Showing posts with label Bank Central Asia. Show all posts
Showing posts with label Bank Central Asia. Show all posts

Thursday, January 8, 2015

PT Bank Cenral Asia Lebih Siap Membuka Layanan Remitansi di ASEAN

Financeroll – Pasca penandatanganan pedoman Asean Banking Integration Frameworks, PT Bank Central Asia Tbk masih enggan membuka kantor cabang di kawasan Asean. Perseroan lebih memilih membuka layanan remitansi di kawasan tersebut.


Direktur Pengembangan Operasi dan Jaringan Bank BCA Armand Wahyudi Hartono mengatakan meski pihaknya tak memiliki kantor cabang di regional Asean, namun perseroan telah menjalankan bisnis internasional sejak lama. Bentuknya berupa bisnis remitansi bagi pekerja asal Indonesia di luar negeri.


Orang Indonesia itu butuhnya layanan transfer uang, akan fokusnya kesitu. Kalau mau ke regional dan menjadi bank seperti di luar negeri itu rasanya bukan waktu yang tepat untuk sekarang ini.


Bank BCA telah menjalankan bisnis remitansi sejak tahun 1990-an. Perseroan telah memiliki agen pengiriman uang di Singapura, Malaysia, Hongkong, dan Saudi Arabia.



PT Bank Cenral Asia Lebih Siap Membuka Layanan Remitansi di ASEAN

Saturday, January 3, 2015

PT Bank Central Asia Targetkan Penyaluran KPR Sebesar Rp19 Triliun

Financeroll – PT Bank Central Asia Tbk menargetkan penyaluran kredit baru atau booking kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar Rp19 triliun tahun ini, didorong oleh penguatan permintaan dari kalangan nasabah.


Henry Koenafi, Direktur Konsumer BCA, mengatakan pertumbuhan KPR pada 2014 yang tumbuh terbatas akibat kondisi likuiditas yang ketat. Dan mau tumbuh 10%, jadi booking harus Rp19 triliun.


Saban bulan jumlah run off atau pengurangan oustanding karena pelunasan atau pembayaran angsuran oleh nasabah mencapai Rp1,1 triliun atau Rp13,2 triliun dalam satu tahun.


Di sisi lain BCA belum akan menyesuaikan tingkat bunga kendati Bank Indonesia (BI) telah menaikkan BI rate pada November 2014 lalu ke level 7,75%. Berdasarkan publlikasi Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) di website perseroan, bunga KPR di BCA dipatok 10,5%.



PT Bank Central Asia Targetkan Penyaluran KPR Sebesar Rp19 Triliun

Friday, December 12, 2014

PT Indosat Akan Gunakan Dana Obligasi Rp2,5 Triliun Untuk Lunasi Pinjaman Bank

Financeroll – PT Indosat Tbk. akan gunakan hasil penerbitan obligasi senilai Rp2,5 triliun untuk melunasi pinjaman bank dan membayar biaya hak penggunaan frekuensi.


Prospektus Indosat yang terbit, menyebut sekitar 78% atau Rp1,8 triliun dari dana hasil obligasi digunakan untuk melunasi pinjaman rupiah dan dolar AS. Rinciannya, perseroan berkode saham ISAT itu akan mengucurkan Rp1 triliun untuk melunasi sebagian pinjaman dari Bank Central Asia yang bernilai total Rp1,5 triliun.


Lantas, ISAT akan menggelontorkan Rp550 miliar pinjaman dari Bank Negara Indonesia senilai total Rp700 miliar. Juga menggelontorkan Rp250 miliar untuk melunasi seluruh pinjaman dari Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ.


Sisa hasil penawaran obligasi, atau 22%, dipakai untuk membayar biaya hak penggunaan (BHP) izin pita spektrum frekuensi radio penyelenggara jaringan bergerak selular di pita frekuensi 800 MHz, 900 MHz, dan 1.800 MHz untuk periode 15 Desember 2014-14 Desember 2015. Adapun, lisensi jaringan tersebut berjangka waktu 10 tahun dan dapat diperpanjagn untuk 10 tahun berikutnya.


