Showing posts with label BI Rate. Show all posts
Showing posts with label BI Rate. Show all posts

Monday, January 19, 2015

Bank Indonesia Diprediksi Pertahankan BI Rate Pada level 7,75%

Financeroll – PT Mandiri Sekuritas memprediksi Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 7,75% hingga akhir tahun ini.


Meskipun kondisi ekonomi diprediksi membaik, bias kebijakan pengetatan diprediksi masih akan terjadi untuk menjaga potensi risiko eksternal.


Kebijakan pemangkasan subsidi BBM dan menetapkan subsidi tetap di tengah turunnya harga minyak akan melonggarkan tekanan inflasi pada 2015.


Harga BBM ritel turun menjadi Rp7.600 per liter pada Januari 2015 dari Rp8.500 per liter pada bulan sebelumnya.


Mandiri Sekuritas memprediksi hal itu akan menurunkan inflasi Januari sebesar 0,3%.


Pola tersebut akan terjaga selama harga minyak masih turun. Secara keseluruhan, inflasi tahun ini diprediksi akan menjadi normal ke 5% dari 8,4% pada 2014.


Kendati demikian, hal itu bukan berarti BI akan menurunkan penjagaan pada kebijakan suku bunga karena risiko eksternal masih ada.


Di tengah kondisi tersebut, termasuk dampak dari penurunan harga minyak, Mandiri Sekuritas memprediksi defisit neraca perdagangan (current account deficit/CAD) akan menyempit menjadi 2,6%-2,8% dari GDP yang masih lebih tinggi dari level berkesinambungannya yaitu 2,5%.


Lebih lanjut, Mandiri Sekuritas meyakini bias pengetatan masih perlu dilakukan untuk mengantisipasi risiko aluran dana keluar (outflow) sebagai konsekuensi dari normaliasasi suku bunga The Fed.


The Fed akan menaikkan suku bunga pada semester II/2015. Karena itu, BI diprediksi akan tetap memberlakukan bias kebijakan pengetatan dan masih akan nyaman dengan prediksi BI Rate yang flat sebesar 7,75%.



Bank Indonesia Diprediksi Pertahankan BI Rate Pada level 7,75%

Wednesday, December 31, 2014

Kurs Tengah Rupiah Hari Akhir Tahun Melemah ke Level Rp12.440/US$

Financeroll – Kurs tengah rupiah ditransaksikan melemah 0,03% terhadap dolar AS. Berdasarkan data Bank Indonesia, kurs tengah rupiah berada di level Rp12.440 per dolar AS, dari kurs tengah sebelumnya Rp12.436 per dolar AS.


Adapun jika dibandingkan dengan patokan kurs tengah Rabu pekan lalu (24/12/2014) yang terhenti di level Rp12.467 per dolar AS.


Sementara itu, berdasarkan data, rupiah menguat 0,27% ke Rp12.400 per dolar AS.


Kurs Tengah Dolar AS-Rupiah












31 Desember12.440
30 Desember12.436
29 Desember12.434
24 Desember12.467
23 Desember12.456

Kurs Tengah Rupiah Hari Akhir Tahun Melemah ke Level Rp12.440/US$

Sunday, December 28, 2014

Pengembang Mematok Pertumbuhan Cukup Konservatif Tahun Depan

Financeroll – Dengan kondisi pasar yang belum terlalu stabil ditambah tekanan ekonomi global, pengembang mematok pertumbuhan yang cukup konservatif untuk tahun depan.


Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) beberapa waktu lalu membuat posisi saat ini berada pada 7,75%. Seperti diketahui, BI Rate dikhawatirkan akan naik kembali seiring dengan kemungkinan rencana penaikan suku bunga bank sentral Amerika Federal Reserve (the Fed).


Direktur PT Jababeka Tbk mengatakan Jika BI Rate naik lagi, pasti tahun depan akan cukup berat. Karena itu perusahaan menargetkan pertumbuhan yang konservatif. Tidak akan memasang target terlalu tinggi. Yang pasti targetnya harus realistis.


