Showing posts with label Pertumbuhan Ekonomi. Show all posts
Showing posts with label Pertumbuhan Ekonomi. Show all posts

Sunday, January 18, 2015

Target Pertumbuhan Ekonomi Pemerintahan Jokowi Berpotensi Melimpah

Financeroll – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai target pertumbuhan ekonomi pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla bukan keniscayaan.


Indonesia memiliki potensi berlimpah. Dengan contoh jumlah penduduk Indonesia mencapai 250 juta orang dan sebagian besar merupakan kelompok usia produktif dengan kelas menengah yang terus bertumbuh.


Indonesia juga dianugerahi kekayaan alam yang melimpah di seluruh wilayahnya.


Diyakini dengan mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi tersebut dalam beberapa tahun ke depan, bukanlah hal yang mustahil dicapai.


Namun potensi tersebut juga mengandung tantangan. Misalnya, dengan jumlah penduduk yang besar, artinya perlu banyak lapangan kerja.


Karena itu, pertumbuhan ekonomi juga harus dipacu lebih tinggi agar dapat terus menyerap tambahan angkatan kerja.



Target Pertumbuhan Ekonomi Pemerintahan Jokowi Berpotensi Melimpah

Monday, January 5, 2015

Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Kian Melambat

Financeroll – Suku bunga repo perbankan China turun terbesar dalam dua pekan terakhir setelah dana segar kembali masuk pasar di awal tahun. Suku bunga repo tujuh hari turun 50 basis poin menjadi 4,33%, kemarin.


Pada akhir tahun lalu, permintaan dana tinggi karena pengecekan dana oleh regulator serta permintaan dana menjelang liburan. Deng Haiqing, analis Citic Securities Co mengatakan, pencadangan menjelang libur mengetatkan pasar di akhir tahun. “Pekan ini, pengetatan di pasar uang mulai mereda karena tidak ada faktor yang mempengaruhi likuiditas,” kata Deng kepada Bloomberg.


Melonggarnya suku bunga repo ini sedikit memberi kabar baik di tengah kondisi ekonomi China yang sedang tertekan. Indeks manufaktur dalam Purchasing Managers’ Index (PMI) turun ke level 50,1 pada bulan Desember  2014 dari posisi 50,3 pada bulan sebelumnya.


Data resmi ini menunjukkan bahwa indeks manufaktur China berada di titik terendah dalam 1,5 tahun terakhir. Sedangkan, data PMI China keluaran HSBC Holdings Plc dan Markit Economics di level 49,6 yang menunjukkan kontraksi.


PMI sektor jasa justru membaik dari 53,9 pada bulan November 2014 menjadi 54,1 pada Desember 2014 lalu. Tapi, para pengamat menduga, pertumbuhan ekonomi China sepanjang tahun lalu berada di bawah target pemerintah pada 7,5%.


Analis Nomura Securities mengatakan, produksi pabrik yang tinggi menekan para produsen untuk memangkas harga. “Dengan rendahnya tekanan inflasi, kami memprediksi lebih banyak pelonggaran kebijakan pada kuartal pertama, termasuk pemangkasan rasio pencadangan perbankan sebesar 50 basis poin,” kata Nomura dalam risetnya.


Chang Jian, Kepala Ekonom China di Barclays memprediksi, penurunan biaya dana masih akan menjadi prioritas kebijakan China tahun ini. Pasalnya, penurunan suku bunga acuan pada November 2014 belum banyak berdampak pada suku bunga kredit.


Pertumbuhan 7,1%


Standard Chartered memprediksi, pertumbuhan ekonomi China tahun ini akan melambat menjadi 7,1% dibandingkan dengan prediksi tahun lalu sebesar 7,3%. Standard Chartered mendasarkan prediksi atas tren yang terjadi tahun lalu. “Mencapai angka pertumbuhan ini tidak akan mudah karena pelemahan pasar tenaga kerja, tekanan deflasi dan tingginya suku bunga kredit,” kata Standard Chartered dalam laporannya.


Angka prediksi Standard Chartered ini sejalan dengan outlook dari Bank Sentral China. People’s Bank of China (PBOC) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi China tahun ini akan melambat menjadi 7,1%. Dalam laporan Desember 2014 yang dikutip kantor berita Xinhua, PBOC memperkirakan, pertumbuhan ekonomi China di 2014 sebesar 7,4%, sedikit di bawah target pemerintah.


