Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Sunday, January 18, 2015

Nathalia Sunaidi : Investasi Properti di 2015 Lebih Menggiurkan

FINANCEROLL –  Pengembang properti optimistis pasar properti Indonesia akan kembali cerah pada 2015. Meskipun, pada 2014 terjadi perlambatan akibat situasi politik di Indonesia. Tingginya inflasi dan suku bunga diyakini tidak memberikan dampak pada investasi di sektor properti. ‘’Properti masih menjadi instrument investasi yang menggiurkan,’’ujar CEO Samara Dana Property Nathalia Sunaidi di Jakarta.


Menurut Nathalia, properti jenis landed house  atau rumah tapak diyakini akan memberikan return lebih besar dibandingkan dengan property high rise. ‘’Berdasarkan riset untuk property landed bisa mencapai sekitar 20% gain yang bisa diraih,’’tutur wanita yang juga menjabat CEO Rotterdam Property ini. Menurut Nathalia Sunaidi, lahan yang semakin berkurang dan tingginya permintaan masyarakat akan properti membuat harga properti semakin tinggi. Bagi Nathalia juga, Indonesia adalah surganya properti. Sebab akan selalu untung jika berinvestasi di Indonesia.


“Di Indonesia, meski Anda salah pilih lokasi rumah, harga tetap naik. Namun, investor properti harus pintar, lokasi kita semakin baik, harganya semakin tinggi. Ini hanya berlaku di Indonesia,” ujar Nathalia. Bersama perusahaannya, Rotterdam Properti dan Samara Dana Properti, Nathalia telah membangun proyek di Jakarta dan sekitarnya seperti Rotterdam Residence, Rotterdam Business Center, Rotterdam Depok Residences dan Callabasas Residenses.  Proyek-proyek yang digarapnya tersebut terhitung cukup sukses dan mampu terjual dalam waktu singkat.


Nathalia memaparkan, tahun depan, Rotterdam Property dan Samara Dana Property akan mengembangkan dua kawasan hunian landed house di kawasan Bekasi dan hunian vertikal apartemen di kawasan Tangerang, Banten. Selain itu Nathalia juga mengatakan, kawasan di wilayah Koridor Timur Jakarta seperti Bekasi memiliki keunggulan dari segi harga. Harga tanah di kawasan ini, masih jauh lebih murah dibandingkan dengan kawasan Barat, seperti Serpong, Tangerang, Banten.


Tahun 2014 menjadi tahun politik, oleh karena itu para pengembang properti melakukan taktik wait & see. Namun, Nathalia yakin bahwa iklim investasi akan semakin membaik terutama bila dikaitkan dengan stabilitas ekonomi makro yang didukung kebijakan moneter, fiskal dan sektor riil.


“Komitmen pemerintah pusat dan daerah untuk meningkatkan daya saing juga menjadi faktor pendukung pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain proyek perbaikan kinerja salah satunya didorong oleh industri properti,” katanya. Dengan adanya dukungan positif tersebut, wanita yang lebih dulu dikenal sebagai hypnotherapist expert ini meyakini bahwa 2015 sektor properti akan tumbuh dan memiliki prospek yang cerah.


“Selain itu berbagai proyek infrastruktur yang terus berkembang di Jakarta dan sekitarnya akan mendorong pertumbuhan properti tahun depan. Seperti pembangunan MRT, jalan tol, dan rute busway baru yang tentunya akan memberikan efek positif,” ungkap Amran. Kondisi perlambatan yang terjadi saat ini tak perlu dirisaukan karena properti merupakan instrumen investasi jangka panjang.”Seiring dengan potensi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kebutuhan, prospek investasi properti juga akan kembali mencorong. Perlambatan yang ada saat ini bukan berarti stagnan, tapi masih tetap tumbuh,” tegasnya. (Lukman Hqeem | @hqeem)



