Showing posts with label china. Show all posts
Showing posts with label china. Show all posts

Monday, January 19, 2015

GDP Tiongkok Stagnan

Financeroll – Pertumbuhan ekonomi Tiongkok dalam laporannya, Selasa (20/1) untuk kuartal keempat terlihat masih stabil. Namun meskipun begitu GDP nya termasuk yang paling lambat sejak 2009.


Dalam laporan Biro Statistik di Beijing, GDP naik 7,3 persen dalam tiga bulan hingga Desember dari tahun sebelumnya, naik tipis dari proyeksi para pelaku pasar 7,2 persen. Otomatsi mata uang Yuan juga terdongkrak naik setelah data.


Selain itu, produksi industri naik 7,9 persen pada bulan Desember dari tahun sebelumnya, dibandingkan dari bulan sebelumnya 7.2 persen. Pasar memproyeksikan 7,4 persen. Penjualan ritel naik 11,9 persen dari tahun sebelumnya, dibandingkan dari sebelumnya 11,7 persen.



GDP Tiongkok Stagnan

Sunday, January 11, 2015

Yuan dan Won Kembali Kompak Naik

Financeroll – Pada sesi perdagangan siang ini, Yuan dan Won kembali kompak menguat mengikuti irama dan sentimel global yang cendrung menyudutkan dollar akibat data buruk tenaga kerja yang dirilis pada akhir pekan lalu.


Won Korea terpantau menguat 0.60 persen atau 6.57 basis point ke level 1,083.11. Sementara itu, Yuan menguat tipis 0.16 persen atau 0.010 basis point ke level 6.1986.



Yuan dan Won Kembali Kompak Naik

Monday, January 5, 2015

Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Kian Melambat

Financeroll – Suku bunga repo perbankan China turun terbesar dalam dua pekan terakhir setelah dana segar kembali masuk pasar di awal tahun. Suku bunga repo tujuh hari turun 50 basis poin menjadi 4,33%, kemarin.


Pada akhir tahun lalu, permintaan dana tinggi karena pengecekan dana oleh regulator serta permintaan dana menjelang liburan. Deng Haiqing, analis Citic Securities Co mengatakan, pencadangan menjelang libur mengetatkan pasar di akhir tahun. “Pekan ini, pengetatan di pasar uang mulai mereda karena tidak ada faktor yang mempengaruhi likuiditas,” kata Deng kepada Bloomberg.


Melonggarnya suku bunga repo ini sedikit memberi kabar baik di tengah kondisi ekonomi China yang sedang tertekan. Indeks manufaktur dalam Purchasing Managers’ Index (PMI) turun ke level 50,1 pada bulan Desember  2014 dari posisi 50,3 pada bulan sebelumnya.


Data resmi ini menunjukkan bahwa indeks manufaktur China berada di titik terendah dalam 1,5 tahun terakhir. Sedangkan, data PMI China keluaran HSBC Holdings Plc dan Markit Economics di level 49,6 yang menunjukkan kontraksi.


PMI sektor jasa justru membaik dari 53,9 pada bulan November 2014 menjadi 54,1 pada Desember 2014 lalu. Tapi, para pengamat menduga, pertumbuhan ekonomi China sepanjang tahun lalu berada di bawah target pemerintah pada 7,5%.


Analis Nomura Securities mengatakan, produksi pabrik yang tinggi menekan para produsen untuk memangkas harga. “Dengan rendahnya tekanan inflasi, kami memprediksi lebih banyak pelonggaran kebijakan pada kuartal pertama, termasuk pemangkasan rasio pencadangan perbankan sebesar 50 basis poin,” kata Nomura dalam risetnya.


Chang Jian, Kepala Ekonom China di Barclays memprediksi, penurunan biaya dana masih akan menjadi prioritas kebijakan China tahun ini. Pasalnya, penurunan suku bunga acuan pada November 2014 belum banyak berdampak pada suku bunga kredit.


Pertumbuhan 7,1%


Standard Chartered memprediksi, pertumbuhan ekonomi China tahun ini akan melambat menjadi 7,1% dibandingkan dengan prediksi tahun lalu sebesar 7,3%. Standard Chartered mendasarkan prediksi atas tren yang terjadi tahun lalu. “Mencapai angka pertumbuhan ini tidak akan mudah karena pelemahan pasar tenaga kerja, tekanan deflasi dan tingginya suku bunga kredit,” kata Standard Chartered dalam laporannya.


