Showing posts with label kurs tengah Bank Indonesia (BI). Show all posts
Showing posts with label kurs tengah Bank Indonesia (BI). Show all posts

Monday, November 17, 2014

Transaksi Terbatas, Pasar Uang Domestik Bergerak Positif

Financeroll -  Pada perdagangan Senin (17/11) nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta  menguat 20 poin menjadi Rp 12.180 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.200 per dolar AS.  Kurs  rupiah mengalami penguatan terhadap dolar AS di tengah antisipasi rencana pemerintah yang akan menaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada tahun ini.  Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak lambat di awal pekan ini hanya naik 4 poin. Investor masih menanti kepastian rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi.  Pada penutupan perdagangan Sesi I, IHSG naik 10,512 poin (0,21%) ke level 5.060,000 di tengah perdagangan yang sepi.


Para investor  mengharapkan kenaikan harga BBM bersubsidi itu segera terealisasi sehingga beban defisit pada neraca transaksi berjalan Indonesia bisa berkurang dan mengurangi kekhawatiran investor terhadap perekonomian Indonesia ke depan. Penguatan rupiah masih cenderung terbatas, sebagian investor masih terlihat waspada mencermati besaran kenaikan harga BBM bersubsidi itu.  Saat ini,   outlook mata uang rupiah masih cukup netral bergerak di kisaran Rp 12.170-Rp 12.210 per dolar AS.


Pelemahan dolar AS terhadap mata uang yen Jepang juga cukup memberikan sentimen positif bagi nilai tukar rupiah untuk kembali terapresiasi pada awal pekan ini  Senin  (17/11).  Penguatan dolar AS terbebani setelah mengalami penguatan cukup signifikan terhadap yen Jepang, kondisi itu mendorong aksi ambil untung pelaku pasar keuangan.  Seiring penguatannya di transaksi antarbank di Jakarta, pada kurs tengah Bank Indonesia (BI) mata uang domestik ini juga bergerak menguat menjadi Rp 12.193 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.206 per dolar AS.


Di sisi lain,  indeks hanya mampu naik ke titik tertingginya hari ini di 5.073,762 sebelum akhirnya melambat. Aksi jual mulai ramai jelang penutupan perdagangan.  Pada akhir perdagangan awal pekan.   IHSG ditutup naik tipis 4,455 poin (0,09%) ke level 5.053,943. Sementara Indeks unggulan LQ45 ditutup menguat tipis 1,701 poin (0,20%) ke level 867,218.


Tercatat saham-saham unggulan jadi incaran investor, terutama di sektor komoditas dan konsumer. Beberapa saham lapis dua yang dijual jadi penghambat laju IHSG.  Investor asing belanja saham di pasar negosiasi, membuat transaksinya di seluruh pasar menjadi pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 444,2 miliar. Sedangkan di pasar reguler tercatat net sell sebesar Rp 17,7 miliar


Perdagangan hari ini berjalan sepi dengan frekuensi transaksi sebanyak 191.605 kali dengan volume 4,327 miliar lembar saham senilai Rp 4,56 triliun. Sebanyak 156 saham naik, 144 turun, dan 78 saham stagnan.  Ekonomi Jepang yang masuk resesi jadi sentimen negatif di mata pelaku pasar Asia. Bursa-bursa regional pun kompak jatuh ke zona merah sore hari ini:


Sementara situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 jatuh 517,03 poin (2,96%) ke level 16.973,80, Indeks Hang Seng anjlok 290,30 poin (1,21%) ke level 23.797,08, Indeks Komposit Shanghai turun 4,82 poin (0,19%) ke level 2.474,01, dan  Indeks Straits Times melemah 26,29 poin (0,79%) ke level 3.289,38. [geng]



Transaksi Terbatas, Pasar Uang Domestik Bergerak Positif

Rupiah Menguat ke Posisi Rp 12.180 / USD

Financeroll - Laju nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin sore, menguat 20 poin menjadi Rp 12.180 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.200 per dolar AS.  Kurs  rupiah mengalami penguatan terhadap dolar AS di tengah antisipasi rencana pemerintah yang akan menaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada tahun ini.


Pelaku pasar mengharapkan kenaikan harga BBM bersubsidi itu segera terealisasi sehingga beban defisit pada neraca transaksi berjalan Indonesia bisa berkurang dan mengurangi kekhawatiran investor terhadap perekonomian Indonesia ke depan.


Meski demikian,  penguatan rupiah masih cenderung terbatas, sebagian investor masih terlihat waspada mencermati besaran kenaikan harga BBM bersubsidi itu.  Saat ini,   outlook mata uang rupiah masih cukup netral bergerak di kisaran Rp 12.170-Rp 12.210 per dolar AS.


