Showing posts with label Bursa Domestik. Show all posts
Showing posts with label Bursa Domestik. Show all posts

Sunday, January 18, 2015

Sepekan Ke Depan, Aksi Profit Taking Diperkirakan Masih Dominan

Financeroll – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam  sepekan ke depan, diperkirakan berada pada rentang support 5.130-5.138 dan resisten 5.197-5.235. Pola inverted hammer di atas area upper bollinger band (UBB).  Moving Average Convergence-Divergence (MACD) cenderung death cross dengan histogram negatif yang mendatar. Relative Strength Index (RSI), Stochastic, dan Williams %R cenderung bergerak menurun.


Laju IHSG di bawah area target support (5.150-5.175) dan belum mampu mendekati area target resisten (5.235-5.255).  Tampaknya pasca mendaki hingga sempat melampaui level 5.200, laju IHSG terlihat mengalami tekanan di tengah harapan masih akan berlanjutnya penguatan.


Pada perdagangan sepekan terakhir, IHSG  melemah 68,29 poin (1,30%) ke posisi 5.148,38 pada pekan yang berakhir Jumat (16/1) dibandingkan akhir pekan sebelumnya di angka 5.216,67.  Bursa domestik berpeluang melanjutkan pelemahan jika aksi-aksi profit taking lebih besar. Tetap cermati setiap sentimen dan perubahan yang terjadi.  Adapun data-data ekonomi yang berpengaruh ke sentiment pasar pekan ini adalah:  Indonesia: GDP growth rate, China: House price index yoy, urban investment, GDP growth rate, industrial production, retail sales, fixed asset investment, HSBC manufacturing index.


Untuk sejumlah saham yang layak dipertimbangkan antara lain:  PT Bank Jabar Banten, PT Surya Citra Media, PT Matahari Departement Strore,  PT Hanson International,  PT Waskita Karya,  PT Unilever Indonesia,  PT Summarecon Agung,  PT Bank Central Asia, PT Wijaya Karya Beton,  PT Adi Sarana Armada, dan  PT Malindo Feedmill. [geng]



Sepekan Ke Depan, Aksi Profit Taking Diperkirakan Masih Dominan

Saturday, January 3, 2015

Dalam Sepekan, IHSG Menguat

Financeroll – Meski waktu transaksi terbatas, IHSG dalam sepekan terakhir mampu mempertahankan Penguatannya.  Indeks sempat terimbas negatif oleh defisit neraca perdagangan.  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 75,787 poin (1,46%) ke posisi 5.242,77 pada pekan yang berakhir Jumat, 2 Januari 2015 dibandingkan pekan sebelumnya yang berakhir pada Rabu, 24 Desember 2014 atau sehari sebelum Natal 2014 di angka 5.166,983.


Aksi jual asing masih mendominasi dibandingkan dengan aksi belinya, laju IHSG mampu bertahan di zona hijau di awal pekan.  Di tengah minimnya waktu transaksi di pekan ini, laju IHSG masih dapat menapak di teritori positif.  Pergerakan positif ini,  berbarengan dengan laju rupiah yang mampu berbalik positif setelah dalam pekan sebelumnya lebih banyak menghabiskan waktu di zona merah.


Laju IHSG pun sejalan dengan estimasi kami sebelumnya di mana kami tuliskan tampaknya jelang libur Natal dan mungkin jelang akhir tahun 2014, laju IHSG sedang dijaga untuk mempertahankan momentum kenaikannya.  Meski Indonesia masih dirundung duka jelang akhir tahun atas berbagai tragedi musibah yang terjadi, tidak menghalangi riuh suasana dan euforia pelaku pasar di mana penutupan IHSG di akhir tahun 2014 yang mampu berakhir di zona hijau.  Bahkan mampu melampaui target pencapaian kami di 5.200 di mana sebelumnya banyak yang tidak begitu yakin dengan perkiraan tersebut.


