Showing posts with label ISAT. Show all posts
Showing posts with label ISAT. Show all posts

Saturday, January 10, 2015

PT Indosat Dirating BBB+ Oleh S&P

Financeroll – Lembaga pemeringkat Standard & Poor (S&P) memberikan rating BBB+ kepada PT Indosat Tbk. (ISAT) dengan outlook stabil.


Risiko bisnis Indosat berada pada level menengah dengan alasan penetrasi bisnis di Indonesia memiliki risiko yang cukup tinggi.


Selain itu, kompetisi yang tinggi juga menjadi pertimbangan S&P dalam memberikan peringkat.


Risiko keuangan Indosat dinilai juga berada pada level menengah akibat adanya risiko fluktuasi nilai tukar rupiah.


Harsya Denny Suryo, Group Head Investor Relations & Corporate Secretary Indosat, melaporkan peringkat yang diperoleh dari S&P tersebut kepada PT Bursa Efek Indonesia.


Dengan ini disampaikan peringkat terkini dari Standard and Poor’s Ratings Services yaitu BB+/Stable/NR terhadap corporate credit rating.


Adapun untuk Asean regional scale, S&P memberikan peringkat axBBB+ serta BB+ terhadap senior unsecured yang diterbitkan oleh ISAT.


Peringkat tersebut sama dengan rating yang diberikan S&P sebelumnya.



PT Indosat Dirating BBB+ Oleh S&P

Menteri BUMN Mengkaji Pembeliah Kembali Saham PT Indosat

Financeroll – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Mariani Soemarno mengkaji untuk melakukan pembelian kembali atau buyback saham PT Indosat Tbk.


Itu masih dalam pembicaraan yang sangat awal. Sementara Niat buyback saham emiten berkode ISAT itu memang telah digaungkan sejak debat kandidat Pemilu Presiden pada Juni 2014 lalu. Saat itu, Joko Widodo sebagai kandidat mengungkapkan akan membeli kembali saham Indosat.


Kini, pemilik mayoritas saham ISAT adalah Oredoo dengan menggenggam 65% saham. Sedangkan pemerintah hanya memiliki 14,29% saham.


Hingga semester I/2014, ISAT mendulang laba bersih sebesar Rp226,28 miliar dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang masih menderita rugi Rp231,15 miliar. Pendapatan ISAT turun 0,85% menjadi Rp11,61 triliun dari periode yang sama tahun lalu Rp11,71 triliun.


Rini mengaku belum menyiapkan dana khusus untuk merealisasikan rencana buyback saham Indosat. Pemerintah juga belum selesai mengkaji besaran jumlah saham ISAT yang akan dibeli kembali.



Menteri BUMN Mengkaji Pembeliah Kembali Saham PT Indosat

Tuesday, December 2, 2014

Pre Opening: IHSG Diperkirakan Mixed, Cenderung Menguat

Financeroll –  Diperkirakan IHSG masih akan bergerak di kisaran positif hari ini.  Menguatnya Dow Jones serta bursa regional diharapkan dapat memberikan dukungan. IHSG masih melanjutkan penguatan diikuti oleh adanya minat beli asing namun dengan terbentuknya pola shooting star pada hari Selasa kemarin, yang mengindikasikan melambatnya momentum penguatan.  Laju bursa domestik diperkirakan bergerak cenderung mixed, cenderunga menguat. IHSG akan berada di kisaran level 5143-5212. Beberapa saha yang dapat direkomendasikan: ICBP, ADRO, BMRI, BBNI, ISAT, JSMR, ASII, BBTN, dan INTP.


Dari pasar saham Asia, indeks Nikkei 225 dan indeks KOSPI Composite di Jepang dan Korea Selatan menguat +0,54% dan +0,12% pada perdagangan pagi ini, menyusul sentimen positif dari Tiongkok yang akan melonggarkan kebijakan moneternya dengan memangkas suku bunga.  Sementara harga kontrak berjangka (futures) komoditas mengalami koreksi, seperti yang ditunjukkan oleh harga minyak mentah WTI dan emas Comex yang masing-masing turun -1,96% dan -0,18% ke posisi USD  67,65 per barel serta USD  1.197,20 per troy ounce.


Pada perdagangan Selasa (2/12) IHSG ditutup menguat 0,22% pada level 5175, meskipun sempat fluktuatif di area positif. Sektor properti dan konstruksi menyumbangkan penguatan terbesar. Investor asing melakukan net buy senilai Rp 161,8 miliar. Indeks di bursa Wall Street ditutup menguat yang didorong oleh reli pada saham energi dan bioteknologi.


Data construction spending yang mengalami kenaikan 1,1% pada Oktober dan lebih baik dari estimasi 0,6%, juga menimbulkan optimisme akan ekonomi AS. Dow Jones Composite kembali mencapai rekor tertinggi. Saham sektor energi mengalami kenaikan meskipun harga minyak mentah kembali melemah. Hal ini dapat disebabkan karena penurunan saham sektor energi beberapa waktu lalu yang terlalu cepat dan terlalu dalam.


