Showing posts with label uang elektronik. Show all posts
Showing posts with label uang elektronik. Show all posts

Friday, January 16, 2015

Tap Uang Elektronik Sebagai Acuan Untuk Jumlah Rute Transjakarta

Financeroll – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menambah jumlah rute Transjakarta pada tahun ini. Untuk mengatur rute dan durasi waktu kedatangan bus, diperlukan data akurat mengenai perputaran penumpang pengguna Transjakarta.


Menurut Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama, dia bisa memperhitungkan lalu lintas penumpang yang menggunakan bus Transjakarta melalui tap dari kartu elektronik. Dia berharap bulan depan seluruh penumpang sudah bisa memanfaatkan uang elektronik sebagai alat pembayaran.


“Makanya, saya minta semua orang, bulan ini kalo bisa, minimal bulan depan, semuanya sudah mesti pakai e-ticketing. Supaya saya bisa membaca tujuan kamu kemana,” ujarnya di Balai Kota, Jakarta.


Pria yang kerap disapa Ahok ini mengungkapkan pihaknya terus memaksa penumpang untuk menggunakan uang elektronik, salah satu caranya adalah dengan memasang harga tinggi dengan isian saldo setengah dari harga pembelian perdana.


Saat ini, harga perdana kartu elektronik dijual Rp40.000 dengan isian Rp20.000. Untuk sekali tap, secara otomatis saldo pada uang elektronik berkurang Rp3.500. Pengisian saldo bisa dilakukan di halte busway maupun melalui ATM.


“Sebenarnya kenapa saya mesti paksa anda untuk beli Rp40 ribu untuk awal? Tiketnya Rp20 ribu, jadi kartu seolah-olah Rp20 ribu. Karena Anda saya kasih gratis, Anda buang-buang terus,” kata Basuki Tjahaja Purnama.



Tap Uang Elektronik Sebagai Acuan Untuk Jumlah Rute Transjakarta

Friday, January 2, 2015

BI Terbitkan Izin Bagi 18 Penerbit Uang Elektronik

Financeroll – Bank Indonesia telah menerbitkan izin bagi 18 penerbit uang elektronik, namun hanya segelintir yang pada akhirnya benar-benar serius menggeluti bisnis ini.


Alasannya bermacam-macam. Tingginya nilai investasi dan belum terbukanya peluang untuk meraup pendapatan adalah dua kendala utama yang membuat tak semua penerbit bisa bertahan. Mereka menghadapi seleksi alam.


Ini adalah bisnis jangka panjang. Hanya pemain bermodal besar punya napas cukup panjang untuk terus mengeksplorasi bisnis ini. Para penerbit yang berskala medium, atau bahkan kecil, sulit berkembang karena tak mampu terus ikut dalam permainan.


Bisnis ini menelan investasi jumbo. Biaya besar dibutuhkan untuk membangun sistem back office agar bisnis uang elektronik bisa berjalan. Investasi lebih besar lagi diperlukan untuk biaya promosi dan perluasan jaringan.


Angka Rp60 miliar untuk mengembangkan sistem back office uang elektronik di BNI. Angka Rp50 miliar untuk investasi pengadaan portal (gate) di jaringan kereta api commuter line, sebagai syarat keikutsertaan bank dalam sistem pembayaran tiket kereta menggunakan uang elektronik.


Tak hanya itu, para penerbit uang elektronik juga harus menyisihkan sejumlah investasi guna menyediakan mesin electronic data capture (EDC) di jaringan merchant yang diajak bekerja sama. Jika ingin uang elektronik bisa digunakan di mana-mana, maka akan semakin membengkak pula dana investasi yang dibutuhkan. Tidak semua penerbit mampu melakukannya.


Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah DKI Jakarta Eko Budiwiyono mengakui sulitnya mengembangkan bisnis uang elektronik. Sejauh ini, persebaran uang elektronik Bank DKI baru sampai di jaringan Transjakarta dan sejumlah rekanan retail. Bank bermodal belum mampu bergabung dalam kerja sama yang lebih luas, seperti investasi di jaringan commuter line, yang kini semakin melebar ke sistem parkir elektronik, setelah sebelumnya beroperasi pada sistem tiket elektronik.


Alasannya, nilai investasinya cukup tinggi. Selain harus berpartisipasi dalam investasi pengadaan gate, bank-bank penerbit uang elektronik juga diminta berinvestasi pada mesin pembaca uang elektronik di tempat-tempat parkir yang dikelola oleh anak perusahaan PT Kereta Api Indonesia (KAI). Dan itu adalah salah satu pertimbangannya.


Para penerbit uang elektronik dari kalangan perusahaan telekomunikasi merasakan tantangan yang lebih besar lagi. Bahkan, menurut Bank Indonesia selaku penerbit izin, bisnis uang elektronik di industri telko tidak berjalan sesuai harapan.


