Showing posts with label IHSG. Show all posts
Showing posts with label IHSG. Show all posts

Monday, January 19, 2015

IHSG Berpeluang Menguat, Sejumlah Saham Layak Dipertimbangkan

Financeroll – Pada perdagangan Selasa (20/1), laju IHSG diperkirakan berada pada rentang support 5.128-5.147 dan resisten 5.168-5.186.   Pola doji star dekati area lower bollinger band (LBB). Moving Average Convergence-Divergence (MACD) kembali melanjutkan penurunan setelah membentuk death cross dengan histogram negatif yang memanjang.


Sementara Relative Strength Index (RSI), Stochastic, dan William’s %R mencoba kembali bertahan dari penurunan. Laju IHSG sempat berada di area target resisten (5.155-5.206) meski belum cukup kuat mendekati target resisten berikutnya dan juga sempat masuk di area target support (5.130-5.138).


Melihat dari pembentukan pola, seharusnya mengindikasikan adanya potensi kenaikan kembali namun, belum cukup kuatnya sentimen yang ada dapat membuat laju IHSG kembali variatif yang disertai pelemahan sesaat kembali. Diharapkan kondisi global tidak terlalu negatif sehingga dapat memberikan sentimen penguatan pada IHSG.


Dari dalam negeri, sentimen dari penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi belum cukup mampu mempertahankan penguatan rupiah. Laju rupiah berada di bawah target level support 12.605. Potensi perubahan masih dimungkinkan, seperti yang sempat kami sampaikan sebelumnya.


Sementara untuk sejumlah saham yang layak dipertimbangkan, antara lain: Saham PT Bumi Serpong Damai (BSDE) dalam kisaran support-resisten Rp 1.990-2.100. Shooting star dekati upper Bollinger band (UBB). Target resisten Rp 2.005 terlampaui namun, diiringi aksi jual. MFI bergerak naik diikuti peningkatan RoC. Trading sell jika Rp 1.995 gagal bertahan.   Saham PT Ace Hardware Indonesia (ACES) dalam kisaran support-resisten Rp  680-745. Morning star di atas LBB. Momentum mencoba menguat diiringi peningkatan mass indeks. Trading buy selama berada di atas Rp 690.   Saham PT Matahari Putra Prima (MPPA) dalam kisaran support-resisten Rp 2.900-3.005. Inverted hammer di atas LBB. MFI dan william’s %R mencoba berbalik naik. Trading buy selama berada di atas Rp 2.920.


Berikutnya saham PT Summarecon Agung (SMRA) dalam kisaran support-resisten Rp 1.570-1.725. Long legged doji sentuh UBB. Parabollic SAR mulai bergerak turun diikuti kenaikan volume jual. Trading sell jika Rp 1.595 gagal bertahan.   Saham PT Vale Indonesia (INCO) dalam kisaran support-resisten Rp 3.330-3.420. Morning star di atas LBB. Volume beli naik tipis diikuti peningkatan stochastic. Trading buy selama berada di atas Rp 3.375.   Saham PT Lippo Cikarang (LPCK) dalam kisaran support-resisten Rp 10.275-10.650. Three inside up dekati middle Bollinger band. Parabollic SAR naik diiringi peningkatan william’s %R. Trading buy selama berada di atas Rp 10.350.


Pada perdagangan Senin (19/1),  IHSG  ditutup menguat 3,714 poin (0,07%) ke posisi 5.152,093. Sepanjang perdagangan, indeks mencapai level tertingginya 5.171,684 atau menguat 23,305 poin dan mencapai level terlemahnya 5.132,706 atau turun 15,673 poin.


Laju IHSG mengawali pekan ini dengan pergerakan variatif. Tidak berbeda jauh dengan ulasan kami sebelumnya di mana adanya sentimen positif dari penurunan harga BBM dan elpiji, bahkan semen tampaknya belum sepenuhnya direspons positif dan sinyal profit taking pun diperkirakan masih berlanjut.  Jika pelemahan masih berlanjut kemungkinan IHSG akan menutup utang gap 5.113-5.125 dulu. Tetap cermati potensi pelemahan lanjutan meskipun kami masih berharap adanya technical rebound.


