga kerja, tekanan deflasi dan tingginya suku bunga kredit,” kata Standard Chartered dalam laporannya.


Angka prediksi Standard Chartered ini sejalan dengan outlook dari Bank Sentral China. People’s Bank of China (PBOC) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi China tahun ini akan melambat menjadi 7,1%. Dalam laporan Desember 2014 yang dikutip kantor berita Xinhua, PBOC memperkirakan, pertumbuhan ekonomi China di 2014 sebesar 7,4%, sedikit di bawah target pemerintah.


Sementara itu, Chinese Academy of Social Sciences (CASS) meramal, pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya 7%. Angka prediksi ini jauh di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi dalam 35 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi tahunan rata-rata China antara 1978 hingga 2013 hampir 10%. Sedangkan, rata-rata pertumbuhan ekonomi tahunan antara 2003-2007 mencapai lebih dari 11,5%.



Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Kian Melambat

Sunday, December 28, 2014

Pengembang Mematok Pertumbuhan Cukup Konservatif Tahun Depan

Financeroll – Dengan kondisi pasar yang belum terlalu stabil ditambah tekanan ekonomi global, pengembang mematok pertumbuhan yang cukup konservatif untuk tahun depan.


Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) beberapa waktu lalu membuat posisi saat ini berada pada 7,75%. Seperti diketahui, BI Rate dikhawatirkan akan naik kembali seiring dengan kemungkinan rencana penaikan suku bunga bank sentral Amerika Federal Reserve (the Fed).


Direktur PT Jababeka Tbk mengatakan Jika BI Rate naik lagi, pasti tahun depan akan cukup berat. Karena itu perusahaan menargetkan pertumbuhan yang konservatif. Tidak akan memasang target terlalu tinggi. Yang pasti targetnya harus realistis.


Oleh karena itu, untuk membantu pertumbuhan bisnis yang lebih baik, diharapkan BI dapat mempertimbangkan untuk memberi kelonggaran pada kebijakan loan to value (LTV) yang telah berjalan lebih dari satu tahun.


Tingginya suku bunga yang telah menembus angka dua digit di tambah dengan beban uang muka yang cukup tinggi, akan membuat masyarakat kelas menengah terpukul.


Pemerintah harus mempertimbangkan bentuk keringanan lain untuk memacu pertumbuhan yang lebih baik tahun depan. Dan membutuhkan stimulus baru. Jika memungkinkan, aturan LTV bisa di review kembali.


Diperkirakan BI belum akan mengubah besaran BI Rate setidaknya dalam satu bulan ke depan. Kenaikan BI Rate baru akan terjadi pada kuartal I/2015. Jika kenaikan tidak dapat dihindari, Sebaiknya kenaikan tidak melebihi angka 25 basis poin.


Corporate Secretary PT Metropolitan Land Tbk. Olivia Surodjo memperkirakan setidaknya pendapatan perusahaan pada tahun depan akan lebih bagus dari tahun ini. Perlambatan yang terjadi sepanjang 2014 lebih disebabkan pengaruh pemilihan umum presiden.


Diyakini pendapatan perusahaan masih bisa tumbuh antara 15%-20%. Namun belum tentu tahu kondisi tahun depan tidak seperti yang lalu, karena berbagai tekanan yang ada.



Pengembang Mematok Pertumbuhan Cukup Konservatif Tahun Depan

Tuesday, December 16, 2014

The FED: Putusan Bank Tak Terpengaruh Krisis Rusia

Financeroll – Krisis ekonomi Rusia tidak akan menghentikan bank sentral AS untuk menarik janjinya mempertahankan tingkat bunga rendah dalam “jangka waktu tertentu” meski para pembuat kebijakan mengakui kian tingginya risiko global, menurut sejumlah ekonom.


“Para pejabat bank sentral yang melakukan pertemuan hari ini dan besok kemungkinan akan mengatakan tengah memantau pasar secara hati-hati setelah pelemahan nilai tular rubel Rusia mengancam destabilisasi kawasan lainnya,” ujar David Stockton, mantan direktur riset the Fed.


Pada waktu yang sama, jelasnya, mereka akan fokus pada penguatan ekonomi AS dan kemungkinan bahasa yang akan digunakan adalah mereka akan bersabar untuk menaikkan tingkat bunga.