Perusahaan telekomunikasi, yang awalnya sangat optimis mengembangkan bisnis uang elektronik, pada akhirnya menemui jalan buntu. Bisnis transfer uang melalui telepon seluler tidak mendapatkan sambutan hangat dari khalayak. Ternyata, basis pelanggan yang besar tidak menjamin bisnis ini akan berhasil. Pada kenyataannya, para pelanggan perusahaan telekomunikasi belum nyaman melakukan transfer uang melalui ‘rekening telepon’.


Saat tuntutan untuk menambah investasi belum juga berhenti, para penerbit uang elektronik mulai gelisah karena hingga kini Bank Indonesia masih belum banyak memberikan celah untuk meraup pendapatan. BI melarang para penerbit untuk mengutip biaya transaksi dan biaya pengisian ulang uang elektronik (top up). Alasannya jelas, BI ingin mendorong penggunaan uang elektronik untuk mengurangi penggunaan uang tunai. Jika dikenakan biaya, maka penggunaan uang elektronik tidak akan menarik lagi. Masyarakat akan kembali ke uang tunai.


Uang elektronik adalah pengganti uang tunai. Tidak bisa ditambah ataupun dikurangi nilainya. Demikian fatwa BI.



BI Terbitkan Izin Bagi 18 Penerbit Uang Elektronik

Thursday, December 25, 2014

Bank Mandiri Akan Membuka Celah Baru Untuk Penggunaan Transaksi Non-Tunai

Financeroll – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat meningkatkan penggunaan transaksi non-tunai, Bank Mandiri akan membuka celah pasar baru dalam optimalisasi uang elektronik.


Group Head E-Banking Bank Mandiri Rahmat B. Triaji mengatakan perseroannya akan mengembangkan penggunaan uang elektronik di parking mulai tahun depan.


Mulai Januari akan mulai bekerja sama dengan Secure Parking untuk seluruh Indonesia. Pemasangannya masih bertahap di mall-mall besar yang traffic-nya banyak.


Pemilik e-money Bank Mandiri dapat menggunakan jasa pembayaran parkir dengan kartu uang elektronik yang dimilikinya. Nanti masuk tinggal tap saja ke kasirnya. Ini bisa untuk mobil dan motor.


Bank Mandiri akan fokus ke sektor transportasi dengan alasan masyarakat yang menggunakan e-money merupakan costumer yang membutuhkan kecepatan dalam bertansportasi. Supaya cepat, antrean tidak banyak, dan sebagainya.


Terkait jumlah transaksi non-tunai secara nasional, Bank Mandiri mencatat jumlah transaksi sebanyak 127 juta transaksi dengan nilai mencapai Rp1,5 triliun dengan market share penggunaan e-money mencapai 67,5%.



Bank Mandiri Akan Membuka Celah Baru Untuk Penggunaan Transaksi Non-Tunai

Tuesday, November 11, 2014

Penyaluran Uang Elektronik Merupakan Investasi Jangka Panjang

Financeroll – Direktur Utama Bank Mandiri mengungkapkan terlibat dalam penyaluran uang elektronik merupakan investasi jangka panjang bagi bank.


Keuntungan yang bisa diraih bank dari uang elektronik adalah uang yang mengendap dalam sistem perbankan bisa dimanfaatkan oleh bank, terutama di tengah ketatnya likuiditas.


Uang yang masuk bisa dipakai untuk membangun sistem Indonesia.


Program bansos yang digelar oleh pemerintah bisa mengulang kembali program Tabungan Pembangunan Nasional (Tabanas).


Dana yang diterima dana keluarga kurang mampu setiap bulan mencapai Rp400.000 dalam tiap dua bulan.


Direktur Utama PT Pos Indonesia mengungkapkan pemberian bantuan dana PSKS oleh Pos Indonesia disalurkan dalam dua cara.


Pertama, berbentuk simpanan Giro Pos sebanyak 14,5 juta rumah tangga sasaran melalui PT Pos Indonesia. Kedua, bantuan disalurkan dalam bentuk Mandiri e-cash sebanyak 1 juta rumah tangga sasaran melalui Bank Mandiri, yang penguangannya hanya dapat dilakukan di kantor pos.


Penyaluran bansos non tunai bisa mengurangi beban waktu dan biaya masyarakat pedalaman yang tidak sedikit untuk menjangkau kantor pos.


Deputi Gubernur Bank Indonesia Ronald Waas mengungkapkan bank sentral selaku pengawas sistem pembayaran siap mengawasi penyaluran bansos.


Menurutnya, penyaluran bantuan pemerintah non tunai mendorong Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) yang telah dicanangkan bank sentral.



