Showing posts with label Ekonomi Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Ekonomi Indonesia. Show all posts

Tuesday, November 25, 2014

Momentum Emas Bagi Reformasi Kebijakan Struktural ekonomi

Inovasi, Kolaborasi, dan Konsistensi Merupakan Kunci Keberhasilan Transformasi Ekonomi Indonesia


 



FINANCEROLL – Di tengah ketidakpastian ekonomi dan pasar global saat ini, bangsa Indonesia menghadapi tantangan untuk membawa perubahan ekonomi menjadi kuat secara finansial, berkelanjutan, dan berkeadilan sosial. Oleh karena itu, dalam kesempatan kali ini para ahli di bidang ekonomi dan para pemimpin politik bangsa mengulas perkembangan tren dan strategi pembangunan terkini di bawah Kabinet Kerja yang baru, serta berbagi wawasan seputar peluang pertumbuhan bisnis dan investasi di Indonesia.


DBS Indonesia dalam seminar ‘DBS Asian Insights Seminar 2014’ pada Selasa (25/11) mengusung tema  ‘Gamechanger; Championing a Better Indonesia’ di Jakarta. Dalam seminar ini menghadirkan para pembicara seperti Sofyan A. Djalil, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia; Andrinof Chaniago, Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional Republik Indonesia (Kepala Bappenas); Kuntoro Mangkusubroto, Guru Besar Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung; Muhammad Chatib Basri, Pengamat Ekonomi Senior dan Menteri Keuangan Republik Indonesia (2013-2014); Mari Elka Pangestu, Pengamat Ekonomi Senior dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (2011-2014); Lin Che Wei, Pengamat Keuangan dan Pendiri Independent Research and Advisory Indonesia; Melvin Teo,Presiden Direktur DBS Indonesia; Gundy Cahyadi, Economist di DBS Group Research; dan Maynard Arief, Head of Research di DBS Vickers Indonesia.


Perlambatan ekonomi Indonesia saat ini adalah momentum yang tepat untuk mengawal reformasi kebijakan-kebijakan struktural ekonomi untuk menciptakan perubahan jangka panjang yang lebih baik. Sofyan Djalil menjelaskan bahwa tantangan ke depan tidaklah mudah mengingat kondisi ekonomi dunia yang sedang melesu, tetapi kunci kemajuan sebuah negara adalah menggulirkan kebijakan yang tepat guna (good policy) secara konsisten. Kebijakan fiskal perlu diarahkan untuk dapat membuka lapangan kerja, membangun infrastruktur, dan mendorong investasi untuk pembangunan. Kebijakan di sektor riil seperti penyediaan listrik di daerah juga perlu diarahkan agar lebih optimal. “Oleh karena itu, tantangannya sekarang adalah menciptakan iklim kemudahan untuk melakukan bisnis di seluruh Indonesia,” tegas Sofyan Djalil, “Dan saya yakin kami (pemerintah baru) dapat menepati apa yang telah kami janjikan.”


 Sementara menurut Kuntoro Mangkusubroto. dalam menghadapi beragam tantangan masa kini, Indonesia harus berinovasi. Meski sulit, inovasi diperlukan untuk menciptakan ekosistem implementasi kebijakan yang baik.


Diskusi yang dimoderatori oleh Rosianna Silalahi ini juga berkesempatan menyampaikan pandangannya terkait persoalan bagaimana melakukan perubahan atau transformasi di tengah kondisi eksternal yang tidak mendukung. Mari Elka Pangestu, berpendapat bahwa tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia adalah implementasi. “Kebijakan yang baik saja tidak cukup; tantangannya adalah implementasi. Jika tidak bisa mengubah semua, maka mulailah dengan perubahan hal yang kecil. Oleh karena itu, yang akan menjadi gamechanger bagi Indonesia adalah kreativitas dan inovasi,” ujar Mari E. Pangestu.


