Showing posts with label Tiongkok. Show all posts
Showing posts with label Tiongkok. Show all posts

Monday, January 5, 2015

Stok Tiongkok Merosot, Bijih Besi Ikut Terpeleset

Financeroll – Persediaan bijih besi di pelabuhan di Tiongkok, pengimpor terbesar bahan baku pembuatan baja, jatuh ke level terendah dalam hampir 11 bulan karena aktifitas pabrik turun dan output lokal melambat selama musim dingin.


Persediaan turun 0,9 persen menjadi 100,6 juta ton pada Januari 2, menyusut untuk minggu keenam, demikian menurut data dari Shanghai Informasi Technology Co Steelhome. Angka ini adalah angka level terendah sejak 14 Februari dan rally penurunan terpanjang sejak April 2013. persediaan 12 persen lebih rendah setelah memuncak pada 113.700.000 ton pada bulan Juli.


Sementara itu harga bijih besi anjlok 47 persen tahun lalu karena output global kian melimpah, harga dibuka diawal 2015 dengan kenaikan mingguan terbesar dalam 18 bulan di tengah spekulasi Tiongkok yang akan mengambil langkah-langkah lebih untuk memacu pertumbuhan. Negara ini mempercepat proyek infrastruktur senilai 7 triliun yuan ($ 1,1 triliun), demikian menurut analis yang akrab dengan masalah bijih besi. Beberapa tambang bijih di Tiongkok biasanya tutup selama musim dingin, dan kemerosotan tahun lalu memicu spekulasi bahwa tidak semua dari mereka akan buka kembali tahun ini.


Bijih dengan konten 62 persen dikirim ke Qingdao turun 0,6 persen menjadi $ 70,87 metrik ton kering kemarin, penurunan pertama dalam tujuh sesi, – yang sempat jatuh ke $ 66,84 pada 23 Desember, level terendah sejak Juni 2009. Rally harga mencapai 5,8 persen pada minggu ke 2 Januari, demikian menurut Logam Buletin Ltd



Stok Tiongkok Merosot, Bijih Besi Ikut Terpeleset

Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Kian Melambat

Financeroll – Suku bunga repo perbankan China turun terbesar dalam dua pekan terakhir setelah dana segar kembali masuk pasar di awal tahun. Suku bunga repo tujuh hari turun 50 basis poin menjadi 4,33%, kemarin.


Pada akhir tahun lalu, permintaan dana tinggi karena pengecekan dana oleh regulator serta permintaan dana menjelang liburan. Deng Haiqing, analis Citic Securities Co mengatakan, pencadangan menjelang libur mengetatkan pasar di akhir tahun. “Pekan ini, pengetatan di pasar uang mulai mereda karena tidak ada faktor yang mempengaruhi likuiditas,” kata Deng kepada Bloomberg.


Melonggarnya suku bunga repo ini sedikit memberi kabar baik di tengah kondisi ekonomi China yang sedang tertekan. Indeks manufaktur dalam Purchasing Managers’ Index (PMI) turun ke level 50,1 pada bulan Desember  2014 dari posisi 50,3 pada bulan sebelumnya.


Data resmi ini menunjukkan bahwa indeks manufaktur China berada di titik terendah dalam 1,5 tahun terakhir. Sedangkan, data PMI China keluaran HSBC Holdings Plc dan Markit Economics di level 49,6 yang menunjukkan kontraksi.


PMI sektor jasa justru membaik dari 53,9 pada bulan November 2014 menjadi 54,1 pada Desember 2014 lalu. Tapi, para pengamat menduga, pertumbuhan ekonomi China sepanjang tahun lalu berada di bawah target pemerintah pada 7,5%.


Analis Nomura Securities mengatakan, produksi pabrik yang tinggi menekan para produsen untuk memangkas harga. “Dengan rendahnya tekanan inflasi, kami memprediksi lebih banyak pelonggaran kebijakan pada kuartal pertama, termasuk pemangkasan rasio pencadangan perbankan sebesar 50 basis poin,” kata Nomura dalam risetnya.