Oleh karena itu, untuk membantu pertumbuhan bisnis yang lebih baik, diharapkan BI dapat mempertimbangkan untuk memberi kelonggaran pada kebijakan loan to value (LTV) yang telah berjalan lebih dari satu tahun.


Tingginya suku bunga yang telah menembus angka dua digit di tambah dengan beban uang muka yang cukup tinggi, akan membuat masyarakat kelas menengah terpukul.


Pemerintah harus mempertimbangkan bentuk keringanan lain untuk memacu pertumbuhan yang lebih baik tahun depan. Dan membutuhkan stimulus baru. Jika memungkinkan, aturan LTV bisa di review kembali.


Diperkirakan BI belum akan mengubah besaran BI Rate setidaknya dalam satu bulan ke depan. Kenaikan BI Rate baru akan terjadi pada kuartal I/2015. Jika kenaikan tidak dapat dihindari, Sebaiknya kenaikan tidak melebihi angka 25 basis poin.


Corporate Secretary PT Metropolitan Land Tbk. Olivia Surodjo memperkirakan setidaknya pendapatan perusahaan pada tahun depan akan lebih bagus dari tahun ini. Perlambatan yang terjadi sepanjang 2014 lebih disebabkan pengaruh pemilihan umum presiden.


Diyakini pendapatan perusahaan masih bisa tumbuh antara 15%-20%. Namun belum tentu tahu kondisi tahun depan tidak seperti yang lalu, karena berbagai tekanan yang ada.



Pengembang Mematok Pertumbuhan Cukup Konservatif Tahun Depan

Friday, November 28, 2014

PT Bank Negara Indonesia Tetap Pertahankan Suku Bunga KPR

Financedroll – Direktur Konsumer dan Ritel PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Darmadi Sutanto mengatakan perseroan akan tetap mempertahankan suku bunga KPR untuk menghindari kredit macet.


KPR itu tidak bisa serta merta turun atau naik. Hingga saat ini dan kemungkinan tahun depan akan mempertahankan suku bunga KPR.


Kenaikan BI Rate dan BBM kemungkinan besar akan berdampak pada kenaikan rasio non performing loan (NPL) sehingga perseroan akan lebih giat melakukan penagihan kepada nasabah dan memberikan solusi untuk menjual aset dan lainnya untuk pembayaran.


Darmadi berpendapat bisnis KPR perbankan secara umum pada tahun ini bergerak stagnan kecuali KPR milik BTN. BNI pada tahun ini dengan susah payah hanya mampu tumbuh 5%. Perlambatan KPR, merupakan dampak dari kebijakan loan to value (LTV) yang dirilis BI.


BNI menargetkan volume KPR sebesar Rp34 triliun pada akhir tahun ini. Hingga Oktober, KRP BNI tercatat telah menyentuh angka Rp33,4 triliun. NPL KPR saat ini pada level 1,68% dan akan dimanage hingga akhir tahun di posisi itu.



PT Bank Negara Indonesia Tetap Pertahankan Suku Bunga KPR

Sunday, November 23, 2014

Otoritas Jasa Keuangan Tidak Merefisi Batas Atas Suku Bunga Dana

Financeroll – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) enggan menurunkan batas atas suku bunga dana bagi bank umum dengan kelompok usaha (BUKU) III dan IV meski BI Rate naik.


Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad mengatakan kenaikan BI Rate akan memacu kenaikan variabel biaya lainnya. Tapi saat ini masih merasa belum perlu merevis.


Seperti diketahui bagi BUKU IV, suku bunga dana maksimal ditetapkan 200 basis points (bps) di atas BI Rate. Adapun bagi bank BUKU III suku bunga DPK ditetapkan maksimum 225 bps di atas BI rate. Ketentuan tersebut berlaku untuk simpanan di atas Rp2 miliar. Ketentuan tersebut berlaku sejak Oktober 2014.


Muliaman menegaskan supervisory action dilakukan untuk menjaga kondisi perbankan atas tekanan likuiditas yang akan berujung pada penurunan suku bunga kredit. Itu upaya pengawas melakukan enforcement, apa bisa memperbaiki situasi atau tidak.


