Showing posts with label Bank Rakyat Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Bank Rakyat Indonesia. Show all posts

Saturday, January 3, 2015

PT Bank Rakyat Indonesia Tunjuk Asmawi Syam Sebagai Plt Direktur Utama

Financeroll – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. akhirnya menunjuk Asmawi Syam sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama perseroan.


Asmawi, pria kelahiran Makassar ini menempati posisi yang sebelumnya dijabat Sofyan Basir yang hengkang ke PLN menjadi direktur utama di BUMN tersebut.


Dalam keterbukaan informasi yang dipublikasikan melalui website Bursa Efek Indonesia, Sekretaris Perusahaan BRI Budi Satria mengatakan dewan komisaris BRI telah menunjuk Asmawi Syam sebagai Plt Direktur Utama BRI.


Berlaku efektif terhitung mulai 2 Januari 2015 sampai dengan ditetapkannya direktur utama definitif oleh rapat umum pemegang saham.


Asmawi sebelumnya menjabat Direktur Bisnis Kelembagaan dan BUMN BRI sejak 5 September 2007. Dia memulai karir perbankan di BRI sejak 1980 dan telah menduduki berbagai jabatan manajerial antara lain Kepala Divisi Bisnis Umum, Kepala Divisi Consumer Banking, Pemimpin Wilayah Bandung, dan Pemimpin Wilayah BRI Denpasar.


Saat dihubungi, Direktur Keuangan BRI Achmad Baiquni menyambut baik penunjukan tersebut. Dia optimistis kinerja BRI tahun ini tidak akan terganggu meskipun belum memiliki direktur utama definitif.


Hingga kuartal III/2014 bank pelat merah itu berhasil mengumpulkan laba bersih Rp18,12 triliun, naik 19% dibandingkan periode yang sama 2013 yang hanya mencapai Rp15,23 triliun. Tahun lalu BRI membukukan laba bersih Rp21,16 triliun naik 14,2% dibandingkan 2012. BRI menargetkan perolehan laba bersih sepanjang 2014 mencapai Rp24 triliun.



PT Bank Rakyat Indonesia Tunjuk Asmawi Syam Sebagai Plt Direktur Utama

Friday, December 26, 2014

PT Bank Rakyat Indonesia Terbitkan Obligasi Global Dolar AS

Financeroll – Guna menjaga likuiditas agar tetap longgar, bank pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. berencana menerbitkan obligasi global berdenominasi dolar Amerika Serikat pada tahun depan.


Achmad Baiquni, Direktur Keuangan BRI, mengatakan perseroan telah memasukkan instrumen pendanaan pada tahun depan ke dalam rencana bisnis bank (RBB) 2015.


Obligasi tahun depan bisa rupiah bisa valuta asing, dan itu sudah memasukkan rencana tersebut dalam RBB.


Meski tdiak disebutkan nominalnya, rencana penerbitan surat utang global itu akan bergantung pada kondisi dan suku bunga yang ditawarkan. Penerbitan global bond tersebut mengingat akan kebutuhan utang jatuh tempo tahun depan diperkirakan mencapai Rp2 triliun.


Sebelumnya, BRI telah menerbitkan global bond senilai US$500 juta pada 2013 lalu. Perolehan dana dari emisi obligasi tersebut untuk ekspansi kredit khususnya bagi pendanaan ekspor.


Tidak hanya global bond, BRI berencana menerbitkan obligasi di pasar domestik berdenominasi rupiah. Selain itu, BRI tetap membidik pendanaan melalui penerbitan surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN) dan sertifikat deposito (negotiable certificate depocite/NCD).


Penerbitan instrumen pendanaan itu dimaksudkan untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga Federal Reserve atau Fed Fund Rate (FRR). Kenaikan suku bunga The Fed diperkirakan dapat memicu capital outflow pada tahun depan.


Teranyar, emiten berkode saham BBRI itu menerbitkan MTN tahap II/2014 senilai Rp520 miliar. MTN berkode BBRI01XXMF itu memiliki tingkat bunga tetap 8,9% dan didistribusikan secara elektronik sehari kemudian.