Pergerakan  IHSG sesekali berada di zona merah meskipun sempat mengalami kenaikan tipis. Di satu sisi, pelaku pasar mencoba mengakumulasi beli saham-saham yang telah melemah sebelumnya dengan memanfaatkan sentimen kenaikan bursa saham Asia yang terimbas positif kenaikan bursa saham AS. Akan tetapi, di sisi lain ada juga pelaku pasar yang cenderung melakukan aksi jual seiring masih variatifnya sentimen yang ada.


Tarik menarik inilah yang membuat laju IHSG naik turun dalam rentang terbatas. Laju rupiah yang kembali melemah dan asing yang masih doyan jualan menambah sentimen negatif meski akhirnya mampu ditutup naik tipis. Adapun transaksi asing tercatat nett sell (dari net sell sell Rp 333,54 miliar menjadi net sell Rp 705,79 miliar).


Pascapenguatan di akhir pekan kemarin, laju rupiah kembali melemah seiring pelaku pasar melakukan peralihan ke Yen yang sedang bergerak menguat. Penguatan yen dipicu antisipasi sentimen negatif dari China berupa pengendalian margin trading yang dipersepsikan kemungkinan adanya pembatasan transaksi tersebut.


Belum munculnya sentimen positif signifikan masih akan membuat laju rupiah variatif dengan cenderung melemah. Tetap perlu mewaspadai setiap potensi perubahan. Rupiah berpeluang bergerak dalam kisaran support-resisten 12.620-12.600 per dolar AS berdasarkan kurs tengah BI.   Sentimen positif dari kenaikan consumer confidence Jepang mampu memberikan sentiment positif bagi Nikkei sehingga dapat mengimbangi penguatan Yen seiring rilis penurunan industrial production dan capacity utilization. Di sisi lain, penguatan laju bursa saham lainnya dipengaruhi positifnya laju bursa saham AS yang berakhir positif di akhir pekan sebelumnya. [geng]



IHSG Berpeluang Menguat, Sejumlah Saham Layak Dipertimbangkan

Tuesday, January 6, 2015

Kenaikan Elpiji & Tarif Listrik Membayangi Sektor Konsumsi

Financeroll – First Asia Capital memperkirakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan yang diprediksi bergerak di kisaran 5.200—5280.


Perdagangan akan kembali ke level normal. IHSG masih diringi dengan aksi profit taking..


Dikemukakan pergerakan rupiah akan menjadi sorotan besar.


Diperkirakan aksi jual dari investor asing juga masih akan berlanjut.


Selain itu kenaikan elpiji dan tarif listrik akan melemahkan daya beli masyarakat, sehingga sektor konsumsi berpotensi melemah.


First Asia Capital mengemukakan ada 10 saham yang dapat dipertimbangkan pada perdagangan, yaitu:


AKRA. 4.380 — 4.750. Spec Buy

BEST. 720 — 480. Spec Buy

BSDE. 1.820 — 1.930. Trading Buy

CTRA. 1.280 — 1.370. Spec Buy

GGRM. 61.200 — 64.000. Spec Buy

ICBP. 12.600 — 13.400. Sell on Strength

KIJA. 295 — 315. Spec Buy

MPPA. 3.040 — 3.230. Spec Buy

SMRA. 1.500 — 1.650. Spec Buy

TAXI. 1.170 — 1.240. Maintain Buy



Kenaikan Elpiji & Tarif Listrik Membayangi Sektor Konsumsi

Sunday, December 7, 2014

IHSG Dibayang-Bayangi Aksi Profit Taking

Financeroll -Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali memperlihatkan laju variatifnya. IHSG sempat mengalami kenaikan dan kecenderungan melemah, meski di akhir sesi masih mampu ditutup di zona hijau.


“Mulai melemahnya laju bursa saham AS dan Eropa sempat mempengaruhi laju IHSG di mana pelaku pasar masih dalam posisi untuk profit taking,” kata kata analis Woori Korindo Securities Indonesia Reza Priyambada di Jakarta, Senin (8/12/2014).


