Showing posts with label Bahan Bakar Minyak (BBM). Show all posts
Showing posts with label Bahan Bakar Minyak (BBM). Show all posts

Sunday, January 18, 2015

Dalam Sepekan, IHSG Melemah 68,29 Poin

Financeroll – Pada pekan terakhir, IHSG tergerus di zona merah seiring pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh Bank Dunia. Penurunan harga bahan bakar minyak (BBM)  pun tak direspons positif. Seperti apa.  IHSG  melemah 68,29 poin (1,30%) ke posisi 5.148,38 pada pekan yang berakhir Jumat (16/1) dibandingkan akhir pekan sebelumnya di angka 5.216,67.  Aksi profit taking berlangsung masif, IHSG tertekan  ke zona merah.


Aksi ambil untung kian terealisasi pada perdagangan di awal pekan kemarin setelah merespon negatif pelemahan bursa saham AS dan Eropa sebelumnya dan variatifnya laju bursa saham Asia.  Laju IHSG pun seperti yang kami pernah sampaikan di mana penguatan tipis yang sempat terjadi memperlihatkan amunisi penguatan IHSG kian menipis.


Kurs rupiah yang naik tipis belum mampu meredam aksi jual tersebut. Selain itu,  positifnya mayoritas laju bursa saham Asia, terutama China mampu memberikan imbas positif pada pergerakan IHSG yang juga mampu bermanuver balik positif.  Laju IHSG pun juga mampu melampaui estimasi.  Sebelumnya, sempat kami khawatirkan akan terjadi pelemahan dan pelaku pasar pun dapat memanfaatkan sentimen tersebut untuk kembali melakukan akumulasi beli terhadap saham-saham yang mengalami pelemahan sebelumnya.


Dengan adanya rilis positif dari pemerintah yang akan menambah kepemilikan di saham-saham BUMN melalui setoran modal untuk ekspansi para BUMN tersebut. Akibatnya, melemahnya kembali laju rupiah dan aksi jual asing tidak menjadi halangan bagi IHSG untuk tetap berbalik arah naik.


Investor asing masih lanjutkan aksi jualnya dan bahkan berbalik positifnya laju rupiah belum mampu menahan aksi jual yang terjadi sehingga pelemahan IHSG pun tak terhindarkan.  Tetapi, tidak disangka laju IHSG mampu berbalik menghijau setelah merespon positif pembalikan arah dari bursa saham Asia dan adanya indikasi membaliknya harga-harga komoditas yang terefleksi di laju harga-harga saham komoditas dan energi global.


Eskpektasi akan masih tetapnya BI rate juga turut memberikan sentimen positif.  Aksi profit taking pun sempat berkurang meskipun asing masih melakukan aksi jualnya seiring dengan laju rupiah yang masih mengalami pelemahan.  Di akhir pekan, indeks ditutup dengan pelemahan sehingga mengkonfirmasi terjadinya tren penurunan pasca berhasil menutup utang gap di level 5.194-5.206 di pekan sebelumnya.  Sentimen dari rilis rencana pemerintah untuk menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi hingga semen tidak terlalu memberikan sentimen positif. Bahkan laju rupiah yang mengalami penguatan juga tidak direspons positif. [geng]



Dalam Sepekan, IHSG Melemah 68,29 Poin

Sunday, January 4, 2015

Pre Opening: Awal Pekan, IHSG Berpeluang Melaju di Jalur Hijau

Financeroll – Pada perdagangan Senin (5/1), IHSG diperkirakan akan berada pada rentang support 5215-5235 dan resisten 5250-5258.  Tampaknya pelaku pasar masih melakukan aksi beli meskipun volume transaksi agak sedikit surut. Penguatan pada saham-saham konsumer, perkebunan, dan properti masih dapat menyokong penguatan IHSG.  Berikut saham-saham pilihan: KIJA, SSMS, BSDE, INDF, LPKR, dan UNVR.