Angka prediksi Standard Chartered ini sejalan dengan outlook dari Bank Sentral China. People’s Bank of China (PBOC) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi China tahun ini akan melambat menjadi 7,1%. Dalam laporan Desember 2014 yang dikutip kantor berita Xinhua, PBOC memperkirakan, pertumbuhan ekonomi China di 2014 sebesar 7,4%, sedikit di bawah target pemerintah.


Sementara itu, Chinese Academy of Social Sciences (CASS) meramal, pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya 7%. Angka prediksi ini jauh di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi dalam 35 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi tahunan rata-rata China antara 1978 hingga 2013 hampir 10%. Sedangkan, rata-rata pertumbuhan ekonomi tahunan antara 2003-2007 mencapai lebih dari 11,5%.



Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Kian Melambat

Sunday, January 4, 2015

Yuan dan Won Terpeleset Pada Sesi Asia

Financeroll – Pada sesi perdagangan Asia, Yuan dan Won terpantau melemah terhadap US Dollar seiring dengan pelemahan mata uang-mata uang kawasan Eropa dan Asia terhadap Greenback.


Yuan Tiongkok terpantau melemah terhadap Dollar sebesar 0.22% atau 0.0139 basis point dan berada pada posisi 6.2216. Sementara itu, Won Korea jatuh sebesare 0.57% atau 6.24 basis point dan bertengger pada level 1,109.68 per US Dollar



Yuan dan Won Terpeleset Pada Sesi Asia

Thursday, January 1, 2015

Harga Perumahan di Beijing Catatkan Rekor Baru

Financeroll – Harga Perumahan dan real estate Beijing mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah pada tahun 2014, meskipun volume transaksi tahunan jatuh ke level terendah dalam tiga tahun di tengah perlambatan nasional untuk sektor ini,demikian laporan mengatakan Jumat.


Harga jual rata-rata properti perumahan swasta di ibukota negara Tiongkok mencapai 25.286 yuan per meter persegi ($ 376 per kaki persegi) tahun lalu, naik 7,6% dari 2013, demikian Beijing News mengutip laporan penelitian terbaru oleh Badan Properti Centaline mengatakan. Namun, volume penjualan tampak cukup lemah untuk tahun ini, dengan hanya 66.078 unit yang terjual, tingkat terendah sejak 2012.


Pasar melamban dalam tiga kuartal pertama, namun sedikit rebound setelah bank sentral menggagas pembatasan kredit properti dan menurunkan suku bunga pada kuartal keempat, kata laporan Centaline.



Harga Perumahan di Beijing Catatkan Rekor Baru

Wednesday, December 31, 2014

PBOC: Tiongkok Butuh Kebijakan Moneter Yang Fleksibel

Financeroll – Bank sentral Tiongkok, PBOC, mengatakan bahwa mereka akan mempertahankan kebijakan moneter yang fleksibel karena ekonomi terbesar kedua di dunia ini tumbuh dalam “kisaran yang wajar.”


Bank Rakyat Tiongkok juga mengatakan akan mempertahankan kebijakan moneter yang bijaksana sambil memastikan bahwa kebijakan moneter tidak akan terlalu longgar atau terlalu ketat.


Pernyataan, yang diterbitkan di situs web bank sentral, juga mengatakan bahwa pertemuan yang membahas kebijakan moneter kuartal keempat telah diselenggarakan baru-baru.


Bank sentral China memangkas suku bunga pada akhir November, dalam upaya untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang melambat. Para ekonom telah memperkirakan bahwa Beijing mungkin akan melonggarkan kebijakan moneter lebih jauh karena ekonomi masih lemah meskipun ada kebijakan penurunan suku bunga.


Pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat menjadi 7,3% pada kuartal ketiga, turun dari ekspansi 7,5% dalam pertumbuhan kedua dan 7,7% untuk 2013.


The PBOC mengatakan dalam pernyataannya hari ini, Rabu, bahwa restrukturisasi ekonomi Tiongkok telah menunjukkan kemajuan yang positif tapi situasi masih rumit dan tidak dapat diremehkan diremehkan begitu saja.