Di sisi lain, turunnya cadangan devisa per November 2014 menjadi US$ 111,14 miliar dari US$ 111,97 miliar sempat memberikan sentimen negatif. “Akan tetapi, pelemahan yang terjadi masih dapat ditahan dengan laju bursa saham Asia yang masih menghijau dan laju rupiah yang akhirnya mampu terapresiasi,” ujarnya.


Menurut Reza, ini juga disebabkan pelaku pasar masih dalam posisi profit taking pasca-IHSG kembali menyentuh level 5.200 lebih. Namun, kembali tidak kuat dan kembali menurun. “Beruntung masih berlanjutnya penguatan saham-saham agri dan manufaktur mampu mempertahankan laju IHSG di zona hijau,” terangnya.


Adapun transaksi asing tercatat nett sell (dari net sell Rp -5,56 miliar menjadi net sell Rp -737,03 miliar).


Reza menuturkan bahwa pada perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan akan berada pada rentang support 5.165-5.178 dan resisten 5.194-5.211. Gravestone doji di bawah area upper bollinger band (UBB). MACD masih mencoba untuk melanjutkan kenaikan, meski terbatas dengan histogram positif yang mendatar. RSI, Stochastic, dan William’s %R tertahan pelemahannya.


Laju IHSG sempat melampaui target resisten (5.187-5.204), namun tidak kuat dan berbalik turun meski masih dapat bertahan di atas kisaran area target support (5.145-5.163).


“Tidak jauh berbeda dengan sebelumnya di mana masih adanya aksi profit taking membuat potensi kenaikan IHSG masih terhambat, meski masih diimbangi dengan adanya aksi beli. Pola variatif cenderung naik tipis masih dapat terjadi. Meski masih ada potensi naik, namun tetap cermati potensi pelemahan lanjutan,” tutupnya.



IHSG Dibayang-Bayangi Aksi Profit Taking

Monday, November 3, 2014

IHSG Berpotensi Melemah, Sejumlah Saham Layak Dipertimbangkan

Financeroll - Laju IHSG pada Selasa (4/11) diprediksi berada pada rentang support 5.055-5.075 dan resisten 5.096-5.115.   Indeks berpeluang membentuk pola  Hanging man di bawah upper bollinger band (UBB). Moving Average Convergence-Divergence (MACD) cenderung naik dengan histogram positif yang memanjang.


Selain itu, Relative Strength Index (RSI), Stochastic, dan William’s %R cenderung turun tipis. Laju IHSG sempat berada di target resisten (5.095-5.114) dan sempat berada di target support (5.055-5.072). Laju IHSG di satu sisi memiliki peluang kenaikan namun, juga menyimpan potensi untuk mengalami penurunan lanjutan jika aksi profit taking masih mewarnai transaksi. Untuk itu, tetap perlu diwaspadai potensi pelemahan lanjutan.


Sementara untuk sejumlah saham yang layak dipertimbangkan, antara lain: Saham PT Lippo Cikarang (LPCK) dalam kisaran Rp 8.475-9.075. Three white soldier di bawah UBB. Target resisten Rp 8.675 terlampaui diikuti kenaikan RSI namun, william’s %R bergerak turun. Trading sell jika Rp 8.800 gagal bertahan.  Saham PT Express Transindo Utama (TAXI) dalam kisaran Rp 1.165-1.225. White marubozu dekati UBB. Stochastic bergerak naik diikuti kenaikan MFI. Trading buy selama berada di atas Rp 1.200.


Kemudian saham PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dalam kisaran Rp 10.950-11.175. Hanging man di bawah UBB. RMI bergerak naik namun, diikuti penurunan volume & mass index. Trading sell jika Rp 11.050 gagal bertahan.  Saham PT Unilever Indonesia (UNVR) dalam kisaran Rp 30.125-30.650. Hammer di bawah middle Bollinger band (MBB). RoC bergerak naik diikuti peningkatan MFI. Maintained buy selama berada di atas Rp 30.400.  Saham PT Erajaya (ERAA) dalam kisaran Rp 1.000-1.060. Hammer di bawah UBB. Parabollic SAR bergerak naik. Target resisten Rp 1.045 tersentuh diiringi kenaikan William’s %R. Trading buy selama berada di atas Rp 1.035.