OJK akan memantau respons perbankan atas penaikan BI Rate oleh Bank Indonesia. Tidak menampik likuiditas masih akan menjadi kendala utama di industri perbankan tahun depan. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tahun depan ditargetkan berada di kisaran 14%, sedangkan kredit 15% hingga 16%.


DPK mungkin tidak akan tumbuh terlalu tinggi, makanya perlu diakomodir dengan kredit. Target itu sudah sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.


Berdasarkan pantauan di sejumlah website resmi bank, diketahui suku bunga deposito masih di bawah batas atas sesuai ketentuan OJK. PT Bank Mandiri Tbk misalnya saat ini menetapkan suku bunga deposito rupiah untuk simpanan antara Rp1 miliar hingga Rp5 miliar bertenor 1 bulan sebesar 4,5%, dan 7,5% untuk tenor 3 bulan. PT Bank Negara Indonesia Tbk menetapkan suku bunga sebesar 5,74% untuk simpanan di atas Rp1 miliar bertenor 3 bulan.


PT Bank Central Asia Tbk menetapkan suku bunga 7,75% untuk deposito antara Rp2 miliar hingga Rp5 miliar bertenor 3 bulan. BRI juga menggunakan besaran suku bunga yang sama untuk deposito di atas Rp1 miliar bertenor 3 bulan.


Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Nelson Tampubolon mengatakan OJK akan mengawasi perbankan secara individual termasuk dalam penetapan suku bunga. Bank harus bisa menunjukkan kualitas likuiditas yang bersumber dari DPK, penambahan modal baru maupun penerbitan obligasi.


Menurut data yang dilansir Bank Indonesia pada September 2014, rata-rata suku bunga deposito berjangka waktu 6 dan 12 bulan masing-masing tercatat sebesar 9,36% dan 8,73%, meningkat dibandingkan Agustus 2014 yang tercatat 9,19% dan 8,61%. Kenaikan suku bunga dana itu pun diiringi peningkatan rata-rata suku bunga kredit yang mencapai 12,88%, lebih tinggi ketimbang Agustus 2014 yang tercatat 12,86%.


Situasi tersebut membuat perbankan terus mengencangkan ikat pinggang demi mengontrol kenaikan cost of fund. Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Achmad Baiquni mengatakan pada kuartal III/2014 pihaknya menyesuaikan suku bunga kredit di tengah kenaikan cost of fund lantaran suku bunga dana bergerak naik. Pada periode tersebut BRI telah menaikkan suku bunga kredit korporasi, menengah, dan consumer dengan rentang 50 bps hingga 100 bps.


Transmisi kenaikan BI Rate sekarang ke suku bunga kredit sekarang pasti ada time lag, dulu bahkan sampai setahun.


Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia yang dilansir OJK, hingga September 2014 beban bunga yang ditanggung bank umum atas kredit yang diberikan mencapai Rp125,4 triliun. Jumlah itu jauh lebih tinggi ketimbang beban bunga kredit pada periode yang sama 2013 yang tercatat Rp81,7 triliun. Adapun pendapatan bunga atas kredit yang diberikan kepada pihak ketiga non bank per September 2014 tercatat Rp295 triliun, sedangkan pada periode yang sama 2013 sebesar Rp237,5 triliun.



Otoritas Jasa Keuangan Tidak Merefisi Batas Atas Suku Bunga Dana

Bank-Bank Besar Akan Mengincar Sektor Infrastruktur

Financeroll – Sektor infrastruktur diyakini bakal menjadi salah satu primadona penyaluran kredit oleh bank-bank besar tahun depan.


Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Arwin Rasyid mengatakan rencana pemerintah yang akan menggenjot pembangunan infrastruktur membuka peluang bagi perbankan untuk menaikkan porsi kredit.


Harga BBM bersubsidi naik bukan masalah besar, karena tujuannya untuk penghematan yang akan dialokasikan untuk infrastruktur, bank mengikuti bisnis.


Hal penting yang harus dilakukan perbankan adalah memetakan sektor-sektor potensial guna menyalurkan kredit. Ke depan CIMB Niaga berencana menambah porsi penyaluran kredit di sektor infrastruktur, jasa, kesehatan, dan pendidikan.


