Showing posts with label Inflasi. Show all posts
Showing posts with label Inflasi. Show all posts

Tuesday, January 20, 2015

BoJ Pangkas Outlook Inflasi Jangka Pendek

Financeroll – Bank of Japan akhirnya memangkas outlook inflasi dalam jangka pendek di hari ini, Rabu (21/1) dengan ketetapan BoJ yang juga mempertahankan kebijakannya guna membantu harga bisa kembali naik.


Diperbarui harga dan pertumbuhan proyeksi untuk dua tahun berikutnya, BoJ memangkas dengan median forecast untuk peningkatan rata-rata indeks harga konsumen mulai April 2015 ke 1,0% dari sebelumnya 1,7%.


Mengingat tingkat inflasi di bawah 1%, pemangkasan ini lebih tajam dari yang diharapkan. Seiring dari harga energi yang jatuh lebih dari 50% dari tahun lalu. Pelaku ekonomi mengharapkan tingkat inflasi akan jatuh kembali ke teritori negatif pada akhir tahun ini.


Indeks harga konsumen berimbas kepada efek langsung dari kenaikan pajak konsumsi dalam kisaran 0,5% sampai 1.0%. Ke depan, bank sentral Jepang mengatakan inflasi adalah cenderung lambat untuk mencerminkan penurunan harga energi.


Sampai bulan lalu, BOJ mengatakan inflasi sekitar l % dan bank sentral merevisi harga perkiraan untuk tahun berikutnya. Selain itu, seperti yang telah diharapkan BOJ juga memperpanjang sebuah program untuk memacu pinjaman bank dengan satu tahun. Program yang akan berakhir pada bulan Maret mendatang mengangkat batas pinjaman di bawah program untuk Y10 triliun dari Y7 trillion, sementara dua kali lipat jumlah maksimum dana ini dapat menawarkan kepada setiap lembaga pendidikan di bawah program terpisah pertumbuhan.



BoJ Pangkas Outlook Inflasi Jangka Pendek

Saturday, January 17, 2015

Penurunan Harga BBM Bisa Menurunkan Inflasi

Financeroll – Badan Pusat Statistik (BPS) berharap penurunan harga BBM bersubsidi untuk kedua kalinya tahun bisa turut menurunkan inflasi.


Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo mengakui penurunan BBM bersubsidi pada 1 Januari lalu memang tidak efektif menurunkan harga barang-barang lain.


Itu hanya menahan harga-harga yang akan naik, tidak jadi naik. Tapi tidak sampai membuat turun. Harga-harga jadi berhenti naik.


Penaikan BBM bersubsidi pada 18 November 2014 lalu membuat inflasi sepanjang 2014 mencapai 8,36%, lebih tinggi ketimbang target pemerintah yakni 7,2% dan bahkan ramalan BI yakni 7,7%-8,1%.


Ditambah lagi, inflasi Desember 2014 sempat melesat level 2,46% atau secara bulanan memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah.


Namun optimis penurunan kedua ini akan akan mampu menahan laju inflasi. Sebab, posisi harga premium kembali ke level sebelum subsidi dicabut.


Gejalanya seperti itu, ada penurunan. Kelihatannya bulan ini bagus. Harga turun, inflasi pasti turun.



Penurunan Harga BBM Bisa Menurunkan Inflasi

Wednesday, January 14, 2015

AS Kembali Menjadi Mesin Ekonomi Dunia

FINANCEROLL – Amerika Serikat kembali mengambil alih pimpinan ekonomo global setelah 15 tahun lamanya singgasana itu diduduki Cina dan Negara-negara berkembang.


Tahun 2015 ini diperkirakan AS akan menikmati pertumbuhan ekonomi sebesar 3.2 persen. Ini akan menjadi sebuah catatan penting sebagai kinerja terbaiknya sejak 2005. Membaiknya lapangan kerja AS mempercepat pertumbuhan angka konsumsi nasional.


Berbagai analisa yang diberikan oleh JPMorgan Chase & Co., Deutsche Bank AG dan BNP Paribas SA. menyebutkan bahwa hasil dari membaiknya kondisi tersebut akan membuat AS tidak lagi ketinggalan dengan pertumbuhan ekonomi global, sesuatu yang sebelumnya belum terlihat sejak 1999, berdasarkan data dari International Monetary Fund. Alhasil ini mengembalikan mahkota sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi global. Kondisi AS saat ini adalah yang terbaik sejak 1990an.


Data terkini menunjukkan AS bangkit kembali, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Jumat (09/01) bahwa jumlah pembayaran upah (payrolls) mengalami peningkatan sebesar 252 ribu selama bulan Desember 2014. Kenaikan ini sesuai dengan tingkat pengangguran AS yang mengalami penurunan ke 5.6 persen, pencapaian ini merupakan yang terbaik dengan angka pengangguran terendah sejak Juni 2008. Pertumbuhan lapangan kerja ini merupakan hasil dari kenaikan lapangan kerja di sektor-sektor pabrikan, layanan kesehatan, dan jasa. Sekitar 3 juta lebih rakyat AS menemukan pekerjaan di 2014, angka ini merupakan yang paling besar sepanjang 15 tahun terakhir ini. Dengan membaiknya lapangan kerja ini, optimis akan meningkatkan derajat permintaan AS disaat kondisi pasar global masih lesu.