Nathalia Sunaidi : Investasi Properti di 2015 Lebih Menggiurkan

Thursday, January 15, 2015

Pemerintah Naikkan Subsidi Tiket Ekonomi Kereta Api, Mencapai Lebih 1,52 Trilyun

FINANCEROLL – Awalnya, PT. KAI mencabut subsidi tiket kereta ekonomi jarak jauh dan sedang di Pulau Jawa dan Sumatera. Langkah KAI yang diumumkan oleh Direktur Komersial KAI Bambang Eko Martono pada 30 September di Jakarta sebagai langkah lanjutan dari sinyal Kementrian Perhubungan yang berencana mengalihkan subsidi kereta ekonomi ke kereta lokal dan commuter seperti KRL Jabodetabek.


Pemerintahan Presiden Joko Widodo membawa angin perubahan kebijakan kembali. Pemerintah justru menaikkan subsidi bagi penumpang kereta ekonomi lebih besar Rp.240 milyar. Jika pada 2014 nilai subsidi sebesar Rp. 1,224 trilyun, di tahun 2015 ini naik menjadi Rp. 1,524 trilyun. Kenaikan ini mengacu pada naiknya inflasi, tarif dasar listrik dan harga bahan bakar minyak (BBM).


Secara resmi, pemberian subsidi ini dilakukan pemerintah melalui Kementrian Perhubungan yang ditandai dengan penandatanganan Kontrak Penyelenggaraan Kewajiban Pelayanan Publik yang dilakukan oleh Dirjenka, Kemenhub Hermanto Dwiatmoko dengan Direktur Utama PT. KAI Edi Sukmoro di Jakarta. Ikut menyaksikan penandatanganan kontrak ini adalah Menteri Perhubungan  Ignasius Jonan.


Dari Rp,1,52 trilyun tersebut, sebesar Rp. 115 Milyar akan dialokasikan untuk tiket penumpang kereta api ekonomi jarak jauh, Rp. 131 milyar untuk jarak sedang, Rp. 464 milyar untuk jarak dekat, Rp. 44 milyar untuk KRD Ekonomi, Rp. 754 milyar untuk Commuter Line Jabodetabek dan Rp. 13 Milyar untuk KA Angkutan Lebaran 2015 nanti.


Menurut Edi Sukmoro, Commuter Line Jabodetabek mendapat porsi paling besar mengingat memiliki jumlah penumpang paling banyak per hari. Selain itu juga untuk menjaga tarif tidak naik dan merangsang masyarakat Jabodetabek untuk lebih memilih menggunakan Commuter Line. Edi Sukmoro juga menambahkan bahwa prioritas subsidi memang diberikan kepada penumpang KA jarak dekat, lokal hingga jarak jauh adalah untuk memudahkan masyarakat dalam menggunakan moda transportasi kereta api. Kereta Api selaian dipergunakan untuk sarana transportasi sehari-hari, juga menjadi pilihan masyarakat untuk pulang kampung dan melakukan perjalanan jauh.


Subsidi ini efektif berlaku bagi kereta api jarak dekat, lokal dan KRD sejak 1 Januari, termasuk Commuter Line Jabodetabek. Untuk kereta api jarak sedang akan berlaku pada 1 Maret 2015 untuk Pulau Jawa, sementara di Pulau Sumatera mulai 1 Januari 2015. Penumpang kereta api ekonomi jarak jauh, bisa menikmati subsidi ini mulai 1 Maret 2015. Khusu kereta api untuk angkutan penumpang masa lebaran, subsidi akan diberikan selama 16 hari dibulan Juli 2015 untuk KA. Pasundan, KA. Kertaja, KA. Tawangjaya, KA. Matarmaja, KA. Mantab, KA. Kutojaya Utara dan KA. Kutojaya Selatan.


Bagi masyarakat yang sudah melakukan pemesanan atau pembelian tiket KA dengan keberangkatan Januari ini dengan tarif komersial atau non subsidi, maka selisih bea tiket akan dikembalikan oleh PT. KAI. Pengembalian dilakukan di stasiun keberangkatan, kedatangan atau stasiun lain yang melayani pengembalian atau pembatalan tiket, paling lambat 3 hari setelah jadwal kedatangan kereta api.


