Showing posts with label Mario Draghi. Show all posts
Showing posts with label Mario Draghi. Show all posts

Sunday, January 4, 2015

Emas Terombang Ambing Sikap ECB, Eropa Butuh Reformasi Struktural

Pada Senin pagi (05/01) di bursa Singapura, emas batangan diperdagangkan pada harga $1,190.94 per ons atau menguat tipis dari akhir perdagangan minggu lalu di harga $1,188.39.


Harga emas diperdagangkan terombang-ambing diawal minggu ini, beriringan dengan kebijakan bank sentral Eropa dan kondisi ekonomi AS yang mengalami divergensi ditengah prospek kenaikan suku bunga The Fed. Kebijakan lanjutan Eropa untuk melakukan pembelian aset sendiri juga mengundang penguatan Dolar AS yang berdampak negatif bagi daya pikat Emas.


Harga Emas di tahun 2014 berakhir turun, seiring dengan penguatan Dolar AS yang terdorong oleh keputusan The Fed untuk mengakhiri kebijakan stimulus pada Oktober kemarin. The Fed juga akan mulai menaikkan suku bunganya di 2015 ini. Indek Dolar AS Bloomberg menunjukkan penguatan yang signifikan sejak 2005. Sebaliknya Euro makin terpukul dan berada pada posisi terlemah sejak Maret 2006. Presiden European Central Bank (ECB), Mario Draghi menyatakan pada minggu lalu bahwa dia tidak bisa mengesampingkan potensi deflasi yang ada, oleh sebab itu prospek kebijakan pembelian obligasi Eropa kembali dalam jumlah besar semakin terbuka.


Kebijakan ECB tersebut membuat Dolar AS semakin perkasa. Dalam perdagangan berjangka, untuk kontrak pengiriman emas dibulan Februari berakhir diharga $1,187.30 per ons di lantai bursa Comex, dari minggu lalu di harga $1,186.20.


Mario Draghi memang belum memberikan sinyal yang cukup kuat kapan akan mulai melakukan pembelian dalam skala besar-besaran atas aset-aset Eropa meski sudah menyatakan tidak bisa mengesampingkan potensi deflasi yang ada.


Langkah ECB yang demikian ini mendapat kecaman, setidaknya dari para eksekutif yang menilai hal itu akan menimbulkan ancaman bagi stabilitas keuangan di kawasan Euro, dapat mengurangi insentif bagi berbagai pemerintahan untuk melakukan restrukturisasi perekonomian dan diaggap sebagai cara yang melawan hukum.


Draghi berdalih bahwa resiko tersebut memang tidak bisa dihilangkan bergitu saja, namun setidaknya bisa dibatasi. Setidaknya kita akan menghadapai resiko turunnya harga dan jatuhnya upah serta menurunnya konsumsi sebagai efek lanjutan.


Jens Weidman, Presiden Bundesbank beralasan bahwa berbagai langkah tersebut tidak bisa menjamin dengan jatuhnya harga minyak akan menghadirkan kebijakan stimulus, sementara yang lain mengingatkan bahwa jatuhnya harga minyak mentah akan menyeret deflasi pada zona euro. Indikasi ini bisa terlihat dari data prakiraan yang disajikan oleh Bloomberg survey dimana menunjukkan harga konsumen di zona Euro akan mengalami penurunan sebesat 0.1 persen di bulan Desember dari tahun alu, ini merupakan penurunan yang pertama kali sejak 2009.


Para pengambil kebijakan tradisional yang cenderung “hawkish”, yang menginginkan berbagai instrumen kebijakan moneter tetap berpegang teguh pada standar yang ada dengan mengacu pada krisis keuangan yang terjadi 80 tahun silam telah membuktikan salah dan kini mengulang kesalahannya kembali, ungkap Holger Schmieding, kepala ekonom Berenberg Bank di London. “Alih-alih bisa menangani inflasi dan moral hazard atas hasil yang ditakutkan apabila kebijakan-kebijakan tidak dijalankan sesuai dengan standar yang ada, Zona Euro justru semakin mendekati kearah deflasi”.