Senada dengan pandangan tersebut, Chatib Basri menjelaskan bahwa melakukan reformasi bisa dimulai dengan melakukan perubahan-perubahan pada hal yang sederhana, baru setelah berhasil bisa diadopsi secara meluas. Indonesia perlu menciptakan iklim investasi yang kompetitif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Lin Che Wei menilai bahwa kuncinya adalah eksekusi yang baik oleh pemerintah dan menggapai ‘low-hanging fruits’ untuk membangun momentum, misalnya dengan mengubah kebijakan untuk debottle-necking prosedur perizinan bisnis di Indonesia.


“Momentum emas bagi Indonesia adalah dalam kurun waktu 3-5 tahun ini karena ini merupakan saat yang tepat untuk reformasi kebijakan struktural ekonomi yang dapat membawa perubahan positif secara jangka panjang,” ungkap Gundy Cahyadi, Ekonom DBS Group Research, “Bagi kami yang penting adalah melihat implementasi kebijakan pemerintah secara bertahap namun konsisten.”  Konsistensi menjadi faktor penting yang mempengaruhi pasar modal. Hal ini dijelaskan oleh Maynard Arief, Head of Research di DBS Vickers Indonesia, “Selain faktor eksternal dan dinamika ekonomi global, naik-turunnya bursa saham juga sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar. Oleh karena itu, eksekusi dan konsistensi dalam implementasi harus dijaga untuk mempertahankan momentum yang baik.”


Perekonomian nasional yang sehat tentunya perlu didukung pula oleh fondasi ekonomi yang kuat dan berkelanjutan. Terkait hal ini, Andrinof Chaniago melihat bahwa pemerintah Indonesia perlu mengarahakan kebijakannya untuk membantu agar semua pelaku ekonomi bisa berproduksi, misalnya dengan kebijakan fiskal untuk membiayai hal-hal yang bersifat produktif seperti infrastruktur. Selain masalah infrastruktur, kepastian hukum, dan birokrasi, Indonesia juga perlu memperhatikan masalah financial inclusion masyarakat dalam perbankan. Hal ini penting untuk memberikan akses finansial kepada seluruh pelaku ekonomi di Indonesia. Chatib Basri mengungkapkan bahwa persoalannya saat ini 80 persen penduduk Indonesia masih belum memiliki akses perbankan. Salah satu cara untuk mengatasi persoalan ini adalah dengan cara mobile banking yang didukung oleh infrastruktur teknologi informasi yang memadai dan platform pembayaran yang andal.


Menangkap kemauan dan niat baik dari pemerintah, Presiden Direktur DBS Indonesia, Melvin Teo menyampaikan bahwa beragam ide, agenda, dan hal-hal yang dapat ditindaklanjuti tersebut sekiranya bisa dilakukan kolaborasi untuk mengawal perubahan bagi Indonesia maju. DBS Indonesia berharap bisa bersama untuk kemajuan perekonomian Indonesia, ungkap Melvin. Tahun ini DBS Indonesia sendiri merayakan hari jadinya yang ke-25. (Lukman Hqeem | @hqeem)



Momentum Emas Bagi Reformasi Kebijakan Struktural ekonomi

Saturday, November 8, 2014

Likuiditas Industri Perbankan Cukup Memenuhi Pembiayaan Ekonomi Indonesia

Financeroll – Bank Indonesia menilai likuiditas industri perbankan masih cukup memenuhi kebutuhan pembiayaan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun.


Deputi Gubernur Bank Indonesia mengatakan walaupun pembiayaan cenderung mengalami perlambatan akan tetapi itu tidak menjadi bumerang bagi industri perbankan, sebab sumber dana pihak ketiga (DPK) mulai tumbuh mengejar kredit.


Likuiditas bank cukup dalam aktifitas menyalurkan kredit.


Di tengah perlambatan penyaluran kredit, sebagian bank-bank membukukan likuiditas cukup longgar. Adapun PT Bank Permata Tbk pada kuartal III/2014, mencatatkan rasio pembiayaan terhadap pendanaan (loan to deposit ratio/LDR) 88,1%, turun dibandingkan dengan posisi pada periode sama tahun lalu 94,5%.


