Showing posts with label Investasi. Show all posts
Showing posts with label Investasi. Show all posts

Friday, January 2, 2015

BI Terbitkan Izin Bagi 18 Penerbit Uang Elektronik

Financeroll – Bank Indonesia telah menerbitkan izin bagi 18 penerbit uang elektronik, namun hanya segelintir yang pada akhirnya benar-benar serius menggeluti bisnis ini.


Alasannya bermacam-macam. Tingginya nilai investasi dan belum terbukanya peluang untuk meraup pendapatan adalah dua kendala utama yang membuat tak semua penerbit bisa bertahan. Mereka menghadapi seleksi alam.


Ini adalah bisnis jangka panjang. Hanya pemain bermodal besar punya napas cukup panjang untuk terus mengeksplorasi bisnis ini. Para penerbit yang berskala medium, atau bahkan kecil, sulit berkembang karena tak mampu terus ikut dalam permainan.


Bisnis ini menelan investasi jumbo. Biaya besar dibutuhkan untuk membangun sistem back office agar bisnis uang elektronik bisa berjalan. Investasi lebih besar lagi diperlukan untuk biaya promosi dan perluasan jaringan.


Angka Rp60 miliar untuk mengembangkan sistem back office uang elektronik di BNI. Angka Rp50 miliar untuk investasi pengadaan portal (gate) di jaringan kereta api commuter line, sebagai syarat keikutsertaan bank dalam sistem pembayaran tiket kereta menggunakan uang elektronik.


Tak hanya itu, para penerbit uang elektronik juga harus menyisihkan sejumlah investasi guna menyediakan mesin electronic data capture (EDC) di jaringan merchant yang diajak bekerja sama. Jika ingin uang elektronik bisa digunakan di mana-mana, maka akan semakin membengkak pula dana investasi yang dibutuhkan. Tidak semua penerbit mampu melakukannya.


Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah DKI Jakarta Eko Budiwiyono mengakui sulitnya mengembangkan bisnis uang elektronik. Sejauh ini, persebaran uang elektronik Bank DKI baru sampai di jaringan Transjakarta dan sejumlah rekanan retail. Bank bermodal belum mampu bergabung dalam kerja sama yang lebih luas, seperti investasi di jaringan commuter line, yang kini semakin melebar ke sistem parkir elektronik, setelah sebelumnya beroperasi pada sistem tiket elektronik.


Alasannya, nilai investasinya cukup tinggi. Selain harus berpartisipasi dalam investasi pengadaan gate, bank-bank penerbit uang elektronik juga diminta berinvestasi pada mesin pembaca uang elektronik di tempat-tempat parkir yang dikelola oleh anak perusahaan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Dan itu adalah salah satu pertimbangannya.


Para penerbit uang elektronik dari kalangan perusahaan telekomunikasi merasakan tantangan yang lebih besar lagi. Bahkan, menurut Bank Indonesia selaku penerbit izin, bisnis uang elektronik di industri telko tidak berjalan sesuai harapan.


Perusahaan telekomunikasi, yang awalnya sangat optimis mengembangkan bisnis uang elektronik, pada akhirnya menemui jalan buntu. Bisnis transfer uang melalui telepon seluler tidak mendapatkan sambutan hangat dari khalayak. Ternyata, basis pelanggan yang besar tidak menjamin bisnis ini akan berhasil. Pada kenyataannya, para pelanggan perusahaan telekomunikasi belum nyaman melakukan transfer uang melalui ‘rekening telepon’.


Saat tuntutan untuk menambah investasi belum juga berhenti, para penerbit uang elektronik mulai gelisah karena hingga kini Bank Indonesia masih belum banyak memberikan celah untuk meraup pendapatan. BI melarang para penerbit untuk mengutip biaya transaksi dan biaya pengisian ulang uang elektronik (top up). Alasannya jelas, BI ingin mendorong penggunaan uang elektronik untuk mengurangi penggunaan uang tunai. Jika dikenakan biaya, maka penggunaan uang elektronik tidak akan menarik lagi. Masyarakat akan kembali ke uang tunai.


Uang elektronik adalah pengganti uang tunai. Tidak bisa ditambah ataupun dikurangi nilainya. Demikian fatwa BI.