Bank sentral mengatakan akan mempertahankan pertumbuhan kredit yang wajar dan likuiditas yang tepat dalam sistem keuangan. Hal ini juga memberi sinyal untuk mendorong reformasi dan liberalisasi suku bunga serta nilai tukar.



PBOC: Tiongkok Butuh Kebijakan Moneter Yang Fleksibel

Sunday, December 28, 2014

Tiongkok Turunkan Target Pertumbuhan Perdagangan

Financeroll – China terus memangkas target pertumbuhan perdagangan eksternal, pemotongan target sudah menyentuh level 6% untuk tahun 2015, jauh turun jika dibandingkan dengan target 7,5% yang pernah digagas sebelumnya untuk tahun ini ,demikian menurut China Daily pada senin ini.


Target impor khususnya jatuh jauh dari harapan, Tiongkok tampak kurang yakin atas pertumbuhan perdagangan untuk tahun ini. Dalam 11 bulan pertama tahun 2014, total perdagangan naik hanya 3,5% berdasarkan data tahun-ke tahun atau year on year dalam bentuk dolar AS, demikian menurut perhitungan Dow Jones Newswires.


Pertumbuhan perdagangan bergerak jauh lebih lambat dari laju pertumbuhan resmi seluruh perekonomian secara nasional, yang disesuaikan menjadi 7,4% dari tahun sebelumnya di tiga kuartal pertama.



Tiongkok Turunkan Target Pertumbuhan Perdagangan

Wednesday, December 24, 2014

Yuan Menguat Tipis, Won Bergerak Negatif

Financeroll – Yuan Tiongkok terpantau sedikit menguat pada sesi perdagangan siang ini, sementara Won Korea tampak melemah tips terhadap US Dolar.


Berdasarkan live data dari Bloomberg, Dollar melemah tipis terhadap yuan, turun 0.12 persen atau 0.0075 basis point dan berada pada level 6.2182 per US Dollar. Dan Dollar mengalami penguatan terhadap Won Korea Selatan, naik 0.01 persen dan stand by pada posisi 1,102.84 per US Dollar



Yuan Menguat Tipis, Won Bergerak Negatif

Thursday, December 18, 2014

Yuan dan Won Melemah Tipis

Financeroll – Efek pernyataan The Fed masih berlanjut terhadap mata uang Tiongkok dan Korea. Sesi perdagangan pagi ini, kedua mata uang tersebut terpantau melemah tipis atas US Dollar.


Yuan terjatuh 0.17 persen atau 0.0106 basis point dan bertengger oada level 6.2262 per dolar. Sementara itu, won juga terpantau turun tipis sebesar 0.78 basis point atau 0.07 persen dan bertahan di posisi 1,103.03 per dollar.



Yuan dan Won Melemah Tipis

Saham Perbankan Laris Manis Di Tiongkok

Financeroll – Investor saham perbankan di Tiongkok sepertinya sudah mulai menoleransi perlambatan pertumbuhan ekonomi dan risiko kredit macet Tiongkok. Buktinya, harga saham perbankan di bursa Tiongkok naik cukup tinggi sepanjang tahun ini, menyentuh rekor harga tertinggi sejak tahun 2009.


Sebut saja, harga saham Industrial & Commercial Bank of China Ltd. (ICBC) beserta 15 saham emiten bank lain di bursa Tiongkok, sudah meningkat rata-rata sebesar 48% sejak awal tahun 2014. Demikian juga harga saham bank asal Tiongkok  yang melantai di bursa Hong Kong, meningkat sebesar 11%.


Sandy Mehta, Chief Executive Officer (CEO) Investment Principals Ltd menyatakan, valuasi saham-saham bank asal Tiongkok masih sangat menarik. “Saham mereka dinilai masih murah, terutama bila dikaitkan dengan perkembangan global,” ujar Mehta seperti dikutip Bloomberg, Kamis (18/12).


Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, harga saham bank-bank di bursa Tiongkok tergolong paling murah di dunia. Rasio harga saham berbanding laba bersih per sahamnya saat ini hanya sebesar 6,2 kali.


Selain itu, lonjakan harga saham bank  melampaui pertumbuhan KBW Bank Index (BKX) sebesar 4,1%. Indeks BKX adalah indeks saham perbankan yang berisi 24 saham bank besar di Amerika Serikat (AS).