PT Bank OCBC NISP Tbk juga mencatatkan LDR yang kian melonggar pada September 2014 menjadi 83,6% dari posisi sebelumnya pada periode yang sama 97%. Adapun penyaluran kredit pada periode tersebut Rp66,61 triliun, tumbuh 9% secara year on year.


Sementara itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) Bank OCBC NISP pada kuartal III/2014 mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi dari kredit yakni 26% menjadi Rp79,46 triliun dari posisi Rp62,87 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya.


Presiden Direktur Bank OCBC NISP menuturkan perusahaan masih tetap memantau kondisi likuditas di pasar dan faktor yang mempengaruhi dari waktu ke waktu untuk menyesuaikan strategi jangka pendek maupun jangka panjang.



Likuiditas Industri Perbankan Cukup Memenuhi Pembiayaan Ekonomi Indonesia

Thursday, November 6, 2014

Sempat Melemah, IHSG Berbalik ke Jalur Hijau

Financeroll – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan akhir pekan dengan melemah tipis. Namun aksi beli investor domestik membawa IHSG balik arah ke zona hijau.  Membuka perdagangan preopening, IHSG menipis 0,866 poin (0,02%) ke level 5.033,365. Sedangkan Indeks unggulan LQ45 berkurang 0,217 poin (0,03%) ke level 857,399.


Pada awal perdagangan akhir pekan, Jumat (7/11), IHSG naik tipia 3,274 poin (0,07%) ke level 5.037,505. Indeks LQ45 menguat tipis 0,697 poin (0,08%) ke level 858,313.  Aksi beli belum terlalu ramai pagi hari ini. Saham-saham unggulan yang diincar investor akhirnya bisa menguat, seperti di sektor tambang dan konsumer.


Tercatat hingga pukul 9.05 waktu JATS, IHSG bertambah 2,416 poin (0,05%) ke level 5.036,647. Sementara Indeks LQ45 tumbuh 0,248 poin (0,03%) ke level 857,828.  Kemarin IHSG terpangkas 32 poin setelah investor asing memutuskan untuk melepas saham. Ekonomi Indonesia yang melambat juga masih menjadi sentimen negatif.


Adapun situasi di bursa-bursa Asia pagi hari ini:  Indeks Nikkei 225 menguat 103,39 poin (0,62%) ke level 16.895,87, Indeks Hang Seng melemah 46,31 poin (0,20%) ke level 23.649,31, Indeks Komposit Shanghai naik 6,61 poin (0,27%) ke level 2.425,86, dan  Indeks Straits Times bertambah 5,22 poin (0,16%) ke level 3.296,18.


Sementara itu, Wall Street bertahan di zona hijau setelah melawati perdagangan yang fluktuatif. Dow Jones dan S&P 500 berhasil cetak rekor baru.  Bursa-bursa regional pagi ini rata-rata dibuka di zona hijau memanfaatkan momentum rekor Wall Street semalam. Pasar saham Hong Kong malah ketinggalan di teritori negatif. [geng]


 



Sempat Melemah, IHSG Berbalik ke Jalur Hijau

Monday, October 20, 2014

Investor Optimistis, Pasar Uang Domestik Bergerak Positif

Financeroll - Laju nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin (20/10) sore, menguat 84 poin menjadi Rp 12.025 dibandingkan dengan posisi sebelumnya Rp 12.109 per dolar AS.  Posisi mata uang rupiah yang menguat masih ditopang oleh sentimen politik di dalam negeri.  Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup awal pekan dengan hanya naik 11 poin padahal sudah naik cukup tinggi di tengah perdagangan. Aksi ambil untung investor lokal menghambat laju IHSG.