MTN yang akan jatuh tempo pada 4 Januari 2016 itu memiliki tenor 1 tahun. PT Bank Negara Indonesia (Persero) bertindak selaku agen pemantau dengan aranger PT Danareksa Sekuritas, PT Indopremier Securities, dan PT DBS Vickers Securities Indonesia.


Penerbitan MTN tersebut merupakan bagian dari rencana perseroan dengan total emisi Rp2 triliun. Tahap pertama, BRI menerbitkan MTN senilai Rp720 miliar dalam tiga seri.


Manajemen BRI akan menerbitkan sisa MTN senilai Rp760 miliar atau 38% dari total target pada tahun depan. Hingga akhir tahun ini, bank dengan kapitalisasi pasar Rp286,2 triliun tersebut telah menerbitkan MTN senilai Rp1,24 triliun.


Adapun NCD yang telah diterbitkan BRI mencapai Rp955 miliar. NCD yang diterbitkan pada 3 Desember 2014 tersebut terbagi dalam dua seri masing-masing seri A senilai Rp790 miliar dan seri B Rp165 miliar.


NCD seri A memiliki suku bunga 8,6% dengan tanggal jatuh tempo pada 2 Juni 2015. Sedangkan seri B memiliki suku bunga 8% dan akan jatuh tempo pada 2 Maret 2015.


Penerbitan MTN dan NCD tersebut dimaksudkan untuk menjaga likuiditas dan memperbaiki profil pinjaman dari jangka pendek menjadi jangka menengah dan panjang.


Supaya jangan semua profil pinjaman satu bulan, sambil pendalaman pasar.


Hal tersebut sesuai dengan permintaan Bank Indonesia agar perbankan di Tanah Air memperluas instrumen pendanaan. Perluasan itu tentunya dimaksudkan agar pendalaman pasar perbankan kian kokoh.


Sementara itu, posisi dirut BRI kini kosong setelah diangkatnya Sofyan Basir sebagai bos PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Mariani Soemarno.


Tak hanya Sofyan, Direktur Operasional BRI Sarwono Sudarto juga didaulat menjadi direksi PLN periode 2014-2019. Sehingga, dua kursi direksi BRI kosong sepeninggal mereka.


“Kalau di BRI, direkturnya sudah Dirut semua, tinggal tunjuk jadi barang itu, aku sering pergi-pergi,” ujar Sofyan sesaat setelah dirinya ditunjuk sebagai Dirut PLN.



PT Bank Rakyat Indonesia Terbitkan Obligasi Global Dolar AS

Kalangan Perbankan Berharap Pungutan OJK Dikurangi

Financeroll – Kalangan perbankan berharap amandemen atas Peraturan Pemerintah No.11/2014 tentang Pungutan oleh Otoritas Jasa Keuangan bakal meringankan beban mereka khususnya terkait besaran pungutan.


Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. Achmad Baiquni mengatakan pihaknya merespons positif atas usulan OJK kepada pemerintah untuk mengamandemen PP tersebut.


“Artinya akan lebih baik. Kalau besaran pungutan diturunkan bagus, tapi kalau tidak yang bagi kami tidak masalah,” ujarnya.


Hal senada dikemukakan Direktur Utama PT Bank Dinar Indonesia Tbk. Hendra Lie. Menurutnya perbankan bakal lebih leluasa berkompetisi jika pungutan diturunkan. Pasalnya biaya yang harus ditanggung perbankan semakin kompetitif.


“Tapi tentu kami perlu perlajari lebih dulu usulan ,” katanya.


Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Rahmat Waluyanto mengatakan pihaknya telah mengusulkan kepada pemerintah agar mengamandemen PP No.11/2014 tentang Pungutan oleh OJK.


Usulan tersebut disampaikan kepada Menteri Keuangan melalui Surat Ketua Dewan Komisioner OJK pada 5 Desember 2014.