Perdagangan pada hari ini akan kembali ke level normal. IHSG masih diringi dengan aksi profit taking. Pelemahan rupiah akan menjadi sorotan besar apakah masih berlanjut atau tidak. Aksi jual dari investor asing juga masih akan berlanjut. Selain itu kenaikan elpiji dan tarif listrik akan melemahkan daya beli masyarakat sehingga sektor konsumsi berpotensi melemah.  Meski net sell asing dan rilis data-data makroekonomi Indonesia yang tidak begitu baik, namun  tidak menghalangi IHSG untuk dapat melanjutkan penguatannya.  Adapun transaksi asing tercatat nett sell tipis (dari net buy Rp 2,5 triliun menjadi net sell Rp 4,17 miliar).


Pada pekan lalu, sempitnya hari perdagangan dan kemungkinan masih adanya hawa libur tahun baru, tak menyurutkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk melaju di zona hijau.  Menutup perdagangan Jumat (2/1), IHSG berada di posisi 5.242,77, naik 15,82 poin atau 0,3%.


Di hari perdagangan pertama tahun 2015, IHSG berhasil bertahan di zona hijau dan ditutup menguat di level 5242.77 naik 15,82 poin atau sebesar 0,3%. Sepanjang hari perdagangan masih belum kembali ke level normal, Hanya terjadi 155.661 kali transaksi yang melibatkan 5,6 miliar unit saham senilai Rp 4,57 triliun. Sebanyak 149 saham menguat, 136 melemah, dan 79 stagnan. Selain itu terjadi pelemahan pada nilai tukar rupiah yang telah kemblai menyetuh level 12.500.


Kebijakan pemerintah menghapus subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium menjadi sentimen positif di market.  Investor juga telah diberikan kado akhir tahun di mana subsidi untuk bahan bakar Ron 88 (premium) telah dihapus, paling tidak kado tersebut dapat mengimbangi sentiment negatif dari rilis data-data makro ekonomi RI.


Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi tahunan nasional pada 2014 mencapai 8,36%. Besaran inflasi tahun lalu lebih kecil ketimbang yang terjadi di tahun 2013 yaitu 8,38%. Sedangkan inflasi bulan Desember saja naik 2,46%. Bank Indonesia menyatakan, inflasi bulan Desember 2014 meningkat tinggi dan sedikit melebihi perkiraan bank sentral sebelumnya, yaitu dikisaran 2,1%-2,2%. Selain itu BPS mencatat neraca perdagangan pada November 2014 defisit sebesar USD  425,7 juta. Penyebabnya karena penurunan ekspor, sedangkan kegiatan impor masih tinggi. Secara akumulasi sepanjang 2014, neraca perdagangan Indonesia pun masih negatif USD  2,07 miliar.


Sementara itu, laju nilai tukar Rupiah bergerak di zona merah di tengah sempitnya hari perdagangan dan berbarengan dengan rilis berita penyempurnaan PBI Nomor 16/21/PBI/2014 tanggal 29 Desember 2014 tentang Penerapan Prinsip Kehati-hatian dalam Pengelolaan Utang Luar Negeri Korporasi Nonbank dan Surat Edaran Ekstern Nomor 16/24/DKEM tanggal 30 Desember 2014 perihal Penerapan Prinsip Kehati-hatian dalam Pengelolaan Utang Luar Negeri Korporasi Nonbank.


Kurs  Rupiah berada di bawah target level support Rp 12.442. Terlihat harapan positif kami terhadap data-data makroekonomi yang dirilis tidak sesuai dengan harapan sehingga membuat nilai tukar Rupiah bergerak melemah. Waspadai berlanjutnya pelemahan nilai tukar Rupiah.


Sementara dari bursa global perdagangan sepi kembali mewarnai perdagangan. Beberapa data ekonomi juga dirilis. Purchasing Managers’ Index China bulan Desember turun ke level 50,1, berbanding 50,3 pada November. PMI di atas 50 menunjukkan ekspansi manufaktur, sedangkan di bawahnya menunjukkan kontraksi. Selain itu penurunan bursa Ibovespa di Brasil juga memberikan sentimen negatif ke emerging market. [geng]



Pre Opening: Awal Pekan, IHSG Berpeluang Melaju di Jalur Hijau

Thursday, January 1, 2015

Pre Opening: IHSG Berpotensi Lanjutkan Penguatan

Financeroll – IHSG  diperkirakan masih akan melanjutkan kenaikan. IHSG akan berpotensi bergerak dikisaran support 5.161 dan resistance 5.262.  Hari ini, Jumat (2/1) pelaku pasar menanti rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia yang sedianya akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS), siang nanti. Secara keseluruhan, diperkirakan  inflasi bulanan Desember dan tahunan 2014 masing-masing sebesar 2,05%  month on month  (mom) dan 7,92%  year on year (yoy).   Di sisi lain,  neraca perdagangan diperkirakan akan membukukan defisit USD  317 juta pada November dari sebelumnya surplus USD 23 juta pada Oktober.