Optimistis percepatan pembangunan infrastruktur akan memicu arus investasi dan akan berdampak positif pada kondisi likuiditas perbankan. Target pertumbuhan kredit sebesar 15% dan dana pihak ketiga (DPK) 14% yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2015 masih mampu dipenuhi industri perbankan.


Penaikan BI Rate menjadi 7,75% tidak akan serta merta memicu kenaikan suku bunga perbankan. belum ada rencana menaikan suku bunga baik dana maupun kredit dalam waktu dekat. Kalaupun naik besarannya tidak akan sama. Ini sebenarnya sinyal agar perbankan slow down.


CIMB Niaga mencatat penurunan laba bersih dari Rp3 triliun pada kuartal III/2013 menjadi Rp2,3 triliun pada kuartal III/2014. Pendapatan bunga per September 2014 mencapai Rp14,7 triliun, lebih tinggi ketimbang periode yang sama 2013 yang tercatat Rp12,6 triliun. Meski begitu beban bunga tercatat naik dari Rp5,12 triliun pada kuartal III/2013 menjadi Rp6,96 triliun pada periode yang sama 2014.


Pendapatan operasional non bunga per September 2014 juga lebih sedikit ketimbang periode yang sama 2013. Hingga kuartal III/2014 pendapatan operasional CIMB Niaga tercatat Rp2,51 triliun, sedangkan pada periode yang sama 2013 mencapai Rp2,68 triliun. Beban operasional non bunga per September 2014 juga lebih tinggi ketimbang periode yang sama 2013. Per September 2014 beban operasional non bunga tercatat Rp7 triliun, sedangkan pada September 2013 Rp5,98 triliun.


Tak hanya CIMB Niaga yang masih menahan suku bunga meskipun BI Rate telah naik. PT Bank Central Asia Tbk pun baru berencana menyesuaikan suku bunga tahun depan. Saat ini sedang kaji penurunan suku bunga kredit perumahan rakyat (KPR), mungkin tahun depan secara bertahap, kalau suku bunga kredit lainnya tahun ini akan ditahan dulu.


PT Bank Rakyat Indonesia Tbk juga menyatakan bakal mengkaji sektor-sektor potensial penyaluran kredit seiring dinamika ekonomi yang terjadi. Direktur Keuangan BRI Achmad Baiquni sebelumnya mengatakan penyaluran kredit ke sektor infrastruktur cukup menarik. Namun pihaknya juga tetap berupaya memacu kredit di sektor mikro yang selama ini menjadi andalan BRI.


Tidak terlalu khawatir dengan kenaikan non performing loan (NPL) di mikro kalaupun suku bunga dinaikkan karena di segmen ini yang terpenting adalah akses.


Menurut data Statistik Perbankan Indonesia yang dilansir OJK penyaluran kredit oleh bank umum ke sektor listrik, gas, dan air per September 2014 mencapai Rp88 triliun, sedangkan pada September 2013 Rp72,73 triliun. Penyaluran kredit ke sektor konstruksi pada September 2013 tercatat Rp120,4 triliun, sedangkan pada periode yang sama 2014 mencapai Rp142,94 triliun.


Adapun penyaluran kredit ke sektor jasa pendidikan per September 2014 tercatat Rp6,75 triliun dari sebelumnya hanya Rp5 triliun pada September 2013. Penyaluran kredit ke sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial juga tercatat naik dari Rp9,6 triliun pada September 2013 menjadi Rp11,83 triliun pada periode yang sama 2014.



Bank-Bank Besar Akan Mengincar Sektor Infrastruktur

Sunday, October 12, 2014

Pemerintah Menyetujui BI Rate 7,5 Persen

Financeroll – Pemerintah memandang keputusan Bank Indonesia mempertahankan dosis pengetatan moneter melalui penetapan kembali BI rate 7,5% sebagai langkah tepat yang mencerminkan kondisi saat ini.


Kebijakan moneter yang mengarah pada stabilisasi ekonomi di atas pertumbuhan, dinilai masih sesuai rencana, meskipun pertumbuhan ekonomi sempat di bawah ekspektasi dengan laju hanya 5,12% pada kuartal II/2014.


