Showing posts with label batas atas suku bunga. Show all posts
Showing posts with label batas atas suku bunga. Show all posts

Monday, January 5, 2015

Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Kian Melambat

Financeroll – Suku bunga repo perbankan China turun terbesar dalam dua pekan terakhir setelah dana segar kembali masuk pasar di awal tahun. Suku bunga repo tujuh hari turun 50 basis poin menjadi 4,33%, kemarin.


Pada akhir tahun lalu, permintaan dana tinggi karena pengecekan dana oleh regulator serta permintaan dana menjelang liburan. Deng Haiqing, analis Citic Securities Co mengatakan, pencadangan menjelang libur mengetatkan pasar di akhir tahun. “Pekan ini, pengetatan di pasar uang mulai mereda karena tidak ada faktor yang mempengaruhi likuiditas,” kata Deng kepada Bloomberg.


Melonggarnya suku bunga repo ini sedikit memberi kabar baik di tengah kondisi ekonomi China yang sedang tertekan. Indeks manufaktur dalam Purchasing Managers’ Index (PMI) turun ke level 50,1 pada bulan Desember  2014 dari posisi 50,3 pada bulan sebelumnya.


Data resmi ini menunjukkan bahwa indeks manufaktur China berada di titik terendah dalam 1,5 tahun terakhir. Sedangkan, data PMI China keluaran HSBC Holdings Plc dan Markit Economics di level 49,6 yang menunjukkan kontraksi.


PMI sektor jasa justru membaik dari 53,9 pada bulan November 2014 menjadi 54,1 pada Desember 2014 lalu. Tapi, para pengamat menduga, pertumbuhan ekonomi China sepanjang tahun lalu berada di bawah target pemerintah pada 7,5%.


Analis Nomura Securities mengatakan, produksi pabrik yang tinggi menekan para produsen untuk memangkas harga. “Dengan rendahnya tekanan inflasi, kami memprediksi lebih banyak pelonggaran kebijakan pada kuartal pertama, termasuk pemangkasan rasio pencadangan perbankan sebesar 50 basis poin,” kata Nomura dalam risetnya.


Chang Jian, Kepala Ekonom China di Barclays memprediksi, penurunan biaya dana masih akan menjadi prioritas kebijakan China tahun ini. Pasalnya, penurunan suku bunga acuan pada November 2014 belum banyak berdampak pada suku bunga kredit.


Pertumbuhan 7,1%


Standard Chartered memprediksi, pertumbuhan ekonomi China tahun ini akan melambat menjadi 7,1% dibandingkan dengan prediksi tahun lalu sebesar 7,3%. Standard Chartered mendasarkan prediksi atas tren yang terjadi tahun lalu. “Mencapai angka pertumbuhan ini tidak akan mudah karena pelemahan pasar tenaga kerja, tekanan deflasi dan tingginya suku bunga kredit,” kata Standard Chartered dalam laporannya.


Angka prediksi Standard Chartered ini sejalan dengan outlook dari Bank Sentral China. People’s Bank of China (PBOC) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi China tahun ini akan melambat menjadi 7,1%. Dalam laporan Desember 2014 yang dikutip kantor berita Xinhua, PBOC memperkirakan, pertumbuhan ekonomi China di 2014 sebesar 7,4%, sedikit di bawah target pemerintah.


Sementara itu, Chinese Academy of Social Sciences (CASS) meramal, pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya 7%. Angka prediksi ini jauh di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi dalam 35 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi tahunan rata-rata China antara 1978 hingga 2013 hampir 10%. Sedangkan, rata-rata pertumbuhan ekonomi tahunan antara 2003-2007 mencapai lebih dari 11,5%.



Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Kian Melambat

Sunday, November 23, 2014

Otoritas Jasa Keuangan Tidak Merefisi Batas Atas Suku Bunga Dana

Financeroll – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) enggan menurunkan batas atas suku bunga dana bagi bank umum dengan kelompok usaha (BUKU) III dan IV meski BI Rate naik.


Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad mengatakan kenaikan BI Rate akan memacu kenaikan variabel biaya lainnya. Tapi saat ini masih merasa belum perlu merevis.