Dengan kenaikan jumlah subsidi pemerintah ini, Edi berharap masyarakat tidak risau dan bisa terus menikmati layanan kereta api yang lebih baik lagi. (Lukman Hqeem | @hqeem | 2AC9FBE6)



Pemerintah Naikkan Subsidi Tiket Ekonomi Kereta Api, Mencapai Lebih 1,52 Trilyun

Friday, January 2, 2015

Banjir Ganggu Pasokan CPO, Harga Turun Tipis

Finacerol – Banjir yang menjangkiti masa produksi minyak sawit di Malaysia akan memperburuk penurunan musiman dalam output dan akan mengurangi persediaan, demikian menurut CIMB Investment Bank Bhd yang mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan harga akan tetap bertahan karena gangguan persediaan tadi.


Genangan yang mempengaruhi sekitar 184.000 hektar (455.000 hektar), atau sekitar 3,5 persen dari total luas tanaman sawit negara, terutama negara bagian Kelantan, Pahang dan Terengganu paling parah, demikian analis Ivy Ng menulis dalam sebuah laporan tanggal hari ini. Output diperkirakan telah jatuh 20 persen menjadi sekitar 1,4 juta metrik ton bulan lalu dari bulan November, ivy Ng mengatakan, mengutip perkiraan dari Industri Perkebunan dan Komoditas Menteri Douglas Uggah Embas.


Minyak kelapa sawit rally pekan ini ke level tertinggi dalam hampir dua bulan akibat kekhawatiran cuaca basah dari biasanya yang membentang dari Thailand selatan, Malaysia dan Indonesia yang bisa mengganggu persediaan. Banjir juga menyebabkan Banjir pengungsi ratusan ribu orang, infrastruktur yang rusak dan mendorong pemerintah di Malaysia untuk memprioritaskan pekerjaan mitigasi banjir. Negara ini merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia setelah Indonesia.


Minyak sawit untuk pengiriman Maret turun 0,6 persen lebih rendah, berada pada posisi 2253 ringgit ($ 641) per ton di Bursa Malaysia Derivatives pada sesi siang di Kuala Lumpur. Harga rally ke level 2.308 ringgit pada 29 Desember, tertinggi sejak November 4. Bulan lalu naik 4,3 persen, berlawanan dengan trend penurunan tahunan karena banjir menyebar.



Banjir Ganggu Pasokan CPO, Harga Turun Tipis

PMI Manufaktur Indonesia Bukukan Rekor Terendah

Financeroll – Rilis data aktivitas pabrik Indonesia menunjukan kejatuhan ke rekor rendah dan jatuh dibanding data bulan lalu. Hal ini mencerminkan penurunan sektor manufaktur negara Indonesia.


Indeks pembelian manajer manufaktur HSBC atau PMI, turun menjadi 47,6 pada Desember dari 48,0 pada bulan November.


Penurunan tersebut terjadi “karena melemahnya permintaan eksternal yang sangat berpengaruh besar pada kondisi sektor manufaktur,” kata ekonom HSBC Su Sian Lim.


Angka di bawah 50 PMI menunjukkan kontraksi dalam kegiatan manufaktur, sementara angka di atas 50 menunjukkan ekspansi.



PMI Manufaktur Indonesia Bukukan Rekor Terendah

Thursday, December 18, 2014

Ekonomi Indonesia Akan Tumbuh 7% Tahun 2016-2017

Financeroll – Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7% bisa tercapai pada tahun 2016 nanti. Untuk mencapai target itu pemerintah akan mengandalkan kegiatan penanaman modal, baik dari pengusaha domestik maupun luar negeri.


Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menghitung, dana investasi yang dibutuhkan untuk menyokong target pertumbuhan itu sebesar Rp 700 triliun per tahun. Asumsinya, setiap kenaikan pertumbuhan ekonomi 1%, perlu investasi langsung Rp 100 triliun.