Sementara, seluruh dana hasil penawaran umum sukuk ijarah akan digunakan untuk membayar BHP izin pita spektrum frekuensi radio 800 MHz, 900 MHz, dan 1.800 MHz untuk 15 Desember 2014-14 Desember 2015. Lisensi jaringan tersebut berjangka waktu 10 tahun dan dapat diperpanjagn untuk 10 tahun berikutnya.



PT Indosat Akan Gunakan Dana Obligasi Rp2,5 Triliun Untuk Lunasi Pinjaman Bank

Thursday, November 27, 2014

PT Bank Central Asia Minta Anak Usaha Citra Marga Nusaphala Lunasi Hutang

Financeroll – PT Bank Central Asia Tbk. menginginkan agar anak usaha PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk, yakni PT Citra Margatama Surabaya melunasi utangnya.


Direktur Utama Bank BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan PT CMS memiliki kewajiban sebesar Rp175,28 miliar yang jatuh tempo pada 27 Juli 2014. Pihak BCA ingin dilunasi.


Anak usaha CMNP memiliki utang jatuh tempo sebesar Rp351,3 miliar yang telah diperpanjang selama 2 bulan. PT CMS menginginkan agar utang tersebut dikonvesrsi menjadi saham.


Selain kepada BCA, PT CMS juga memiliki tunggakan kepada PT Bank Mega Tbk. dengan nilai Rp176,06 miliar. Manajemen Bank Mega juga menginginkan agar CMS segera melunasi tunggakannya tersebut.



PT Bank Central Asia Minta Anak Usaha Citra Marga Nusaphala Lunasi Hutang

Sunday, November 23, 2014

Bank-Bank Besar Akan Mengincar Sektor Infrastruktur

Financeroll – Sektor infrastruktur diyakini bakal menjadi salah satu primadona penyaluran kredit oleh bank-bank besar tahun depan.


Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Arwin Rasyid mengatakan rencana pemerintah yang akan menggenjot pembangunan infrastruktur membuka peluang bagi perbankan untuk menaikkan porsi kredit.


Harga BBM bersubsidi naik bukan masalah besar, karena tujuannya untuk penghematan yang akan dialokasikan untuk infrastruktur, bank mengikuti bisnis.


Hal penting yang harus dilakukan perbankan adalah memetakan sektor-sektor potensial guna menyalurkan kredit. Ke depan CIMB Niaga berencana menambah porsi penyaluran kredit di sektor infrastruktur, jasa, kesehatan, dan pendidikan.


Optimistis percepatan pembangunan infrastruktur akan memicu arus investasi dan akan berdampak positif pada kondisi likuiditas perbankan. Target pertumbuhan kredit sebesar 15% dan dana pihak ketiga (DPK) 14% yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2015 masih mampu dipenuhi industri perbankan.


Penaikan BI Rate menjadi 7,75% tidak akan serta merta memicu kenaikan suku bunga perbankan. belum ada rencana menaikan suku bunga baik dana maupun kredit dalam waktu dekat. Kalaupun naik besarannya tidak akan sama. Ini sebenarnya sinyal agar perbankan slow down.


CIMB Niaga mencatat penurunan laba bersih dari Rp3 triliun pada kuartal III/2013 menjadi Rp2,3 triliun pada kuartal III/2014. Pendapatan bunga per September 2014 mencapai Rp14,7 triliun, lebih tinggi ketimbang periode yang sama 2013 yang tercatat Rp12,6 triliun. Meski begitu beban bunga tercatat naik dari Rp5,12 triliun pada kuartal III/2013 menjadi Rp6,96 triliun pada periode yang sama 2014.