Nasib bank di Tiongkok juga lebih mujur dibandingkan penurunan drastis indeks Bloomberg Europe Bank and Financial Service sebesar 6,4%. Indeks ini beranggotakan 45 saham emiten bank dan perusahaan jasa keuangan di Eropa.



Saham Perbankan Laris Manis Di Tiongkok

Tuesday, December 16, 2014

Won Naik, Yuan Melemah Tipis

Financeroll – Yuang masih berada dalam tekanan US Dollar pada sesiperdagangan pagi ini akibat sentiment positif atas dollar dan ekspektasi pada hasil pertemuan FOMC yang dimulai sejak kemaren selasa. Namun Won bergerak agak berlawannan dengan membukukan kenaikan tipis atas dollar.


Yuan terpantau pagi ini melemah sekitar 0.01 persen dan berada pada level 6.1914 per dolar. Sementara itu, Won menguat 0.11 persen dan berdiri pada posisi 1,085.24 per dolar.



Won Naik, Yuan Melemah Tipis

Monday, December 15, 2014

Won Bergembira, Yuan Turun Tipis

Financeroll – Yuan Tiongkok terus melemah seiring belum membaiknya data-data manufaktur domestik dan penurunan suku bunga swap antar Bank dari 3.41 menjadi 3.35 siang ini. Sementara Won bereaksi positif atas anjloknya harga minyak dunia dan menunjukan arah yang berbeda dengan mata uang-mata uang lainya yang cendrung melemah terhadap US Dollar.


Pada sesi pedagangan siang ini, Yuan Tiongkok terpantau melemah 0.75 persen atau 0.4750 basis point dan berada pada posisi 6.1960 per US Dollar. dan Won menguat sebesar 0.85 persen atau 9.29 basis point dan bertengger pada posisi 1,089.95.



Won Bergembira, Yuan Turun Tipis

Sunday, December 14, 2014

Tim Peneliti PBOC: Pertumbuhan Tiongkok Melemah di Tahun 2015

Financeroll – Hasil penelitian dari tim bank sentral Tiongkok mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia ini bisa mengalami perlambatan menjadi 7,1% tahun depan, turun dari tahun ini yang berkisar 7,4%. Hal ini terjadi karena terbebani oleh penurunan pasar properti dalam negeri.


Para peneliti mengatakan bahwa indeks harga konsumen bisa mencapai 2,2%, sedikit lebih baik ketimbang sekitar 2% untuk tahun ini.


Para peneliti juga memperkirakan bahwa ekspor barang bisa mengalami perbaikan pertumbuhan tahun-ke-tahun, yakni sebesar 6,9% pada tahun 2015, naik dari 6,1% tahun ini, dengan neraca transaksi berjalan berposisi di sekitar 2,4% dari produk domestik bruto, sebagian besar tidak berubah dari 2014.


Perkiraan dibuat dalam kertas kerja yang diterbitkan di situs Bank Rakyat Cina yang bertanggal 13 November Jumat lalu. Namun Bank sentral mengatakan, bagaimanapun, tim tidak mewakili pandangan resmi bank.


Pembuat kebijakan top Tiongkok pekan lalu mengadakan pertemuan kunci untuk memetakan prioritas ekonomi tahun depan. Tapi mereka tidak mengumumkan target ekonomi tertentu. Secara umum mereka akan berencana untuk mengurangi target pertumbuhan ekonomi yang diawasi secara ketat untuk 2015. Kisaran target resmi tahun ini untuk pertumbuhan adalah sekitar 7,5%



Tim Peneliti PBOC: Pertumbuhan Tiongkok Melemah di Tahun 2015

Sunday, December 7, 2014

Yuan dan Won Bergerak Negatif

Financeroll – Mata Uang Yuan Tiongkok terpantai sedikit negatif paska dirisilnya data neraca perdagangan yang naik tapi masih berada dibawah perkiraan. Sementara itu, Won Korea juga terpantau cukup negatif.


Pada sesi perdagangan pagi ini, Dollar terus menguat terhadap Yuan Tiongkok dan membukukan kenaikan sebesar 0.0026 basis point atau 0.04% dan berada pada level 6.1549. Won Korean pun tak berbeda, mengalami pelemahamn sebesar 4.4900 basis point atau 0.40% dan bertengger pada level 1,118.4500.