Transaksi berjalan pun menunjukkan perbaikan meskipun defisit kuartal II/2014 masih US$9,1 miliar atau tak berselisih jauh dari realisasi periode sama tahun lalu US$10,1 miliar.


Inflasi sejauh ini relatif terkendali dengan laju tahunan (year on year) pada September 4,53% atau masih dalam rentang sasaran bank sentral 4,5 plus minus 1%.


Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan dengan kondisi sekarang, dianggap sudah cukup.


Namun, tidak ada keberatan terhadap penyesuaian BI rate jika perkembangan ekonomi mendatang menunjukkan perubahan.


Tahun depan, Indonesia menghadapi tantangan kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat yang berisiko memicu pembalikan aset ke negara maju. Tidak tertutup kemungkinan otoritas moneter mengerek kembali BI rate untuk mempertahankan portofolio asing tetap tinggal.



Pemerintah Menyetujui BI Rate 7,5 Persen

RDG Putuskan BI Rate Sebesar 7,5 Persen

Financeroll – Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,5%, dengan suku bunga lending facility dan suku bunga deposit facility masing-masing tetap pada level 7,5% dan 5,75%.


Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia mengungkapkan kebijakan tersebut konsisten dengan upaya untuk mengarahkan inflasi menuju ke sasaran 4,5 plus minus 1% pada tahun ini dan 4 plus minus 1% pada 2015, serta menurunkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat.


Meskipun stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan tetap terjaga, BI mewaspadai sejumlah risiko yang berasal dari domestik dan eksternal.


BI akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial untuk memastikan tetap terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan untuk mendukung kesinambungan perekonomian.


Bank Indonesia juga akan meningkatkan koordinasi kebijakan dengan pemerintah dalam pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan agar proses penyesuaian ekonomi dapat berjalan baik sehingga kesinambungan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.



RDG Putuskan BI Rate Sebesar 7,5 Persen

Sudah Sebelas Kali BI Mempertahankan Suku Bunga di 7,5 Persen

Financeroll – Untuk kesebelas kalinya Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuannya pada level 7,5% demi mengarahkan inflasi sesuai target dan menghadapi tekanan eksternal yang kian tinggi.


Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI mengatakan ada serangkaian faktor eksternal yang mempengaruhi stabilitas sistem keuangan domestik.


Di sisi global pemulihan ekonomi dunia terus berlanjut meskipun masih berjalan tidak seimbang.


Pertama, perkembangan perbaikan perekonomian Negeri Paman Sam memberi sinyal pada pasar tentang normalisasi kebijakan moneter Federal Reserve (the Fed) yang lebih awal.


Saat ini konsensus analis memajukan jadwal kenaikan Fed funds rate ke triwulan II dari semula yang diperkirakan di triwulan III. Suku bunga itu diperkirakan naik secara bertahap, 1,375% pada akhir 2015 dan 2,9% pada 2016. Adapun, posisi saat ini adalah 0,25%.


Perkembangan ini mendorong penguatan dolar AS dan tekanan pada pasar keuangan di emerging markets.


Kedua, perekonomian China, rekan dagang terbesar Indonesia, masih berkontraksi. Bank Dunia bahkan memangkas proyeksi pertumbuhannya menjadi 7,4% dari 7,5% di tahun ini.


Perlemahan itu turut menyulitkan harga komoditas untuk bangkit seiring dengan menurunnya permintaan dari Negeri Panda tersebut.


Sementara itu dari faktor domestik pertumbuhan ekonomi masih menunjukkan tren moderasi. Konsumsi swasta, yang menjadi pendorong utama, terindikasi melambat dilihat dari penjualan eceran yang tumbuh terbatas.


Kinerja ekspor-impor pun belum bisa mendorong pertumbuhan. Dengan kondisi demikian otoritas moneter masih mematok pertumbuhan pada bias bawah dari proyeksi 5,1%-5,5% sepanjang tahun ini.