Dalam keterangan tertulis, Rahmat menuturkan melalui amandemen PP Pungutan oleh OJK diharapkan pungutan ke industri keuangan dilaksanakan in the best interest of the industry dengan tetap menjaga keberlangsungan APBN tanpa mengganggu operasi OJK.


Pelaku industri jasa keuangan akan dilibatkan untuk memberi masukan dalam proses penyusunan amandemen tersebut. Hal itu sesuai dengan ketentuan rule making rule dalam Peraturan Dewan Komisioner OJK tahun 2012 tentang Tata Cara Penyusunan Peraturan.


Sesuai PP tersebut pungutan dikenakan kepada sektor jasa keuangan yang meliputi perbankan, pasar modal, perasuransian, dana pensiun, lembaga pembiayaan dan lembaga jasa keuangan lainnya.


Jenis pungutan yang berlaku di OJK meliputi biaya perizinan, persetujuan, pendaftaran, pengesahan, dan penelaahan atas rencana aksi korporasi, serta biaya tahunan dalam rangka pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penelitian.


Pihak yang tidak melakukan atau terlambat membayar pungutan akan dikenai sanksi administratif berupa denda sebesar 2% per bulan dari jumlah pungutan yang wajib dibayar dan paling banyak 48% dari jumlah pungutan yang wajib dibayar dengan ketentuan bagian dari bulan dihitung 1 bulan.



Kalangan Perbankan Berharap Pungutan OJK Dikurangi

PT Bank Rakyat Indonesia Optimis Kinerja Tak Terganggu Meski Tidak Ada Direktur Utama

Financeroll – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. optimistis kekosongan posisi direktur utama tidak akan memengaruhi pencapaian target kinerja keuangan yang ditetapkan tahun ini maupun tahun depan.


Sekretaris Perusahaan BRI Budi Satria mengatakan sejauh ini belum ada penunjukan pelaksana tugas Dirut pasca kepindahan Sofyan Basir ke PT PLN (Persero).


“Tidak ada karena hanya bersisa beberapa hari saja,” ujarnya.


Dia mengatakan penetapan Dirut BRI akan dilakukan melalui rapat umum pemegang saham berikutnya. “Kapan waktunya masih menunggu proses yang berjalan.”


Hal senada juga dikemukakan Direktur Keuangan BRI Achmad Baiquni. Menurutnya hingga kini belum ada keputusan siapa yang akan menjadi Plt Dirut BRI.


Seperti diketahui Dirut BRI sebelumnya Sofyan Basir resmi ditunjuk menjadi Dirut PLN. Sofyan menggantikan Nur Pamudji sebagai orang nomor satu di BUMN sektor listrik tersebut. Selain Sofyan, nama-nama lain yang mengisi jajaran direksi PLN adalah Sarwono Sudarto, Nasri Sebayang, Murtaqi Syamsuddin, Supangkat Iwan Santoso, Amir Rosidin, Nicke Widyawati, dan Amin Subekti.


Kementerian BUMN juga menunjuk sejumlah komisaris baru di PLN yakni Chandra M. Hamzah, Budiman, dan Hasan Bisri. Ketiganya menggantikan Yogo Pratomo, Achmad Yani Basuki dan Jarman yang diberhentikan dengan hormat sebagai anggota dewan komisaris.


BRI menargetkan laba bersih hingga Rp24 triliun sepanjang tahun ini. Tahun depan BRI mematok target pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 15%, dana pihak ketiga (DPK) 13%, dan NIM di kisaran 8,5%. Selain di sektor mikro, BRI juga akan memacu kredit di sektor pertanian dan infrastruktur. Mereka bahkan sudah ancang-ancang untuk ambil bagian dalam sejumlah proyek infrastruktur yang dijalankan pemerintah.


Hingga September 2014 BRI sudah menyalurkan kredit Rp464,19 triliun, meningkat 12,32% dibandingkan periode yang sama dari 2013 yang tercatat Rp413,27 triliun. BRI memang masih mungkin memacu kredit lantaran loan to deposit ratio (LDR) hingga kuartal III/2014 baru mencapai 85,29%, lebih rendah ketimbang periode yang sama 2013 yang mencapai 90,88%.