Chang Jian, Kepala Ekonom China di Barclays memprediksi, penurunan biaya dana masih akan menjadi prioritas kebijakan China tahun ini. Pasalnya, penurunan suku bunga acuan pada November 2014 belum banyak berdampak pada suku bunga kredit.


Pertumbuhan 7,1%


Standard Chartered memprediksi, pertumbuhan ekonomi China tahun ini akan melambat menjadi 7,1% dibandingkan dengan prediksi tahun lalu sebesar 7,3%. Standard Chartered mendasarkan prediksi atas tren yang terjadi tahun lalu. “Mencapai angka pertumbuhan ini tidak akan mudah karena pelemahan pasar tenaga kerja, tekanan deflasi dan tingginya suku bunga kredit,” kata Standard Chartered dalam laporannya.


Angka prediksi Standard Chartered ini sejalan dengan outlook dari Bank Sentral China. People’s Bank of China (PBOC) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi China tahun ini akan melambat menjadi 7,1%. Dalam laporan Desember 2014 yang dikutip kantor berita Xinhua, PBOC memperkirakan, pertumbuhan ekonomi China di 2014 sebesar 7,4%, sedikit di bawah target pemerintah.


Sementara itu, Chinese Academy of Social Sciences (CASS) meramal, pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya 7%. Angka prediksi ini jauh di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi dalam 35 tahun terakhir. Pertumbuhan ekonomi tahunan rata-rata China antara 1978 hingga 2013 hampir 10%. Sedangkan, rata-rata pertumbuhan ekonomi tahunan antara 2003-2007 mencapai lebih dari 11,5%.



Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Kian Melambat

Sunday, January 4, 2015

Yuan dan Won Terpeleset Pada Sesi Asia

Financeroll – Pada sesi perdagangan Asia, Yuan dan Won terpantau melemah terhadap US Dollar seiring dengan pelemahan mata uang-mata uang kawasan Eropa dan Asia terhadap Greenback.


Yuan Tiongkok terpantau melemah terhadap Dollar sebesar 0.22% atau 0.0139 basis point dan berada pada posisi 6.2216. Sementara itu, Won Korea jatuh sebesare 0.57% atau 6.24 basis point dan bertengger pada level 1,109.68 per US Dollar



Yuan dan Won Terpeleset Pada Sesi Asia

Thursday, January 1, 2015

Harga Perumahan di Beijing Catatkan Rekor Baru

Financeroll – Harga Perumahan dan real estate Beijing mencapai tingkat tertinggi dalam sejarah pada tahun 2014, meskipun volume transaksi tahunan jatuh ke level terendah dalam tiga tahun di tengah perlambatan nasional untuk sektor ini,demikian laporan mengatakan Jumat.


Harga jual rata-rata properti perumahan swasta di ibukota negara Tiongkok mencapai 25.286 yuan per meter persegi ($ 376 per kaki persegi) tahun lalu, naik 7,6% dari 2013, demikian Beijing News mengutip laporan penelitian terbaru oleh Badan Properti Centaline mengatakan. Namun, volume penjualan tampak cukup lemah untuk tahun ini, dengan hanya 66.078 unit yang terjual, tingkat terendah sejak 2012.


Pasar melamban dalam tiga kuartal pertama, namun sedikit rebound setelah bank sentral menggagas pembatasan kredit properti dan menurunkan suku bunga pada kuartal keempat, kata laporan Centaline.



Harga Perumahan di Beijing Catatkan Rekor Baru

Wednesday, December 31, 2014

PBOC: Tiongkok Butuh Kebijakan Moneter Yang Fleksibel

Financeroll – Bank sentral Tiongkok, PBOC, mengatakan bahwa mereka akan mempertahankan kebijakan moneter yang fleksibel karena ekonomi terbesar kedua di dunia ini tumbuh dalam “kisaran yang wajar.”