BI Terbitkan Izin Bagi 18 Penerbit Uang Elektronik

Thursday, October 23, 2014

Sinar Mas Agro Resources Kerjakan Pembangkit Listrik Kelapa Sawit

Financeroll – Sinar Mas Group melalui anak usahanya PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk siap berinvestasi pembangkit listrik berbasis minyak kelapa sawit dalam waktu dekat.


Managing Director Sinar Mas Group mengatakan PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) sudah melakukan pembicaraan dengan pihak PT Perusahaan Listrik Negara Persero terkait rencana pembangunan pembangkit listrik tersebut.


Diperkirakan, penandatanganan kerja sama akan dilakukan sekitar dua minggu setelah pelantikan pemerintahan baru. Dalam kerja sama tersebut, perseroan akan membangun beberapa pembangkit listrik dengan kapasitas kecil di bawah 10 mega watt di daerah terpencil, seperti Ketapang, Kalimantan Barat.


Langsung dari CPO (crude palm oil) langsung jadi bahan bakar minyak untuk pembangkit listrik. Sudah hampir tanda tangan dengan PLN.


Saat ini dengan PLN masih dalam tahap finalisasi harga listrik yang akan dibeli oeh PLN. Setelah ditandatangani, proyek bisa segera dijalankan dan bisa menjadi perusahaan yang lain.


Dengan menyasar daerah-daerah terpencil yang belum mendapatkan listrik. Produsen besar diminta jadi contoh, harapannya produsen lain bisa ikut.


Namun demikian, pihaknya belum bisa membeberkan nilai investasi proyek pembangunan pembangkit listrik tersebut.



Sinar Mas Agro Resources Kerjakan Pembangkit Listrik Kelapa Sawit

Sunday, October 19, 2014

Tidak Samanya Pertumbuhan Konsumsi Swasta dan Investasi Dapat Menggerus Pertumbuhan Ekonomi

Financeroll – Ketimpangan laju pertumbuhan antara konsumsi swasta dan investasi yang kian menganga menandakan kebutuhan impor yang semakin besar dan berpotensi menggerus kualitas pertumbuhan ekonomi.


Kepala Lembaga Penyelidikan Masyarakat dan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI) mengatakan indikasi pertumbuhan investasi perekonomian stabil dan sehat.


Kesenjangan antara 2 elemen itu tercermin dalam pergerakan faktor-faktor pembentuk produk domestik bruto (PDB), paling tidak dalam 2 tahun terakhir. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sejak 2012 hingga kuartal II/2014 pertumbuhan konsumsi swasta relatif stagnan pada kisaran 5,1%-5,7%.


Sebaliknya, pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto tercatat melambat tajam menjadi 4,5% pada kuartal II/2014. Padahal pada kuartal I/2012 pertumbuhannya melonjak ke level 12,3%.


Sepanjang kuartal II/2012 misalnya, investasi tumbuh melampaui konsumsi. Pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto mencapai 12,3% sedangkan konsumsi tak bergerak banyak di kisaran 5,2%. Saat itu pertumbuhan produk domestik bruto melonjak ke level 6,4%.


Ketimpangan ini juga berujung pada performa neraca perdagangan. Kalau konsumsi tetap tetapi investasi melambat artinya ada kebutuhan produk yang tidak bisa dipenuhi dari dalam negeri. Harusnya inflasi meningkat, tapi ini inflasi stabil berarti ada impor untuk memenuhinya.


Data dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan inflasi terjaga pada level 4,53% per September 2014. Adapun sepanjang Januari-Agustus 2014 nilai neraca perdagangan Indonesia menorehkan defisit US$1,41 miliar.


Sebuah penelitian dari LPEM FEUI, menunjukkan paling tidak ada 3 faktor yang memicu perlambatan investasi dalam negeri. Pertama, ketidakstabilan kondisi makro ekonomi; kedua cost financing yang tinggi karena tingkat suku bunga yang melambung, dan terakhir, kondisi infrastruktur yang tak kunjung membaik.


Dengan kondisi demikian akan sulit mengejar target pertumbuhan ekonomi. Apalagi jika pemerintah baru nanti tak bergerak cepat mengejar target pertumbuhan sebesar 5,8% menjadi terlampau muluk. Kalau begini bisa jadi pasar saja.



Tidak Samanya Pertumbuhan Konsumsi Swasta dan Investasi Dapat Menggerus Pertumbuhan Ekonomi