Sementara itu, Chinese Academy of Social Sciences (CASS) meramal, pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya 7%. Angka prediksi ini jauh di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi dalam 35 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi tahunan rata-rata China antara 1978 hingga 2013 hampir 10%. Sedangkan, rata-rata pertumbuhan ekonomi tahunan antara 2003-2007 mencapai lebih dari 11,5%.



Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Kian Melambat

Monday, December 29, 2014

Pertumbuhan Ekonomi Vietnam Melaju Diatas Ekspetasi

Financeroll – Pertumbuhan ekonomi Vietnam kuartal terakhir tahun ini melaju di atas ekspektasi, terdongkrak oleh bank yang agresif menggelontorkan pinjaman dan banjirnya investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) yang mendorong ekspor.


Kantor Statistik Vietnam melaporkan produk domestik bruto (PDB) tumbuh 6,96% pada kuartal IV/2014 dari periode sama tahun sebelumnya, naik dari kuartal sebelumnya 6,07%. Dengan demikian, Vietnam tumbuh 5,98% sepanjang tahun ini, melampaui target pemerintah 5,8%.


Pertumbuhan ekonomi naik signifikan berkat kinerja ekspor, terutama oleh perusahaan-perusahaan asing di sini. Ekonomi memang tumbuh lebih dari ekspektasi, namun harus tetap berhati-hati.


Kantor statistik mencatat ekspor negara itu naik 13,6% tahun ini dari tahun sebelumnya, di saat FDI mencatatkan kenaikan 7%. Menurut data, 68% atau US$101,6 miliar dari total nilai ekspor dilakukan oleh perusahaan asing seperti Samsung Electronics Co dan LG Electronics.


Terkait pinjaman, bank sentral negara itu memang telah menurunkan tingkat bunga deposito mata uang dong pada Oktober, dan memangkas beberapa suku bunga lainnya demi mendorong aktivitas bisnis. Adapun, pinjaman naik 12,6% per Desember, namun penurunan harga minyak dunia membantu Vietnam mengendalikan inflasi.


Pemerintah melaporkan inflasi melambat ke level 1,84% pada Desember (year-on-year), laju paling rendah sejak 2006. Data yang sama menunjukkan penjualan retail tumbuh 10,6% tahun ini dari tahun lalu, terdiri atas sektor jasa yang tumbuh 10% dan manufaktur tumbuh 8,45%.



Pertumbuhan Ekonomi Vietnam Melaju Diatas Ekspetasi

Tuesday, December 2, 2014

Filipina Alami Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi

Financeroll – Pertumbuhan Filipina melambat pada kuartal III/2014 ke level terlemah sejak 2011. Perlemahan pertumbuhan terutama disebabkan oleh lesunya belanja pemerintah.


Otoritas Statistik Filipina mencatat negara itu tumbuh 5,3% pada kuartal ketiga setelah naik 6,4% pada kuartal sebelumnya. Kendati konsumsi domestik tengah gemilang dan produksi industri naik agresif, lesunya belanja pemerintah secara signifikan melemahkan ekspansi.


Kelesuan belanja pemerintah merupakan penyebab utama. Faktor lainnya adalah memburuknya kontribusi sektor pertanian terhadap pertumbuhan.


Jika belanja pemerintah konsisten menunjukkan perlemaham, hal ini akan berisiko mengagalkan ambisi Presiden Filipina Benigno Aquino untuk menggenjot pertumbuhan ke level 8,5% pada 2016, saat jabatan keturunan elit politik Filipina tersebut usai.


Adapun, data menunjukkan belanja pemerintah turun 2,6% pada kuartal ketiga dibanding periode sama tahun lalu, produksi sektor pertanian turun 2,7%. Di sisi lain, kontribusi indikator pertumbuhan lain seperti belanja domestik naik 5,2%, output industri naik 7,6%, dan sektor jasa tumbuh 5,4%.



Filipina Alami Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi

Thursday, November 20, 2014

Perkembangan Dunia Usaha Tangerang Selatan

Financeroll – Perkembangan dunia usaha di Tangerang Selatan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang akan dirasakan manfaanya oleh banyak warga, terutama lapangan kerja yang semakin banyak tersedia.


Konsultan Jasa Perizinan dan Pengembangan Usaha, memberi contoh peran dunia usaha tersebut dapat dilihat dari kegiatan jasa laundry kiloan yang memiliki daya dorong yang cukup bagus bagi pertubuhan ekonomi di masyarakat.