 Dari sisi fundamental,   pelemahan dolar AS terhadap mata uang yen Jepang juga cukup memberikan sentimen positif bagi nilai tukar rupiah untuk kembali terapresiasi pada awal pekan ini  Senin  (17/11).  Penguatan dolar AS terbebani setelah mengalami penguatan cukup signifikan terhadap yen Jepang, kondisi itu mendorong aksi ambil untung pelaku pasar keuangan.  Seiring penguatannya di transaksi antarbank di Jakarta, pada kurs tengah Bank Indonesia (BI) mata uang domestik ini juga bergerak menguat menjadi Rp 12.193 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.206 per dolar AS.  [geng]


 



Rupiah Menguat ke Posisi Rp 12.180 / USD

Tuesday, November 11, 2014

Fundamental Ekonomi Tak Mendukung, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Financeroll – Pada perdagangan Selasa (11/11)  nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta melemah 63 poin menjadi Rp 12.218 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.155 per dolar AS.   Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang hari begerak di zona positif. IHSG pun stabil di level 5.000 poin.  IHSG ditutup di posisi 5.032,28. Menguat 66,89 poin (1,3%).  Indeks unggulan LQ45 ditutup di posisi 859,04. Menguat 15,5 poin atau 1,84%.


Meski kenaikan harga BBM subsidi akan mendorong inflasi, dampak negatifnya diperkirakan tidak akan terlalu lama. Pengalaman sebelumnya, inflasi akan kembali stabil 3-4 bulan setelah kenaikan BBM.  Di tengah situasi itu, pemerintah harus menjaga daya beli masyarakat, salah satunya dengan meluncurkan dana kompensasi BBM tepat sasaran.


Setelah dolar AS mengalami tekanan pada awal pekan kemarin  Senin ( 10/11), pelaku pasar uang kembali masuk ke mata uang AS.  Secara umum, data ekonomi AS masih dipandang lebih bagus dibandingkan data ekonomi negara maju lainnya. Bank Sentral AS (the Fed) sendiri masih dalam jalur ke pengetatan moneter setelah menghentikan program stimulusnya.  Seiring pelemahannya di transaksi antarbank di Jakarta, pada kurs tengah Bank Indonesia (BI) mata uang lokal ini juga bergerak melemah menjadi Rp 12.163 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.138 per dolar AS.


Dari bursa saham, laju IHSG sejalan dengan pergerakan bursa-bursa regional. Investor global terlihat bergairah setelah Wall Street terus mencatatkan rekor terbaru.  Bursa Asia bergerak cenderung di jalur hijau. Bahkan Nikkei 225 (Jepang) menguat lebih dari 2%, dan Hang Seng (Hong Kong) tumbuh lebih dari 1%. Straits Times (Singapura) memang melemah, tapi tidak terlampau tajam.


Adapun  perkembangan sejumlah bursa di Asia: Nikkei 225 menguat 343,58 poin (2,05%) menjadi 17.124,11, Hang Seng naik 296,02 poin (1,25%) ke posisi 23.998,06, KOSPI naik 4,77 poin (0,24%) menjadi 1.963, dan Straits Times turun 10,19 poin (0,31%) menjadi 3.290,81.


Beberapa saham yang menguat cukup tajam dan menjadi top gainers antara lain Merck (MERK) naik Rp 11.500 menjadi Rp 179.000, Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 675 menjadi Rp 23.600, dan Indocement (INTP) naik Rp 650 menjadi Rp 23.175.


Sedangkan  saham-saham yang melemah dan masuk kategori top loser di antaranya adalah Maskapai Reasuransi Indonesia (MREI) turun Rp 750 menjadi Rp 3.700, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 550 menjadi Rp 60.250, dan Mayora (MYOR) turun Rp 475 menjadi Rp 25.725.


Di dalam negeri, perdagangan hari ini berlangsung moderat dengan total frekuensi 207.147 kali transaksi yang melibatkan 5,13 miliar saham senilai Rp 5,3 triliun. Ada 192 saham menguat, 107 saham melemah, dan 79 saham stagnan.  Seluruh sektor saham menguat, yang tertinggi adalah infrastruktur dengan kenaikan 2,16%. Penguatan paling rendah dialami sektor pertambangan yaitu 0,21%. [geng]



Fundamental Ekonomi Tak Mendukung, Pasar Uang Domestik Bergerak Variatif

Thursday, October 9, 2014

Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp 12.215 - 12.180 per USD

Financeroll – Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak di atas level resisten Rp 12.234 per USD. Menurut kurs tengah Bank Indonesia (BI), Rupiah diperkirakan akan berada di kisaran Rp 12.215 – 12.180 per USD.


Kurs Rupiah pun masih memiliki peluang kenaikan lanjutan dengan asumsi di dukung oleh sentimen yang ada.  Sebelumnya, rilis FOMC meeting yang belum menentukan kepastian waktu untuk menaikkan suku bunga Fed rate tampaknya di respons dengan pelemahan dolar. Tentu saja kondisi tersebut membuat sejumlah laju mata uang Asia Pasifik bergerak menguat.


Disokong  oleh Yen yang mengalami apresiasi dan diikuti oleh Taiwan dollar, Yuan, Rupee, dan lainnya. Kondisi ini pula yang akhirnya berimbas positif pada pembalikan arah Rupiah.  Di sisi lain, penilaian mulai berkurangnya sentimen dari kondisi politik paling tidak dapat memberikan kesempatan bagi Rupiah untuk bernafas. [geng]



Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp 12.215 - 12.180 per USD