Bank Rakyat Tiongkok juga mengatakan akan mempertahankan kebijakan moneter yang bijaksana sambil memastikan bahwa kebijakan moneter tidak akan terlalu longgar atau terlalu ketat.


Pernyataan, yang diterbitkan di situs web bank sentral, juga mengatakan bahwa pertemuan yang membahas kebijakan moneter kuartal keempat telah diselenggarakan baru-baru.


Bank sentral China memangkas suku bunga pada akhir November, dalam upaya untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang melambat. Para ekonom telah memperkirakan bahwa Beijing mungkin akan melonggarkan kebijakan moneter lebih jauh karena ekonomi masih lemah meskipun ada kebijakan penurunan suku bunga.


Pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat menjadi 7,3% pada kuartal ketiga, turun dari ekspansi 7,5% dalam pertumbuhan kedua dan 7,7% untuk 2013.


The PBOC mengatakan dalam pernyataannya hari ini, Rabu, bahwa restrukturisasi ekonomi Tiongkok telah menunjukkan kemajuan yang positif tapi situasi masih rumit dan tidak dapat diremehkan diremehkan begitu saja.


Bank sentral mengatakan akan mempertahankan pertumbuhan kredit yang wajar dan likuiditas yang tepat dalam sistem keuangan. Hal ini juga memberi sinyal untuk mendorong reformasi dan liberalisasi suku bunga serta nilai tukar.



PBOC: Tiongkok Butuh Kebijakan Moneter Yang Fleksibel

Sunday, December 28, 2014

Tiongkok Turunkan Target Pertumbuhan Perdagangan

Financeroll – China terus memangkas target pertumbuhan perdagangan eksternal, pemotongan target sudah menyentuh level 6% untuk tahun 2015, jauh turun jika dibandingkan dengan target 7,5% yang pernah digagas sebelumnya untuk tahun ini ,demikian menurut China Daily pada senin ini.


Target impor khususnya jatuh jauh dari harapan, Tiongkok tampak kurang yakin atas pertumbuhan perdagangan untuk tahun ini. Dalam 11 bulan pertama tahun 2014, total perdagangan naik hanya 3,5% berdasarkan data tahun-ke tahun atau year on year dalam bentuk dolar AS, demikian menurut perhitungan Dow Jones Newswires.


Pertumbuhan perdagangan bergerak jauh lebih lambat dari laju pertumbuhan resmi seluruh perekonomian secara nasional, yang disesuaikan menjadi 7,4% dari tahun sebelumnya di tiga kuartal pertama.



Tiongkok Turunkan Target Pertumbuhan Perdagangan

Friday, December 26, 2014

Yuan Melemah Tipis, Won Menanjak

Financeroll – Yuan kembali melemah setelah kemaren sempat menguat akibat pernyataan pemrintah Tiongkok yang akan membantu sektor manufaktur dan akan meminta pihak perbankan untuk memberikan kemudahan kredit pada sektor manufaktur. Namun Won Korea terlihat membukukan kenaikan yang cukup berarti pada hari ini.


Pada sesi perdagangan siang ini terpantau Yuang Tiongkok mengalami pelemahan tipis terhadap US Dollar, turun 0.20 persen atau 0.0121 basis point dan bertengger pada posisi 6,2130 per dolar. Sementara itu, Won Korean naik 0.33 persen atau 3.66 basis point dan berada pada posisi 1,098.74 per dolar



Yuan Melemah Tipis, Won Menanjak

Wednesday, December 24, 2014

Yuan Menguat Tipis, Won Bergerak Negatif

Financeroll – Yuan Tiongkok terpantau sedikit menguat pada sesi perdagangan siang ini, sementara Won Korea tampak melemah tips terhadap US Dolar.