Sebab, usaha laundry yang berkembang akan semakin banyak membutuhkan tenaga mulai dari mitra bisnis penyedia konter penampung pakaian, petugas pengantar pakaian kotor dan yang sudah dicuci, pekerja di workshop.


Sementara itu Airin Rachmi Diany, Walikota Tangerang Selatan, mengatakan peran swasta sangat penting bagi pembangunan sektor ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraaan masyarakat di wilayahnya.


Melalui kehadiran swasta akan terbuka peluang usaha yang lebih banyak serta dapat mengurangi angka pengangguran melalui berbagai program tanggung jawab sosialnya atau Corporate Social Responsibility (CSR).


Untuk itu, peningkatan perekonomian di suatu daerah merupakan hasil sinergi antara pemerintah daerah sebagai fasilitator dan pihak swasta.


Semangat dari sinergi itu tercermin dalam Undang-undang No. 25/2007 tentang Penanaman Modal dan Undang-undang No. 40/2007 tentang Perseroan Terbatas, yang mengisyaratkan perlunya harmonisasi perusahaan dengan masyarakat.


Sehingga masyarakat bukan hanya jadi penonton dari tumbuhnya suatu kawasan industri atau perdagangan dan jasa. Tetapi, masyarakat juga dilibatkan langsung dalam kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan mereka.


Sebelumnya, Webtangsel memberitakan bahwa Airin dalam satu kegiatan bertajuk “Mari Menata Tangerang Selatan Melalui CSR,” mengajak semua perusahaan lebih aktif dalam Forum CSR Kota Tangsel.


Forum itu menjadi wadah bagi terwujudnya program pembangunan yang disusun bersama, sekaligus meningkatkan komunikasi antar anggota dan pemerintah daerah serta menjalin kerjasama dengan seluruh stakeholder.


Kepada perusahaan yang belum terlibat dalam Forum CSR Kota Tangsel, agar segera bergabung dan ikut aktif melaksanakan program CSR.



Perkembangan Dunia Usaha Tangerang Selatan

Monday, November 3, 2014

Dari 20 Perusahaan BUMN, Ada 7 Yang Tumbuh Diatas 6,3%

Financeroll – Kinerja 7 dari 20 perusahaan emiten pelat merah tercatat tumbuh dengan rata-rata 6,39% pada 9 bulan pertama tahun ini akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi.


Dari ketujuh emiten badan usaha milik negara (BUMN) tersebut, emiten farmasi PT Kimia Farma (Persero) Tbk. tercatat meraih pertumbuhan laba bersih tertinggi mencapai 18,43%.


Pada kuartal III/2014, Kimia Farma meraup laba bersih Rp143,82 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp121,44 miliar.


Penurunan laba bersih paling dalam dibukukan oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. hingga 28,57%.


Per 30 September 2014, BTN meraup laba bersih Rp755 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp1,05 triliun.


Pertumbuhan pendapatan tertinggi tercatat dibukukan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. sebesar 29,66%.


BRI meraup pendapatan Rp52,8 triliun dari sebelumnya Rp40,7 triliun.


PT Semen Baturaja (Persero) Tbk. tercatat menjadi emiten BUMN dengan pertumbuhan pendapatan paling rendah yakni hanya mencapai 2,77%.


Semen Baturaja membukukan pendapatan Rp816 miliar dari sebelumnya Rp794 miliar.


Kepala Riset Koneksi Kapital mengatakan kinerja emiten BUMN dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.


Dampak penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tahun lalu, berakibat pada belanja masyarakat termasuk korporasi berkurang.


Tahun ini, emiten tidak seekspansif dibandingkan tahun lalu. Tapi sektor jasa khususnya jasa konstruksi dan keuangan tidak begitu terpengaruh oleh perlambatan ini.


Emiten BUMN konstruksi dan perbankan dapat bertahan dari tekanan kenaikan biaya produksi terutama akibat kenaikan harga BBM, tarif dasar listrik, dan kenaikan harga barang. Kedua sektor tersebut lebih tahan dibandingkan sektor manufaktur.


Sektor perbankan, kinerja PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dan BRI dinilai lebih tinggi dari ekspektasi. Namun, untuk BTN kinerjanya dinilai wajar karena menjadi bank khusus yang menyalurkan kredit perumahan dengan tenor panjang.


Sektor konstruksi, terdapat PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. dan PT Adhi Karya (Persero) tbk. dinilai masih menjanjikan.