Pada perdagangan Senin (3/11)  IHSG  ditutup melemah 4,038 poin (0,079%) ke posisi 5.085,509. Sepanjang perdagangan, indeks mencapai level tertingginya 5.103,698 dan terendah 5.060,316.


 Sentimen negatif berupa profit taking mulai terlihat sejak awal sesi perdagangan. Aksi jual pun tak terhindarkan yang membawa IHSG berada dalam penurunannya secara intraday perdagangan. Padahal, penurunan ini terjadi di tengah menguatnya laju pasar obligasi dan tercatatnya nett buy asing (dari posisi net buy Rp325 miliar menjadi net buy Rp 224 miliar). [geng]



IHSG Berpotensi Melemah, Sejumlah Saham Layak Dipertimbangkan

Pergerakan IHSG Masih Didorong Oleh Sentimen Politik Dalam Negeri

FINANCEROLL – Pada bulan 31 Oktober 2014 IHSG ditutup di level 5089, melemah -48 poin atau setara -0.93% dibandingkan bulan September 2014. Diawal bulan, IHSG sempat turun hingga menuju ke level terendah dalam bulan Oktober di 4913 setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi untuk bulan September mencapai 0.27%. Untuk inflasi tahun kalender sebesar 3.71% dan inflasi tahunan (YoY) sebesar 4.53%.


Neraca perdagangan Indonesia Agustus mengalami deficit US$ 318.1 juta. Market juga merespon negatif terhadap hasil pemilihan ketua MPR yang dilaksanakan pada awal Oktober ini. Kondisi ini ditambah dengan Koalisi Merah Putih (KMP) yang cenderung mendominasi kursi MPR. Adanya kekhawatiran kedepannya kemungkinan akan menghambat kebijakan pemerintahan baru Joko Widodo dan Jusuf kalla. Disamping itu, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2014 dari 3,4 persen menjadi 3,3 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi global pada 2015 direvisi dari 4,4 persen menjadi 3,8 persen. IMF juga memperingatkan mengenai dampak perlambatan ekonomi Eropa. Menjelang pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada tanggal 20 Oktober 2014 market kembali rebound hingga menyentuh level 5103 pada tanggal 23 Oktober. Setelah pengumuman kabinet yang dinamakan Kabinet Kerja terdiri dari 34 mentri , investor berharap kedepannya susunan kabinet ini dapat melaksanakan tugasnya sesuai ekspektasi. Sebelumnya, nama-nama mentri dalam Kabinet Kerja ini telah diperiksa oleh KPK.


Kurs Dollar terhadap Rupiah sempat menguat di level Rp 11993 per USD pada saat menjelang pelantikan Presiden Repubik Indonesia periode 2014-2019 dan sentimen positif dari pertemuan antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto yang menandakan telah mencairnya ketegangan atara Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih. Namun, Rupiah kembali melemah yang masih didorong oleh kekhawatiran data ekonomi Indonesia yang belum membaik terutama data


Current Account Deficit. Selain itu dengan berakhirnya QE oleh The Fed, Kebijakan ini juga diartikan oleh pelaku pasar bahwa The Fed akan mengakhiri tren suku bunga rendah dalam waktu yang lebih dekat seiringi dengan membaiknya perekonomian Amerika Serikat. Sentimen dalam negeri juga tidak kalah menariknya, sudah ada kepastian bahwa harga subsidi BBM akan dinaikan sebelum akhir tahun yang mana hal ini akan berdampak positif untuk jangka panjang.


