Showing posts with label The Federal Reserve. Show all posts
Showing posts with label The Federal Reserve. Show all posts

Tuesday, December 9, 2014

India Perlu Badan Tata Kelola Perdagangan Emas

FINANCEROLL – Sebagai negara kedua terbesar didunia dalam mengkonsumsi Emas, India dibawah Cina – sudah semestinya memiliki sebuah badan yang mengatur perdagangan dan juga aturan harga emas secara nasional, demikian saran World Gold Council. Emas diperdagangkan dalam kisaran $1,205 per ons.


Badan tersebut harus mengatur masalah impor, mendorong ekspor dan meningkatkan pembangunan infrastruktur industri emas nasional. Selain itu juga memberikan acuan dalam pembentukan harga di perdagangan bursa emas yang bisa menjadi acuan nasional dengan melihat perdagangan di bursa London. Saran-saran tersebut dinyatakan oleh WGC pada Selasa (09/12) dalam sebuah laporan bersama dengan Kamar Dagang dan Industri India, Federation of Indian Chambers of Commerce and Industry.


Sebagaimana diketahui bahwa impor emas India kembali mengalami kenaikan di tahun ini seiring dengan kegagalan dari kebijakan untuk re-ekspor dan kenaikan pajak impor emas untuk menahan keinginan para investor dan pedagang perhiasan emas India. Jalan keluar untuk memuaskan permintaan emas India yang tahan seperti itu adalah mempergunakan secara tepat emas yang ada didalam negeri dan tidak melakukan pelarangan pengirimannya, ungkap Ketua Kamar Dagang  dan Industri India P.R. Somasundaram. Bagaimanapun juga, permintaan emas India terkait erat dengan budaya, tradisi, kecantikan dan perlindungan keuangan ala India, tambah Somasundaram. Sangat sulit untuk melakukan pengawasan permintaan emas apabila kita pahami bahwa semua itu didasarkan pada keinginan belaka. Dalam jangka panjang kebijakan emas India haruslah mendorong terciptanya produk-produk investasi berbasis emas dan mendorong skala kebutuhan ekonomi nasional dengan menemukan jalan bagi mobilisasi dan moneterisasi 22 ribu metrik ton emas yang ada di masyarakat India, pungkasnya.


Impor emas India mengalami lonjakan mencapai 710 ton antara 1 April hingga 15 November kemarin, dibandingkan dengan impor masa yang sama ditahun lalu yang hanya sebesar 640 ton, demikian ungkap salah seorang pejabat Kementrian Keuangan India, pada 28 November kemarin. Kenaikan yang terjadi saat ini sebagai dampak ditariknya kembali kebijakan re-ekspor India yang dikenal sebagai kebijakan 80:20 pada bulan sebelumnya.


Pemerintah India saat ini memang melakukan pengawasan pembelian emas lewat pajak Impor dan membatasi pengiriman emas secara langsung ke sejumlah bank-bank dan perusahaan-perusahaan dagang yang sudah ditunjuk oleh Bank Sentral India. Pengiriman dari luar negeri menjadi kunci penting bagi industri lokal setelah impor nasional emas semuanya itu terkonsumsi.


Alhasil, neraca perdagangan India yang mengalami defisit semakin membengkak. Dalam periode Juli – September 2014, terjadi kenaikan defisit sebesar $10.1 milyar, ini merupakan defisit terbesar sejak Juni 2013, setelah ekspor emas India juga mengalami perlambatan dan impor emas India terus meningkat, tambah Bank Sentral India.


WGC menyarankan agar badan pengawas perdagangan emas ini juga menjadi lembaga pembiayaan kredit emas sebagai jaminannya. Langkah ini dianggap bisa membantu terciptanya pusat penguji yang terkareditasi, petunjuk bagi terciptanya standarisasi dan pembangunan kebijakan untuk membantu moneterisasi investori domestik.


Pemerintah India perlu untuk mengembangkan pengolah emas terakreditasi yang sesuai dengan standar internasional, memberikan kelonggaran bagi perbankan untuk menggunakan emas sebagai bagian dari cadangan likuiditas mereka dan menilai kembali rencana cadangan emas untuk memangkas ketergantungan akan impor.