Berdasarkan live data dari Bloomberg, Dollar melemah tipis terhadap yuan, turun 0.12 persen atau 0.0075 basis point dan berada pada level 6.2182 per US Dollar. Dan Dollar mengalami penguatan terhadap Won Korea Selatan, naik 0.01 persen dan stand by pada posisi 1,102.84 per US Dollar



Yuan Menguat Tipis, Won Bergerak Negatif

Tuesday, December 23, 2014

PBOC Pakai Tangan Siluman Untuk Intervensi Pasar

Financeroll – Bank Rakyat Tiongkok beralih menggunakan kebijakan tangan tersembunyi sebagai usaha untuk merangsang ekonomi negara terbesar kedua di dunia ini tanpa menambah risiko utang.


Bertentangan dengan saran dari Federal Reserve yang mengharapkan peningkatan transparansi perbankan terhadap Inggris dan Kelompok negara G20 dan berkomunikasi secara terbuka soal kebijakan moneter bank sentral tiap negara. Meski demikian, nyatanya Tiongkok telah menambahkan likuiditas secara diam-diam setidaknya empat kali dalam empat bulan terakhir. Salah satu bank yang telah menerima liquiditas diam-diam itu adalah China Development Bank Corp, salah satu pemberi pinjaman terbesar di negara itu.


Para pemimpin Tiongkok telah mengambil kebijakan dan jalan moneter yang dinilai menyimpang dari rekan-rekan ekonomi majunya seperti Amerika dan Eropa. Akibatnya, spekulan telah membuat pasar ekuitas melompat, mendorong pasar saham naik lebih dari 20 persen sejak suku bunga acuan PBOC dipotong pada 21 November silam.


“Ini kurang baik, mereka tetap harus menguatamakan transparansi dan efektivitas,” kata Ding Shuang, ekonom senior Tiongkok di Citigroup Inc yang berbasis Hong Kong, saat mengementari cara kerja PBOC. “untuk kebijakan tahun ini, saya bisa mengatakan bahwa saya tidak tahu bagaimana cara mereka berfikir.”



PBOC Pakai Tangan Siluman Untuk Intervensi Pasar

Monday, December 22, 2014

Import Bauksit Tiongkok Beralih Ke Malaysia

Financeroill – Tiongkok mengimpor 14 kali lebih banyak  bauksit dari Malaysia pada bulan November dibandingkan Maret setelah larangan ekspor di Indonesia yang menghentikan pasokan bijih untuk konsumen terbesar di dunia logam industry tersebut .


Tiongkok membeli  679.287 ton dari negara Asia Tenggara, naik 6,1 persen dari 640.200 ton sebulan sebelumnya dan dibandingkan dengan 48.594 ton pada bulan Maret lalu, menurut data yang dirilis oleh administrasi pabean di Beijing hari ini. Impor dari Maret sampai November adalah 2,6 juta ton, demikian menurut  data yang dikumpulkan oleh Bloomberg . Bauksit adalah komoditas yang digunakan untuk mengekstrak aluminium.


Indonesia, pemasok bauksit terbesar ketiga di dunia  pada 2013, menghentikan pengiriman bijih mentah pada bulan Januari, termasuk nikel dan tembaga, sebuah usaha untuk memacu investasi dalam pengolahan dalam negeri dan dengan harapan Indonesia bisa  menjadi produsen logam bernilai tinggi. Pinggir jalan membantu meningkatkan harga nikel dan aluminium di London.


Tiongkok membeli total 2,57 juta ton bauksit bulan lalu, dengan 42 persen bersumber dari Australia, data bea cukai menunjukkan. India adalah pemasok terbesar ketiga dengan 560.518 ton.


Malaysia memproduksi 208.770 ton bauksit tahun lalu, dibandingkan dengan 2.040 ton pada tahun 2004, menurut data dari Departemen Mineral dan Geosains di Kuala Lumpur. Departemen itu tidak memberikan angka untuk 2014.