Sudah Sebelas Kali BI Mempertahankan Suku Bunga di 7,5 Persen

Saturday, October 11, 2014

Tingkat Inflasi Terkendali dan BI Rate Tetap di 7,5%

Financeroll – Sejumlah bankir memprediksi Bank Indonesia masih akan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 7,5% meskipun tingkat inflasi cenderung masih terkendali.


Plt Direktur Utama PT Bank Permata Tbk. (Bank Permata) memperkiraan BI Rate masih akan dipertahankan.


Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Achmad Baiquni berpendapat sama. Baiquni mengakui saat ini tingkat inflasi masih terkendali sehingga bank sentral memiliki kesempatan untuk menurunkan suku bunga acuan. Namun demikian, BI juga perlu mempersiapkan diri menjelang pencabutan subsidi bahan bakar minyak yang diyakini akan mengerek inflasi. Oleh karena itu, Baiquni memproyeksi BI masih akan menahan suku bunga acuan tetap pada posisi 7,5%.


Harusnya turun tapi mungkin BI antisipasi inflasi akan naik kalau BBM naik jadi kemungkinan BI Rate akan ditahan.


BI mempertahankan suku bunga acuan pada level 7,5% sejak November 2013. Sebelumnya, BI menaikkan BI Rate sebanyak 175 bps secara bertahap sejak Juni 2013.



Tingkat Inflasi Terkendali dan BI Rate Tetap di 7,5%

Analis Prediksi Suku Bunga Akan Bertahan di Level 7,5 Persen

Financeroll – Sejumlah analis memperkirakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang diumumkan masih bertahan di level 7,5%.


Dari halaman Bank Indonesia disebutkan BI akan menggelar rapat dewan gubernur (RDG).


Biasanya RDG akan tuntas dilaksanakan, dan sejumlah data diumumkan termasuk BI Rate.


Berikut prediksi sejumlah analis untuk BI Rate Oktober 2014;


Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia

BI Rate diperkirakan tetap di 7,5%. Komentar dan respons kebijakan Bank Indonesia mengenai pelemahan rupiah belakangan ini perlu ditunggu


HP Analytics

Indonesia akan merilis data tingkat suku bunga, yang menurut perkiraan ekonomi tidak akan mengalami perubahan


Analis Riset Panin Sekuritas

Diperkirakan BI Rate tetap. Suku bunga diperkirakan baru dinaikkan, setelah pemerintah menaikkan BBM.



Analis Prediksi Suku Bunga Akan Bertahan di Level 7,5 Persen

Prediksi Bankir BI Rate Akan Naik Lagi

Financeroll – Sejumlah bankir memprediksi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) tidak akan turun dan memiliki ruang untuk naik karena nilai tukar rupiah tertekan, meskipun inflasi terkendali.


Direktur Utama PT Bank DKI Jakarta mengungkapkan tertekannya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di level Rp12.000 tidak akan membuat BI Rate turun. Bahkan memprediksi BI Rate akan naik, apalagi dengan gejala kenaikan Fed Fund Rate.


Ada gejala capital flights, karena kenaikan suku bunga the Fed, kemungkinan akan dinaikkan sedikit, mungkin 25 basis poin.


Pendapat berbeda datang dari Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk yang mengharapkan agar BI Rate tetap di level 7,5% sebab kondisi makro ekonomi domestik cenderung terjaga. Selain itu, tingginya BI Rate berdampak pada perlambatan kredit perbankan.


Gubernur BI Agus D. W. Martowardojo mengungkapkan secara year to date pelemahan nilai tukar mencapai 0,12%, sedangkan month to month 1,57%.


Walaupun rupiah masih tetap melanjutkan pelemahan, Agus mengungkapkan fundamental Indonesia menunjukkan perbaikan, dilihat dari tren inflasi yang menurun dan harga gejolak makanan mulai menunjukkan deflasi.


Hingga September 2014, inflasi mencapai 0,27% m-t-m, sedangkan secara tahunan laju inflasi mencapai 4,53%.


Masin menunggu pemerintah melakukan kebijakan untuk meyehatkan subsidi energi, termasuk kebijakan fix strategi dan itu akan membuat inflasi jauh lebih baik.



Prediksi Bankir BI Rate Akan Naik Lagi