Harga emas sendiri diawal minggu ini menunjukkan pemulihan kenaikan harganya sejalan dengan terkoreksinya Dolar AS dan jatuhnya bursa saham global. Dolar terpelanting dari singgasana tertingginya dalam lima tahun terakhir ini sementara bursa saham masih terpukul dengan jatuhnya harga minyak mentah yang mendekati ke harga termurahnya sejak 2009. Banyak perusahaan yang berbasis pertambangan mengalami penurunan nilai sahamnya. Sementara data ekonomi lainnya menunjukkan impor Jerman mengalami kontraksi dibulan Oktober ini. Akibatnya Indek saham di AS dan Asia mengalami penurunan.


Dolar AS masih memegang peran penting dalam pergerakan harga emas saat ini. Disisi lain, perdagangan bursa saham juga mengekor untuk memberikan pengaruhnya terhadap fluktuasi harga emas. Setelah Dolar mengalami perjalanan panjang dan diikuti dengan bursa saham, koreksi saat ini memberikan nafas baru bagi Emas untuk menguat kembali.


Pertemuan reguler Bank Sentral AS, The Federal Reserve pada minggu depan akan menjadi sentimen kuat bagi pergerakan harga pasar. Diperkirakan akan terjadi perdebatan sengit mengenai pemilihan waktu yang tepat bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga kembali. Semakin dekat waktunya, semakin cepat pulih Dolar AS menapaki kembali jalur pendakiannya. Sebagain pelaku pasar bertaruh dengan harapan kenaikan harga emas masih bisa mencapai ke harga termahalanya dalam tiga bulan ini. (Lukman Hqeem)



India Perlu Badan Tata Kelola Perdagangan Emas

Thursday, December 4, 2014

Ambil Untung, Sebelum NFP

Financeroll – Pada perdagangan hari ini, perhatian pelaku pasar akan tertuju ke data Non-Farm Payroll AS. Diperkirakan kondisi ekonomi saat ini mampu menambah lapangan kerja baru sebesar 231 ribu dibulan November. Angka ini akan penting bagi semua perdagangan mata uang mengingat dampaknya bagi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.



Pada perdagangan EURUSD, terjadi penguatan kembali dari posisi terendah sebelumnya di 1.2300 setelah Presiden ECB memutuskan untuk tidak menambah kebijakan kuantitatifnya. Dalam pernyataannya, Presiden ECB Mario Draghi, menegaskan bahwa ECB dapat menambah kebijakan stimulus tersebut disekitar awal 2015 jika diperlukan. Secara spesifik, memang tidak dinyatakan apakah bulan Januari atau bulan-bulan lainnya. Mario Draghi secara gamblang memang akan menambah stimulus. Mempertimbangkan hal tersebut, masa depan EURUSD masih terlihat turun. Data ekonomi selanjutnya yang perlu dipertimbangkan adalah Factory Order Jerman.


USDJPY ke level 120.15. Kenaikan ini banyak dipengaruhi oleh jatuhnya EURUSD. Pelaku pasar menangkap peluang untuk melakukan aksi ambil untung lebih awal setelah beberapa target tercapai. Level support di 119.50, 119.10 dan 118.60. Level Resistensi di120.20 dan 121.00.


Sementara pada perdagangan GBPUSD bertahan di 1.5640. The Bank of England memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunganya. Alhasil Pound masih bisa bertahan diatas level support di 1.5595/85. Diperkirakan akan melakukan konsolidasi disekitar 1.5675 menjelang pengumuman dataa NFP AS nanti.(Lukman Hqeem)



Ambil Untung, Sebelum NFP

Monday, November 24, 2014

Emas Masih Turun Meski Eropa Membaik dan Cina Pangkas Suku Bunga

FINANCEROLL – Harga emas terus turun dari harga termahalnya dalam tiga minggu ini setelah Dolar terus menguat ditengah sentimen kenaikan suku bunga AS. Sentimen ini mengalahkan potensi yang timbul dari langkah Cina yang memangkas suku bunga utama dan kondisi ekonomi Eropa yang membaik.