Akan tetapi, Adhi Karya diperkirakan akan membukukan kinerja di bawah ekspektasi.


Kepala Riset Woori Korindo Securities Indonesia, mengaku cukup terkejut dengan pertumbuhan yang dibukukan oleh KAEF.


Emiten farmasi ini diperkirakan hanya mampu tumbuh 10%-11%. KAEF lebih tinggi dari perkiraan .


Sementara kinerja BBRI dan BMRI dinilai sesuai dengan ekspektasi.


Tetapi, Woori Korindo telah melakukan revisi target pertumbuhan sektor perbankan akibat perlambatan ekonomi dan kebijakan Bank Indonesia yang lebih ketat.


Kinerja TLKM lebih rendah dari ekspektasi yang telah direvisi oleh Woori Korindo. Awalnya, diperkirakan TLKM dapat tumbuh hingga 9%, kemudian dikoreksi menjadi 5%-6% pada tahun ini.


Kendati demikian dinilai industri telekomunikasi di Tanah Air memang tengah mengalami penurunan. Telkom tercatat menjadi emiten yang masih memiliki pertumbuhan positif.


Pada bagian lain, JSMR juga dinilai tumbuh mengesankan. Peningkatan laba 11,76% dinilai sedikit lebih tinggi dari ekspektasi yang hanya 10%. Kenaikan laba JSMR tertolong oleh peningkatan tarif tol dan volume kendaraan.


Begitu pula dengan SMBR yang dinilai dapat tumbuh lebih baik ketimbang rata-rata pertumbuhan industri. Diperkirakan pertumbuhan SMBR hanya mampu mencapai 5%-6%, namun justru dapat mencapai 8,95%.


Hingga akhir tahun, diperkirakan kinerja sejumlah emiten BUMN masih akan tertekan. Di antaranya PT Indofarma (Persero) Tbk, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk., PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, PT Bukit Asam (Persero) Tbk, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, dan PT Timah (Persero) Tbk.


Adapun emiten konstruksi milik pemerintah dinilai masih menjanjikan untuk meraup pertumbuhan kinerja positif.


Tercatat ada PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, dan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk.


Emiten konstruksi masih ada harapan, dengan adanya proyek konstruksi, adanya program carry over kontrak sebelumnya, masih cukup tertolong.



Dari 20 Perusahaan BUMN, Ada 7 Yang Tumbuh Diatas 6,3%

Friday, October 31, 2014

Mitra Phinasthika Alami Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Menjadi Rp398,7 Miliar

Financeroll – Perlambatan pertumbuhan ekonomi pada tahun ini disebut menjadi alasan merosotnya laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk PT Mitra Phinasthika Tbk. menjadi Rp398,7 miliar pada kuartal III/2014.


Perolehan tersebut tercatat turun tipis 2,93% dari periode yang sama tahun lalu Rp410,8 miliar. Laba periode berjalan yang dibukukan perseroan mencapai Rp426,1 miliar dari sebelumnya Rp440,4 miliar.


Direktur Utama Mitra Phinasthika, menyebutkan perlambatan pertumbuhan ekonomi, pengetatan likuiditas, dan defisit transaksi berjalan yang masih lebar berdampak pada pertumbuhan bisnis perseroan.


Menghadapi tantangan tersebut, akan berfokus melakukan hal-hal fundamental dan melakukan pendekatan lebih konservatif di seluruh lini bisnis kami.


Emiten berkode saham MPMX membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 16,5% menjadi Rp12 triliun dan laba kotor sebesar 14,3% menjadi Rp1,7 triliun dibandingkan dengan periode yang sama di tahun lalu.


Pada September lalu, MPMX, melalui anak perusahaannya, MPM Global Pte. Ltd., menerbitkan obligasi (senior notes) bertenor 5 tahun senilai US$200 juta dengan yield sebesar 6,75%. Penawaran obligasi ini diklaim mengalami kelebihan permintaan hingga 7 kali atau senilai US$1,4 miliar.



Mitra Phinasthika Alami Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Menjadi Rp398,7 Miliar

Sunday, October 19, 2014

Tidak Samanya Pertumbuhan Konsumsi Swasta dan Investasi Dapat Menggerus Pertumbuhan Ekonomi

Financeroll – Ketimpangan laju pertumbuhan antara konsumsi swasta dan investasi yang kian menganga menandakan kebutuhan impor yang semakin besar dan berpotensi menggerus kualitas pertumbuhan ekonomi.