Import Bauksit Tiongkok Beralih Ke Malaysia

Thursday, December 18, 2014

Yuan dan Won Melemah Tipis

Financeroll – Efek pernyataan The Fed masih berlanjut terhadap mata uang Tiongkok dan Korea. Sesi perdagangan pagi ini, kedua mata uang tersebut terpantau melemah tipis atas US Dollar.


Yuan terjatuh 0.17 persen atau 0.0106 basis point dan bertengger oada level 6.2262 per dolar. Sementara itu, won juga terpantau turun tipis sebesar 0.78 basis point atau 0.07 persen dan bertahan di posisi 1,103.03 per dollar.



Yuan dan Won Melemah Tipis

Saham Perbankan Laris Manis Di Tiongkok

Financeroll – Investor saham perbankan di Tiongkok sepertinya sudah mulai menoleransi perlambatan pertumbuhan ekonomi dan risiko kredit macet Tiongkok. Buktinya, harga saham perbankan di bursa Tiongkok naik cukup tinggi sepanjang tahun ini, menyentuh rekor harga tertinggi sejak tahun 2009.


Sebut saja, harga saham Industrial & Commercial Bank of China Ltd. (ICBC) beserta 15 saham emiten bank lain di bursa Tiongkok, sudah meningkat rata-rata sebesar 48% sejak awal tahun 2014. Demikian juga harga saham bank asal Tiongkok  yang melantai di bursa Hong Kong, meningkat sebesar 11%.


Sandy Mehta, Chief Executive Officer (CEO) Investment Principals Ltd menyatakan, valuasi saham-saham bank asal Tiongkok masih sangat menarik. “Saham mereka dinilai masih murah, terutama bila dikaitkan dengan perkembangan global,” ujar Mehta seperti dikutip Bloomberg, Kamis (18/12).


Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, harga saham bank-bank di bursa Tiongkok tergolong paling murah di dunia. Rasio harga saham berbanding laba bersih per sahamnya saat ini hanya sebesar 6,2 kali.


Selain itu, lonjakan harga saham bank  melampaui pertumbuhan KBW Bank Index (BKX) sebesar 4,1%. Indeks BKX adalah indeks saham perbankan yang berisi 24 saham bank besar di Amerika Serikat (AS).


Nasib bank di Tiongkok juga lebih mujur dibandingkan penurunan drastis indeks Bloomberg Europe Bank and Financial Service sebesar 6,4%. Indeks ini beranggotakan 45 saham emiten bank dan perusahaan jasa keuangan di Eropa.



Saham Perbankan Laris Manis Di Tiongkok

Wednesday, December 17, 2014

Yuan dan Won Tetap Melemah

Financeroll – Yuan dan Won pada sesi perdagang pagi ini terlihat kompak. Ditengah-tengah penguatan berbagai mata uang rival Dolar akibat pernyataan The Fed yang menunggu untuk menaikan suku bunga Amerika, justru Yuan dan Won masih betah dalam trend penurunan.


Pada sesi perdagangan saat ini, yuan terpantau turun 0.29 persen dan bertengger pada posisi 6.2149 per dollar Amerika. Sementara itu, Won Korea terpukul 0.72 persen atau 8.00 basis point dan berada pada posisi 1,102.80.



Yuan dan Won Tetap Melemah

Tuesday, December 16, 2014

Won Naik, Yuan Melemah Tipis

Financeroll – Yuang masih berada dalam tekanan US Dollar pada sesiperdagangan pagi ini akibat sentiment positif atas dollar dan ekspektasi pada hasil pertemuan FOMC yang dimulai sejak kemaren selasa. Namun Won bergerak agak berlawannan dengan membukukan kenaikan tipis atas dollar.


Yuan terpantau pagi ini melemah sekitar 0.01 persen dan berada pada level 6.1914 per dolar. Sementara itu, Won menguat 0.11 persen dan berdiri pada posisi 1,085.24 per dolar.