Harga Emas di pasar spot turun sebesar 0.2 persen di harga $1,198.86 per ons sebelum diperdagangkan naik kembali di $1,203. Akhir pekan kemarin, harga emas sempat ke $1,207.93 yang merupakan harga termahal sejak 30 Oktober, menjadi puncak kenaikan dalam tiga minggu secara beruntun. Sementara dalam perdagangan emas berjangka, untuk pengiriman bulan Februari naik 0.2 persen ke $1,200.50 per ons di bursa Comex.


Selama dua bulan hingga Oktober kemarin, harga emas mengalami penurunan sebagai dampak langkah The Fed yang mendekati upaya untuk menaikkan suku bunga. Para pembuat kebijakan di The Fed menyatakan bahwa dampak melemahnya pertumbuhan ekonomi Global nampaknya terbatas di tanah AS, demikian hasil sari pertemuan reguler The Fed pada bulan Oktober lalu yang dipublikasikan pada 19 November kemarin. Indek Dolar AS mengalami penguatan signifikan paska pernyataan tersebut, bahkan mencapai yang paling kuat sejak 2009 atas mata uang lainnya.


Dalam pandangan fundamental, masih diyakini bahwa perekonomian AS mengarah pada pertumbuhan dan kondisi yang lebih baik dimasa yang akan datang. Hal ini meyakinkan rujukan bahwa Dolar AS masih berpeluang terus menguat, yang juga berarti bahwa Emas masih berpeluang turun lagi.


Potensi kenaikan suku bunga AS terus mengemuka, meluruhkan daya pikat Emas sebagai pilihan investasi. Harga emas naik 70 persen sejak Desember 2008 hingga Juni 2011 setelah The Fed melakukan aksi beli obligasi dan memangkas suku bunganya mendekati nol persen untuk memicu pertumbuhan ekonomi nasionalnya.


 


Disaat The Fed mengakhiri kebijakan stimulus, Cina juga memangkas suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2012. Langkah Cina ini sebagai upaya mendukung perekonomian mereka tetap bergairah. Bank of Japan juga terus mengembangkan kebijakan stimulusnya pada bulan Oktober dan Presiden Mario Draghi menyatakan pada 21 November kemarin bahwa European Central Bank (ECB) akan terus mendorong laju inflasi dan jika diperlukan akan meningkatkan pembelian aset kembali. (Lukman Hqeem | @hqeem)



Emas Masih Turun Meski Eropa Membaik dan Cina Pangkas Suku Bunga

Wednesday, November 19, 2014

Inflasi AS Terkendali, Harga Emas Dibawah $1,200

FINANCEROLL – Harga emas diperkirakan akan bergerak kembali dibawah $1,200 per ons setelah pejabat The Federal Reserve menyatakan mereka akan melihat sinyalemen penurunan ekspektasi publik atas laju inflasi AS.

Inflasi AS diperkirakan masih belum akan beranjak, sebagaimana diperkirakan sebagian investor. Sementara bursa saham AS mengalami kenaikan. Alhasil Harga emas makin menurun, bahkan tahun ini diperkirakan akan melanjutkan penurunan yang terjadi di tahun lalu. Salah satu pendorong keyakinan ini adalah membaiknya lapangan kerja AS yang membuat The Federal Reserve AS cukup percaya diri mengakhiri Kebijakan Kuantitatif (QE) jilid tiganya.

Efek melemahnya pertumbuhan ekonomi global nampaknya akan terbatasi di tanah AS. Hasil pertemuan bulan Oktober kemarin, yang diumumkanpada Rabu (19/11) menggaris bawahi alasan-alasan The Fed mengakhiri QE3 yang direspon menurun oleh harga emas.

Harga Emas bergerak turun hingga ke $1,182.62 per ons. Emas pada 7 November kemarin sempat ke harag terendah sejak April 2010, yaitu di harga $1,132.16 per ons.



Inflasi AS Terkendali, Harga Emas Dibawah $1,200

Monday, November 3, 2014

Pergerakan IHSG Masih Didorong Oleh Sentimen Politik Dalam Negeri

FINANCEROLL – Pada bulan 31 Oktober 2014 IHSG ditutup di level 5089, melemah -48 poin atau setara -0.93% dibandingkan bulan September 2014. Diawal bulan, IHSG sempat turun hingga menuju ke level terendah dalam bulan Oktober di 4913 setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi untuk bulan September mencapai 0.27%. Untuk inflasi tahun kalender sebesar 3.71% dan inflasi tahunan (YoY) sebesar 4.53%.