Kepala Lembaga Penyelidikan Masyarakat dan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI) mengatakan indikasi pertumbuhan investasi perekonomian stabil dan sehat.


Kesenjangan antara 2 elemen itu tercermin dalam pergerakan faktor-faktor pembentuk produk domestik bruto (PDB), paling tidak dalam 2 tahun terakhir. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sejak 2012 hingga kuartal II/2014 pertumbuhan konsumsi swasta relatif stagnan pada kisaran 5,1%-5,7%.


Sebaliknya, pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto tercatat melambat tajam menjadi 4,5% pada kuartal II/2014. Padahal pada kuartal I/2012 pertumbuhannya melonjak ke level 12,3%.


Sepanjang kuartal II/2012 misalnya, investasi tumbuh melampaui konsumsi. Pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto mencapai 12,3% sedangkan konsumsi tak bergerak banyak di kisaran 5,2%. Saat itu pertumbuhan produk domestik bruto melonjak ke level 6,4%.


Ketimpangan ini juga berujung pada performa neraca perdagangan. Kalau konsumsi tetap tetapi investasi melambat artinya ada kebutuhan produk yang tidak bisa dipenuhi dari dalam negeri. Harusnya inflasi meningkat, tapi ini inflasi stabil berarti ada impor untuk memenuhinya.


Data dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan inflasi terjaga pada level 4,53% per September 2014. Adapun sepanjang Januari-Agustus 2014 nilai neraca perdagangan Indonesia menorehkan defisit US$1,41 miliar.


Sebuah penelitian dari LPEM FEUI, menunjukkan paling tidak ada 3 faktor yang memicu perlambatan investasi dalam negeri. Pertama, ketidakstabilan kondisi makro ekonomi; kedua cost financing yang tinggi karena tingkat suku bunga yang melambung, dan terakhir, kondisi infrastruktur yang tak kunjung membaik.


Dengan kondisi demikian akan sulit mengejar target pertumbuhan ekonomi. Apalagi jika pemerintah baru nanti tak bergerak cepat mengejar target pertumbuhan sebesar 5,8% menjadi terlampau muluk. Kalau begini bisa jadi pasar saja.



Tidak Samanya Pertumbuhan Konsumsi Swasta dan Investasi Dapat Menggerus Pertumbuhan Ekonomi

Saturday, October 18, 2014

Target Pertumbuhan Ekonomi 5,8% Sulit Tercapai

Financeroll – Target pertumbuhan ekonomi 5,8% pada 2015 sulit dicapai karena prospek normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat dan penyehatan fiskal di dalam negeri.


Pesimisme itu diungkapkan Menteri Keuangan M. Chatib Basri setibanya di Tanah Air dari World Bank-IMF Meeting di Washington DC, AS, pekan lalu.


Chatib mengemukakan hampir seluruh sumber pertumbuhan menghadapi kendala untuk melaju.


Pelemahan rupiah tidak serta-merta memantik ekspor karena perlambatan ekonomi China, negara tujuan ekspor terbesar Indonesia, otomatis menurunkan permintaan.


Sementara itu, investasi tidak akan mudah seiring prospek pengetatan moneter di dalam negeri untuk merespons penaikan suku bunga the Fed.


Di sisi lain, belanja pemerintah sedikit tertekan karena pengetatan fiskal seiring rencana pemerintahan baru mengurangi subsidi BBM. Kecuali, jika ada realokasi dari hasil pemangkasan subsidi ke belanja lain.


Tidak akan mudah kalau slowdown seperti itu, saat peluang pertumbuhan 5,8% tahun depan.


Meskipun demikian Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional menganggap perlambatan ekonomi Indonesia di kisaran 5% relatif lumayan dibandingkan dengan the Fragile Five.


Kedua lembaga internasional itu melihat pertumbuhan negara berkembang sedang dalam era melambat.


Afrika Selatan hanya tumbuh 1,8%, Turki 3%, sedangkan Brasil resesi.


Adapun, pertumbuhan Indonesia yang hanya 5,12% pada kuartal II/2014 dianggap cukup tinggi, bersama India dan China yang masing-masing tumbuh 5,7% dan 7,5%.


Tahun 2014-2015, berharap pertumbuhan tinggi memang tidak terlalu mudah karena kecenderungan global juga begitu.