“Kebijakan bergerak lambat dan hal itu dilakukan dengan sengaja sebagai bentuk respons atas bukti yang kuat hasil akumulasi pada pertemuan terakhir, dan bukan sebagai respons atas data yang menumpuk akibat guncangan pasar keuangan,” ujar Stockton, seorang senior fellow pada Peterson Institute for International Economics sebagaimana dikutip Bloomberg, Rabu (17/12/2014).


Sejumlah pejabat tidak ingin mengisyaratkan bahwa krisis Rusia akan “mengalihkan mereka dari alur kebijakan yang sudah ditentukan yang kemungkinan akan diperketat pada pertengahan 2015.


Nilai tukar rubel anjlok hari ini setelah investor panik menyusul langkah penaikan tingkat bunga yang dilakukan pemerintah yang gagal mengerem pelemahan nilai tukar tersebut. Kondisi itu kotras dengan Amerika Serikat yang mengalami perbaikan bursa tenaga kerja dan tingginya akibat bahan bakar yang murah



The FED: Putusan Bank Tak Terpengaruh Krisis Rusia

Monday, December 15, 2014

Rusia Naikan Suku Bunga Acuan 17%

Financeroll – Rusia lebih banyak menelan pil pahit untuk menopang ekonominya. Bank sentral rusia kemarin menaikkan bunga acuan sebesar 650 basis poin, yang berlaku mulai hari ini (16/12).


Dengan kenaikan itu, bunga acuan Rusia naik menjadi 17% dari 10,5%. “Keputusan ini akan membatasi depresiasi nilai tukar rubel dan risiko inflasi,” tulis bank sentral Rusia di laman resminya.


Kenaikan bunga ini merupakan yang keenam sepanjang tahun 2014. Rusia juga sudah menggelontorkan dana US$ 80 miliar dari cadangan devisanya untuk menghentikan pelemahan rubel yang kini terpangkas 49%. Pil pahit ini harus ditelan Rusia sejak menginvasi negara tetangganya, Ukraina Maret lalu.


Rubel kemarin melemah 9,7% menjadi 64,44 per dollar AS. Ekonomi Rusia makin terpuruk dengan penurunan harga minyak Brent. Harga Brent yang menjadi acuan ekspor minyak dari Rusia ini tergerus menyentuh US$ 61,06 per barel kemarin di bursa berjangka ICE Futures, London



Rusia Naikan Suku Bunga Acuan 17%

Tuesday, December 2, 2014

Suku Bunga Yuan di Hong Kong Melonjak

Financeroll – Suku bunga yuan di Hong Kong melonjak ke posisi tinggi 17 bulan ketika program perdagangan saham lintas perbatasan mengurangi pasokan mata uang Tiongkok di wilayah kota.


Hubungan antar Shanghai dan Hong Kong memungkinkan untuk transaksi lintas batas harian maksimum 23,5 milyar yuan ($ 3,8 milyar). The Shanghai Composite Index (SHCOMP) telah menguat 14% selama bulan lalu, mengalahkan semua 92 indeks ekuitas acuan lain di dunia.


Investor internasional telah membeli 45 milyar yuan dari saham Shanghai sejak 17 November. Investor “mainland” membeli 4,2 milyar yuan, dari kuota keseluruhan 250 milyar yuan.


Perluasan program yang memungkinkan yuan untuk diinvestasikan di pasar modal dalam negeri Tiongkok telah memperketat pasokan yuan di Hong Kong.


Negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu telah memperpanjang program Renminbi di luar Hong Kong sejak tahun 2013, dengan negara-negara termasuk Inggris, Korea Selatan, Kanada, dan Australia memiliki 500 miliar yuan total kuota.



Suku Bunga Yuan di Hong Kong Melonjak

Monday, November 3, 2014

Suku Bunga Australia Masih 2.5%

Financeroll – Sebuah data yang dirilis pada hari Rabu (4/11) menunjukan bahwa pernyataan dari hasil rapat keputusan RBA suku bunga masih sama.


Pernyataan dari gubernur RBA, Glenn Stevens yang mengumumkan suku bunga acuan tetap berada di kisaran 2.5% tidak berubah dari bulan lalu.


Paska dirilisnya data tersebut, AUDUSD diperdagangkan mnguat 0.43% ke level 0.8720



Suku Bunga Australia Masih 2.5%

Friday, October 31, 2014

Fed’s Williams: Bank Sentral Harus Waspadai Inflasi.