Yuan dan Won Bergerak Negatif

Neraca Perdagangan Tiongkok Surplus

Financeroll – Neraca perdagangan Tiongkok mengalami kenaikan atau surplus, yang menandakan semakin membaiknya prospek pertumbuhan ekonomi Tiongkok.


Tiongkok membukukan surplus eksport sebesar 4.4% untuk bulan November 2014, yaitu tumbuh sebesar 45.5 B, diatas perkiraan sebelumnya yang berada pada angka 44.3 B dan data bulan sebelumnya adalah 45.4 B. Sementara itu, import mengalami penurunan sebesar 0.4%.



Neraca Perdagangan Tiongkok Surplus

Wednesday, December 3, 2014

JP Morgan: Eropa Semakin Sulit, AS dan Tiongkok Kian Terang

Financeroll – Ekonomi Eropa menghadapi satu dekade sulit karena para pengambil kebijakan sedang berjuang untuk melaksanakan reformasi, sementara itu Tiongkok terus berjuang memenuhi target pertumbuhan jangka pendek, demikian menurut Jamie Dimon, Chief Executive Officer JPMorgan Chase & Co mengatakan (JPM) .


“Eropa akan sedang berada dalam kondisi sulit,” kata Dimon kemarin dalam sebuah acara di Washington yang diselenggarakan oleh Politico saat ia memaparkan prediksinya soal “pertumbuhan sub-optimal” di wilayah tersebut untuk tahun-tahun mendatang. “Mereka memiliki semua masalah struktural yang sama yang Anda baca dari negara-negara lain, tapi persoalannyha zona ini terdiri dari banyak negara, yakni 17 negara – dan beberapa isu-isu struktural harus disepakati di 17 parlemen dan kemudian oleh Brussels.”


Presiden Bank Sentral Eropa Mario Draghi akan memimpin Dewan Pemerintahan hari ini di pertemuan kebijakan terakhirnya untuk tahun 2014 dan akan terjadi perdebatan soal proposal serta alat-alat kebijakan yang akan diambil untuk meningkatkan perekonomian zona Eropa.


Situasi Eropa kontras dengan AS, yang disebut oleh Dimon sedang ada dalam “titik terang,” dan China, menurutnya, juga sedang ada dalam titik yang sama karena para pemimpin bangsa dipastikan akan mengambil langkah-langkah terbaik untuk mempertahankan pertumbuhan.


“Pihak berwenang Tiongkok sangat cerdas,” kata Dimon. “Sekarang mereka mengelola perekonomian secara makro dan konsisten dengan tujuan pertumbuhan jangka pendek, yang tentunya baik untuk semua pihak.” Masalahnya untuk Tiongkok adalah terlalu banyak korupsi, kurangnya transparansi dan kebutuhan yang sulit untuk “memperluas prospek demokrasi mereka,” kata Dimon menambahkan.



JP Morgan: Eropa Semakin Sulit, AS dan Tiongkok Kian Terang

Monday, December 1, 2014

Yuan Semakin Membaik

Financeroll – Suku bunga acuan pasar uang Tiongkok turun untuk hari kedua karena bank sentral menahan diri untuk mendapatkan lebih banyak dana dari sistem keuangan. Menurut para ekonom, ini merupakan pertanda akan ada peningkatan stimulus moneter di waktu mendatang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Tiongkok.


Kondisi ini sedikit memberi nafas untuk Yuan Tiongkok. Pada sesi perdagangan siang ini terpantau Dollar mengalami pelemahan tipis terhadap Yuan. Yuan berada pada level 6.1495, mengalami penguatan 0.0011 basis point atau 0.02%.



Yuan Semakin Membaik

Indeks saham Tingkok Membukukan Kenaikan

Financeroll – Saham-saham perusahaan Tiongkok naik, mendorong indeks acuan melambung ke level tertinggi dalam tiga tahun. Pergerakan positif ini dimotori oleh ekspektasi spekulasi bahwa pemerintah akan melonggarkan kebijakan moneter untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Semntara itu, lonjakan nilai perdagangan telah meningkatkan keuntungan bagi perusahaan broker.


Haitong Securities Co, Cina Minsheng Banking Corp dan China Life Insurance Co melonjak lebih dari 3 persen yang mendorong indeks kategori perusahaan keuangan diperdagangan di level tertinggi sejak 2010. Ping An Insurance (Group) Co naik 3,4 persen di Hong Kong setelah para investor mendapat kabar bahwa pendiri sekaligus miliarder dari Alibaba Group, sepakat untuk berinvestasi di perusahaan ini, demikian disampaikan Jack Ma. PetroChina Co naik untuk pertama kalinya dalam enam hari terakhir setelah harga minyak sedikit melonjak kemarin.