Target Pertumbuhan Ekonomi 5,8% Sulit Tercapai

China Catat Kenaikan Nilai Ekspor Impor Membuat Pasar Glolbal Bergairah

Financeroll – Pasar kembali bergairah setelah China mencatatkan kenaikan nilai ekspor dan impor pada September 2014, yang menandakan bergeraknya pertumbuhan ekonomi di negara tersebut dan diharapkan bisa menjadi penopang di tingkat global.


Ekonom Panin Sekuritas mengatakan data yang dirilis pagi ini mengimbangi sentimen negatif yang beredar di pasar, setelah IMF belum lama ini memangkas pertumbuhan ekonomi global tahun 2014 dari 3,4% menjadi 3,3%.


Data itu menunjukkan China tumbuh ekonominya.


Dia mengemukakan memang surplus perdagangan China yang baru dirilis lebih rendah dari ekspektasi, yaitu US$30,9 miliar kenyataannya. Sementara itu diprediksi mencapai US$41,1 miliar.


Namun ekspor yang mengalami peningkatan di atas ekspektasi, menunjukkan bagusnya permintaan global, termasuk Amerika Serikat.


Nilai impor China yang jauh melebihi ekspektasi, ujarnya, juga menunjukkan permintaan domestik di negeri Tirai Bambu tersebut menguat.


Bangkitnya ekonomi China tersebut, diharapkan mengimbangi pandangan pasar pada pertumbuhan global, terutama dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi di kawasan Eropa dan Jepang.


Seperti diketahui Ekspor China naik 15,3% dari tahun sebelumnya, menurut data kepabeanan China. Sedangkan angka tengah para analis yang disurvei menyebutkan pertumbuhan hanya 12%.


Impor dilaporkan naik 7%, padahal sebelumnya diproyeksikan terjadi penurunan sebesar 2%.



China Catat Kenaikan Nilai Ekspor Impor Membuat Pasar Glolbal Bergairah

Wednesday, October 15, 2014

Prospek Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Menghadapir Resiko Domestik

Financeroll – Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia menghadapi risiko dari sisi domestik berupa keterbatasan pasokan barang dan jasa di dalam negeri.


Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan kendala suplai itu terjadi karena produktivitas yang rendah. Penyebabnya adalah belanja riset dan pengembangan yang minim, kualitas sumber daya manusia yang rendah, dan kapasitas inovasi yang belum mumpuni.


Mengutip data Asian Productivity Organization (APO), disebutkan produktivitas Indonesia hanya 0,5, lebih rendah dari Malaysia yang mencapai 1, Thailand 1,9, dan Vietnam 3. Produktivitas itu terdiri atas produktivitas modal dan tenaga kerja.


Semua itu menyebabkan kontribusi teknologi kepada pertumbuhan ekonomi menjadi rendah, dan menjadi kesulitan dalam menjaga pertumbuhan yang tinggi.


Kesenjangan infrastruktur juga melatarbelakangi kendala suplai, setidaknya tecermin pada ranking kualitas infrastruktur Indonesia di posisi 72, jauh tertinggal dari negara tetangga, Malaysia, yang merebut ranking 20 menurut Global Competitiveness Index 2014-2015.


Bambang mengatakan infrastruktur yang tidak memadai tecermin pada biaya logistik yang tinggi.


Kondisi ini terjadi karena belanja infrastruktur yang minim. Kelangkaan ini akhirnya membuat produktivitas rendah dan inefisiensi.


Kendala suplai lainnya disebabkan oleh kualitas sumber daya manusia dan pasar tenaga kerja yang rendah. Rata-rata masa belajar di Indonesia 7,61 tahun, hanya sedikit di atas Vietnam yang 7,15 tahun. Tidak heran jika hal itu menempatkan Indonesia pada posisi 87 menurut Bank Dunia.


Pasar keuangan yang dangkal dan biaya dana yang tinggi juga turut menjadi penyebab. Rasio uang beredar terhadap produk domestik bruto (M2) Indonesia menurut World Development Report hanya 40 per September 2014. Ini jauh di bawah Thailand dan Malaysia yang 131 dan 141.


Bunga kredit di Indonesia pun relatif paling tinggi di antara peers, yakni 13,63%, jauh di atas Malaysia yang 5,54%, Thailand 6,76%, dan China 6,08%.


Spread yang tinggi antara bunga kredit dengan bunga simpanan mengindikasikan sektor perbankan yang kurang efisien.



Prospek Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Menghadapir Resiko Domestik