Financeroll – Pimpinan bank sentral AS cabang San Fransisco, John Williams, menyatakan di Pretoria Afrika Selatan, bahwa bank sentral harus memulai memonitor cukup waspada terhadap pertumbuhan ekonomi yang melaju di beberapa bulan terakhir ini namun kondisi harga atau inflasi yang tak beranjak untuk mendekati dari target bank sentral AS.


Williams yang berbicara di hadapan undangan bank sentral Afrika Selatan, South African Reserve Bank, bernada bahwa kondisi yang kinerja yang ekonomi makro yang kuat dan turunnya harapan terhadap kondisi harga ini, menjadi poin utama dari pihaknya bahwa harus mengambil tindakan yang tepat terhadap kebijakan moneter yang dapat dilakukan.


Williams juga masih memberikan gambaran bahwa kondisi keuangan global yang sedang krisis disertai dengan berakhirnya stimulus ekonomi di AS, tentunya tak akan menyurutkan langkah dari pihaknya bahwa di pertengahan 2015 suku bunganya dapat naik, dengan catatan bahwa pihaknya juga akan terus menangani atau mencegah level turunnya tingkat inflasi lebih lanjut.


Ungkapan dan keluh kesah Williams di Afrika Selatan ini juga tak membantu harga emas untuk membaik, dimana kisaran harga rendah di level $ 1163 masih terlihat.(@antoku27)



Fed’s Williams: Bank Sentral Harus Waspadai Inflasi.

Wednesday, October 29, 2014

Kenaikan Harga BBM dan Kenaikan Suku bunga AS Menjadi Perhatian Tahun Depan

Financeroll – Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk Budi Gunadi Sadikin menuturkan ada dua hal yang perlu diwaspadai tahun depan yakni kenaikan harga BBM dan kenaikan suku bunga di AS.


Dampak yang akan muncul adalah suku bunga akan semakin tinggi pada tahun depan.


Kalau bunga naik, hanya bankir jago yang bisa make money.


Tahun depan semua bank harus memiliki cara untuk menjaga likuiditas. Likuiditas ibarat darah bagi perbankan. Pada tahun ini, bank-bank harus bisa menyimpan dana sebanyak-banyaknya, lalu menjaga kualitas kredit, setelah itu baru memikirkan keuntungan.


Setelah OJK menetapkan batas atas suku bunga acuan, maka bank yang memiliki rasio fungsi intermediasi (loan to deposit ratio/LDR) 90% akan mencatatkan likuiditas yang ketat.


Tahun ini, bank berkode emiten BMRI ini menargetkan pertumbuhan DPK yang lebih tinggi dari penyaluran fungsi intermediasi. Dalam rencana bisnis bank (RBB), perseroan menargetkan pertumbuhan DPK hingga 16% dan kredit di kisaran 15%-17%, dengan potensi menuju 15%.


Hingga kuartal III/2014, pertumbuhan DPK bank berpita kuning ini sudah lebih tinggi dari kredit. Total himpunan DPK perseroan mencapai Rp590,9 triliun, tumbuh 14,9% dari posisi Rp514,2 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya.


Sementara itu penyaluran kredit Bank Mandiri hingga September 2014 mencapai Rp506,5 triliun, tumbuh 12,4% dari posisi Rp450,8 triliun secara year on year. Untuk fungsi intermediasi only bank telah tumbuh hingga 14,2% secara year on year.



Kenaikan Harga BBM dan Kenaikan Suku bunga AS Menjadi Perhatian Tahun Depan

Thursday, October 23, 2014

PT Bank Tabungan Negara Menurunkan Suku Bunga KPR

Financeroll – Harapan agar PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk menurunkan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) nampaknya masih harus menunggu lebih lama.


Pasalnya, hingga kini pihak bank berkode emiten saham BBTN tersebut masih mengkaji penurunan bunga KPR.


Direktur Utama Bank BTN harus dilihat terlebih dahulu, tidak otomatis dana turun berarti kredit juga turun.


Suku bunga deposito telah diturunkan sejalan dengan himbauan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). “Sudah 9,75% .”


Namun saat ini sedang dihitung cost of fund untuk melihat akankah ada penurunan suku bunga kredit.


Adapun dari website resmi BBTN, suku bunga dasar kredit (SBDK) per 30 September 2014 yang ditawarkan untuk segmen KPR yaitu sebesar 11,5%. Sementara untuk kredit korporasi, ritel, mikro, dan non-KPR, SBDK yang ditawarkan masing-masing sebesar 10,85%, 12,25%, 18,75%, dan 12%.