Euro sendiri terperosok ke posisi terlemahnya dalam empat tahun terakhir ini setelah sejumlah investor bertaruh bahwa QE Eropa akan dijalankan will secepat mungkin di kuartal ini. Euro anjlok 0.6 persen ke $1.2034. Para 25 anggota Dewan Pemerintahan Eropa akan mengevaluasi paket kebijakan WE dalam pertemuan moneter yang akan datang, 22 Januari nanti. Peristiwa ini akan menjadi satu hal yang penting untuk menilai reaksi Eropa dalam menyikapi periode inflasi rendah yang panjang ini. Pertemuan sela akan dilakukan pada 7 Januari lusa bertepatan dengan pengumuman tingkat inflasi Eropa.


Resiko yang belum terjadi berkenaan dengan mandat ECB untuk menjaga stabilitas harga lebih besar saat ini dibandingkan enam bulan yang lalu, ungkap Draghi. Sulit dikatakan berapa jumlah angaran yang akan dikeluarkan untuk membeli obligasi pemerintah, tambahnya.


Sejatinya pertempuran masalah QE ini mengemuka diberbagai media di Jerman. Peter Praet, ekonom ECB menyampaikan pada Boersen-Zeitung pada pekan ini bahwa para pejabat tidak bisa melihat jatuhnya harga minyak sebagai efek putaran kedua menjadi “lebih tinggi dari biasanya”. Sementara Wakil Presiden Vitor Constancio menyatakan pada WirtschaftsWoche bulan lalu bahwa ECB ingin menjaga berbagai bahaya yang muncul dengan sebagai efek jatuhnya tingkat upah, konsumsi, permintaan dan keuntungan sebagai efek spiral. Weidmann sendiri sebelumnya juga sudah menyatakan bahwa ECB semestinya tidak menarik busur atas tekanan pasar untuk memulai langkah pembelian Obligasi kembali.


Dalam pertemuan di awal bulan Desember sebelumnya, Draghi menyatakan kepercayaan dirinya bahwa kebijakan stimulus dapat di buat aman dengan kesepakatan yang ada didalam Dewan Pemerintahan Eropa,  meski hal itu juga tidak perlu disetujui semua anggotanya. Klaas Knot salah satu anggota Dewan Pemerintah menyatakan bahwa hanya satu hal yang menjadi perhatian, yaitu bagaimana membagi resiko atas aksi beli kembali obligasi tersebut.


Gubernur Bank Sentral Jerman menyatakan bahwa selama Eropa tidak memiliki niat politis untuk berbagi resiko diantara anggota zona Euro, maka bukan masalah bagi kita untuk mengambil sejumlah keputusan sendiri lewat jalan belakang.


Draghi mengambarkan pertumbuhan zona Euro saat ini akan sangat lemah hingga pemerintah di Eropa melakukan tekanan untuk reformasi. Sejumlah struktur penting pwerlu direformasi, seperti pasar tenaga kerja agar lebih lentur, birokrsi yang lebih sederhana dengan pajak yang lebih rendah. Dragi menegaskan bahwa jelas sudah kebijakan moneter kita tidak akan efektif jika pemerintah tidak melaksanakan sejumlah reformasi struktural. (Lukman Hqeem | @hqeem)



Emas Terombang Ambing Sikap ECB, Eropa Butuh Reformasi Struktural

Thursday, December 4, 2014

Ambil Untung, Sebelum NFP

Financeroll – Pada perdagangan hari ini, perhatian pelaku pasar akan tertuju ke data Non-Farm Payroll AS. Diperkirakan kondisi ekonomi saat ini mampu menambah lapangan kerja baru sebesar 231 ribu dibulan November. Angka ini akan penting bagi semua perdagangan mata uang mengingat dampaknya bagi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.



