Showing posts with label emiten saham isat. Show all posts
Showing posts with label emiten saham isat. Show all posts

Saturday, January 10, 2015

PT Indosat Dirating BBB+ Oleh S&P

Financeroll – Lembaga pemeringkat Standard & Poor (S&P) memberikan rating BBB+ kepada PT Indosat Tbk. (ISAT) dengan outlook stabil.


Risiko bisnis Indosat berada pada level menengah dengan alasan penetrasi bisnis di Indonesia memiliki risiko yang cukup tinggi.


Selain itu, kompetisi yang tinggi juga menjadi pertimbangan S&P dalam memberikan peringkat.


Risiko keuangan Indosat dinilai juga berada pada level menengah akibat adanya risiko fluktuasi nilai tukar rupiah.


Harsya Denny Suryo, Group Head Investor Relations & Corporate Secretary Indosat, melaporkan peringkat yang diperoleh dari S&P tersebut kepada PT Bursa Efek Indonesia.


Dengan ini disampaikan peringkat terkini dari Standard and Poor’s Ratings Services yaitu BB+/Stable/NR terhadap corporate credit rating.


Adapun untuk Asean regional scale, S&P memberikan peringkat axBBB+ serta BB+ terhadap senior unsecured yang diterbitkan oleh ISAT.


Peringkat tersebut sama dengan rating yang diberikan S&P sebelumnya.



PT Indosat Dirating BBB+ Oleh S&P

Friday, December 12, 2014

PT Indosat Mengubah Porsi Emisi Obligasi dan Sukuk Ijarah Senilai Rp2,5 Triliun

Financeroll – PT Indosat Tbk. resmi mengubah porsi emisi obligasi konvensional dan sukuk ijarah senilai total Rp2,5 triliun.


Emiten jasa telekomunikasi berkode saham ISAT itu menurunkan nilai emisi sukuk ijarah berkelanjutan I sebesar 36,67% menjadi Rp190 miliar dari awalnya Rp300 miliar. Adapun, emisi obligasi konvensional dinaikkan menjadi Rp2,31 triliun dari awalnya Rp2,2 triliun. Porsi emisi diubah karena investor kurang meminati penerbitan sukuk ijarah.


Tidak banyak memang investor yang berminat ke sukuk karena sukuk tidak bisa diperdagangkan.


Setelah masa bookbuilding selesai, lewat prospektus yang terbit, terungkap emisi obligasi konvensional dinaikkan menjadi Rp2,31 triliun dan sukuk ijarah diturunkan menjadi Rp190 miliar.


Obligasi konvensional diterbitkan dalam empat seri. Seri A sebesar Rp950 miliar berbunga tetap 10% dan bertenor tiga tahun, Seri B senilai Rp750 miliar berbunga tetap 10,3% dan bertenor lima tahun, dan Seri C Rp250 miliar berbunga tetap 10,5% dan bertenor tujuh tahun.


Adapun, Seri D bernilai Rp360 miliar dengan bunga tetap 10,7% dan bertenor 10 tahun. Bunga obligasi pertama dibayar pada 12 Maret 2015. Bunga empat seri tersebut berada di ambang atas bunga yang ditawarkan perseroan saat bookbuilding.


Sementara, sukuk ijarah ditawarkan dalam tiga seri. Seri A sebesar Rp64 miliar dengan cicilan imbalan ijarah Rp1,648 miliar per tahun berjangka waktu tiga tahun. Seri B sebesar Rp6,4 miliar dengan cicilan imbalan ijarah Rp1,648 miliar per tahun berjangka lima tahun. Adapun, Seri C sebesar Rp110 miliar dengan cicilan imbalan ijarah Rp11,55 miliar per tahun berjangka tujuh tahun.


Cicilan imbalan ijarah dibayar tiap triwulan, pembayaran pertama pada 12 Maret 2015.


Obligasi berkelanjutan I merupakan bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Obligasi Berkelanjutan I dengan target dana yang dihimpun Rp9 triliun serta PUB Sukuk Ijarah Berkelanjutan I dengan target Rp1 triliun.



PT Indosat Mengubah Porsi Emisi Obligasi dan Sukuk Ijarah Senilai Rp2,5 Triliun

PT Indosat Akan Gunakan Dana Obligasi Rp2,5 Triliun Untuk Lunasi Pinjaman Bank

Financeroll – PT Indosat Tbk. akan gunakan hasil penerbitan obligasi senilai Rp2,5 triliun untuk melunasi pinjaman bank dan membayar biaya hak penggunaan frekuensi.


Prospektus Indosat yang terbit, menyebut sekitar 78% atau Rp1,8 triliun dari dana hasil obligasi digunakan untuk melunasi pinjaman rupiah dan dolar AS. Rinciannya, perseroan berkode saham ISAT itu akan mengucurkan Rp1 triliun untuk melunasi sebagian pinjaman dari Bank Central Asia yang bernilai total Rp1,5 triliun.


Lantas, ISAT akan menggelontorkan Rp550 miliar pinjaman dari Bank Negara Indonesia senilai total Rp700 miliar. Juga menggelontorkan Rp250 miliar untuk melunasi seluruh pinjaman dari Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ.


Sisa hasil penawaran obligasi, atau 22%, dipakai untuk membayar biaya hak penggunaan (BHP) izin pita spektrum frekuensi radio penyelenggara jaringan bergerak selular di pita frekuensi 800 MHz, 900 MHz, dan 1.800 MHz untuk periode 15 Desember 2014-14 Desember 2015. Adapun, lisensi jaringan tersebut berjangka waktu 10 tahun dan dapat diperpanjagn untuk 10 tahun berikutnya.


Sementara, seluruh dana hasil penawaran umum sukuk ijarah akan digunakan untuk membayar BHP izin pita spektrum frekuensi radio 800 MHz, 900 MHz, dan 1.800 MHz untuk 15 Desember 2014-14 Desember 2015. Lisensi jaringan tersebut berjangka waktu 10 tahun dan dapat diperpanjagn untuk 10 tahun berikutnya.



PT Indosat Akan Gunakan Dana Obligasi Rp2,5 Triliun Untuk Lunasi Pinjaman Bank