Neraca perdagangan Indonesia Agustus mengalami deficit US$ 318.1 juta. Market juga merespon negatif terhadap hasil pemilihan ketua MPR yang dilaksanakan pada awal Oktober ini. Kondisi ini ditambah dengan Koalisi Merah Putih (KMP) yang cenderung mendominasi kursi MPR. Adanya kekhawatiran kedepannya kemungkinan akan menghambat kebijakan pemerintahan baru Joko Widodo dan Jusuf kalla. Disamping itu, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2014 dari 3,4 persen menjadi 3,3 persen. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi global pada 2015 direvisi dari 4,4 persen menjadi 3,8 persen. IMF juga memperingatkan mengenai dampak perlambatan ekonomi Eropa. Menjelang pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada tanggal 20 Oktober 2014 market kembali rebound hingga menyentuh level 5103 pada tanggal 23 Oktober. Setelah pengumuman kabinet yang dinamakan Kabinet Kerja terdiri dari 34 mentri , investor berharap kedepannya susunan kabinet ini dapat melaksanakan tugasnya sesuai ekspektasi. Sebelumnya, nama-nama mentri dalam Kabinet Kerja ini telah diperiksa oleh KPK.


Kurs Dollar terhadap Rupiah sempat menguat di level Rp 11993 per USD pada saat menjelang pelantikan Presiden Repubik Indonesia periode 2014-2019 dan sentimen positif dari pertemuan antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto yang menandakan telah mencairnya ketegangan atara Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih. Namun, Rupiah kembali melemah yang masih didorong oleh kekhawatiran data ekonomi Indonesia yang belum membaik terutama data


Current Account Deficit. Selain itu dengan berakhirnya QE oleh The Fed, Kebijakan ini juga diartikan oleh pelaku pasar bahwa The Fed akan mengakhiri tren suku bunga rendah dalam waktu yang lebih dekat seiringi dengan membaiknya perekonomian Amerika Serikat. Sentimen dalam negeri juga tidak kalah menariknya, sudah ada kepastian bahwa harga subsidi BBM akan dinaikan sebelum akhir tahun yang mana hal ini akan berdampak positif untuk jangka panjang.


Perkembangan mengenai dana asing di pasar modal indonesia masih terjadi Net Sell sebesar Rp 3,17 Triliun selama bulan Oktober 2014. Namun, jumlah tersebut lebih baik jika dibandingkan bulan lalu Net Sell 7.4 triliun. Dua minggu awal bulan Oktober, investor asing melakukan aksi jual (net sell) hingga angka tertingginya mencapai Rp 1,4 triliun (dalam sehari). Hal ini masih didorong oleh sentiment politik dalam negeri yang masih bergeliat dan proyeksi IMF pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini direvisi turun dari 5,5 persen menjadi 5,2 persen.


Meski begitu, pada dua minggu terakhir di bulan Oktober, setelah pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, investor asing mulai melakukan aksi net buy hingga angka tertingginya menyentuh Rp 1,9 triliun (dalam sehari). Investor mulai berharap pada susunan kabinet baru pemerintah yang telah terbentuk akan melaksanakan kebijakan yang pro terhadap pasar.(Rosa/Millenium Danatama Sekuritas)



Pergerakan IHSG Masih Didorong Oleh Sentimen Politik Dalam Negeri

Friday, October 31, 2014

Fed’s Williams: Bank Sentral Harus Waspadai Inflasi.

Financeroll – Pimpinan bank sentral AS cabang San Fransisco, John Williams, menyatakan di Pretoria Afrika Selatan, bahwa bank sentral harus memulai memonitor cukup waspada terhadap pertumbuhan ekonomi yang melaju di beberapa bulan terakhir ini namun kondisi harga atau inflasi yang tak beranjak untuk mendekati dari target bank sentral AS.


Williams yang berbicara di hadapan undangan bank sentral Afrika Selatan, South African Reserve Bank, bernada bahwa kondisi yang kinerja yang ekonomi makro yang kuat dan turunnya harapan terhadap kondisi harga ini, menjadi poin utama dari pihaknya bahwa harus mengambil tindakan yang tepat terhadap kebijakan moneter yang dapat dilakukan.