Tahun 2015, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,8%, seperti ditetapkan di anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2015. Untuk mencapai target itu, target penanaman modal Rp 550 triliun. “Agar tumbuh 7% perlu tambahan lagi sekitar 1,5%, jadi kebutuhan total dana investasinya sekitar Rp 700 triliun” ujar JK, Kamis (18/12).


Oleh karenanya Kalla ingin pemerintah daerah membantu pemerintah pusat dalam menyederhanakan perizinan. Saat ini perizinan investasi masih melibatkan pemerintah daerah. Antara lain seputar izin lingkungan, izin lokasi, dan izin prinsip dari bupati/walikota dan dinas di daerah.


Menteri Keuangan Bambang Brojonegoro mengatakan target pertumbuhan ekonomi sebesar 7% bisa tercapai pada tahun 2016. Dengan catatan semua skenario rencana pembangunan tahun 2015 berjalan mulus. Misalnya, kebijakan yang mendorong pertumbuhan lapangan kerja, hingga pembangunan infrastruktur.


Jika pada tahun 2016 pemerintah tidak dapat mencapai target pertumbuhan tersebut, Bambang akan menolelirnya setahun selanjutnya atau 2017. “Yang penting, sebelum 2019 sudah tercapai target yang dijanjikan Pak Jokowi agar pertumbuhan mencapai 7%,” papar Bambang.



Ekonomi Indonesia Akan Tumbuh 7% Tahun 2016-2017

Wednesday, December 17, 2014

Traksaksi Surat Utang Indonesia Menurun

Financeroll – Volume transaksi obligasi pemerintah terpantau turun 41,92% pada perdagangan Rabu kemaren. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia yang dikutip riset Debt Research Danareksa Sekuritas dan dirilis Kamis ini, volume transaksi obligasi pemerintah kemarin tercatat Rp12,18 triliun, dari transaksi sebelumnya Rp20,97 triliun.


Jumlah tersebut di atas transaksi harian tahun ini sebesar Rp10,64 triliun. Adapun obligasi tenor jangka menengah antara 5-15 tahun yang paling diburu. Obligasi seri FR0070 tercatat menjadi obligasi pemerintah teraktif dengan volume transaksi mencapai Rp2,27 triliun.


Selanjutnya, obligasi pemerintah seri FR0071 menempati peringkat kedua teraktif dengan volume transaksi Rp2,2 triliun. Dan posisi ketiga teraktif ditempati oleh obligasi pemerintah seri FR0069 dengan volume transaksi Rp1,69 triliun.



Traksaksi Surat Utang Indonesia Menurun

Rupiah Mulai Kembali Perkasa

Financeroll – Pada transaksi pagi ini (18/12), rupiah mencatatkan penguatan terbesar dalam tujuh pekan terakhir. Data Bloomberg menunjukkan, pada pukul 09.23 WIB, rupiah di pasar spot menguat 0,7% menjadi 12.570 per dollar AS. Ini merupakan level terbesar sejak 29 Oktober lalu.


Sementara, nilai tukar rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) berada di level 12.565. Itu artinya, rupiah JISDOR perkasa 1,2% dari posisi kemarin yang berada di level 12.720.


Sedangkan di pasar offshore, nilai tukar rupiah untuk pengantaran satu bulan ke depan menguat 1% menjadi 12.741 per dollar AS.


Penguatan rupiah terjadi setelah the Federal Reserve menyatakan akan bersabar dalam menaikkan suku bunga acuannya. Seperti yang diketahui, dalam pernyataan resminya, the Fed menggunakan kata “waktu yang dipertimbangkan” untuk memberikan kepastian kepada pasar finansial bahwa bank sentral AS itu belum mengubah keputusannya mengenai rencana menaikkan kebijakan suku bunga mereka.


