Showing posts with label perusahaan bumn. Show all posts
Showing posts with label perusahaan bumn. Show all posts

Monday, November 3, 2014

Dari 20 Perusahaan BUMN, Ada 7 Yang Tumbuh Diatas 6,3%

Financeroll – Kinerja 7 dari 20 perusahaan emiten pelat merah tercatat tumbuh dengan rata-rata 6,39% pada 9 bulan pertama tahun ini akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi.


Dari ketujuh emiten badan usaha milik negara (BUMN) tersebut, emiten farmasi PT Kimia Farma (Persero) Tbk. tercatat meraih pertumbuhan laba bersih tertinggi mencapai 18,43%.


Pada kuartal III/2014, Kimia Farma meraup laba bersih Rp143,82 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp121,44 miliar.


Penurunan laba bersih paling dalam dibukukan oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. hingga 28,57%.


Per 30 September 2014, BTN meraup laba bersih Rp755 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp1,05 triliun.


Pertumbuhan pendapatan tertinggi tercatat dibukukan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. sebesar 29,66%.


BRI meraup pendapatan Rp52,8 triliun dari sebelumnya Rp40,7 triliun.


PT Semen Baturaja (Persero) Tbk. tercatat menjadi emiten BUMN dengan pertumbuhan pendapatan paling rendah yakni hanya mencapai 2,77%.


Semen Baturaja membukukan pendapatan Rp816 miliar dari sebelumnya Rp794 miliar.


Kepala Riset Koneksi Kapital mengatakan kinerja emiten BUMN dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.


Dampak penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tahun lalu, berakibat pada belanja masyarakat termasuk korporasi berkurang.


Tahun ini, emiten tidak seekspansif dibandingkan tahun lalu. Tapi sektor jasa khususnya jasa konstruksi dan keuangan tidak begitu terpengaruh oleh perlambatan ini.


Emiten BUMN konstruksi dan perbankan dapat bertahan dari tekanan kenaikan biaya produksi terutama akibat kenaikan harga BBM, tarif dasar listrik, dan kenaikan harga barang. Kedua sektor tersebut lebih tahan dibandingkan sektor manufaktur.


Sektor perbankan, kinerja PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dan BRI dinilai lebih tinggi dari ekspektasi. Namun, untuk BTN kinerjanya dinilai wajar karena menjadi bank khusus yang menyalurkan kredit perumahan dengan tenor panjang.


Sektor konstruksi, terdapat PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk. dan PT Adhi Karya (Persero) tbk. dinilai masih menjanjikan.


Akan tetapi, Adhi Karya diperkirakan akan membukukan kinerja di bawah ekspektasi.


Kepala Riset Woori Korindo Securities Indonesia, mengaku cukup terkejut dengan pertumbuhan yang dibukukan oleh KAEF.


Emiten farmasi ini diperkirakan hanya mampu tumbuh 10%-11%. KAEF lebih tinggi dari perkiraan .


Sementara kinerja BBRI dan BMRI dinilai sesuai dengan ekspektasi.


Tetapi, Woori Korindo telah melakukan revisi target pertumbuhan sektor perbankan akibat perlambatan ekonomi dan kebijakan Bank Indonesia yang lebih ketat.


Kinerja TLKM lebih rendah dari ekspektasi yang telah direvisi oleh Woori Korindo. Awalnya, diperkirakan TLKM dapat tumbuh hingga 9%, kemudian dikoreksi menjadi 5%-6% pada tahun ini.


Kendati demikian dinilai industri telekomunikasi di Tanah Air memang tengah mengalami penurunan. Telkom tercatat menjadi emiten yang masih memiliki pertumbuhan positif.


Pada bagian lain, JSMR juga dinilai tumbuh mengesankan. Peningkatan laba 11,76% dinilai sedikit lebih tinggi dari ekspektasi yang hanya 10%. Kenaikan laba JSMR tertolong oleh peningkatan tarif tol dan volume kendaraan.


Begitu pula dengan SMBR yang dinilai dapat tumbuh lebih baik ketimbang rata-rata pertumbuhan industri. Diperkirakan pertumbuhan SMBR hanya mampu mencapai 5%-6%, namun justru dapat mencapai 8,95%.


Hingga akhir tahun, diperkirakan kinerja sejumlah emiten BUMN masih akan tertekan. Di antaranya PT Indofarma (Persero) Tbk, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk., PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, PT Bukit Asam (Persero) Tbk, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk, dan PT Timah (Persero) Tbk.


Adapun emiten konstruksi milik pemerintah dinilai masih menjanjikan untuk meraup pertumbuhan kinerja positif.


Tercatat ada PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, dan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk.


Emiten konstruksi masih ada harapan, dengan adanya proyek konstruksi, adanya program carry over kontrak sebelumnya, masih cukup tertolong.



Dari 20 Perusahaan BUMN, Ada 7 Yang Tumbuh Diatas 6,3%

Friday, October 31, 2014

Masih Banyak BUMN Belum Laksanakan Transaksi Hedging

Financeroll – Perusahaan BUMN masih belum memiliki kepercayaan diri dan ragu-ragu untuk memulai transaksi lindung nilai (hedging). Meskipun standar operasional prosedur transaksi lindung nilai (hedging) telah disepakati oleh Bank Indonesia dan instansi terkait, baru Garuda Indonesia yang melakukan transaksi lindung nilai.


Istilahnya, mereka belum cukup percaya diri melakukan hedging. Nanti dibilang merugikan negara. Kalau swasta tidak pusing mikirin itu karena tidak akan ada tuduhan seperti itu.


Padahal, Bank Indonesia, BPK, dan pemerintah telah menyepakati bahwa kerugian yang diakibatkan dalam transaksi hedging tidak lagi dianggap sebagai kerugian negara selama transaksi dilakukan secara konsisten, konsekuen, dan akuntabel.


Apalagi dengan adanya Permen ESDM No.9/2013 yang menyebutkan bahwa BUMN dibebaskan untuk melakukan transaksi lindung nilai, seharusnya BUMN tak lagi perlu merasa khawatir mengenai kerugian dalam transaksi tersebut.


Oleh karena itu, BNI giat menggencarkan sosialisasi mengenai prosedural dan transaksi lindung nilai kepada para nasabah—baik BUMN maupun swasta—di daerah-daerah. Hari ini, BNI baru saja melakukan sosialisasi di Balikpapan, Kalimantan Timur.


Kalau sosialisasi ke BUMN akan menurunkan satu tim, dari bagian keuangan, resiko, dan lain-lain. Mereka butuh penjelasan lebih teknis.



Masih Banyak BUMN Belum Laksanakan Transaksi Hedging