Perkembangan mengenai dana asing di pasar modal indonesia masih terjadi Net Sell sebesar Rp 3,17 Triliun selama bulan Oktober 2014. Namun, jumlah tersebut lebih baik jika dibandingkan bulan lalu Net Sell 7.4 triliun. Dua minggu awal bulan Oktober, investor asing melakukan aksi jual (net sell) hingga angka tertingginya mencapai Rp 1,4 triliun (dalam sehari). Hal ini masih didorong oleh sentiment politik dalam negeri yang masih bergeliat dan proyeksi IMF pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini direvisi turun dari 5,5 persen menjadi 5,2 persen.


Meski begitu, pada dua minggu terakhir di bulan Oktober, setelah pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, investor asing mulai melakukan aksi net buy hingga angka tertingginya menyentuh Rp 1,9 triliun (dalam sehari). Investor mulai berharap pada susunan kabinet baru pemerintah yang telah terbentuk akan melaksanakan kebijakan yang pro terhadap pasar.(Rosa/Millenium Danatama Sekuritas)



Pergerakan IHSG Masih Didorong Oleh Sentimen Politik Dalam Negeri

Sunday, October 12, 2014

Pre Opening: Awal Pekan, IHSG Diperkirakan Menguat

Financeroll – Hari ini, Senin (13/10), IHSG diperkirakan akan cenderung menguat di kisaran 4.935-5.050 dengan saham-saham yang dapat diperhatikan antara lain:  AALI, ASII, BBRI, LPPF, dan TLKM.  Secara teknikal, indeks turun dengan gap down dan tutup dibawah MA5-nya namun tidak disertai volume serta close > open.


Jika IHSG masih diperdagangkan di atas EMA 200 hari. Indeks bergerak konsolidasi dengan kecenderungan melemah dan ditutup pada level 4.962 atau turun -0,62% pada akhir pekan lalu.  Indikator RSI masih di area konsolidasi. Hari ini Indeks akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah terbatas coba menguji support 4.933 dan resistance 4.992.


Dari dalam negeri, publik menantikan jalannya pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih yang sedianya akan dilakukan pekan depan. Sementara itu, hari ini Mahkamah Konstitusi (MK) akan menggelar sidang perdana permohonan uji materi Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah (UU Pilkada), dengan agenda pemeriksaan pendahuluan.


Dari sisi ekonomi, penurunan nilai tukar terhadap dolar AS membuat pelaku industry semakin tertekan, dan mulai menaikkan harga jual produknya. Di sisi lain, penerbitan Obligasi Negara Ritel (ORI) seri 011 diserbu investor. Dalam satu pekan, pemesanan ORI mencapai Rp 17,40 triliun (87%) dari total target indikatif pemerintah, yakni Rp 20 triliun.


Pada perdagangan Jumat (10/10) IHSG turun 31 poin (-0,62%) ke level 4.962,96 mengikuti penurunan sejumlah bursa regional lainnya menyikapi turunnya proyeksi pertumbuhan ekonomi serta ancaman deflasi dari sejumlah negara AS dan Eropa.


Tercatat saham-saham yang menjadi pemberat bursa diantaranya TLKM, ASII, BBRI, BMRI, dan BBNI di mana asing tercatat masih melakukan net sell di pasar reguler sebesar Rp 517 miliar dengan saham-saham yang banyak dijual antara lain:  BBRI, ASII, BMRI, TLKM, dan BBCA.


Dari pasar Asia, pergerakan pasar saham dipengaruhi oleh pelemahan bursa global. Koreksi pasar saham Asia ditunjukkan oleh indeks indeks KOSPI Composite di Korea Selatan yang melemah -0,60%. Pasar saham AS melanjutkan penurunannya akhir pekan lalu, seiring penurunan outlook Perancis oleh S&P. Koreksi dialami oleh indeks Dow Jones Industrial Avg sebesar -0,69% dan indeks S&P500 sebesar – 1,15%.


Sedangkan harga kontrak berjangka (futures) komoditas juga terkoreksi. Harga minyak mentah WTI turun -0,29% ke level USD 85,82 per barel. Sedangkan harga emas Comex terkoreksi -0,26% ke posisi USD 1.222,90 per troy ounce. [geng]



Pre Opening: Awal Pekan, IHSG Diperkirakan Menguat