Dari dalam negeri, pemerintah menyambut tahun baru dengan menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis premium dari Rp 8.500 menjadi Rp 7.600 per liter, dan solar dari Rp 7.500 menjadi Rp 7.250 per liter terhitung mulai 1 Januari 2015. Selanjutnya, pemerintah juga akan menghapus BBM jenis premium, dan memberikan kesempatan bagi Pertamina untuk mempersiapkan diri dalam dua tahun ke depan.


Akhir tahun 2014 , IHSG akhirnya kembali menembus level psikologis di 5.200. IHSG ditutup menguat 48,6 poin atau naik sebesar 0,94% ke level 5.226,95.   Minimnya data ekonomi yang dirilis baik dari dalam maupun luar negeri tidak memangkas semangat para investor saham di Indonesia bahkan aksi beli oleh investor asing atau lokal cenderung besar. Sektor trade dan agriculture menjadi penggerak penguatan IHSG pada hari ini. Pelaku pasar asing tercatat melakukan net buy sebesar Rp 2,5 triliun.


Sementara itu, hari terakhir perdagangan saham di akhir tahun 2014 kemarin bursa Wall street ditutup di teritori negatif. Indeks DJIA mengalami koreksi sebesar 0,89% ke level 17.823,07 dan indeks S&P 500 ditutup turun 1,03% ke level 2.058,90.  Berbeda dengan bursa di kawasan Eropa, rata-rata perdagangan saham di akhir tahun lalu ditutup mixed, di mana indeks FTSE100 ditutup naik 0,33% ke level 6.566,09, indeks CAC 40 naik sebesar 0,64% sedangkan indeks DAX ditutup turun 1,22% ke level 9.805,55.


Pasar saham Amerika Serikat (AS) kemarin memasuki libur Tahun Baru. Dari pasar Asia, indeks utama regional pagi ini juga masih memasuki libur.  Sementara harga kontrak berjangka (futures) komoditas terkoreksi. Harga minyak mentah WTI turun -0,76% ke level USD 53,71 per barel. Sedangkan harga emas Comex terkoreksi -1,26% ke posisi USD 1.185,3 per troy ounce. [geng]




Pre Opening: IHSG Berpotensi Lanjutkan Penguatan

Tuesday, December 30, 2014

2014, Inflasi Indonesia Diperkirakan Hingga 8,2 Persen

Financeroll – Di pengujung 2014, kondisi ekonomi dan politik di Indonesia masih penuh dinamika dan tekanan.  Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang lalu  diikuti melemahnya nilai tukar Rupiah tak serta merta membuat masyarakat kehilangan harapan dan pesimistis.


Bank Indonesia (BI) memprediksi laju inflasi sepanjang 2014 mencapai lebih dari 8% yaitu 8,1-8,2%. Ini berarti di kisaran batas atas perkiraan BI 7,7-8,1%.  Inflasi lebih disebabkan, karena administered prices(kenaikan BBM dan transportasi) dan volatile food (bahan pangan) sehingga perlu koordinasi sehingga inflasinya dapat lebih terkendali. Sumbangan inflasi terbesar memang terjadi pada Desember 2014 di mana dampak penyesuaian harga bahan bakar minyak ( BBM) yang dilakukan pemerintah mulai dirasakan.


Selain itu,  Bank Indonesia (BI) memprediksikan inflasi Desember ada pada kisaran 2,1-2,2%.   Inflasi Desember lebih banyak dipengaruhi oleh dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebab pada November dampak kenaikan harga BBM masih relatif kecil. Selain itu, ada juga dampak ikutan akibat kenaikan harga BBM seperti harga transportasi dan bahan makanan. Serta diikuti oleh liburan Natal dan Tahun Baru.