Non performing loan (NPL) gross BRI per September 2014 tercatat 1,89%. Segmen mikro masih mendominasi porsi penyaluran kredit BRI. Per September 2014 total penyaluran kredit ke segmen mikro tercatat Rp148,43 triliun, naik Rp15,8% dari periode yang sama 2013. Adapun NIM BRI per September 2014 mencapai 8,78%, lebih tinggi dibandingkan kuartal III/2013 yang hanya mencapai 8,25%.


Selain pertumbuhan organik, tahun depan BRI memiliki sejumlah agenda anorganik, salah satunya melalui akuisisi. Bank pelat merah itu masih memburu perusahaan asuransi, sekuritas dan bank lain untuk diakuisisi. Masih ada dana Rp3 triliun yang siap digunakan BRI. Dana itu pun diklaim masih dapat ditambah.


Baiquni sebelumnya mengatakan pihaknya tak keberatan mengakuisisi perusahaan kecil asal nilai dan kinerja perusahaan tersebut lebih bagus dari pasar. Menurutnya akuisisi perusahaan kecil tidak menjadi masalah penting karena BRI sudah memiliki captive market yang besar.


BRI juga akan memacu kinerja anak perusahaan yang belakangan kontribusinya tak terlalu besar. Pada kuartal III/2014 laba konsolidasi BRI tercatat Rp18,16 triliun, sedangkan laba bank only sebesar Rp18,12 triliun.


BRI hingga kini memiliki tiga anak usaha yakni PT Bank BRISyariah, PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk, dan BRI Remittance Co. Ltd. Hong Kong. Total aset BRI Syariah per 30 September 2014 mencapai Rp18,5 triliun atau 2,63% dari total aset konsolidasian.


Total aset BRI Agro pada 30 September 2014 sebesar Rp5,9 triliun atau 0,84% dari total aset konsolidasian, sedangkan total aset BRI Remittance pada periode tersebut sebesar Rp4,9 miliar atau 0,0007% dari total aset konsolidasian.



PT Bank Rakyat Indonesia Optimis Kinerja Tak Terganggu Meski Tidak Ada Direktur Utama

Sunday, December 7, 2014

PT Bank Rakyat Indonesia Akan Akuisisi Asuransi Jiwa Swasta

Financeroll – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. memilih untuk mengakuisisi perusahaan asuransi jiwa swasta ketimbang mencaplok PT Asuransi Jiwasraya (Persero).


Direktur Utama BRI Sofyan Basir menegaskan akan mengakuisisi perusahaan asuransi dengan aset sekitar Rp13 triliun. Proses akuisisi akan rampung pada awal 2015 mendatang. Bukan Jiwasraya, tapi Swasta. Asuransi jiwa.


BRI memang sebelumnya santer dikabarkan akan mengakuisisi sesama BUMN, Jiwasraya.


Namun, manajemen Jiwasraya lebih memilih opsi untuk go public ketimbang diakuisisi.


Sofjan menuturkan, pihaknya telah menyiapkan dana Rp3 triliun untuk mendukung aksi korporasi tersebut.


BRI ingin mengakuisisi perusahaan yang bergerak dalam bidang perbankan, asuransi, dan sekuritas.



PT Bank Rakyat Indonesia Akan Akuisisi Asuransi Jiwa Swasta

Thursday, December 4, 2014

Perbankan Mempertimbangkan Risiko Dalam Menyalurkan Sektor Kemaritiman

Financeroll – Industri perbankan kini tengah mengkaji dan mempertimbangan risiko-risiko yang bakal muncul jika berperan aktif menyalurkan kredit ke sektor kemaritiman.


Direktur Bisnis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Djarot Kusumayakti mengungkapkan ada sesuatu yang jika potensi besar di sektor kemaritiman, tetapi saat bank masuk muncul kualitas aset yang bermasalah.