PT Bank Tabungan Negara Menurunkan Suku Bunga KPR

Saturday, October 18, 2014

Kebijakan Pembatasan Suku Bunga Tidak Menggerus Dana Nasabah

Financeroll – Kalangan perbankan meyakini kebijakan pembatasan suku bunga dana oleh Otoritas Jasa Keuangna (OJK) tidak akan menggerus penempatan dana nasabah pada deposito.


Senior Vice President and Head of Wealth Management HSBC Indonesia mengatakan sejak menerapkan ketentuan tersebut pada 1 Oktober 2014, belum ada perpindahan signifikan deposan HSBC. Justru meyakini jika kebijakan tersebut ditetapkan konsisten maka perpindahan nasabah dapat diminimalkan.


Berharap kentuan ini konsisten, semua bank menerapkan. Dalam sepekan ini sepertinya belum ada shifting deposito yang signifikan, hal tersebut masih di analisis.


HSBC Indonesia yang saat ini berada di kategori bank umum dengan kelompok usaha (BUKU) III menetapkan suku bunga 7,75% untuk deposito di bawah Rp2 miliar. Adapun penempatan dana di atas Rp2 miliar maksimal mendapakan suku bunga 9,75%.


Optimistis pembatasan suku bunga dana akan membuka peluang bisnis wealth management untuk berkembang. Sepanjang semester II/2014 berjalan, permintaan pada layanan wealth management terus meningkat. Situasi itu jauh berbeda dengan semester II/2013 di mana investor lebih berhati-hati karena suku bunga yang terus naik.


Pertumbuhan layanan saving dan investasi hingga 2030, diprediksi mencapai 10% per tahun. Salah satu instrumen yang belakangan diminati nasabah adalah obligasi ritel negara (ORI) seri 11. Diyakini kondisi tersebut juga didukung situasi ekonomi yang semakin kondusif pasca pilpres.


Permintaan besar, kalau deposito misalnya hanya dapat 7,75%, di ORI 11 bisa dapat kupon 8,5%, ini menarik untuk investor.


Meskipun begitu diyakini berbagai instrumen tersebut tak akan mengurangi penempatan pada deposito. Simpanan dalam bentuk deposito masih menjadi pilihan menarik bagi nasabah di Indonesia. Pergeseran hanya akan terjadi pada jangka waktu deposito.


Seperti diberitakan sebelumnya, suku bunga dana bank BUKU IV maksimal ditetapkan 200 basis points (bps) di atas BI Rate. Adapun bagi bank BUKU III suku bunga dana ditetapkan maksimum 225 bps di atas BI rate atau 9,75% untuk saat ini. Ketentuan tersebut berlaku untuk simpanan di atas Rp2 miliar. Jika simpanan di bawah Rp2 miliar, OJK menetapkan suku bunga simpanan maksimum sebesar suku bunga penjaminan LPS yang saat ini berada di level 7,75%.



Kebijakan Pembatasan Suku Bunga Tidak Menggerus Dana Nasabah

Sunday, October 12, 2014

Himbauan OJK Pembatasan Suku Bunga Bertentangan Dengan Tujuan BI

Financeroll – Ekonom perbankan menilai imbauan Otoritas Jasa Keuangan dalam pembatasan suku bunga bertentangan dengan tujuan Bank Indonesia mengetatkan kebijakan moneter.


Bank Indonesia sejak awal berniat melakukan pengetatan moneter yang otomatis terjadi persaingan suku bunga. Hal itu sebagai reaksi melesatnya inflasi dan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.


BI bertujuan memangkas pinjaman luar negeri dengan membatasi perbankan lokal berutang luar negeri. Pada dasarnya bank sentral ingin membatasi pertumbuhan impor untuk memperbaiki neraca transaksi berjalan.


Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan membatasi suku bunga pendanaan bank. Pada akhirnya, imbauan itu berpotensi menurunkan suku bunga kredit yang bertentangan dengan upaya pengetatan moneter. Menipisnya likuiditas juga mendorong perbankan melakukan pinjaman luar negeri.


Imbauan OJK bisa menetralisir kebijakan BI sebelumnya yang ingin mengetatkan moneter.


Untuk itu, disarankan regulator jasa keuangan dan bank sentral melakukan sinkronisasi arah jasa keuangan agar tidak terjadi tumpang tindih kebijakan.



Himbauan OJK Pembatasan Suku Bunga Bertentangan Dengan Tujuan BI