Perekonomian Indonesia tahun 2015 diproyeksikan tumbuh pada kisaran 5,8%, kata Anggota DPR Komisi XI dan Direktur Eksekutif Megawati Institute Arief Budimanta.  Dalam acara “Forum Alumni IPB mengenai Outlook Perekonomian Indonesia Tahun 2015″,  di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Selasa (30/12).


Menurut Arief,  faktor utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2015 adalah investasi dan konsumsi swasta.  Selain itu, proyek-proyek infrastruktur pemerintah akan segera direalisasikan di semester dua tahun 2015.  Selain itu,  faktor eksternal masih mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2015, terutama perbaikan ekonomi Amerika Serikat dan melemahnya perekonomian Tiongkok.


Di sisi lain, kinerja perekonomian global pada 2015 diproyeksikan lebih baik dibandingkan 2014, kendati perbaikannya tidak signifikan. Pada proyeksi terakhirnya, Oktober 2014, Dana Moneter Internasional atau IMF mengingatkan stagnasi di negara-negara maju saat mengumumkan pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia di markasnya, Washington, Amerika Serikat (AS).


Menurut IMF, risiko-risiko yang dihadapi perekonomian global tahun 2014 meningkat, dari mulai krisis politik Rusia-Ukraina hingga pergolakan di Timur Tengah. Selain itu, ancaman terhadap perekonomian dunia makin besar jika wabah Ebola di Afrika barat tidak tertangani.  IMF juga menyatakan, luka mendalam akibat krisis ekonomi yang dimulai pada 2008 terbukti sulit disembuhkan, khususnya di Eropa. Tapi, IMF juga menyatakan bahwa kekuatan ekonomi negara-negara maju bisa ditingkatkan dengan investasi di sektor infrastruktur dan dibiayai oleh negara. [geng]



2014, Inflasi Indonesia Diperkirakan Hingga 8,2 Persen

Monday, November 24, 2014

Bursa Regional Menguat, Pasar Uang Domestik Bergerak Positif

Financeroll – Pada perdagangan Selasa (24/11) nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin sore, menguat sebesar 17 poin menjadi Rp 12.129 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.146 per dolar AS.   Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan momentum penguatan sepanjang hari. Indeks menutup perdagangan dengan melaju 29 poin.  Pada pembukaan  IHSG menguat 21,903 poin (0,43%) ke level 5.133,948 mengekor penguatan bursa-bursa regional.


Kebijakan Tiongkok itu akan merangsang permintaan ekspornya, Indonesia yang merupakan salah satu mitra dagang Tiongkok akan mendapatkan imbas positif.  Dari dalam negeri,  sentimen dari penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang diikuti dengan kebijakan Bank Indonesia yang menaikan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 7,75% masih dirasakan positif meski cenderung mulai mereda.  Keputusan bank sentral Tiongkok yang menurunkan suku bunga pinjaman dan deposito masing-masing menjadi 5,6% dan 2,75% telah meningkatkan harapan akan membaiknya kondisi perekonomian mitra dagang utama Indonesia tersebut.


Investor masih khawatir dengan outlook kebijakan moneter AS. Pasar masih khawatir menghadapi prospek kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed rate) pada tahun 2015 mendatang yang dapat menjaga kinerja dolar AS tetap baik.  Seiring dengan penguatannya di transaksi antarbank di Jakarta, pada kurs tengah BI, mata uang lokal ini juga bergerak menguat menjadi Rp 12.122 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.161 per dolar AS.


Dari bursa saham, Indeks terus menanjak secara perlahan sejak pembukaan perdagangan. Indeks semakin mendekati level psikologis 5.200.  Menutup perdagangan Sesi I, IHSG naik 28,982 poin (0,57%) ke level 5.141,027 berkat aksi beli di saham-saham unggulan. Saham pertambangan dan perkebunan memimpin penguatan.


Posisi tertinggi yang bisa diraih indeks pada perdagangan hari ini ada di level 5.157,084. Laju penguatan indeks sempat tertahan aksi jual di saham-saham konstruksi.  Menutup perdagangan awal pekan  IHSG melaju 29,719 poin (0,58%) ke level 5.141,764. Sementara Indeks unggulan LQ45 menanjak 8,371 poin (0,95%) ke level 886,929.