Hingga September 2014, total fungsi intermediasi sektor kemaritiman mencapai Rp7 triliun. Problem yang kini dihadapi adalah iklim dan tata niaga yang belum jelas.


Bank memilih debitur seperti memilih jagoan. Jika debitur kurang cakap dilapangan maka hal itu akan menjadi masalah besar dan menjadi NPL.


Berdasarkan laporan industri perbankan, hingga September 2014, jumlah penyaluran fungsi intermediasi untuk bidang kemaritiman senilai Rp67,33 triliun atau sekitar 1,85% dari outstanding kredit senilai Rp3.561 triliun. Sedangkan kredit untuk bidang kemaritiman pada 2013 mencapai Rp61,19 triliun atau sekitar 1,78%.


Sayangnya, minimnya penyaluran ke sektor kemaritiman malah menimbulkan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) pada September 2014 mencapai 14,09% atau meningkat dari 13,05% pada akhir 2013.


Direktur Bisnis PT Bank Negara Indonesia Tbk Krishna R. Suparto mengatakan total penyaluran kredit ke sektor kemaritiman mencapai hingga kuartal III/2014 mencapai Rp3 triliun. Menurutnya, jumlah tersebut masih kecil dari total outstanding kredit.


Masih akan mengkaji peningkatan, karena ada masalah yang belum begitu jelas mulai dari data persolan dari hulu hingga pasar.



Perbankan Mempertimbangkan Risiko Dalam Menyalurkan Sektor Kemaritiman

Tuesday, December 2, 2014

PT Bank Rakyat Indonesia Siapkan Kartu Kredit Infinity Untuk Nasabah Kaya

Financeroll – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BRI) menyiapkan kartu kredit infinity khusus untuk membidik nasabah super kaya.


Kepala Divisi Kartu Kredit BRI Mohamad Helmi mengatakan peluang pengembangan bisnis kartu kredit kepada nasabah kaya masih sangat terbuka.


Oleh karena itu, bank pelat merah tersebut berencana meluncurkan produk kartu kredit infinity khusus untuk membidik nasabah dengan kategori di atas pemegang kartu kredit platinum.


Benar-benar yang infinite, lebih tinggi dari nasabah premium. Banyak nasabah BRI masuk kategori ini.


Strategi pemasaran kartu kredit infinite yang akan diluncurkan pada awal tahun depan ini tidak akan dilakukan secara masif. BRI justru hanya akan fokus menggarap captive market yakni nasabah kakap yang memiliki rekening simpanan dalam jumlah besar.


Nasabah premium BRI adalah nasabah yang memiliki simpanan sedikitnya Rp500 juta. Nasabah super premium, lanjutnya, menyimpan dana dalam jumlah yang jauh lebih besar.


Hingga saat ini jumlah nasabah kartu kredit BRI mencapai sekitar 1 juta nasabah, atau sekitar 2% dari total nasabah BRI sebanyak 50 juta nasabah.


Helmi menilai potensi pengembangan bisnis kartu kredit masih sangat terbuka karena menurut hitungannya, nasabah BRI yang layak memiliki kartu pembayaran tersebut mencapai sekitar 5 juta orang atau sekitar 10% dari total nasabah.



PT Bank Rakyat Indonesia Siapkan Kartu Kredit Infinity Untuk Nasabah Kaya

Sunday, November 23, 2014

Bank-Bank Besar Akan Mengincar Sektor Infrastruktur

Financeroll – Sektor infrastruktur diyakini bakal menjadi salah satu primadona penyaluran kredit oleh bank-bank besar tahun depan.


Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Arwin Rasyid mengatakan rencana pemerintah yang akan menggenjot pembangunan infrastruktur membuka peluang bagi perbankan untuk menaikkan porsi kredit.


Harga BBM bersubsidi naik bukan masalah besar, karena tujuannya untuk penghematan yang akan dialokasikan untuk infrastruktur, bank mengikuti bisnis.