Kondusifnya  situasi politik di dalam negeri itu juga akan berdampak baik pada laju ekonomi Indonesia ke depannya, sehingga mampu menahan sentimen negatif global yang cenderung mengalami perlambatan.  Sentimen dari ekonomi global seperti Eropa cenderung masih stagnan, dan Jepang juga masih dalam tren pemulihan yang moderat. Belum positifnya sentimen global itu masih dapat ditahan dari sentikmen dalam negeri, sehingga rupiah kembali berada dalam area positif,” ucapnya.


Setelah eforia pelantikan presiden ini, susunan kabinet pemerintahan Jokowi-JK juga diharapkan sesuai dengan ekspektasi pasar. Pelaku pasar keuangan mengharapkan bahwa posisi menteri diisi oleh orang profesional.  Salah satu posisi yang dicermati pasar yakni Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Menteri keuangan.     Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari Senin (20/10) tercatat mata uang rupiah bergerak menguat menjadi Rp 12.041 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp 12.222 per dolar AS.


Dari bursa saham, menutup perdagangan Sesi I, IHSG menanjak 54,055 poin (1,07%) ke level 5.083,001 merespons positif lancarnya prosesi pelantikan Presiden dan Wapres Republik Indonesia (RI). Dana asing kembali menyerbu lantai bursa.  Tak butuh waktu lama bagi indeks untuk menembus titik tertingginya hari ini di 5.101. Aksi jual investor lokal sedikit menghambat laju IHSG.


Pada akhir perdagangan awal pekan, Senin (20/10), IHSG naik 11,586 poin (0,23%) ke level 5.040,532. Sementara Indeks LQ45 menguat 0,837 poin (0,10%) ke level 855,031.  Saham-saham unggulan jadi sasarn aksi ambil untung, terutama saham yang sempat naik tinggi pagi tadi. Saham-saham tersebut berada di sektor perkebunan, tambang, konsumer, dan menufaktur.


Sementara itu, investor memilih beli saham. Transaksi pemodal asing sampai sore hari ini tercatat melakukan pembelian bersih (foreign net buy) senilai Rp 744,821 miliar di seluruh pasar.  Perdagangan hari ini berjalan cukup ramai dengan frekuensi transaksi sebanyak 239.954 kali dengan volume 5,376 miliar lembar saham senilai Rp 7,475 triliun. Sebanyak 181 saham naik, 122 turun, dan 76 saham stagnan.


Sedangkan bursa di Asia menutup perdagangan awal pekan dengan kompak di zona hijau. Bursa saham Jepang melonjak hingga hampir empat persen.  Berikut situasi dan kondisi bursa regional hari ini:  Indeks Nikkei 225 melonjak 578,72 poin (3,98%) ke level 15.111,23, Indeks Hang Seng naik 47,05 poin (0,20%) ke level 23.070,26, Indeks Komposit Shanghai menguat 15,54 poin (0,66%) ke level 2.356,73, dan  Indeks Straits Times bertambah 21,35 poin (0,67%) ke level 3.189,08. [geng]



Investor Optimistis, Pasar Uang Domestik Bergerak Positif

Thursday, October 16, 2014

Perekonomian Indonesia Berkontraksi Seiring Melambatnya Prompt Manufacturing Index

InfoGaya – Perekonomian Indonesia kembali berkontraksi pada triwulan III/2014, terindikasi dari indeks manufaktur atau Prompt Manufacturing Index (PMI) dan pertumbuhan dunia usaha yang kembali melambat.



Dalam publikasinya, Bank Indonesia (BI) mencatat PMI melemah sekitar 3% menjadi 49,45% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Sejak akhir 2012, PMI Indonesia berkutat pada rentang 47,18%-56,36% dengan rata-rat 50,85%.


PMI adalah komposit indikator yang memberikan gambaran tentang kondisi sektor industri dalam negeri. Indeks di atas 50 menunjukkan sinyal ekspansi usaha sedangkan di bawah 50 mensinyalkan kontraksi usaha.


Besaran indeks manufaktur itu menunjukkan masalah utama di sektor manufaktur belum terpecahkan.