AS berhasil memisahkan diri dari sebagian negara didunia yang masih berjibaku dengan krisis keuangan. Keberhasilan mereka dalam mengendalikan ledakan hutang membuat AS keluar dari jeratan resesi yang paling buruk sejak era Great Depression. Jumlah penghutang yang terlambat memenuhi pembayarannya mengalami penurunan hingga sebesar 1,51 persen di kuartal ketiga 2014. Angka ini jauh dibawah rata-rata dalam 15 tahun terakhir ini sebesar 2.3 persen, termasuk hutang kartu kredit dan pinjaman properti dan kendaraan bermotor. Rumah tangga AS memang mendapatkan manfaat dengan penguatan lapangan kerja saat ini, ditambah dengan jatuhnya harga minyak mentah membuat pendapatan mereka lebih baik. Dari AAA dilaporkan bahwa harga gasoline dinegeri itu mencapai harga termurahnya sejak Mei 2009 pada harga $2.13 per Galon pada 11 Januri kemarin.


Upah perjam memang masih menurun sebesar 0.2 persen dibulan lalu, menahan laju kenaikan upah di AS. Meski demikian, hanya masalah waktu saja sebelum tingkat upah melaju naik. Kenaikan upah akan berimbas pada potensi kenaikan tingkat belanja rumah tangga. Masyarakat AS dikenal sebagai masyarakat konsumtif, dengan kecenderungan membeli kendaraan baru, perlengkapan rumah tangga, pakaian dan lain-lain. Tingkat belanja mereka di bulan November 2014 mencapai 0,6 persen  atau meningkat dua kali lipat dari bulan Oktober, ungkap Departemen Perdagangan AS di Washington. Penjualan kendaraan ringan saja sepanjang tahun 2014 mampu terjual 16.5 juta, ini merupakan yang paling besar sejak 2006.


Perekonomian AS mampu menutup perjalanan akhir 2014 ini dengan manis. Penguatan yang terjadi akan berdampak terhadap industri otomotif, yang diharapkan mampu membukukan kenaikan secara beruntun dalam enam tahun ini pada 2015 dimana diperkirakan penjualan tahun ini bisa mencapai 17 juta unit.


Pada 2013, tingkat konsumsi masyarakat AS mencapai $11.5 trilyun, angka ini lebih besar daripada PDB negara lain di tahun ini, termasuk dengan Cina sendiri, ungkap IMF di Washington. Data ini tidak hanya menunjukkan perbedaan yang menyolok diantara negara, yang disebut purchasing power parity – dimana sering terkait dengan laju inflasi suatu negara pula. Tahun ini, PDB AS diperkirakan akan tumbuh 3.7 persen, naik dari tahun lalu yang mencapai 2.5 persen. AS akan memberikan kontribusi hampir 18 persen pada pertumbuhan ekonomi global yang diperkirakan tahun ini hanya akan tumbuh 3.6 percen. Kontribusi AS masih yang tertinggi dibandingkan negara-negara maju lainnya yang berkontribusi rata-raat sekitar 11 persen, sebagaimana laporan IMF pada 9 Januari kemarin.


Ditengah penguatan yang terjadi di AS, negara-negara berkembang BRIC — Brazil, RussiaIndia dan Cina mendapati masa-masa yang sulit . Dalam 15 tahun terakhir, mereka sebelumnya menjadi pusat perhatian investor dunia. Peringkat kredit Brazil untuk pertama kalinya diturunkan dalam satu dekade ini, sementara Rusia sendiri tengah menghadapi resesi. Perekonomian negeri Beruang merah tersebut rentan dengan jatuhnya harga minyak dan sanksi yang dijatuhkan Eropa. Dua negara asia, India dan Cina mendapat perlambatan dalam pertumbuhan ekonomi mereka. Nampaknya peran negara-negara berkembang sebagai mesin penggerak pertumbuhan ekonomi global telah usai. Brazil dan Rusia adalah dua negara BRIC yang paling diujung tanduk saat ini, kegagalan mereka dalam menangani krisis keuangannya bisa menjadikan mereka kehilangan mahkota sebagai negara berkembang. Meski demikin, selamban-lambannya pertumbuhan ekonomi Cina, tetap saja kontribusi mereka ke perekonomian dunia masih lebih baik daripada AS dilihat dari hasil berdasarkan purchasing power parity.


AS memang selangkah didepan diantara negara-negara maju lainnya, ungkap Paul Mortimer-Lee, kapala ekonom BNP Paribas di New York. Presiden ECB Mario Draghi dan para koleganya masih dengan kebijakan pembelian kembali aset mereka untuk menghindari deflasi. Langkah ini sebelumnya manjur dilakukan oleh AS pada 2009. Sementara kebijakan anggaran AS juga dianggap lebih efektif dari kawasan Euro, tambah Mortimer-Lee.


Eropa sendiri disarankan Even Alberto Alesina, seorang profesor dari Harvard University agar melakukan pemangkasan pajak secara agresif untuk meningkatkan keuangan mereka. Sebaliknya, Jepang sendiri nampaknya memilih perekonomiannya kembali sebagaimana saat resesi dengan menaikkan pajak konsumsi hingga sebesar 8 persen dari sebelumnya yang hanya 5 persen pada 1 April 2014. (Lukman Hqeem | @hqeem | 2AC9FBE6)



AS Kembali Menjadi Mesin Ekonomi Dunia

Monday, January 5, 2015

Inflasi Tahunan Diatas Ekspektasi Membuat Pengetatan Moneter di 2015

Financeroll – Inflasi tahunan terakselerasi ke level di atas ekspektasi, menguatkan spekulasi kelanjutan pengetatan moneter oleh Bank Indonesia tahun ini kendati harga bahan bakar minyak berpeluang terus menurun.


Badan Pusat Statistik mengumumkan inflasi sepanjang 2014 mencapai 8,36%, di atas estimasi ekonom dan otoritas. Proyeksi berdasarkan polling Reuters memprediksi inflasi tahun lalu 7,92%. Bank Indonesia mengestimasi 8,1%-8,2%.


Selain karena penaikan harga BBM subsidi pada November, inflasi juga digerakkan oleh melejitnya beras dan cabai merah. Ketiganya memberi andil masing-masing 0,52%, 0,17%, dan 0,16%, terhadap inflasi Desember yang 2,46%.


Musim hujan yang mengganggu panen, infrastruktur yang buruk, ditambah bencana yang mengganggu distribusi, membuat pasokan kedua komoditas pangan itu tersendat, yang akhirnya melambungkan harga.


Meskipun lebih tinggi dari ekspektasi, peneliti dari Barclays Wai Ho Leong melihat akselerasi inflasi hanyalah lesatan sementara, apalagi pemerintah baru saja beralih ke rezim subsidi tetap yang berimplikasi pada fleksibilitas harga BBM mengikuti harga minyak dunia. Sementara saat ini, harga minyak dunia sedang turun.


Namun, Wai melihat Bank Indonesia tetap akan melanjutkan bias kebijakan ketat untuk menjaga ekspektasi inflasi terjangkar dengan baik.


Dengan memperkirakan BI akan menaikkan lebih lanjut BI rate 25 basis poin pada kuartal III/2015, membuat suku bunga akhir tahun menjadi 8%.



Inflasi Tahunan Diatas Ekspektasi Membuat Pengetatan Moneter di 2015

Sunday, January 4, 2015

Inflasi Jatuhkan Indeks Kepercayaan Konsumen Indonesia

Financeroll – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada November, berimbas pada kepercayaan konsumen di bulan berikutnya. Indeks Kepercayaan Konsumen pada Desember merosot ke level 92,3, atau turun 7,5% dari posisi bulan sebelumnya.


Menurut survei terakhir, sekitar 83,5% konsumen merasa khawatir terhadap kenaikan harga bahan pangan, naik dari 73,0% pada bulan November. Selain itu, proporsi konsumen yang merasa khawatir terhadap tingginya harga BBM juga meningkat menjadi 53,0% pada bulan Desember dari 14,7%.


Danareksa Research Institute yang menggelar survei ini menilai, penurunan indeks kepercayaan konsumen terhitung wajar. Berdasarkan data historikal, IKK akan cenderung menguat dalam waktu 1-2 bulan setelah kenaikan harga BBM.


Salah satu komponen penyusun IKK yaitu Indeks Situasi Sekarang turun 12,6% di bulan Desember menjadi 72,1. Sedangkan penurunan komponen lainnya, Indeks Ekspektasi lebih ringan yaitu 4,7% menjadi 107,4. “Penurunan indeks ekspektasi menunjukkan, masyarakat merasa kurang optimis terhadap prospek ekonomi secara keseluruhan dalam enam bulan mendatang,” tulis survei DRI yang dirilis hari ini, Senin (5/1).


Pada survei terakhir, konsumen memang merasa yakin bahwa tekanan inflasi akan meningkat dalam enam bulan mendatang. Bukan hanya dipicu kenaikan harga pada liburan akhir tahun, periode Desember-Januari merupakan musim paceklik, saat mana panen sedikit sehingga harga kebutuhan pokok cenderung meningkat.


Sementara itu, kepercayaan konsumen terhadap kemampuan pemerintah melaksanakan tugas-tugasnya melemah pada bulan bulan Desember, setelah naik pada November. Penurunan terbesar terjadi pada komponen yang menunjukkan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas harga.



Inflasi Jatuhkan Indeks Kepercayaan Konsumen Indonesia

Emas Terombang Ambing Sikap ECB, Eropa Butuh Reformasi Struktural

Pada Senin pagi (05/01) di bursa Singapura, emas batangan diperdagangkan pada harga $1,190.94 per ons atau menguat tipis dari akhir perdagangan minggu lalu di harga $1,188.39.


Harga emas diperdagangkan terombang-ambing diawal minggu ini, beriringan dengan kebijakan bank sentral Eropa dan kondisi ekonomi AS yang mengalami divergensi ditengah prospek kenaikan suku bunga The Fed. Kebijakan lanjutan Eropa untuk melakukan pembelian aset sendiri juga mengundang penguatan Dolar AS yang berdampak negatif bagi daya pikat Emas.


Harga Emas di tahun 2014 berakhir turun, seiring dengan penguatan Dolar AS yang terdorong oleh keputusan The Fed untuk mengakhiri kebijakan stimulus pada Oktober kemarin. The Fed juga akan mulai menaikkan suku bunganya di 2015 ini. Indek Dolar AS Bloomberg menunjukkan penguatan yang signifikan sejak 2005. Sebaliknya Euro makin terpukul dan berada pada posisi terlemah sejak Maret 2006. Presiden European Central Bank (ECB), Mario Draghi menyatakan pada minggu lalu bahwa dia tidak bisa mengesampingkan potensi deflasi yang ada, oleh sebab itu prospek kebijakan pembelian obligasi Eropa kembali dalam jumlah besar semakin terbuka.


Kebijakan ECB tersebut membuat Dolar AS semakin perkasa. Dalam perdagangan berjangka, untuk kontrak pengiriman emas dibulan Februari berakhir diharga $1,187.30 per ons di lantai bursa Comex, dari minggu lalu di harga $1,186.20.


Mario Draghi memang belum memberikan sinyal yang cukup kuat kapan akan mulai melakukan pembelian dalam skala besar-besaran atas aset-aset Eropa meski sudah menyatakan tidak bisa mengesampingkan potensi deflasi yang ada.


Langkah ECB yang demikian ini mendapat kecaman, setidaknya dari para eksekutif yang menilai hal itu akan menimbulkan ancaman bagi stabilitas keuangan di kawasan Euro, dapat mengurangi insentif bagi berbagai pemerintahan untuk melakukan restrukturisasi perekonomian dan diaggap sebagai cara yang melawan hukum.


Draghi berdalih bahwa resiko tersebut memang tidak bisa dihilangkan bergitu saja, namun setidaknya bisa dibatasi. Setidaknya kita akan menghadapai resiko turunnya harga dan jatuhnya upah serta menurunnya konsumsi sebagai efek lanjutan.


Jens Weidman, Presiden Bundesbank beralasan bahwa berbagai langkah tersebut tidak bisa menjamin dengan jatuhnya harga minyak akan menghadirkan kebijakan stimulus, sementara yang lain mengingatkan bahwa jatuhnya harga minyak mentah akan menyeret deflasi pada zona euro. Indikasi ini bisa terlihat dari data prakiraan yang disajikan oleh Bloomberg survey dimana menunjukkan harga konsumen di zona Euro akan mengalami penurunan sebesat 0.1 persen di bulan Desember dari tahun alu, ini merupakan penurunan yang pertama kali sejak 2009.


Para pengambil kebijakan tradisional yang cenderung “hawkish”, yang menginginkan berbagai instrumen kebijakan moneter tetap berpegang teguh pada standar yang ada dengan mengacu pada krisis keuangan yang terjadi 80 tahun silam telah membuktikan salah dan kini mengulang kesalahannya kembali, ungkap Holger Schmieding, kepala ekonom Berenberg Bank di London. “Alih-alih bisa menangani inflasi dan moral hazard atas hasil yang ditakutkan apabila kebijakan-kebijakan tidak dijalankan sesuai dengan standar yang ada, Zona Euro justru semakin mendekati kearah deflasi”.


Euro sendiri terperosok ke posisi terlemahnya dalam empat tahun terakhir ini setelah sejumlah investor bertaruh bahwa QE Eropa akan dijalankan will secepat mungkin di kuartal ini. Euro anjlok 0.6 persen ke $1.2034. Para 25 anggota Dewan Pemerintahan Eropa akan mengevaluasi paket kebijakan WE dalam pertemuan moneter yang akan datang, 22 Januari nanti. Peristiwa ini akan menjadi satu hal yang penting untuk menilai reaksi Eropa dalam menyikapi periode inflasi rendah yang panjang ini. Pertemuan sela akan dilakukan pada 7 Januari lusa bertepatan dengan pengumuman tingkat inflasi Eropa.


Resiko yang belum terjadi berkenaan dengan mandat ECB untuk menjaga stabilitas harga lebih besar saat ini dibandingkan enam bulan yang lalu, ungkap Draghi. Sulit dikatakan berapa jumlah angaran yang akan dikeluarkan untuk membeli obligasi pemerintah, tambahnya.


Sejatinya pertempuran masalah QE ini mengemuka diberbagai media di Jerman. Peter Praet, ekonom ECB menyampaikan pada Boersen-Zeitung pada pekan ini bahwa para pejabat tidak bisa melihat jatuhnya harga minyak sebagai efek putaran kedua menjadi “lebih tinggi dari biasanya”. Sementara Wakil Presiden Vitor Constancio menyatakan pada WirtschaftsWoche bulan lalu bahwa ECB ingin menjaga berbagai bahaya yang muncul dengan sebagai efek jatuhnya tingkat upah, konsumsi, permintaan dan keuntungan sebagai efek spiral. Weidmann sendiri sebelumnya juga sudah menyatakan bahwa ECB semestinya tidak menarik busur atas tekanan pasar untuk memulai langkah pembelian Obligasi kembali.


Dalam pertemuan di awal bulan Desember sebelumnya, Draghi menyatakan kepercayaan dirinya bahwa kebijakan stimulus dapat di buat aman dengan kesepakatan yang ada didalam Dewan Pemerintahan Eropa,  meski hal itu juga tidak perlu disetujui semua anggotanya. Klaas Knot salah satu anggota Dewan Pemerintah menyatakan bahwa hanya satu hal yang menjadi perhatian, yaitu bagaimana membagi resiko atas aksi beli kembali obligasi tersebut.


Gubernur Bank Sentral Jerman menyatakan bahwa selama Eropa tidak memiliki niat politis untuk berbagi resiko diantara anggota zona Euro, maka bukan masalah bagi kita untuk mengambil sejumlah keputusan sendiri lewat jalan belakang.


Draghi mengambarkan pertumbuhan zona Euro saat ini akan sangat lemah hingga pemerintah di Eropa melakukan tekanan untuk reformasi. Sejumlah struktur penting pwerlu direformasi, seperti pasar tenaga kerja agar lebih lentur, birokrsi yang lebih sederhana dengan pajak yang lebih rendah. Dragi menegaskan bahwa jelas sudah kebijakan moneter kita tidak akan efektif jika pemerintah tidak melaksanakan sejumlah reformasi struktural. (Lukman Hqeem | @hqeem)



Emas Terombang Ambing Sikap ECB, Eropa Butuh Reformasi Struktural

Friday, January 2, 2015

Inflasi Tahunan Desember Mencapai 8,36%

Financeroll – Badan Pusat Statistik mencatat tingkat inflasi secara year-on-year Desember 2014 terhadap Desember 2013 menyentuh 8,36%.


Berdasarkan data publikasi Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok pengeluaran yang dominan memberikan andil atau sumbangan inflasi adalah kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan yakni 1,06%, disusul oleh kelompok bahan makanan yang berkontribusi 0,64% terhadap inflasi.


Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga antara lain bensin, tarif angkutan dalam kota, beras, cabai merah, tarif listrik, cabai rawit, tarif angkutan udara, dan emas perhiasan.


Pergerakan inflasi bulanan (2014)


























Desember2,46%
November1,5%
Oktober0,47%
September0,27%
Agustus0,47%
Juli0,93%
Juni0,43%
Mei0,16%
April-0,02%
Maret0,08%
Februari0,26%
Januari1,07%

 


Pergerakan inflasi bulanan (2013)
















Desember0,55%
November0,12%
Oktober0,09%
September-0,35%
Agustus1,12%
Juli3,29%
Juni1,03%

Inflasi Tahunan Desember Mencapai 8,36%

Inflasi Desember 2014 Sebesar 2,46%

Financeroll – Badan Pusat Statistik mencatat inflasi pada Desember 2014 sebesar 2,46% dan laju inflasi tahun kalendernya atau periode Januari-Desember 2014 8,36%.


Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan November 2014, dimana terjadi inflasi sebesar 1,5% . Adapun pada Desember 2013 tercatat Indonesia mengalami inflasi 0,55%.


Dari 82 kota IHK, tercatat seluruhnya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Merauke yakni 4,53% dan terendah terjadi di Meulaboh yakni 1,17%.


Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks seluruh kelompok pengeluaran.


Rinciannya antara lain, kelompok bahan makanan naik 3,22%, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 1,96%, serta kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 1,45%.


Selanjutnya, kelompok sandang naik 0,64%, kelompok kesehatan 0,74%, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga 0,36%, serta transport, komunikasi, dan jasa keuangan 5,55%.



Inflasi Desember 2014 Sebesar 2,46%

Thursday, January 1, 2015

Bank Indonesia Prediksi Inflasi Desember 8,2 Hingga 8,4%

Financeroll – Bank Indonesia (BI) memprediksikan tingkat inflasi pada Desember 2014 sebesar 8,2%-8,4% atau di atas prediksi sebelumnya sebesar 8,1%-8,3%, didorong oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).


Agus Martowardojo, Gubernur BI, mengatakan kenaikan harga BBM pada 17 November 2014 lalu menyumbang 0,61%-0,65% terhadap inflasi bulanan Desember 2014 sebesar 2,2%-2,4% (mtm).


Ada juga komoditi-komoditi yang walaupun bobotnya kecil, tapi kenaikanya berkontribusi besar terhadap inflasi.


Komoditas tersebut antara lain cabai yang mana kenaikan harganya cukup besar sehingga menyumbang inflasi sebesar 0,4%. Selain itu, kenaikan tarif angkutan dalam kota juga turut berkontribusi terhadap peningkatan inflasi.


Di sisi lain, BI juga menilai kebijakan pemerintah memberikan subsidi tetap untuk BBM akan lebih efektif dalam mengendalikan inflasi karena tidak terpengaruh fluktuasi harga minyak dunia.


Di Asean, rata-rata inflasi selalu terjaga di bawah 5% dalam sepuluh tahun terakhir sementara Indonesia ada saat kita (inflasi) 17%, ada saat 11%.



Bank Indonesia Prediksi Inflasi Desember 8,2 Hingga 8,4%

Tuesday, December 30, 2014

Inflasi Tahun Ini Diperkirakan Melampaui 8%

Financeroll – Inflasi tahun ini diperkirakan melampaui 8%, melebihi proyeksi pemerintah yang memperkirakan 7,3%-7,5% sejalan dengan kenaikan harga BBM subsidi.


Survei yang dilakukan Bank Indonesia hingga pekan ketiga Desember menunjukkan inflasi bulan itu bakal mencapai 2,1%-2,2%. Dengan demikian, inflasi tahunan (year on year) Desember bakal berkisar 8,1%-8,2% setelah melaju 6,23% bulan sebelumnya, atau berada pada batas atas proyeksi bank sentral 7,7%-8,1%.


Diperkirakan dampaknya besar di Desember karena (selain dampak kenaikan harga BBM), juga ada Natal dan Tahun Baru. Jadi, dengan melihat dampak itu lebih di administered price dan volatile food, dan ini yang perlu dikoordinasikan agar dapat tetap terkendali.


Gubernur BI Agus Martowardojo seusai rapat koordinasi membahas inflasi di kantor Kemenko Perekonomian mengatakan, Khusus dampak kenaikan harga BBM, andilnya berkisar 0,6%, sedangkan selebihnya berkaitan dengan harga pangan bergejolak.


Sementara itu, Menko Perekonomian Sofyan Djalil mengaku telah memerintahkan Kementerian Perdagangan berkoordinasi dengan Bulog untuk menggelar operasi pasar khusus (OPK) beras untuk meredam kenaikan harga pangan pokok itu belakangan ini. Operasi pasar akan memanfaatkan stok beras Bulog yang saat ini 1,7 juta ton. Langkah itu terutama difokuskan pada daerah-daerah yang dilanda banjir.


Kenaikan harga itu telah menambah beban masyarakat yang menjadi korban banjir.


Beberapa daerah yang mengalami banjir antara lain Kabupaten Bandung Barat, beberapa wilayah di DKI Jakarta, dan Aceh Utara.


Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, harga beras medium mulai bergerak ke kisaran Rp9.000 per kg pertengahan November. Awal Desember, harga komoditas itu masih berkisar Rp9.200 per kg, tetapi kemudian mencapai hampir Rp9.400 mendekati akhir bulan.


Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menegaskan tak ada rencana impor beras meskipun harga beras menanjak. Alasannya, stok beras Bulog masih cukup untuk enam bulan ke depan.


Kalau kondisi sulit, baru impor.



Inflasi Tahun Ini Diperkirakan Melampaui 8%

Sunday, December 21, 2014

Korea Menurunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi

Financeroll – Pemerintah Korea Selatan memangkas proyeksi pertumbuhan untuk tahun depan. Walaupun permintaan domestik dalam rally panjang menuju titik terlemah bagi negara – tapi pemerintah tetap yakin itu akan memberikan kontribusi lebih banyak untuk kegiatan ekonomi domestik.


Pada tahun 2015, proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto diturunkan menjadi 3,8% dari proyeksi Juli sebesar 4,0%, demikian disampaikan Kementerian Strategi dan Keuangan pada Senin ini dalam laporan prospek ekonomi dua tahunannya.


Perkiraan untuk pertumbuhan PDB tahun ini juga direvisi turun, menjadi 3,4% dari 3,7% sebelumnya. Ekonomi tumbuh 3% pada tahun 2013.


Kementerian mengatakan, ekspor Korea kemungkinan akan sedikit terbantu tahun depan oleh pemulihan ekonomi di AS dan India, sementara permintaan domestik dapat memperoleh manfaat dari harga minyak yang lebih rendah, mendukung belanja fiskal dan dukungan pemerintah untuk investasi bisnis tahun depan.


Namun, kelemahan ekonomi di Cina dan Eropa, serta diharapkan pengetatan kebijakan Federal Reserve AS, mungkin sedikit membebani pertumbuhan di Korea Selatan, katanya.


Kementerian itu mengatakan harga konsumen diperkirakan meningkat 2% pada tahun 2015, lebih lambat dari perkiraan Juli sebesar 2,3% namun lebih cepat dari perkiraan tingkat 1,3% tahun ini.


Tingkat inflasi yang direvisi untuk tahun depan mencerminkan dampak dari kenaikan pajak rokok yang direncanakan. Perkiraan inflasi masih tetap di bawah target band bank sentral sebesar 2,5% -3.5%.


Current account Korea Selatan yang surplus untuk tahun 2015 kemungkinan akan mengecil ke angka $ 82 Miliar dari tahun ini yang diperkirakan $ 89 miliar, kata kementerian itu.


Sebanyak 450.000 pekerjaan baru kemungkinan akan ditambahkan pada tahun 2015, kurang dari 530.000 pekerjaan yang diprediksi telah dibuat tahun ini, kata kementerian itu.



Korea Menurunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi

Tuesday, December 16, 2014

Inflasi Inggris Terendah Dalam 12 Tahun

Financeroll – Penurunan harga minyak turut menyeret inflasi Inggris ke level terendah dalam 12 tahun terakhir. Consumer Prices Index negeri itu turun ke 1% pada bulan November 2014 dari bulan sebelumnya 1,3%.


Kantor Statistik Nasional Inggris menyebut, penurunan harga bahan bakar menyebabkan biaya bepergian lewat darat dan udara turun. Harga bensin di Inggris turun 5,9% pada November 2014. Harga pangan pun turun 1,7% karena perang harga supermarket.


Angka inflasi menjelang akhir tahun ini jauh lebih rendah ketimbang beberapa bulan pertama tahun ini. Inflasi mencapai angka tertinggi 1,9% pada bulan Juni lalu. Padahal, bank sentral menargetkan inflasi sebesar 2%.


Ben Brettell, ekonom Hargreaves Lansdown menilai, meski inflasi jauh di bawah target, bank sentral tidak akan khawatir. “Ini melonggarkan tekanan bagi anggaran rumah tangga dan mendorong belanja konsumen,” kata Brettell kepada BBC



Inflasi Inggris Terendah Dalam 12 Tahun

Friday, November 28, 2014

Pertumbuhan Ekonomi Yunani Mulai Membaik

Financeroll – Ekonomi Yunani berkembang sedikit lebih cepat pada kuartal ketiga dari perkiraan sebelumnya, layanan statistik nasional mengatakan hari Jumat sembari membenarkan bahwa Yunani telah kembali ke pertumbuhan setelah enam tahun resesi.


Menurut data yang telah direvisi oleh Hellenic Statistik Otoritas, atau Elstat, produk domestik bruto di kuartal Juli-September naik 1,9% dari tahun sebelumnya. Elstat mengatakan, pertumbuhan ekonomi untuk kuartal ini adalah sebesar 1,7%.


Berdasarkan perhitungan musiman yang sudah disesuaikan Elstat, GDP naik 0,7% dari kuartal kedua, tidak berubah dari perkiraan sebelumnya.


Enam tahun resesi telah menyusutkan ekonomi Yunani sekitar 30% sejak puncaknya pada awal tahun 2008 dan mengakibatkan lebih dari seperempat tenaga kerja menganggur



Pertumbuhan Ekonomi Yunani Mulai Membaik

Thursday, November 27, 2014

Inflasi Jepang Turun Tantangan Bagi BoJ

Financeroll – Harga konsumen Jepang melambat untuk bulan ketiga secara tajam, Gubernur Bank of Japan Haruhiko Kuroda berusaha ektra ketat untuk mencadangkan inflasi lebih cepat.


Dilaporkan Biro Statistik hari ini, harga konsumen termasuk makanan segar mengalami kenaikan 2,9 persen di bulan Oktober dari tahun sebelumnya, harga minyak jatuh juga memicu inflasi yang menyebabkan ke dalam resesi di kuartal terakhir.


Kuroda mengatakan tidak ada batasan untuk langkah BOJ guna mencapai tujuan inflasi 2 persen setelah ia memimpin pada dibagi bulan lalu untuk meningkatkan stimulus. Dia mengatakan inflasi BOJ dapat jatuh di bawah 1 persen.


Sementara Yen jatuh 0,1 persen terhadap dolar ke 117.85 pada pukul 8:57 di Tokyo, dan hilang 7,2 persen sejak tanggal 30 Oktober. Penjualan ritel turun lebih dari Singapura pada bulan Oktober, jatuh 1,4 persen dari bulan sebelumnya. Pengeluaran rumah tangga menurun 4 persen dari tahun sebelumnya, semenetara tingkat pengangguran menurun sampai 3,5 persen.


Harga minyak mentah Dubai untuk patokan Timur Tengah ke Asia telah kehilangan sekitar sepertiga di tahun ini terhitung dari bulan Juni. Harga bensin Jepang juga anjlok menjadi 158.3 yen per liter di minggua lalu, seperti yang dilaporkan oleh Kementerian perdagangan.



Inflasi Jepang Turun Tantangan Bagi BoJ

Wednesday, November 19, 2014

Inflasi AS Terkendali, Harga Emas Dibawah $1,200

FINANCEROLL – Harga emas diperkirakan akan bergerak kembali dibawah $1,200 per ons setelah pejabat The Federal Reserve menyatakan mereka akan melihat sinyalemen penurunan ekspektasi publik atas laju inflasi AS.

Inflasi AS diperkirakan masih belum akan beranjak, sebagaimana diperkirakan sebagian investor. Sementara bursa saham AS mengalami kenaikan. Alhasil Harga emas makin menurun, bahkan tahun ini diperkirakan akan melanjutkan penurunan yang terjadi di tahun lalu. Salah satu pendorong keyakinan ini adalah membaiknya lapangan kerja AS yang membuat The Federal Reserve AS cukup percaya diri mengakhiri Kebijakan Kuantitatif (QE) jilid tiganya.

Efek melemahnya pertumbuhan ekonomi global nampaknya akan terbatasi di tanah AS. Hasil pertemuan bulan Oktober kemarin, yang diumumkanpada Rabu (19/11) menggaris bawahi alasan-alasan The Fed mengakhiri QE3 yang direspon menurun oleh harga emas.

Harga Emas bergerak turun hingga ke $1,182.62 per ons. Emas pada 7 November kemarin sempat ke harag terendah sejak April 2010, yaitu di harga $1,132.16 per ons.



Inflasi AS Terkendali, Harga Emas Dibawah $1,200

Monday, November 10, 2014

Penyesuaian Harga BBM Membuat Bank Indonesia Cermati Inflasi

Financeroll – Di tengah kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) menjelang akhir 2014, Bank Indonesia semakin serius mencermati risiko peningkatan inflasi.


Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs mengungkapkan bank sentral akan memperkuat koordinasi pengendalian inflasi dengan pemerintah, baik di tingkat pusat dan daerah.