Hal penting yang harus dilakukan perbankan adalah memetakan sektor-sektor potensial guna menyalurkan kredit. Ke depan CIMB Niaga berencana menambah porsi penyaluran kredit di sektor infrastruktur, jasa, kesehatan, dan pendidikan.


Optimistis percepatan pembangunan infrastruktur akan memicu arus investasi dan akan berdampak positif pada kondisi likuiditas perbankan. Target pertumbuhan kredit sebesar 15% dan dana pihak ketiga (DPK) 14% yang ditetapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2015 masih mampu dipenuhi industri perbankan.


Penaikan BI Rate menjadi 7,75% tidak akan serta merta memicu kenaikan suku bunga perbankan. belum ada rencana menaikan suku bunga baik dana maupun kredit dalam waktu dekat. Kalaupun naik besarannya tidak akan sama. Ini sebenarnya sinyal agar perbankan slow down.


CIMB Niaga mencatat penurunan laba bersih dari Rp3 triliun pada kuartal III/2013 menjadi Rp2,3 triliun pada kuartal III/2014. Pendapatan bunga per September 2014 mencapai Rp14,7 triliun, lebih tinggi ketimbang periode yang sama 2013 yang tercatat Rp12,6 triliun. Meski begitu beban bunga tercatat naik dari Rp5,12 triliun pada kuartal III/2013 menjadi Rp6,96 triliun pada periode yang sama 2014.


Pendapatan operasional non bunga per September 2014 juga lebih sedikit ketimbang periode yang sama 2013. Hingga kuartal III/2014 pendapatan operasional CIMB Niaga tercatat Rp2,51 triliun, sedangkan pada periode yang sama 2013 mencapai Rp2,68 triliun. Beban operasional non bunga per September 2014 juga lebih tinggi ketimbang periode yang sama 2013. Per September 2014 beban operasional non bunga tercatat Rp7 triliun, sedangkan pada September 2013 Rp5,98 triliun.


Tak hanya CIMB Niaga yang masih menahan suku bunga meskipun BI Rate telah naik. PT Bank Central Asia Tbk pun baru berencana menyesuaikan suku bunga tahun depan. Saat ini sedang kaji penurunan suku bunga kredit perumahan rakyat (KPR), mungkin tahun depan secara bertahap, kalau suku bunga kredit lainnya tahun ini akan ditahan dulu.


PT Bank Rakyat Indonesia Tbk juga menyatakan bakal mengkaji sektor-sektor potensial penyaluran kredit seiring dinamika ekonomi yang terjadi. Direktur Keuangan BRI Achmad Baiquni sebelumnya mengatakan penyaluran kredit ke sektor infrastruktur cukup menarik. Namun pihaknya juga tetap berupaya memacu kredit di sektor mikro yang selama ini menjadi andalan BRI.


Tidak terlalu khawatir dengan kenaikan non performing loan (NPL) di mikro kalaupun suku bunga dinaikkan karena di segmen ini yang terpenting adalah akses.


Menurut data Statistik Perbankan Indonesia yang dilansir OJK penyaluran kredit oleh bank umum ke sektor listrik, gas, dan air per September 2014 mencapai Rp88 triliun, sedangkan pada September 2013 Rp72,73 triliun. Penyaluran kredit ke sektor konstruksi pada September 2013 tercatat Rp120,4 triliun, sedangkan pada periode yang sama 2014 mencapai Rp142,94 triliun.


Adapun penyaluran kredit ke sektor jasa pendidikan per September 2014 tercatat Rp6,75 triliun dari sebelumnya hanya Rp5 triliun pada September 2013. Penyaluran kredit ke sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial juga tercatat naik dari Rp9,6 triliun pada September 2013 menjadi Rp11,83 triliun pada periode yang sama 2014.



Bank-Bank Besar Akan Mengincar Sektor Infrastruktur

Monday, November 3, 2014

Dari 20 Perusahaan BUMN, Ada 7 Yang Tumbuh Diatas 6,3%

Financeroll – Kinerja 7 dari 20 perusahaan emiten pelat merah tercatat tumbuh dengan rata-rata 6,39% pada 9 bulan pertama tahun ini akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi.