Seperti diketahui bagi BUKU IV, suku bunga dana maksimal ditetapkan 200 basis points (bps) di atas BI Rate. Adapun bagi bank BUKU III suku bunga DPK ditetapkan maksimum 225 bps di atas BI rate. Ketentuan tersebut berlaku untuk simpanan di atas Rp2 miliar. Ketentuan tersebut berlaku sejak Oktober 2014.


Muliaman menegaskan supervisory action dilakukan untuk menjaga kondisi perbankan atas tekanan likuiditas yang akan berujung pada penurunan suku bunga kredit. Itu upaya pengawas melakukan enforcement, apa bisa memperbaiki situasi atau tidak.


OJK akan memantau respons perbankan atas penaikan BI Rate oleh Bank Indonesia. Tidak menampik likuiditas masih akan menjadi kendala utama di industri perbankan tahun depan. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tahun depan ditargetkan berada di kisaran 14%, sedangkan kredit 15% hingga 16%.


DPK mungkin tidak akan tumbuh terlalu tinggi, makanya perlu diakomodir dengan kredit. Target itu sudah sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.


Berdasarkan pantauan di sejumlah website resmi bank, diketahui suku bunga deposito masih di bawah batas atas sesuai ketentuan OJK. PT Bank Mandiri Tbk misalnya saat ini menetapkan suku bunga deposito rupiah untuk simpanan antara Rp1 miliar hingga Rp5 miliar bertenor 1 bulan sebesar 4,5%, dan 7,5% untuk tenor 3 bulan. PT Bank Negara Indonesia Tbk menetapkan suku bunga sebesar 5,74% untuk simpanan di atas Rp1 miliar bertenor 3 bulan.


PT Bank Central Asia Tbk menetapkan suku bunga 7,75% untuk deposito antara Rp2 miliar hingga Rp5 miliar bertenor 3 bulan. BRI juga menggunakan besaran suku bunga yang sama untuk deposito di atas Rp1 miliar bertenor 3 bulan.


Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Nelson Tampubolon mengatakan OJK akan mengawasi perbankan secara individual termasuk dalam penetapan suku bunga. Bank harus bisa menunjukkan kualitas likuiditas yang bersumber dari DPK, penambahan modal baru maupun penerbitan obligasi.


Menurut data yang dilansir Bank Indonesia pada September 2014, rata-rata suku bunga deposito berjangka waktu 6 dan 12 bulan masing-masing tercatat sebesar 9,36% dan 8,73%, meningkat dibandingkan Agustus 2014 yang tercatat 9,19% dan 8,61%. Kenaikan suku bunga dana itu pun diiringi peningkatan rata-rata suku bunga kredit yang mencapai 12,88%, lebih tinggi ketimbang Agustus 2014 yang tercatat 12,86%.


Situasi tersebut membuat perbankan terus mengencangkan ikat pinggang demi mengontrol kenaikan cost of fund. Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Achmad Baiquni mengatakan pada kuartal III/2014 pihaknya menyesuaikan suku bunga kredit di tengah kenaikan cost of fund lantaran suku bunga dana bergerak naik. Pada periode tersebut BRI telah menaikkan suku bunga kredit korporasi, menengah, dan consumer dengan rentang 50 bps hingga 100 bps.


Transmisi kenaikan BI Rate sekarang ke suku bunga kredit sekarang pasti ada time lag, dulu bahkan sampai setahun.


Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia yang dilansir OJK, hingga September 2014 beban bunga yang ditanggung bank umum atas kredit yang diberikan mencapai Rp125,4 triliun. Jumlah itu jauh lebih tinggi ketimbang beban bunga kredit pada periode yang sama 2013 yang tercatat Rp81,7 triliun. Adapun pendapatan bunga atas kredit yang diberikan kepada pihak ketiga non bank per September 2014 tercatat Rp295 triliun, sedangkan pada periode yang sama 2013 sebesar Rp237,5 triliun.



Otoritas Jasa Keuangan Tidak Merefisi Batas Atas Suku Bunga Dana