Meski maksud kalimatnya tetap, namun, terjadi perubahan konteks. The Fed mengeluarkan pernyataan yang lebih lembut, yang menunjukkan bank sentral masih bersiap menaikkan suku bunga meskipun tak secepat yang prediksi pelaku pasar.


Kedua, ada sejumlah sinyal bahwa Bank Indonesia akan menjaga nilai tukar rupiah.


“Pernyataan the Fed menjadi sentimen positif bagi rupiah,” jelas Gundy Cahyadi, ekonom DBS Group Holdings Ltd di Singapura. Dia menambahkan, Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar mata uang untuk menjaga volatilitas rupiah.



Rupiah Mulai Kembali Perkasa

Tuesday, December 16, 2014

Investor Asing Masih Beri Respon Positif

Financeroll – Investor asing di dalam negeri masih berpandangan positif terhadap ekonomi Indonesia di tengah melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar AS.


“Yang kami lakukan yakni melakukan komunikasi dengan investor agar tidak melepas surat berharga negara (SBN) ramai-ramai. Memang ada ‘outflow"(arus dana ke luar negeri,red) tapi tidak banyak. Kondisi saat ini lebih disebabkan faktor eksternal yang tidak ada hubungannya dengan fundamental ekonomi domestik sehingga investor tetap percaya,” ujar Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro, di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (16/12).


Ia menambahkan bahwa pihaknya juga melakukan koordinasi dengan Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) agar pasar keuangan di dalam negeri cukup terkendali.


“Mekanisme sudah disiagakan, BI juga aktif di pasar sekunder, sehingga secara keseluruhan cukup terkendali. Tentunya BI menjaga stabilisasi moneter, OJK di sistem pengawasan, Menkeu fiskal,” katanya.


Pemerintah, lanjut dia, juga akan menjaga semua unsur stabilitas makro ekonomi dan terus berusaha untuk mendorong pertumbuhan ekonomi 2015 mendatang menjadi lebih baik dibandingkan tahun ini dan berusaha memperkecil defisit neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan Indonesia.


Sementara itu terkait dengan bursa saham Indonesia yang juga mengalami imbas negatif dari pelemahan rupiah, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Ito Warsito menilai bahwa pasar modal Indonesia masih cukup kondusif.


“Kita lihat indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini (Selasa, 16/12) pergerakannya mengikuti tren global. Kita memang turun sebesar 1,6 persen. Tapi kalau kita lihat bursa Jepang, Singapura dan lainnya turun lebih dari 2 persen. Jadi penurunan IHSG tidak istimewa, tidak perlu membuat panik para investor,” kata dia.



Investor Asing Masih Beri Respon Positif

Sunday, December 7, 2014

IHSG Dibayang-Bayangi Aksi Profit Taking

Financeroll -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali memperlihatkan laju variatifnya. IHSG sempat mengalami kenaikan dan kecenderungan melemah, meski di akhir sesi masih mampu ditutup di zona hijau.


“Mulai melemahnya laju bursa saham AS dan Eropa sempat mempengaruhi laju IHSG di mana pelaku pasar masih dalam posisi untuk profit taking,” kata kata analis Woori Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Senin (8/12/2014).


Di sisi lain, turunnya cadangan devisa per November 2014 menjadi US$ 111,14 miliar dari US$ 111,97 miliar sempat memberikan sentimen negatif. “Akan tetapi, pelemahan yang terjadi masih dapat ditahan dengan laju bursa saham Asia yang masih menghijau dan laju rupiah yang akhirnya mampu terapresiasi,” ujarnya.


Menurut Reza, ini juga disebabkan pelaku pasar masih dalam posisi profit taking pasca-IHSG kembali menyentuh level 5.200 lebih. Namun, kembali tidak kuat dan kembali menurun. “Beruntung masih berlanjutnya penguatan saham-saham agri dan manufaktur mampu mempertahankan laju IHSG di zona hijau,” terangnya.


Adapun transaksi asing tercatat nett sell (dari net sell Rp -5,56 miliar menjadi net sell Rp -737,03 miliar).