Hampir seluruh indeks sektoral di lantai bursa bisa menguat, hanya sektor konstruksi yang melemah. Pelaku pasar domestik mendominasi transaksi di bursa hari ini.  Transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 142,943 miliar di seluruh pasar. Sedangkan di pasar reguler sebesar Rp 212,008 miliar.


Tercatat perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 247.749 kali dengan volume 6,521 miliar lembar saham senilai Rp 5,042 triliun. Sebanyak 174 saham naik, 130 turun, dan 91 saham stagnan.  Pergerakan bursa-bursa regional menjadi variatif hingga siang hari ini. Bursa saham Singapura terkena aksi ambil untung setelah naik cukup tinggi. Rencana stimulus pemerintah Tiongkok membuatnya bursanya naik tinggi.


Sementara Bursa saham Tiongkok dan Hong Kong menanjak cukup tinggi didorong sentimen positif rencana pemberan stimulus dari pemerintah Tiongkok. Bursa saham Jepang hari ini tidak berdagangan menyambut libur nasioanal.  Berikut situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Hang Seng melonjak 456,02 poin (1,95%) ke level 23.893,14,  Indeks Komposit Shanghai menanjak 46,09 poin (1,85%) ke level 2.532,88, dan  ndeks Straits Times turun 4,47 poin (0,13%) ke level 3.340,85. [geng]



Bursa Regional Menguat, Pasar Uang Domestik Bergerak Positif

Monday, November 17, 2014

Rupiah Menguat ke Posisi Rp 12.180 / USD

Financeroll - Laju nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin sore, menguat 20 poin menjadi Rp 12.180 dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.200 per dolar AS.  Kurs  rupiah mengalami penguatan terhadap dolar AS di tengah antisipasi rencana pemerintah yang akan menaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada tahun ini.


Pelaku pasar mengharapkan kenaikan harga BBM bersubsidi itu segera terealisasi sehingga beban defisit pada neraca transaksi berjalan Indonesia bisa berkurang dan mengurangi kekhawatiran investor terhadap perekonomian Indonesia ke depan.


Meski demikian,  penguatan rupiah masih cenderung terbatas, sebagian investor masih terlihat waspada mencermati besaran kenaikan harga BBM bersubsidi itu.  Saat ini,   outlook mata uang rupiah masih cukup netral bergerak di kisaran Rp 12.170-Rp 12.210 per dolar AS.


 Dari sisi fundamental,   pelemahan dolar AS terhadap mata uang yen Jepang juga cukup memberikan sentimen positif bagi nilai tukar rupiah untuk kembali terapresiasi pada awal pekan ini  Senin  (17/11).  Penguatan dolar AS terbebani setelah mengalami penguatan cukup signifikan terhadap yen Jepang, kondisi itu mendorong aksi ambil untung pelaku pasar keuangan.  Seiring penguatannya di transaksi antarbank di Jakarta, pada kurs tengah Bank Indonesia (BI) mata uang domestik ini juga bergerak menguat menjadi Rp 12.193 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.206 per dolar AS.  [geng]


 



Rupiah Menguat ke Posisi Rp 12.180 / USD

Wednesday, November 12, 2014

Rupiah Menguat ke Posisi Rp 12.185 / USD

Financeroll - Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Rabu (12/11) sore menguat 30 poin menjadi Rp 12.185 dibanding posisi sebelumnya Rp 12.215 per dolar AS.  Kembali menguatnya mayoritas mata uang di kawasan Asia menjadi salah satu pendorong bagi rupiah kembali ke area positif.


Sentimen dari dalam negeri juga cukup kondusif menyusul suasana politik di dalam negeri yang tidak lagi relatif panas. Kondisi itu menjadi salah satu faktor bagi investor di pasar uang dalam negeri kembali masuk ke rupiah.


Meski demikian, kenaikan mata uang rupiah terhadap dolar AS itu cenderung bersifat spekulatif menyusul kondisi fundamental ekonomi domestik yang belum pasti seiring dengan pelaku pasar yang menunggu kebijakan pemerintah mengenai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.


Fundamental ekonomi Indonesia masih menunggu kepastian kenaikan BBM, setelah itu kebijakan dari Bank Indonesia terkait tingkat suku bunga acuan (BI rate).  Beberapa agenda yang akan dilakukan pemerintah ke depannya salah satunya mengenai infrastruktur juga masih dinanti pelaku pasar.