Dari ketujuh emiten badan usaha milik negara (BUMN) tersebut, emiten farmasi PT Kimia Farma (Persero) Tbk. tercatat meraih pertumbuhan laba bersih tertinggi mencapai 18,43%.


Pada kuartal III/2014, Kimia Farma meraup laba bersih Rp143,82 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp121,44 miliar.


Penurunan laba bersih paling dalam dibukukan oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. hingga 28,57%.


Per 30 September 2014, BTN meraup laba bersih Rp755 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp1,05 triliun.


Pertumbuhan pendapatan tertinggi tercatat dibukukan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. sebesar 29,66%.


BRI meraup pendapatan Rp52,8 triliun dari sebelumnya Rp40,7 triliun.


PT Semen Baturaja (Persero) Tbk. tercatat menjadi emiten BUMN dengan pertumbuhan pendapatan paling rendah yakni hanya mencapai 2,77%.


Semen Baturaja membukukan pendapatan Rp816 miliar dari sebelumnya Rp794 miliar.


Kepala Riset Koneksi Kapital mengatakan kinerja emiten BUMN dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.


Dampak penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tahun lalu, berakibat pada belanja masyarakat termasuk korporasi berkurang.


Tahun ini, emiten tidak seekspansif dibandingkan tahun lalu. Tapi sektor jasa khususnya jasa konstruksi dan keuangan tidak begitu terpengaruh oleh perlambatan ini.


Emiten BUMN konstruksi dan perbankan dapat bertahan dari tekanan kenaikan biaya produksi terutama akibat kenaikan harga BBM, tarif dasar listrik, dan kenaikan harga barang. Kedua sektor tersebut lebih tahan dibandingkan sektor manufaktur.


Sektor perbankan, kinerja PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dan BRI dinilai lebih tinggi dari ekspektasi. Namun, untuk BTN kinerjanya dinilai wajar karena menjadi bank khusus yang menyalurkan kredit perumahan dengan tenor panjang.


Sektor konstruksi, terdapat PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. dan PT Adhi Karya (Persero) tbk. dinilai masih menjanjikan.


Akan tetapi, Adhi Karya diperkirakan akan membukukan kinerja di bawah ekspektasi.


Kepala Riset Woori Korindo Securities Indonesia, mengaku cukup terkejut dengan pertumbuhan yang dibukukan oleh KAEF.


Emiten farmasi ini diperkirakan hanya mampu tumbuh 10%-11%. KAEF lebih tinggi dari perkiraan .


Sementara kinerja BBRI dan BMRI dinilai sesuai dengan ekspektasi.


Tetapi, Woori Korindo telah melakukan revisi target pertumbuhan sektor perbankan akibat perlambatan ekonomi dan kebijakan Bank Indonesia yang lebih ketat.


Kinerja TLKM lebih rendah dari ekspektasi yang telah direvisi oleh Woori Korindo. Awalnya, diperkirakan TLKM dapat tumbuh hingga 9%, kemudian dikoreksi menjadi 5%-6% pada tahun ini.


Kendati demikian dinilai industri telekomunikasi di Tanah Air memang tengah mengalami penurunan. Telkom tercatat menjadi emiten yang masih memiliki pertumbuhan positif.


Pada bagian lain, JSMR juga dinilai tumbuh mengesankan. Peningkatan laba 11,76% dinilai sedikit lebih tinggi dari ekspektasi yang hanya 10%. Kenaikan laba JSMR tertolong oleh peningkatan tarif tol dan volume kendaraan.


Begitu pula dengan SMBR yang dinilai dapat tumbuh lebih baik ketimbang rata-rata pertumbuhan industri. Diperkirakan pertumbuhan SMBR hanya mampu mencapai 5%-6%, namun justru dapat mencapai 8,95%.


Hingga akhir tahun, diperkirakan kinerja sejumlah emiten BUMN masih akan tertekan. Di antaranya PT Indofarma (Persero) Tbk, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk., PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, PT Bukit Asam (Persero) Tbk, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, dan PT Timah (Persero) Tbk.