Williams juga masih memberikan gambaran bahwa kondisi keuangan global yang sedang krisis disertai dengan berakhirnya stimulus ekonomi di AS, tentunya tak akan menyurutkan langkah dari pihaknya bahwa di pertengahan 2015 suku bunganya dapat naik, dengan catatan bahwa pihaknya juga akan terus menangani atau mencegah level turunnya tingkat inflasi lebih lanjut.


Ungkapan dan keluh kesah Williams di Afrika Selatan ini juga tak membantu harga emas untuk membaik, dimana kisaran harga rendah di level $ 1163 masih terlihat.(@antoku27)



Fed’s Williams: Bank Sentral Harus Waspadai Inflasi.

Inflasi AS Masih Dibawah Target the Fed, Emas Tetap Meredup

Financeroll – Untuk bulan yang ke 29 ini, kondisi inflasi di AS masih jauh di bawah target dari the Federal Reserve dengan nilai 2%. Index PCE mengalami kenaikan menjadi 1.4% di September lalu, namun tak berubah dari bulan lalu.


Sedangkan inflasi inti naik sebesar 1.5% atau bisa dikata tidak mengalami perubahan sejak Mei lalu. The Federal Reserve pada hasil pertemuannya di Kamis dini hari lalu juga telah memperingatkan bahwa kondisi harga di tingkat konsumen ini masih akan rendah dalam jangka waktu yang agak lama karena rendahnya harga energy dan beberapa factor lainnya, seperti rendahnya kemampuan konsumen.


Kemampuan konsumen disini adalah belanja dan pendapatan dari masyarakat AS itu sendiri yang dilaporkan mala mini secara tak terduga dari sisi belanjanya di September lebih rendah 0.2% dibanding Agustus lalu, dan ini merupakan penurunan pertama kalinya sejak Januari lalu dan ketiga sejak berakhirnya resesi ekonomi di pertengahan 2009 lalu.


Sedangkan dari sisi pertumbuhan pendapatan secara keseluruhan mengalami perlambanan dan setelah inflasi, konsumen melihat taka da pertambahan dari pendapatan yang dipakai. Untuk rata rata tabungan dari penduduk naik sebesar 5.6% dan tertinggi sejak Desember 2012.


Setelah data data ini terlaporkan, kondisi harga emas mengalami tekanan dari $ 1174 menjadi $1162 (@antoku27)


 



Inflasi AS Masih Dibawah Target the Fed, Emas Tetap Meredup

Thursday, October 23, 2014

Divali, Harga Emas Membumbung Lagi

FINANCEROLL – Hari Kamis (23/10) adalah awal perayaan Divali di India. Beberapa hari menjelang perayaan ini, rakyat India telah memborong emas kembali. Tak pelak, harga emas kembali naik saat ini.


Rakyat India umumnya telah berbelanja emas jauh-jauh hari sebelum perayaan ini dimulai. Hal ini untuk menghindari kepadatan saat membeli dan kenaikan harga perhiasan emas dipedagang. Saat harga emas mengalami penurunan kemarin, berbondong-bondong orang India memadati toko-toko perhiasan emas.


Meski harga emas saat ini mulai menanjak kembali, namun tidak menyurutkan sebagian rakyat India untuk tetap membeli emas. Harga emas di India saat ini lebih murah 7.4 persen dibandingkan harga setahun lalu. Harga emas memang mulai beranjak naik di India seiring laju pembelian yang marak saat perayaan Divali dan menjelang Moonson.


India merupakan konsumen emas besar dunia, nomer dua setelah mahkota konsumen pertama direbut oleh Cina pada 2013 kemarin. Pihak Serikat Pedagang Perhiasan Emas dan Batu Mulia India menyatakan bahwa dikuartal empat ini terjadi lonjakan impor emas sebesar 75%. Pihak Barclays Plc mengamini kenaikan impor ini sebagai pendukung naiknya harga emas saat ini.


Minat beli masyarakat India atas perhiasan Emas diperkirakan masih akan meningkat, bahkan akan menembus angka tahun lalu. Tradisi yang mengakr dan berlangsung selama berabad-abad ini menjadi sokongan yang kuat bagi naiknya harga emas. Emas dalam budaya India menjadi symbol kemakmuran dan sebagai alat investasi, emas juga sebagai bagian budaya yang dipergunakan dalam kegiatan peradatan dan ibadah.