Penyaluran Uang Elektronik Merupakan Investasi Jangka Panjang

Bank Indonesia Targetkan Transaksi Non Tunai Bisa Capai 2,4%

Financeroll – Pengawas sistem pembayaran, Bank Indonesia menargetkan transaksi non tunai bisa menembus 2,4% terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2015.


Kepala Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran mengungkapkan posisi transaksi non tunai hingga Agustus 2014 posisi sudah mencapai 1,6% terhadap PDB.


Transaksi uang elektronik terus naik dan mudah-mudahan bisa tercapai.


Peran penerbit uang elektronik akan meningkatkan efisiensi nasional. Jumlah penerbit uang elektronik sudah mencapai 18 penerbit.


Adapun jumlah volume transaksi uang elektronik hingga September 2014 mencapai 133,77 juta transaksi dengan nominal Rp2,52 triliun.


Sebelumnya, pemerintah telah menggandeng PT Bank Mandiri Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk untuk menyalurkan bantuan sosial (bansos) dalam program keluarga harapan pada Oktober 2014.


Selanjutnya, pada November 2014, pemerintah kembali memberikan bansos program simpanan keluarga sejahtera (PSKS) kepada 15,5 juta keluarga kurang mampu.


Sedangkan 1 juta di antara keluarga tersebut menerima bansos dalam bentuk non tunai. Pilot project program simpanan keluarga sejahtera, kartu Indonesia Pintar (KIP), kartu Indonesia Sehat (KIS), kartu keluarga sejahtera (KKS) masih melibatkan Bank Mandiri.



Bank Indonesia Targetkan Transaksi Non Tunai Bisa Capai 2,4%

Monday, October 13, 2014

PT Bank Mandiri Uji Coba Salurkan Bansos Menggunakan Uang Elektronik

Financeroll – PT Bank Mandiri Tbk. melakukan uji coba penyaluran dana bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), melalui uang elektronik dengan memanfaatkan agen layanan keuangan digital (LKD) sebagai lembaga pembayar.


Direktur Micro and Retail Banking Bank Mandiri mengatakan penerima PKH akan langsung mendapatkan dana bantuan yang ditransfer oleh bank ke masing-masing nomor handphone penerima.


Penerima dana bantuan akan mendapat informasi melalui SMS jika bantuan sudah ditransfer atau mengecek langsung melalui menu mandiri e-cash di handphone. Setelah itu, penerima dapat melakukan transaksi penarikan tunai di Agen LKD Bank Mandiri.


Uji coba yang bekerja sama dengan Bank Indonesia, Kementerian Sosial, Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Keuangan dan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) itu juga dilakukan BRI.


Penyaluran PKH dilakukan di Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Selanjutnya, uji coba juga akan dilakukan di Cirebon, Jawa Barat dan Kupang, Nusa Tenggara Timur dengan penerima PKH lebih dari 1.300 orang.


Skema penyaluran dana bantuan melalui agen LKD ini, merupakan salah satu upaya untuk mendukung program Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) yang dicanangkan Bank Indonesia. Selain itu, langkah ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan layanan perbankan non-tunai dalam bertransaksi sehingga menjadi lebih efisien dan efektif.


Konsep LKD merupakan kegiatan layanan jasa sistem pembayaran dan keuangan yang bekerjasama dengan pihak ketiga (agen), dengan memanfaatkan teknologi mobile based maupun web based. Layanan ini untuk mendukung pengembangan keuangan inklusif serta mendukung penyaluran dana bantuan Pemerintah (G2P) secara efektif. Agen LKD diyakini dapat membantu masyarakat yang belum pernah berhubungan dengan bank (unbanked segment).


Agen LKD dapat melayani transaksi-transaksi perbankan seperti pembukaan rekening uang elektronik, setor tunai dan tarik tunai. Sementara untuk transaksi non-tunai seperti transfer uang ke nomor handphone, beli pulsa handphone atau token listrik dapat dilakukan sendiri oleh pemilik rekening melalui handphone.


Tahun lalu Bank Mandiri telah melakukan uji coba LKD kepada masyarakat yang belum berbank di Kecamatan Losari, Cirebon. Selain Cirebon, edukasi layanan bank tanpa cabang itu juga dilakukan di Indramayu, Bandung dan Sumatera Selatan.


Bank Mandiri menjadi salah satu bank pelaksana ujicoba konsep layanan tanpa cabang dengan menggunakan agen. Saat ini, Mandiri telah bekerjasama dengan 10 agen dan diharapkan dapat meningkat menjadi 9.000 agen pada akhir 2015. Bank Mandiri menargetkan lebih dari 500.000 nasabah akan menggunakan layanan keuangan digital.



PT Bank Mandiri Uji Coba Salurkan Bansos Menggunakan Uang Elektronik