Won Naik, Yuan Melemah Tipis

Tembaga Terpukul Kontraksi Ekonomi Tiongkok

Financeroll – Laporan Indeks Pembelian Manajer awal ‘dari HSBC Holdings Plc dan Markit Economics jatuh ke level terendah dalam tujuh bulan terakhir menjadi 49,5 pada Desember dari 50 pada bulan sebelumnya. Angka 50 berarti sinyal kontraksi dalam ekonomi Tiongkok. Berbagai harga komoditas terpukul,seperti timbal batrai otomotif untuk semi konduktor telah bergerak negatif sebesar 13 persen tahun ini karena perlambatan di Tiongkok.


“Jika pasar mulai merasa seolah-olah pertumbuhan industri tidak akan terus berlanjut di Tiongkok, maka Anda melihat dan bertanya-tanya darimana asal muasal persoalanya,” ucap Tim Evans, kepala strategi pasar di Long Leaf Trading Group Inc yang berbasis Chicago, dalam sebuah wawancara telepon.


Timbal untuk pengiriman tiga bulan turun 2,4 persen dan bertahan pada di level $ 1.920 per metrik ton di London Metal Exchange, setelah menyentuh level $ 1,911.25, terendah sejak 22 Agustus 2012.


Tembaga untuk pengiriman tiga bulan turun 0,5 persen menjadi $ 6.365 per ton ($ 2,89 per pon) di LME, penurunan kedua berturut-turut. Seng, aluminium, nikel dan timah juga turun di London.



Tembaga Terpukul Kontraksi Ekonomi Tiongkok

Monday, December 15, 2014

Won Bergembira, Yuan Turun Tipis

Financeroll – Yuan Tiongkok terus melemah seiring belum membaiknya data-data manufaktur domestik dan penurunan suku bunga swap antar Bank dari 3.41 menjadi 3.35 siang ini. Sementara Won bereaksi positif atas anjloknya harga minyak dunia dan menunjukan arah yang berbeda dengan mata uang-mata uang lainya yang cendrung melemah terhadap US Dollar.


Pada sesi pedagangan siang ini, Yuan Tiongkok terpantau melemah 0.75 persen atau 0.4750 basis point dan berada pada posisi 6.1960 per US Dollar. dan Won menguat sebesar 0.85 persen atau 9.29 basis point dan bertengger pada posisi 1,089.95.



Won Bergembira, Yuan Turun Tipis

Sunday, December 14, 2014

Tim Peneliti PBOC: Pertumbuhan Tiongkok Melemah di Tahun 2015

Financeroll – Hasil penelitian dari tim bank sentral Tiongkok mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia ini bisa mengalami perlambatan menjadi 7,1% tahun depan, turun dari tahun ini yang berkisar 7,4%. Hal ini terjadi karena terbebani oleh penurunan pasar properti dalam negeri.


Para peneliti mengatakan bahwa indeks harga konsumen bisa mencapai 2,2%, sedikit lebih baik ketimbang sekitar 2% untuk tahun ini.


Para peneliti juga memperkirakan bahwa ekspor barang bisa mengalami perbaikan pertumbuhan tahun-ke-tahun, yakni sebesar 6,9% pada tahun 2015, naik dari 6,1% tahun ini, dengan neraca transaksi berjalan berposisi di sekitar 2,4% dari produk domestik bruto, sebagian besar tidak berubah dari 2014.


Perkiraan dibuat dalam kertas kerja yang diterbitkan di situs Bank Rakyat Cina yang bertanggal 13 November Jumat lalu. Namun Bank sentral mengatakan, bagaimanapun, tim tidak mewakili pandangan resmi bank.