Tekanan terutama dari kenaikan upah dan dari eksternal. Ada juga masalah infrastruktur, biaya logistik, dan kebijakan yang tak sejalan antara pusat dan daerah.


LPEM memproyeksikan sektor manufaktur memang cenderung melambat sepanjang tahun ini. Dengan demikian kontraksi ini tentu berpengaruh besar pada pertumbuhan ekonomi.


Apalagi, kontribusi sektor ini terhadap produk domestik bruto nyaris berkisar 30% dan menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi.


Perlambatan PMI dikonfirmasi oleh kontraksi 3 indikator dari total 5 indikator pembentuknya. Indeks volume pemesanan, indeks penerimaan pesanan barang input, dan indeks tenaga kerja tercatat melemah.


Hanya indeks volume produksi dan indeks persediaan barang jadi yang mencatatkan pertumbuhan. Itupun pertumbuhan keduanya masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.


Indeks tenaga kerja menunjukkan realisasi pada triwulan III/2014 menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Indeks tenaga kerja, yang diukur menggunakan saldo bersih tertimbang (SBT) tercatat melemah dari 2,9% menjadi 2,62%.


Sementara itu, dari sisi investasi tercatat melemah tipis. Realisasi yang terbesar ada di sektor industri pengolahan dan sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan.



Perekonomian Indonesia Berkontraksi Seiring Melambatnya Prompt Manufacturing Index

Wednesday, October 15, 2014

Prospek Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Menghadapir Resiko Domestik

Financeroll – Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia menghadapi risiko dari sisi domestik berupa keterbatasan pasokan barang dan jasa di dalam negeri.


Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan kendala suplai itu terjadi karena produktivitas yang rendah. Penyebabnya adalah belanja riset dan pengembangan yang minim, kualitas sumber daya manusia yang rendah, dan kapasitas inovasi yang belum mumpuni.


Mengutip data Asian Productivity Organization (APO), disebutkan produktivitas Indonesia hanya 0,5, lebih rendah dari Malaysia yang mencapai 1, Thailand 1,9, dan Vietnam 3. Produktivitas itu terdiri atas produktivitas modal dan tenaga kerja.


Semua itu menyebabkan kontribusi teknologi kepada pertumbuhan ekonomi menjadi rendah, dan menjadi kesulitan dalam menjaga pertumbuhan yang tinggi.


Kesenjangan infrastruktur juga melatarbelakangi kendala suplai, setidaknya tecermin pada ranking kualitas infrastruktur Indonesia di posisi 72, jauh tertinggal dari negara tetangga, Malaysia, yang merebut ranking 20 menurut Global Competitiveness Index 2014-2015.


Bambang mengatakan infrastruktur yang tidak memadai tecermin pada biaya logistik yang tinggi.


Kondisi ini terjadi karena belanja infrastruktur yang minim. Kelangkaan ini akhirnya membuat produktivitas rendah dan inefisiensi.


Kendala suplai lainnya disebabkan oleh kualitas sumber daya manusia dan pasar tenaga kerja yang rendah. Rata-rata masa belajar di Indonesia 7,61 tahun, hanya sedikit di atas Vietnam yang 7,15 tahun. Tidak heran jika hal itu menempatkan Indonesia pada posisi 87 menurut Bank Dunia.


Pasar keuangan yang dangkal dan biaya dana yang tinggi juga turut menjadi penyebab. Rasio uang beredar terhadap produk domestik bruto (M2) Indonesia menurut World Development Report hanya 40 per September 2014. Ini jauh di bawah Thailand dan Malaysia yang 131 dan 141.


Bunga kredit di Indonesia pun relatif paling tinggi di antara peers, yakni 13,63%, jauh di atas Malaysia yang 5,54%, Thailand 6,76%, dan China 6,08%.


Spread yang tinggi antara bunga kredit dengan bunga simpanan mengindikasikan sektor perbankan yang kurang efisien.



Prospek Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Menghadapir Resiko Domestik