Penurunan harga minyak mentah ditengah output produksi minyak AS yang berada pada level tertinggi selama tiga dekade terakhir serta adanya indikasi melemahnya permintaan global. Menurut Menlu Venezuela, kemungk inan OPEC akan melakukan pertemuan darurat pada triwulan I mendatang. Sementara itu pejabat The Fed menyatakan bahwa turunnya harga minyak mentah akan mendorong kenaikan belanja masyarakat dan membantu pertumbuhan ekonomi.


Dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS memberikan sentimen negatif bagi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Kedepan, pelaku pasar menanti rapat dewan gubernur Bank Indonesia (RDG BI), yang salah satunya akan membahas perihal suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate). [geng]



Pre Opening: IHSG Diperkirakan Mixed, Cenderung Menguat

Monday, December 1, 2014

Pre Opening:  Aksi Ambil Untung Diperkirakan Tekan  Laju IHSG

Financeroll – Relatif turunnya bursa dunia serta pelemahan kurs Rupiah dapat memberi sentimen yang negatif. IHSG bergerak menguat dengan menembus minor resistance 5,150 kemarin. Akan tetapi, resiko profit taking berpeluang menghambat tren kenaikan ini. Oleh karena itu,  diperkirakan IHSG akan bergerak cenderung melemah hari ini.


Selain itu, penurunan rating investasi Jepang oleh Moody’s, kurang positifnya data ekonomi AS akan membuat laju IHSG tertekan hari ini, namun tekanan pelemahan akan tertahan oleh membaiknya data transaksi berjalan Indonesia.  Diprediksi laju IHSG akan bearish (moderat) pada hari ini. Untuk level support dan resistance masing-masing di 5.123-5.189.  Untuk bebebrapa saham yang dapat direkomendasikan, antara lain: HRUM, BBNI, BMRI, ISAT, JSMR, ASII, BBTN, INTP, dan ICBP.


Pergerakan IHSG pada perdagangan hari Senin (1/12) ditutup menguat. IHSG bertambah 14.40 poin atau terapresiasi 0.28% dan berakhir di level 5,164.29 Sementara itu LQ45 mengakhiri perdagangan pada level 890.7 mengalami kenaikan sebesar 4.37 poin atau menguat 0.49%.


Sektor industri dasar menyumbangkan penguatan terbesar. Investor asing melakukan net buy senilai Rp68 miliar. Data inflasi November yang sebesar +1,5% mom dan +6,23% yoy serta neraca perdagangan RI bulan Oktober yang surplus USD 0,02 miliar, direspon positif oleh pasar. Indeks di bursa Wall Street ditutup melemah akibat faktor negatif dari penjualan ritel pada Black Friday yang mengecewakan serta lemahnya data manufaktur China.


Sementara Wall Street ditutup melemah setelah data manufaktur China serta penjualan di hari Black Friday yang mengecewakan investor. Indeks Dow Jones terdepresiasi 51.44 poin atau melemah 0.29%, S&P 500 kehilangan 0.68%, dan Nasdaq berkurang 1.34%. Data dari National Retail Federation menunjukkan belanja konsumen merosot 11% menjadi USD 50.9 miliar dalam empat hari terakhir, turun dari USD 57.4 miliar pada periode yang sama tahun 2013.


Sedangkan bursa Eropa secara melemah setelah penurunan harga minyak dan data aktivitas manufaktur memberikan kekhawatiran akan melambatnya inflasi di zona Euro dan pertumbuhan ekonomi global. Indeks FTSE turun 0.99%, CAC terdepresiasi 0.29%, dan DAX melemah 0.17%.


Namun pelemahan indeks terbatas karena reboundnya harga minyak mentah. Indeks ISM manufaktur AS sedikit turun pada level 58,7 dari bulan sebelumnya 59, namun lebih baik dari estimasi yang berada pada level 80. Sedangkan indeks PMI manufaktur China pada bulan November turun pada level 50,3 dari 50,8. Indeks PMI manufaktur berdasarkan HSBC stagnan pada level 50. Harga minyak mentah rebound dari level terendah dalam lima tahun terakhir.


Beberapa anggota OPEC berniat mengurangi produksinya sebesar 1,5 juta barel atau sebesar 5% dari total produksinya. Dan beberapa negara produsen minyak yang bukan anggota OPEC juga berniat mengurangi produksinya sebesar 500 ribu barel. Untuk Indeks Harga Saham Gabungan hari diperkirakan bergerak cenderung mixed. IHSG akan berada di kisaran level 5107-5180. [geng]



Pre Opening:  Aksi Ambil Untung Diperkirakan Tekan  Laju IHSG