Pada perdagangan EURUSD, terjadi penguatan kembali dari posisi terendah sebelumnya di 1.2300 setelah Presiden ECB memutuskan untuk tidak menambah kebijakan kuantitatifnya. Dalam pernyataannya, Presiden ECB Mario Draghi, menegaskan bahwa ECB dapat menambah kebijakan stimulus tersebut disekitar awal 2015 jika diperlukan. Secara spesifik, memang tidak dinyatakan apakah bulan Januari atau bulan-bulan lainnya. Mario Draghi secara gamblang memang akan menambah stimulus. Mempertimbangkan hal tersebut, masa depan EURUSD masih terlihat turun. Data ekonomi selanjutnya yang perlu dipertimbangkan adalah Factory Order Jerman.


USDJPY ke level 120.15. Kenaikan ini banyak dipengaruhi oleh jatuhnya EURUSD. Pelaku pasar menangkap peluang untuk melakukan aksi ambil untung lebih awal setelah beberapa target tercapai. Level support di 119.50, 119.10 dan 118.60. Level Resistensi di120.20 dan 121.00.


Sementara pada perdagangan GBPUSD bertahan di 1.5640. The Bank of England memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunganya. Alhasil Pound masih bisa bertahan diatas level support di 1.5595/85. Diperkirakan akan melakukan konsolidasi disekitar 1.5675 menjelang pengumuman dataa NFP AS nanti.(Lukman Hqeem)



Ambil Untung, Sebelum NFP

Thursday, November 6, 2014

Emas Korban Menguatnya Dolar AS

FINANCEROLL – Harga Emas turun ke harga termurahnya sejak Mei 2013 oleh menguatnya Dolar AS sehingga menggerus daya pikat Emas sebagai pilihan investasi.


Emas menjadi korban menguatnya Dolar AS, ditengah ekspektasi perekonomian AS akan terus berkembang. Sehari sebelumnya, harga emas melorot hingga menyentuh harga termurahnya pada 23 April 2010. Menguatnya Dolar AS ke posisi terkuatnya dalam lima tahun terakhir ini terhadap 10 mata uang besar dunia lainnya, isyaratkan kondisi ekonomi domestik AS yang terus membaik.


Sementara itu, dari perbandingan harga terhadap komoditi lainnya, menunjukkan bahwa harga emas saat ini masih cukup mahal dibandingkan perbandingan harga komoditi minyak dan perak sekalipun. Berpijak pada perbandingan tersebut, investor diharapkan lebih memperhatikan jumlah kepemilikan ETP – (exchange-traded products) yang berbasis emas, melihat kemana arah harga emas akan bergerak. Saat ini, kepemilikan asset ETP secara global mengalami penurunan yang tajam hingga keposisi terendahnya sejak September 2009.


Harga emas untuk kontrak pengiriman bulan Desember berakhir turun 0.3 persen ke $1,142.60 per ons di bursa Comex – New York, melanjutkan penurunan secara beruntun dalam tujuh hari ini. Harga emas sempat menyentuh ke $1,137.10 yang merupakan harga termurah dalam 54 bulan terakhir.


Terjadi divergensi ekonomi, baik di AS, Eropa dan Jepang. Hal ini mendorong penguatan Dolar AS pula. Sedikit sekali rakyat AS yang dipecat, dan produktifitas industry mengalami peningkatan pula. Data terkini dari pemerintah AS menunjukkan bahwa kondisi lapangan kerja AS membaik. Sementara di Eropa sendiri, Mario Draghi, Presiden European Central Bank tetap berkomitmen melanjutkan kebijakan stimulusnya.


Tahun ini, diperkirakan harga emas akan berakhir menurun, untuk pertama kalinya sejak 1998 akan terjadi penurunan tahunan secara beruntun kembali. Tahun lalu, harga emas ditutup minus 28 persen setelah terpukul dengan kenaikan yang terjadi di pasar saham dan inflasi yang terjaga rendah. Jumlah kepemilikan ETP di 2013, dilepas 869 ton senilai lebih dari $73 milyar. Tahun ini, harga emas telah melorot sebesar 5 persen, dimana Dolar AS menguat 7,7 persen terhadap mata uang besar lainnya.



Emas Korban Menguatnya Dolar AS