Lukman - Gold Jewellry Shop at India - BloombergPemerintah India memang sempat melakukan pembatasan impor emas untuk menstabilkan neraca keuangan mereka. Hal ini membuat impor emas menurun hingga 34 % dan membuat Rupee melemah hingga semester awal 2014. Setelah pembatasan ini mulai dikendurkan, pembelian emas kembali naik dan kondisi hari ini sudah berangsur pulih sebagaimana di tahun 2012. Penjualan ritel emas mulai dari cincin dan kalung mengalami peningkatan hingga 30 persen ke 40 persen selama Dhanteras, awal perayaan dimana pembelian emas marak terjadi seperti hari ini.


Perayaan Divali mulai 23 Oktober dirayakan oleh tak kurang 800 juta umat Hindu di India, tentu angka yang sangat fantastis sebagai pembeli potensial emas. CPM Group memperkirakan bahwa konsumsi emas di musim liburan ini bisa mencapai seperlima dari konsumsi tahunan India, paling besar daripada masa-masa lain sepanjang tahun di Negara yang kental sekali dengan budaya mengkonsumsi emas ini. Sekitar 20,000 metrik ton Emas tersimpan di rumah-rumah dan kuil-kuil di India, masyarakat India memiliki kebiasaan menempatkan emas batangan dalam ornament-ornamen harta keluarga.


Perdagangan perhiasan Emas di India juga merepresentasikan 25 persen konsumsi emas batangan dunia pada tahun lalu. Diperkirakan dengan jatuhnya harga emas saat ini membuat konsumsi perhiasan emas akan meningkat pesat. Harga perhiasan emas India, hanya terpaut $17 per ons dengan harga emas premium London, angka ini jauh menurun dari harga setahun sebelumnya yang bisa terpaut hingga $120 per ons. Kondisi ini tentu sangat menarik konsumen untuk memborong perhiasan emas kembali.


Jatuhnya harga emas beberapa waktu lalu dianggap tepat atau berkah, ungkap Bachhraj Bamalwa, Direktur Serikat Pedagang Perhiasan Emas dan Batu Mulia India, yang menaungi lebih dari 300,000 pedagang ritel dan agen emas. Hingga akhir tahun, diperkirakan terjadi kenaikan permintaan emas antara 15 persen hingga 20 persen dimana nilai impor emas India diyakini bisa mencapai 175 ton hingga 200 ton, padahal tahun lalu hanya 114 ton, tandas Bamalwa pada pertengahan Oktober lalu sebagaimana dilansir Bloomberg.


Harga emas di pasar London sempat ke $1,183.24 per ons pada 6 Oktober kemarin. Ini merupakan harga termurah di tahun ini. Dalam dua tahun terakhir, harga emas jatuh 28 persen setelah The Federal Reserve isyaratkan untuk mengakhiri kebijakan stimulus setelah perekonomian AS menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang berarti. Inflasi masih menjadi barometer sejauh mana kebijakan ini akan diubah. Meski dengan harga emas yang murah ini telah meningkatkan permintaan emas fisik di Cina, namun para investor masih belum bergeming. Kontrak ETP Emas telah menurun 12 persen di tahun lalu,  dengan penurunan nilai sebesar $13 milyar.


Sinyalemen kenaikan permintaan di India mulai terlihat sejak September kemarin. Sebagai persiapan perayaan Divali, impor emas batangan mengalami kenaikan senilai $3.75 milyar, melonjak 450 persen dari tahun sebelumnya, ungkap Departemen Perdagangan. Kiriman perhiasan emas melonjak pula untuk memenuhi permintaan perhiasan emas yang meningkat. Harga emas batangan masih diperdagangkan pada kisaran $1,250, dimana harga emas berjangka di bursa MCE India adalah 27,551 Rupee per 10 gram (setara $1,397 per ons).


 


Masyarakat India membeli emas dalam perayaan ini dan bagi calon pengantin, emas tersebut akan menjadi mas kawin dalam bentuk perhiasan. Tahun ini diperkirakan permintaan emas India akan sebesar 850 hingga 950 ton



Divali, Harga Emas Membumbung Lagi