Pembuat kebijakan top Tiongkok pekan lalu mengadakan pertemuan kunci untuk memetakan prioritas ekonomi tahun depan. Tapi mereka tidak mengumumkan target ekonomi tertentu. Secara umum mereka akan berencana untuk mengurangi target pertumbuhan ekonomi yang diawasi secara ketat untuk 2015. Kisaran target resmi tahun ini untuk pertumbuhan adalah sekitar 7,5%



Tim Peneliti PBOC: Pertumbuhan Tiongkok Melemah di Tahun 2015

Yuan Menguat, Won Terpeleset

Financeroll – Pada sesi perdagangan pagi ini, Yuan dan Won bergerak berlawanan arah terhadap Dollar Amerika. Yuan terbantu dengan prospek perbaikan ekonomi dalam negeri Tiongkok dan sentimen negatif yang melanda pasar ekuitas Amerika pada sesi penutupan perdagangan Jumat lalu.


Dollar melemah terhadap Yuan sebesar 0.01 persen atau 0.0005 basis point dan saat ini berada pada level 6.1884 per dollar. Sementara itu, Won Korea mengalami pelemahan sebesar 0.11 persen atau 1.250 basis point dan bertengger pada level 1,104.39 per Dollar Amerika.



Yuan Menguat, Won Terpeleset

Monday, December 8, 2014

Import Bijih Besi Mengalami Penurunan

Financeroll – Eksport produk baja dari Tiongkok meningkat sementara import bijih besi merosot.


Pengiriman pada bulan November meningkat 14% dari bulan sebelumnya menjadi 9,72 juta metrik ton. Total eksport dalam 11 bulan pertama tahun 2014 adalah 47%, lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu sebesar 83,6 juta ton. Impor bijih besi, bahan utama untuk pembuatan baja, turun 15% bulan lalu ke level terendah sejak Februari.


Harga bijih besi merosot 47% tahun ini di Tiongkok, jatuh di bawah $ 70 untuk pertama kalinya sejak Juni 2009 pada tanggal 25 November 2014. Produksi baja mentah negara itu naik 5% dalam 10 bulan pertama sebanyak 685 juta ton.



Import Bijih Besi Mengalami Penurunan

Sunday, December 7, 2014

Nikel dan Tembaga Terpukul Data Tiongkok

Financeroll – Nikel dan tembaga mengalami penurunan mingguan secara tak terduga. Penurunan impor Tiongkok mendorong spekulasi bahwa pemerintah akan melonggarkan kebijakan moneter untuk merangsang pertumbuhan dalam negeri. Sedangkan Tiongkok adalah negara pengguna logam terbesar di dunia.


Pengiriman ke Tiongkok pada bulan November turun 6,7 persen dari tahun sebelumnya, demikian administrasi kepabeanan mengatakan hari ini, dibandingkan dengan proyeksi kenaikan 3,8 persen dalam survei Bloomberg News. Ekspor naik 4,7 persen, dibawah perkiraan median 8 persen dan membukukan surplus perdagangan sebesar $ 54.47 miliar. Ekonomi Jepang mengalami penyusutan tahunan sebesar 1,9 persen pada kuartal ketiga, lebih rendah dari penurunan 1,6 persen seperti yang dilaporkan dalam data awal.


“The jatuhnya impor dan membaiknya ekspor mencerminakn konsumsi domestik yang lemah di China,” kata Xu Yongqi, seorang analis senior di Guotai Junan & Futures Co yang berbasis di Shanghai. “Pemerintah pusat dapat melonggarkan pasokan moneter melalui langkah-langkah seperti pemangkasan bunga di awal tahun depan untuk meningkatkan permintaan. Yang akan mendukung harga bahan. ”


Nikel untuk pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange sedikit berubah pada $ 16.804 per metrik ton pada waktu perdagangan Shanghai. Harga naik 3,2 persen pekan lalu.


Tembaga di London sedikit berubah menjadi $ 6.455 per ton. Logam ini naik 1,6 persen pekan lalu. Di New York, tembaga berjangka untuk pengiriman Maret naik 0,3 persen menjadi $ 2,9115 per pon, sedangkan di Shanghai, logam untuk pengiriman Februari turun kurang dari 0,1 persen menjadi 46.050 yuan ($ 7.480) per ton.



Nikel dan Tembaga Terpukul Data Tiongkok