Adapun emiten konstruksi milik pemerintah dinilai masih menjanjikan untuk meraup pertumbuhan kinerja positif.


Tercatat ada PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, dan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk.


Emiten konstruksi masih ada harapan, dengan adanya proyek konstruksi, adanya program carry over kontrak sebelumnya, masih cukup tertolong.



Dari 20 Perusahaan BUMN, Ada 7 Yang Tumbuh Diatas 6,3%

Tuesday, October 28, 2014

PT Bank Rakyat Indonesia Resmikan Gedung Baru di BSD Senilai Rp90 Miliar

Financeroll – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk meresmikan gedung baru di kawasan Bumi Serpong Damai Tangerang Selatan.


Gedung tersebut akan digunakan sebagai Kantor Wilayah BRI Jakarta 3 yang membawahi wilayah Banten dan Kalimantan Barat.


Direktur Utama BRI Sofyan Basir mengatakan pembangunan gedung tersebut menelan biaya Rp90 miliar. Dana pembangunan sudah dialokasikan tahun lalu dari capex.


Akan membangun lagi tahun depan kemungkinan di Semarang, Lampung dan kota besar lainnya, dananya kemungkinan sama.


Kanwil BRI Jakarta 3 membawahi 227 unit kerja mikro dan ritel di Provinsi Banten, 112 unit kerja mikro dan ritel di DKI Jakarta, dan 103 unit kerja mikro dan ritel di Kalimantan Barat. Dalam gedung baru tersebut juga terdapat unit kerja premium pertama BRI.


BRI menargetkan laba bersih perseroan tahun ini akan mencapai Rp24 triliun. Hingga kuartal III/2014 bank pelat merah itu berhasil mengumpulkan laba bersih Rp18,12 triliun, naik 19% dibandingkan periode yang sama 2013 yang hanya mencapai Rp15,23 triliun. Tahun lalu BRI membukukan laba bersih Rp21,16 triliun naik 14,2% dibandingkan 2012.



PT Bank Rakyat Indonesia Resmikan Gedung Baru di BSD Senilai Rp90 Miliar

Thursday, October 23, 2014

PT Bank Rakyat Indonesia Raih Juara Umum Annual Report Award 2014

Financeroll – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. tampil sebagai juara umum dalam ajang Annual Report Award (ARA) 2014 untuk laporan keuangan 2013.


Bank BRI juga berhasil menyabet penghargaan juara pertama untuk kategori BUMN Listed Company. Direktur Utama BRI mengatakan penghargaan ini sejalan dengan prestasi kinerja BRI yang konsisten menjaga pertumbuhan dan kesehatan bisnis.


Hingga triwulan II/2014 BRI mencatat laba bersih Rp11,72 triliun atau naik 17,11% year on year. Pencapaian laba bersih tersebut merupakan hal yang positif di tengah kondisi politik dan ekonomi domestik yang kurang kondusif.


Pertumbuhan kredit BRI yang mencapai 17,19% year on year, dari Rp391,77 triliun pada triwulan II/2013 lalu menjadi Rp459,13 triliun pada triwulan II/2014 dengan non performing loan di level 0,57%.


Hingga akhir triwulan II/2014 total dana pihak ketiga (DPK) BRI mencapai Rp488,45 triliun atau tumbuh 11,27% year on year, dengan kontribusi sumber dana murah (CASA) sebesar 57,3%.


ARA adalah salah satu penghragaan untuk menilai kualitas Penerapan Good Corporate Governance dengan mengacu pada ketentuan penilaian yang berlaku secara internasional. Ajang kali ini mengusung tema “Membangun Daya Saing Ekonomi Indonesia untuk Menyongsong Integrasi Ekonomi ASEAN 2015 Melalui Transparansi Informasi”. Acara penganugerahan bagi para pemenang digelar di Jakarta.



PT Bank Rakyat Indonesia Raih Juara Umum Annual Report Award 2014