Showing posts with label Financerolll. Show all posts
Showing posts with label Financerolll. Show all posts

Monday, December 1, 2014

Pre Opening:  Aksi Ambil Untung Diperkirakan Tekan  Laju IHSG

Financeroll – Relatif turunnya bursa dunia serta pelemahan kurs Rupiah dapat memberi sentimen yang negatif. IHSG bergerak menguat dengan menembus minor resistance 5,150 kemarin. Akan tetapi, resiko profit taking berpeluang menghambat tren kenaikan ini. Oleh karena itu,  diperkirakan IHSG akan bergerak cenderung melemah hari ini.


Selain itu, penurunan rating investasi Jepang oleh Moody’s, kurang positifnya data ekonomi AS akan membuat laju IHSG tertekan hari ini, namun tekanan pelemahan akan tertahan oleh membaiknya data transaksi berjalan Indonesia.  Diprediksi laju IHSG akan bearish (moderat) pada hari ini. Untuk level support dan resistance masing-masing di 5.123-5.189.  Untuk bebebrapa saham yang dapat direkomendasikan, antara lain: HRUM, BBNI, BMRI, ISAT, JSMR, ASII, BBTN, INTP, dan ICBP.


Pergerakan IHSG pada perdagangan hari Senin (1/12) ditutup menguat. IHSG bertambah 14.40 poin atau terapresiasi 0.28% dan berakhir di level 5,164.29 Sementara itu LQ45 mengakhiri perdagangan pada level 890.7 mengalami kenaikan sebesar 4.37 poin atau menguat 0.49%.


Sektor industri dasar menyumbangkan penguatan terbesar. Investor asing melakukan net buy senilai Rp68 miliar. Data inflasi November yang sebesar +1,5% mom dan +6,23% yoy serta neraca perdagangan RI bulan Oktober yang surplus USD 0,02 miliar, direspon positif oleh pasar. Indeks di bursa Wall Street ditutup melemah akibat faktor negatif dari penjualan ritel pada Black Friday yang mengecewakan serta lemahnya data manufaktur China.


Sementara Wall Street ditutup melemah setelah data manufaktur China serta penjualan di hari Black Friday yang mengecewakan investor. Indeks Dow Jones terdepresiasi 51.44 poin atau melemah 0.29%, S&P 500 kehilangan 0.68%, dan Nasdaq berkurang 1.34%. Data dari National Retail Federation menunjukkan belanja konsumen merosot 11% menjadi USD 50.9 miliar dalam empat hari terakhir, turun dari USD 57.4 miliar pada periode yang sama tahun 2013.


Sedangkan bursa Eropa secara melemah setelah penurunan harga minyak dan data aktivitas manufaktur memberikan kekhawatiran akan melambatnya inflasi di zona Euro dan pertumbuhan ekonomi global. Indeks FTSE turun 0.99%, CAC terdepresiasi 0.29%, dan DAX melemah 0.17%.


Namun pelemahan indeks terbatas karena reboundnya harga minyak mentah. Indeks ISM manufaktur AS sedikit turun pada level 58,7 dari bulan sebelumnya 59, namun lebih baik dari estimasi yang berada pada level 80. Sedangkan indeks PMI manufaktur China pada bulan November turun pada level 50,3 dari 50,8. Indeks PMI manufaktur berdasarkan HSBC stagnan pada level 50. Harga minyak mentah rebound dari level terendah dalam lima tahun terakhir.


Beberapa anggota OPEC berniat mengurangi produksinya sebesar 1,5 juta barel atau sebesar 5% dari total produksinya. Dan beberapa negara produsen minyak yang bukan anggota OPEC juga berniat mengurangi produksinya sebesar 500 ribu barel. Untuk Indeks Harga Saham Gabungan hari diperkirakan bergerak cenderung mixed. IHSG akan berada di kisaran level 5107-5180. [geng]



Pre Opening:  Aksi Ambil Untung Diperkirakan Tekan  Laju IHSG

Tuesday, November 11, 2014

Fundamental Ekonomi Tak Mendukung, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll – Pada perdagangan Selasa (11/11)  nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta melemah 63 poin menjadi Rp 12.218 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.155 per dolar AS.   Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang hari begerak di zona positif. IHSG pun stabil di level 5.000 poin.  IHSG ditutup di posisi 5.032,28. Menguat 66,89 poin (1,3%).  Indeks unggulan LQ45 ditutup di posisi 859,04. Menguat 15,5 poin atau 1,84%.


Meski kenaikan harga BBM subsidi akan mendorong inflasi, dampak negatifnya diperkirakan tidak akan terlalu lama. Pengalaman sebelumnya, inflasi akan kembali stabil 3-4 bulan setelah kenaikan BBM.  Di tengah situasi itu, pemerintah harus menjaga daya beli masyarakat, salah satunya dengan meluncurkan dana kompensasi BBM tepat sasaran.


Setelah dolar AS mengalami tekanan pada awal pekan kemarin  Senin ( 10/11), pelaku pasar uang kembali masuk ke mata uang AS.  Secara umum, data ekonomi AS masih dipandang lebih bagus dibandingkan data ekonomi negara maju lainnya. Bank Sentral AS (the Fed) sendiri masih dalam jalur ke pengetatan moneter setelah menghentikan program stimulusnya.  Seiring pelemahannya di transaksi antarbank di Jakarta, pada kurs tengah Bank Indonesia (BI) mata uang lokal ini juga bergerak melemah menjadi Rp 12.163 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.138 per dolar AS.


Dari bursa saham, laju IHSG sejalan dengan pergerakan bursa-bursa regional. Investor global terlihat bergairah setelah Wall Street terus mencatatkan rekor terbaru.  Bursa Asia bergerak cenderung di jalur hijau. Bahkan Nikkei 225 (Jepang) menguat lebih dari 2%, dan Hang Seng (Hong Kong) tumbuh lebih dari 1%. Straits Times (Singapura) memang melemah, tapi tidak terlampau tajam.


Adapun  perkembangan sejumlah bursa di Asia: Nikkei 225 menguat 343,58 poin (2,05%) menjadi 17.124,11, Hang Seng naik 296,02 poin (1,25%) ke posisi 23.998,06, KOSPI naik 4,77 poin (0,24%) menjadi 1.963, dan Straits Times turun 10,19 poin (0,31%) menjadi 3.290,81.


Beberapa saham yang menguat cukup tajam dan menjadi top gainers antara lain Merck (MERK) naik Rp 11.500 menjadi Rp 179.000, Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 675 menjadi Rp 23.600, dan Indocement (INTP) naik Rp 650 menjadi Rp 23.175.


Sedangkan  saham-saham yang melemah dan masuk kategori top loser di antaranya adalah Maskapai Reasuransi Indonesia (MREI) turun Rp 750 menjadi Rp 3.700, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 550 menjadi Rp 60.250, dan Mayora (MYOR) turun Rp 475 menjadi Rp 25.725.


Di dalam negeri, perdagangan hari ini berlangsung moderat dengan total frekuensi 207.147 kali transaksi yang melibatkan 5,13 miliar saham senilai Rp 5,3 triliun. Ada 192 saham menguat, 107 saham melemah, dan 79 saham stagnan.  Seluruh sektor saham menguat, yang tertinggi adalah infrastruktur dengan kenaikan 2,16%. Penguatan paling rendah dialami sektor pertambangan yaitu 0,21%. [geng]



Fundamental Ekonomi Tak Mendukung, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif