Showing posts with label Bank of Japan. Show all posts
Showing posts with label Bank of Japan. Show all posts

Monday, December 1, 2014

Keuntungan dari Upah Tahunan di Jepang Melambat

Financeroll – Total pendapatan kas upah Jepang pada bulan Oktober meningkat secara lambat dalam delapan bulan dan upah riil turun selama 16 bulan berturut-turut.


Total pendapatan kas pada bulan Oktober naik 0,5% dari tahun sebelumnya. Pendapatan ini naik pada bulan kedelapan tetapi melambat dari bulan September. Upah riil, yang disesuaikan untuk mencerminkan harga konsumen, turun 2,8% pada tahun ini hingga Oktober.


Mentri Shinzo Abe dan Gubernur Bank of Japan Haruhiko Kuroda telah mendesak perusahaan untuk membantu menghentikan deflasi 15 tahun dan memenuhi inflasi 2% dengan meningkatkan upah dan investasi.


Namun kenaikan upah terlanjur melambat. Hal ini meningkatkan keraguan tentang keberhasilan dari kebijakan reflationary yang dinamai Abenomics”. Upah lembur, sebuah barometer kekuatan dalam aktivitas perusahaan, naik 0,4% sampai Oktober.



Keuntungan dari Upah Tahunan di Jepang Melambat

Monday, November 24, 2014

BoJ: Peningkatan Stimulus Bisa Capai Inflasi 2%

Financeroll – Empat anggota dewan kebijakan tidak setuju terhadap kebijakan dari Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda terhadap pelonggaran bank sentral yang dibicarakan pada pertemuan bulan lalu.

Pada pertemuan tersebut, Dewan kebijakan terkejut pasar global dengan memutuskan untuk meningkatkan stimulus ke sistem perbankan untuk laju tahunan sebesar ¥ 80 triliun ($676 miliar). Seperti yang dirilis minutes BOJ Selasa (25/11) pagi.


Empat anggota tersebut ialah Koji Ishida dan Yoshihisa Morimoto, mantan eksekutif bisnis dan dianggap setia kepada Kuroda, kemudian mantan ekonom sektor swasta Takehiro Sato dan Takahide Kiuchi.


“Efek yang dapat dibawa oleh pelonggaran moneter tambahan tidak sepadan dengan biaya yang menyertainya,” seperti yang dikatakan beberapa anggota Dewan pada pertemuannya. Mereka berdebat terhadap tindakan tambahan yang mengatakan inflasi tidak akan besar dan tindakannya lebih lanjut bisa mendistorsi fungsi obligasi dan pasar uang.


BOJ memutuskan untuk pembelian obligasi pemerintah Jepang sehingga meningkat pada laju tahunan sebesar ¥ 80 triliun, kira-kira setara dengan penerbitan obligasi bulanan oleh pemerintah. Anggota lain mengatakan tindakan tambahan akan cukup untuk bank sentral untuk menempatkan pencapaian sasaran inflasi 2% yang terlihat di paruh kedua fiskal tahun 2015.


Kuroda mengatakan pada konferensi pers hari ini, para anggota yang tidak setuju tampaknya akan mengurangi langkah-langkah bahwa kebijakan sebelumnya akan merusak kepercayaan BOJ.



BoJ: Peningkatan Stimulus Bisa Capai Inflasi 2%

Thursday, November 6, 2014

Emas Korban Menguatnya Dolar AS

FINANCEROLL – Harga Emas turun ke harga termurahnya sejak Mei 2013 oleh menguatnya Dolar AS sehingga menggerus daya pikat Emas sebagai pilihan investasi.


Emas menjadi korban menguatnya Dolar AS, ditengah ekspektasi perekonomian AS akan terus berkembang. Sehari sebelumnya, harga emas melorot hingga menyentuh harga termurahnya pada 23 April 2010. Menguatnya Dolar AS ke posisi terkuatnya dalam lima tahun terakhir ini terhadap 10 mata uang besar dunia lainnya, isyaratkan kondisi ekonomi domestik AS yang terus membaik.


Sementara itu, dari perbandingan harga terhadap komoditi lainnya, menunjukkan bahwa harga emas saat ini masih cukup mahal dibandingkan perbandingan harga komoditi minyak dan perak sekalipun. Berpijak pada perbandingan tersebut, investor diharapkan lebih memperhatikan jumlah kepemilikan ETP – (exchange-traded products) yang berbasis emas, melihat kemana arah harga emas akan bergerak. Saat ini, kepemilikan asset ETP secara global mengalami penurunan yang tajam hingga keposisi terendahnya sejak September 2009.


Harga emas untuk kontrak pengiriman bulan Desember berakhir turun 0.3 persen ke $1,142.60 per ons di bursa Comex – New York, melanjutkan penurunan secara beruntun dalam tujuh hari ini. Harga emas sempat menyentuh ke $1,137.10 yang merupakan harga termurah dalam 54 bulan terakhir.


Terjadi divergensi ekonomi, baik di AS, Eropa dan Jepang. Hal ini mendorong penguatan Dolar AS pula. Sedikit sekali rakyat AS yang dipecat, dan produktifitas industry mengalami peningkatan pula. Data terkini dari pemerintah AS menunjukkan bahwa kondisi lapangan kerja AS membaik. Sementara di Eropa sendiri, Mario Draghi, Presiden European Central Bank tetap berkomitmen melanjutkan kebijakan stimulusnya.


Tahun ini, diperkirakan harga emas akan berakhir menurun, untuk pertama kalinya sejak 1998 akan terjadi penurunan tahunan secara beruntun kembali. Tahun lalu, harga emas ditutup minus 28 persen setelah terpukul dengan kenaikan yang terjadi di pasar saham dan inflasi yang terjaga rendah. Jumlah kepemilikan ETP di 2013, dilepas 869 ton senilai lebih dari $73 milyar. Tahun ini, harga emas telah melorot sebesar 5 persen, dimana Dolar AS menguat 7,7 persen terhadap mata uang besar lainnya.



Emas Korban Menguatnya Dolar AS