Pelaku pasar yang masih bertahan di bursa domestik, masih melakukan upaya pembelian untuk menjaga laju IHSG untuk dapat bertahan di zona hijaunya.  Bahkan transaksi asing yang berbalik mencatatkan pembelian bersih.  Keinginan untuk dapat menutup perdagangan di teritori positif mampu membuat IHSG melupakan untuk sementara waktu utang gapnya di level 5.059-5.076 dan 5.113-5.125.  IHSG di akhir pekan yang merupakan awal dari hari perdagangan perdana 2015 masih dapat menguat.


Meski kembali mencatatkan nett sell asing dan rilis data-data makroekonomi Indonesia yang tidak begitu baik di mana neraca perdagangan kembali defisit dan melonjaknya inflasi di atas perkiraan tidak menghalangi IHSG untuk dapat melanjutkan penguatannya.  [geng]



Dalam Sepekan, IHSG Menguat

Tuesday, December 2, 2014

Pre Opening: IHSG Diperkirakan Mixed, Cenderung Menguat

Financeroll –  Diperkirakan IHSG masih akan bergerak di kisaran positif hari ini.  Menguatnya Dow Jones serta bursa regional diharapkan dapat memberikan dukungan. IHSG masih melanjutkan penguatan diikuti oleh adanya minat beli asing namun dengan terbentuknya pola shooting star pada hari Selasa kemarin, yang mengindikasikan melambatnya momentum penguatan.  Laju bursa domestik diperkirakan bergerak cenderung mixed, cenderunga menguat. IHSG akan berada di kisaran level 5143-5212. Beberapa saha yang dapat direkomendasikan: ICBP, ADRO, BMRI, BBNI, ISAT, JSMR, ASII, BBTN, dan INTP.


Dari pasar saham Asia, indeks Nikkei 225 dan indeks KOSPI Composite di Jepang dan Korea Selatan menguat +0,54% dan +0,12% pada perdagangan pagi ini, menyusul sentimen positif dari Tiongkok yang akan melonggarkan kebijakan moneternya dengan memangkas suku bunga.  Sementara harga kontrak berjangka (futures) komoditas mengalami koreksi, seperti yang ditunjukkan oleh harga minyak mentah WTI dan emas Comex yang masing-masing turun -1,96% dan -0,18% ke posisi USD  67,65 per barel serta USD  1.197,20 per troy ounce.


Pada perdagangan Selasa (2/12) IHSG ditutup menguat 0,22% pada level 5175, meskipun sempat fluktuatif di area positif. Sektor properti dan konstruksi menyumbangkan penguatan terbesar. Investor asing melakukan net buy senilai Rp 161,8 miliar. Indeks di bursa Wall Street ditutup menguat yang didorong oleh reli pada saham energi dan bioteknologi.


Data construction spending yang mengalami kenaikan 1,1% pada Oktober dan lebih baik dari estimasi 0,6%, juga menimbulkan optimisme akan ekonomi AS. Dow Jones Composite kembali mencapai rekor tertinggi. Saham sektor energi mengalami kenaikan meskipun harga minyak mentah kembali melemah. Hal ini dapat disebabkan karena penurunan saham sektor energi beberapa waktu lalu yang terlalu cepat dan terlalu dalam.


Penurunan harga minyak mentah ditengah output produksi minyak AS yang berada pada level tertinggi selama tiga dekade terakhir serta adanya indikasi melemahnya permintaan global. Menurut Menlu Venezuela, kemungk inan OPEC akan melakukan pertemuan darurat pada triwulan I mendatang. Sementara itu pejabat The Fed menyatakan bahwa turunnya harga minyak mentah akan mendorong kenaikan belanja masyarakat dan membantu pertumbuhan ekonomi.


Dari dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS memberikan sentimen negatif bagi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Kedepan, pelaku pasar menanti rapat dewan gubernur Bank Indonesia (RDG BI), yang salah satunya akan membahas perihal suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate). [geng]



Pre Opening: IHSG Diperkirakan Mixed, Cenderung Menguat