Faktor teknikal menjadi salah satu pemicu rupiah kembali ke area positif setelah pada perdagangan kemarin, Selasa  (11/11) mengalami depresiasi.  Mata uang rupiah bertahap kembali menguat meski masih dalam kisaran yang sempit. Sementara itu, kurs tengah BI  pada Rabu tercatat mata uang rupiah bergerak melemah menjadi Rp  12.205 dibandingkan posisi sebelumnya Rp  12.163 per dolar AS. [geng]



Rupiah Menguat ke Posisi Rp 12.185 / USD

Friday, October 31, 2014

Aksi Beli Mendominasi, Pasar Uang Domestik Bergerak Positif

Financeroll – Pada perdagangan Jumat (31/10) nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta menguat 52 poin menjadi Rp 12.030,  dibandingkan posisi sebelumnya Rp 12.082 per dolar AS. Pernyataan pemerintah mengenai penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebelum awal Januari 2015 menjadi salah satu sentimen positif bagi mata uang rupiah.  Sementara  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju 30 poin berkat aksi beli  saham jelang akhir perdagangan. Stimulus Bank Sentral Jepang membuat indeks bursa-bursa di Asia melesat, termasuk IHSG.  Penguatan Indeks tertahan oleh aksi jual investor domestik.


Di sisi lain, ekspektasi pelaku pasar uang terhadap data ekonomi domestik yang sedianya akan dipublikan pada awal pekan depan Senin, (3/10) mengenai inflasi Oktober dan neraca perdagangan Indonesia periode September tahun ini diperkirakan membaik.  Inflasi diperkirakan di bawah 0,5 persen dan neraca perdagangan kembali mengalami surplus meski belum signifikan seiring negara tujuan ekspor Indonesia seperti Tiongkok masih mengalami perlambatan.  Penguatan mata uang rupiah masih dibatasi oleh kondisi eksternal yang cenderung mendukung penguatan dolar AS.


Saat ini Amerika Serikat merupakan satu-satunya negara maju yang mengalami pertumbuhan ekonomi ekonomi yang baik dibandingkan Tiongkok, Jepang, dan lainnya.  Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari Jumat (31/10) tercatat mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp 12.082 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.165 per dolar AS.


Dari bursa saham, menutup  perdagangan Sesi I, IHSG naik tipis 9,216 poin (0,18%) ke level 5.068,065 mengekor penguatan bursa-bursa regional. Aksi beli banyak dilakukan investor asing.  Indeks bergerak datar sepanjang perdagangan sesi sore. Sampai muncul aksi borong saham jelang penutupan perdagangan, IHSG pun melesat ke titik tertingginya hari ini.  Mengakhiri perdagangan bulan Oktober ini, IHSG menanjak 30,698 poin (0,61%) ke level 5.089,547. Sementara Indeks LQ45 bertambah 7,760 poin (0,90%) ke level 868,051.  Transaksi investor asing hingga sore hari ini tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 322,751miliar di pasar reguler dan negosiasi. Sedangkan untuk pasar reguler saja nilainya Rp 373,470 miliar.


Perdagangan hari ini berjalan moderat dengan frekuensi transaksi sebanyak 199.445 kali dengan volume 4,169 miliar lembar saham senilai Rp 5,684 triliun. Sebanyak 174 saham naik, 126 turun, dan 87 saham stagnan.  Bank Sentral Jepang memberikan stimulus baru berupa menambah nilai pembelian exchange-traded fund (ETF) dan real estate investment trust, serta memperpanjang durasi portofolio di surat utang pemerintah Jepang.


Penguatan IHSG masih kalah dibandingkan dengan indek saham di bursa-bursa regional lain. Rata-rata penguatan indeks di bursa regional lebih dari 1%.  Berikut situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 terbang 755,56 poin (4,83%) ke level 16.413,76, Indeks Hang Seng melonjak 296,02 poin (1,25%) ke level 23.998,06, dan  Indeks Komposit Shanghai melesat 29,10 poin (1,22%) ke level 2.420,18, dan  Indeks Straits Times menanjak 33,82 poin (1,05%) ke level 3.268,13. [geng]



Aksi Beli Mendominasi, Pasar Uang Domestik Bergerak Positif