Reza menuturkan bahwa pada perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan akan berada pada rentang support 5.165-5.178 dan resisten 5.194-5.211. Gravestone doji di bawah area upper bollinger band (UBB). MACD masih mencoba untuk melanjutkan kenaikan, meski terbatas dengan histogram positif yang mendatar. RSI, Stochastic, dan William’s %R tertahan pelemahannya.


Laju IHSG sempat melampaui target resisten (5.187-5.204), namun tidak kuat dan berbalik turun meski masih dapat bertahan di atas kisaran area target support (5.145-5.163).


“Tidak jauh berbeda dengan sebelumnya di mana masih adanya aksi profit taking membuat potensi kenaikan IHSG masih terhambat, meski masih diimbangi dengan adanya aksi beli. Pola variatif cenderung naik tipis masih dapat terjadi. Meski masih ada potensi naik, namun tetap cermati potensi pelemahan lanjutan,” tutupnya.



IHSG Dibayang-Bayangi Aksi Profit Taking

Tuesday, November 25, 2014

Momentum Emas Bagi Reformasi Kebijakan Struktural ekonomi

Inovasi, Kolaborasi, dan Konsistensi Merupakan Kunci Keberhasilan Transformasi Ekonomi Indonesia


 



FINANCEROLL – Di tengah ketidakpastian ekonomi dan pasar global saat ini, bangsa Indonesia menghadapi tantangan untuk membawa perubahan ekonomi menjadi kuat secara finansial, berkelanjutan, dan berkeadilan sosial. Oleh karena itu, dalam kesempatan kali ini para ahli di bidang ekonomi dan para pemimpin politik bangsa mengulas perkembangan tren dan strategi pembangunan terkini di bawah Kabinet Kerja yang baru, serta berbagi wawasan seputar peluang pertumbuhan bisnis dan investasi di Indonesia.


DBS Indonesia dalam seminar ‘DBS Asian Insights Seminar 2014’ pada Selasa (25/11) mengusung tema  ‘Gamechanger; Championing a Better Indonesia’ di Jakarta. Dalam seminar ini menghadirkan para pembicara seperti Sofyan A. Djalil, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia; Andrinof Chaniago, Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional Republik Indonesia (Kepala Bappenas); Kuntoro Mangkusubroto, Guru Besar Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung; Muhammad Chatib Basri, Pengamat Ekonomi Senior dan Menteri Keuangan Republik Indonesia (2013-2014); Mari Elka Pangestu, Pengamat Ekonomi Senior dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (2011-2014); Lin Che Wei, Pengamat Keuangan dan Pendiri Independent Research and Advisory Indonesia; Melvin Teo,Presiden Direktur DBS Indonesia; Gundy Cahyadi, Economist di DBS Group Research; dan Maynard Arief, Head of Research di DBS Vickers Indonesia.


Perlambatan ekonomi Indonesia saat ini adalah momentum yang tepat untuk mengawal reformasi kebijakan-kebijakan struktural ekonomi untuk menciptakan perubahan jangka panjang yang lebih baik. Sofyan Djalil menjelaskan bahwa tantangan ke depan tidaklah mudah mengingat kondisi ekonomi dunia yang sedang melesu, tetapi kunci kemajuan sebuah negara adalah menggulirkan kebijakan yang tepat guna (good policy) secara konsisten. Kebijakan fiskal perlu diarahkan untuk dapat membuka lapangan kerja, membangun infrastruktur, dan mendorong investasi untuk pembangunan. Kebijakan di sektor riil seperti penyediaan listrik di daerah juga perlu diarahkan agar lebih optimal. “Oleh karena itu, tantangannya sekarang adalah menciptakan iklim kemudahan untuk melakukan bisnis di seluruh Indonesia,” tegas Sofyan Djalil, “Dan saya yakin kami (pemerintah baru) dapat menepati apa yang telah kami janjikan.”