The Shanghai Composite Index (SHCOMP) naik 0,7 persen menjadi 2,699.14 pada sesi istirahat peragangan Hong Kong, sementara Hang Seng China Enterprises Index Hong Kong (HSCEI) rebound dari kejatuhan curam dalam sembilan bulan terakhir dan membukukan kenaikan 1 persen. Pergerakan positif ini menjadi reaksi pasar atas pengumuman data manufaktur kemaren yang menunjukan perlambatan, namun memunculkan ekspektasi dan spekulasi bahwa bank sentral akan menindaklanjuti pemotongan suku bunga bulan lalu dengan penurunan rasio cadangan-persyaratan pemberi pinjaman.



Indeks saham Tingkok Membukukan Kenaikan

Kondisi Pekerja Tingkok Semakin Memburuk

Financeroll – Sebagian besar pekerja di China masuk dalam kategori pekerja Over Time atau lembur, dan setengah dari mereka bekerja empat jam lebih banyak dari ketentuan perundang-undang ketenagakerjaan Tiongkok, 40 jam kerja seminggu, demikian isi dari sebuah laporan yang diterbitkan oleh Beijing Normal University pada akhir November lalu.


Laporan tentang perkembangan pasar tenaga kerja menyebutkan bahwa undang-undang Tiongkok yang menetapkan jam kerja mingguan sama dengan negara-negara lain, tetapi 90% karyawan dari sektor industri harus bekerja lebih dari 40 jam per minggu. Pada saat yang sama, para pekerja di negara ini dibayar lebih sedikit untuk masa cuti daripada pekerja di negara-negara lain. Kerja over time ini adalah faktor utama penyebab munculnya penyakit dan kematian akibat kerja, demikian menurut laporan tersebut. Para peneliti mengatakan bahwa perjalanan menuju ke tempat kerja juga menjadi masalah, seperti kemacetan di kota-kota besar yang sangat panjang. Rata-rata waktu yang dihabiskan untuk pulang dan pergi kerja di Beijing adalah 97 menit dan ini merupakan kerugian waktu yang sangat berarti.



Kondisi Pekerja Tingkok Semakin Memburuk

Wednesday, November 26, 2014

Kecelakaan Tambang Batu Bara Di Tiongkok, 24 Orang Meninggal

Financeroll – Sebuah kecelakaan tambang batu bara menewaskan 24 orang di provinsi Liaoning, negara bagian timur laut Tionkok, sebagaimana dilaporkan situs pemberitaan Tiongkok, Xinhua hari ini.


Lima puluh dua orang terluka oleh api, kata pemilik tambang Hengda Coal kepada kantor berita Tiongkok. Perusahaan ini merupakan anak perusahaan BUMN Liaoning Fuxin Coal Corp.


China, produsen batu bara terbesar di dunia, mempunyai catatan buruk dalam hal keselamatan tambang karena lubang lama dibiarkan terbuka untuk memenuhi permintaan bahan bakar. Sebuah ledakan gas di lokasi tambang lainya yang dimiliki oleh Fuxin Coal telah menewaskan lebih dari 200 orang pada tahun 2005, demikian menurut Administrasi Keselamatan Kerja Negara.


Lebih dari seribu orang tewas di China akibat kecelakaan tambang batu bara tahun-tahun terakhir dan negara berencana menutup sebanyak 2.000 lokasi pada tahun 2015 untuk alasan keamanan. Di AS, produsen terbesar kedua di dunia komoditas, dua puluh orang juga telah meninggal akibat kecelakaan tambang.


Fuxin Batubara, didirikan pada tahun 1949, memiliki 10 lokasi tambang dengan kapasitas yang disetujui pemerintah sebesar 9,65 juta metrik ton, berdasarkan data dari China Ecoal.


Pejabat pemerintah daerah sedang menyelidiki apakah ledakan Liaoning berkaitan dengan gempa bumi di wilayah tersebut sebelum kecelakaan terjadi, kata Xinhua.



Kecelakaan Tambang Batu Bara Di Tiongkok, 24 Orang Meninggal