Pendapatan operasional non bunga per September 2014 juga lebih sedikit ketimbang periode yang sama 2013. Hingga kuartal III/2014 pendapatan operasional CIMB Niaga tercatat Rp2,51 triliun, sedangkan pada periode yang sama 2013 mencapai Rp2,68 triliun. Beban operasional non bunga per September 2014 juga lebih tinggi ketimbang periode yang sama 2013. Per September 2014 beban operasional non bunga tercatat Rp7 triliun, sedangkan pada September 2013 Rp5,98 triliun.


Tak hanya CIMB Niaga yang masih menahan suku bunga meskipun BI Rate telah naik. PT Bank Central Asia Tbk pun baru berencana menyesuaikan suku bunga tahun depan. Saat ini sedang kaji penurunan suku bunga kredit perumahan rakyat (KPR), mungkin tahun depan secara bertahap, kalau suku bunga kredit lainnya tahun ini akan ditahan dulu.


PT Bank Rakyat Indonesia Tbk juga menyatakan bakal mengkaji sektor-sektor potensial penyaluran kredit seiring dinamika ekonomi yang terjadi. Direktur Keuangan BRI Achmad Baiquni sebelumnya mengatakan penyaluran kredit ke sektor infrastruktur cukup menarik. Namun pihaknya juga tetap berupaya memacu kredit di sektor mikro yang selama ini menjadi andalan BRI.


Tidak terlalu khawatir dengan kenaikan non performing loan (NPL) di mikro kalaupun suku bunga dinaikkan karena di segmen ini yang terpenting adalah akses.


Menurut data Statistik Perbankan Indonesia yang dilansir OJK penyaluran kredit oleh bank umum ke sektor listrik, gas, dan air per September 2014 mencapai Rp88 triliun, sedangkan pada September 2013 Rp72,73 triliun. Penyaluran kredit ke sektor konstruksi pada September 2013 tercatat Rp120,4 triliun, sedangkan pada periode yang sama 2014 mencapai Rp142,94 triliun.


Adapun penyaluran kredit ke sektor jasa pendidikan per September 2014 tercatat Rp6,75 triliun dari sebelumnya hanya Rp5 triliun pada September 2013. Penyaluran kredit ke sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial juga tercatat naik dari Rp9,6 triliun pada September 2013 menjadi Rp11,83 triliun pada periode yang sama 2014.



Bank-Bank Besar Akan Mengincar Sektor Infrastruktur

Tuesday, November 18, 2014

PT BCA dan PT CIMB Niaga Akan Mengembangkan E-Channel

Financeroll – PT Bank Central Asia Tbk dan PT CIMB Niaga Tbk akan melakukan pengembangan e-channel untuk membantu pengembangan pasar modal.


Adapun komitmen tersebut ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama pengembangan e-channel untuk fasilitas AKSes (Acuan Kepemilikan Sekuritas) oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dengan Bank BCA dan Bank CIMB Niaga.


Direktur BCA mengatakan dengan kerjasama ini, investor akan lebih mudah melakukan penyelesaian atas transaksi pasar modal secara komprehensif, terintegrasi, dan ringkas.


Investor juga cukup melakukan transaksi pasar modal melalui web bank pembayar.


Saat ini BCA telah mengimplementasikan penyediaan informasil saldo dan mutasi RDN pada KlikBCA Bisnis, sedangkan KlikBCA Individu dan BCA Mobile ditargetkan dapat diimplementasikan pada akhir tahun ini.


Merespons kerja sama tersebut, Bank CIMB Niaga akan melakukan penambahan fitur layanan internet banking CIMB Niaga yaitu CIMB Clicks.


Wakil Direktur CIMB Niaga mengatakan dengan infrastruktur tersebut, diharapkan dapat melengkapi infrastruktur pasar modal Indonesia yang dapat bermanfaat untuk memperluas basis investor.



PT BCA dan PT CIMB Niaga Akan Mengembangkan E-Channel