 Sementara menurut Kuntoro Mangkusubroto. dalam menghadapi beragam tantangan masa kini, Indonesia harus berinovasi. Meski sulit, inovasi diperlukan untuk menciptakan ekosistem implementasi kebijakan yang baik.


Diskusi yang dimoderatori oleh Rosianna Silalahi ini juga berkesempatan menyampaikan pandangannya terkait persoalan bagaimana melakukan perubahan atau transformasi di tengah kondisi eksternal yang tidak mendukung. Mari Elka Pangestu, berpendapat bahwa tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia adalah implementasi. “Kebijakan yang baik saja tidak cukup; tantangannya adalah implementasi. Jika tidak bisa mengubah semua, maka mulailah dengan perubahan hal yang kecil. Oleh karena itu, yang akan menjadi gamechanger bagi Indonesia adalah kreativitas dan inovasi,” ujar Mari E. Pangestu.


Senada dengan pandangan tersebut, Chatib Basri menjelaskan bahwa melakukan reformasi bisa dimulai dengan melakukan perubahan-perubahan pada hal yang sederhana, baru setelah berhasil bisa diadopsi secara meluas. Indonesia perlu menciptakan iklim investasi yang kompetitif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Lin Che Wei menilai bahwa kuncinya adalah eksekusi yang baik oleh pemerintah dan menggapai ‘low-hanging fruits’ untuk membangun momentum, misalnya dengan mengubah kebijakan untuk debottle-necking prosedur perizinan bisnis di Indonesia.


“Momentum emas bagi Indonesia adalah dalam kurun waktu 3-5 tahun ini karena ini merupakan saat yang tepat untuk reformasi kebijakan struktural ekonomi yang dapat membawa perubahan positif secara jangka panjang,” ungkap Gundy Cahyadi, Ekonom DBS Group Research, “Bagi kami yang penting adalah melihat implementasi kebijakan pemerintah secara bertahap namun konsisten.”  Konsistensi menjadi faktor penting yang mempengaruhi pasar modal. Hal ini dijelaskan oleh Maynard Arief, Head of Research di DBS Vickers Indonesia, “Selain faktor eksternal dan dinamika ekonomi global, naik-turunnya bursa saham juga sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar. Oleh karena itu, eksekusi dan konsistensi dalam implementasi harus dijaga untuk mempertahankan momentum yang baik.”


Perekonomian nasional yang sehat tentunya perlu didukung pula oleh fondasi ekonomi yang kuat dan berkelanjutan. Terkait hal ini, Andrinof Chaniago melihat bahwa pemerintah Indonesia perlu mengarahakan kebijakannya untuk membantu agar semua pelaku ekonomi bisa berproduksi, misalnya dengan kebijakan fiskal untuk membiayai hal-hal yang bersifat produktif seperti infrastruktur. Selain masalah infrastruktur, kepastian hukum, dan birokrasi, Indonesia juga perlu memperhatikan masalah financial inclusion masyarakat dalam perbankan. Hal ini penting untuk memberikan akses finansial kepada seluruh pelaku ekonomi di Indonesia. Chatib Basri mengungkapkan bahwa persoalannya saat ini 80 persen penduduk Indonesia masih belum memiliki akses perbankan. Salah satu cara untuk mengatasi persoalan ini adalah dengan cara mobile banking yang didukung oleh infrastruktur teknologi informasi yang memadai dan platform pembayaran yang andal.


Menangkap kemauan dan niat baik dari pemerintah, Presiden Direktur DBS Indonesia, Melvin Teo menyampaikan bahwa beragam ide, agenda, dan hal-hal yang dapat ditindaklanjuti tersebut sekiranya bisa dilakukan kolaborasi untuk mengawal perubahan bagi Indonesia maju. DBS Indonesia berharap bisa bersama untuk kemajuan perekonomian Indonesia, ungkap Melvin. Tahun ini DBS Indonesia sendiri merayakan hari jadinya yang ke-25. (Lukman Hqeem | @hqeem)



Momentum Emas Bagi Reformasi Kebijakan Struktural ekonomi