Koordinasi perlu, untuk meminimalkan dampak lanjutan yang ditimbulkan serta mengelola ekspektasi inflasi.


Bank Indonesia menilai perkembangan inflasi hingga Oktober 2014 ini masih sejalan dengan pencapaian sasaran inflasi 4,5% plus minus 1% pada 2014 dan 4% plus minus 1% pada 2015.


Adapun inflasi indeks harga konsumen (IHK) secara bulanan (m-t-m) meningkat dari 0,27% pada September menjadi 0,47% pada Oktober 2014. Kenaikan inflasi IHK tersebut lebih disebabkan oleh kenaikan inflasi kelompok administered prices dan volatile foods dan inflasi inti tetap terkendali.


Sementara itu, laju inflasi secara tahunan IHK meningkat dari 4,53% pada September menjadi 4,83% pada Oktober 2014.


Kenaikan inflasi administered prices dan volatile foods masih terkendali dan sesuai dengan perkiraan BI. Meningkatnya tekanan inflasi administered prices didorong oleh kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) serta dampak lanjutan dari kenaikan harga LPG 12 kg pada bulan sebelumnya yang menyebabkan kenaikan yang cukup besar pada harga LPG 3 kg di beberapa daerah.



Penyesuaian Harga BBM Membuat Bank Indonesia Cermati Inflasi

Wednesday, November 5, 2014

BoJ: inflasi Bisa Turun di bawah 1 persen

Financeroll – Bank of Japan yang membahas prospek melemahnya inflasi yang berkaitan dengan penurunan harga minyak mentah dunia dan permintaan konsumen pada pertemuan pada bulan Oktober, seperti yang dirlis hari ini, Kamis (6/11).


Beberapa pembuat kebijakan Bank of Japan mengatakan, konsumen inflasi sementara bisa jatuh di bawah 1 persen karena penurunan harga energi.


Beberapa anggota juga menyatakan keprihatinan bahwa inflasi dapat memperlambat disebabkan kurangnya momen dalam pengeluaran konsumen. Dan sebagian besar anggota telah sepakat bahwa inflasi mungkin dapat membawa gap untuk peningkatan output.


Selain itu, para anggota juga sepakat bahwa penurunan dalam yen JPY merupakan arah positif bagi perekonomian.


Dalam pertemuan Oktober 6-7 ini, BOJ meninggalkan program kuantitatif tidak berubah setelah pajak penjualan meningkat pada bulan April.



BoJ: inflasi Bisa Turun di bawah 1 persen

Friday, October 31, 2014

Fed’s Williams: Bank Sentral Harus Waspadai Inflasi.

Financeroll – Pimpinan bank sentral AS cabang San Fransisco, John Williams, menyatakan di Pretoria Afrika Selatan, bahwa bank sentral harus memulai memonitor cukup waspada terhadap pertumbuhan ekonomi yang melaju di beberapa bulan terakhir ini namun kondisi harga atau inflasi yang tak beranjak untuk mendekati dari target bank sentral AS.


Williams yang berbicara di hadapan undangan bank sentral Afrika Selatan, South African Reserve Bank, bernada bahwa kondisi yang kinerja yang ekonomi makro yang kuat dan turunnya harapan terhadap kondisi harga ini, menjadi poin utama dari pihaknya bahwa harus mengambil tindakan yang tepat terhadap kebijakan moneter yang dapat dilakukan.


Williams juga masih memberikan gambaran bahwa kondisi keuangan global yang sedang krisis disertai dengan berakhirnya stimulus ekonomi di AS, tentunya tak akan menyurutkan langkah dari pihaknya bahwa di pertengahan 2015 suku bunganya dapat naik, dengan catatan bahwa pihaknya juga akan terus menangani atau mencegah level turunnya tingkat inflasi lebih lanjut.


Ungkapan dan keluh kesah Williams di Afrika Selatan ini juga tak membantu harga emas untuk membaik, dimana kisaran harga rendah di level $ 1163 masih terlihat.(@antoku27)



Fed’s Williams: Bank Sentral Harus Waspadai Inflasi.

Tuesday, October 28, 2014

BPS dan BI Perkirakan Inflasi Oktober Lebih Tinggi o,07%

Financeroll – Badan Pusat Statistik (BPS) dan BI memperkirakan inflasi Oktober tahun ini akan lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata 5 tahun terakhir sebesar 0,07%.


Hingga akhir minggu kedua Oktober inflasi masih berada di kisaran 0,4%. Jika inflasi berada di rentang itu, inflasi Oktober 2014 akan menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2008 yang ada di level 0,45%.


Deputi Kepala BPS mengatakan inflasi Oktober akan lebih banyak dipengaruhi oleh kenaikan harga cabai, tarif listrik dan sisa ikutan kenaikan elpiji 12 kilogram bulan sebelumnya.


Diprediksi demikian walaupun masih sangat tergantung pada perkembangan harga beberapa hari ke depan.


Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan faktor iklim menjadi tekanan utama inflasi. Selain karena kekeringan, kenaikan inflasi di wilayah Sumatra juga dipicu oleh ledakan Gunung Sinabung baru-baru ini. Peristiwa itu juga membuat pasokan bahan pangan terganggu.


Peranan bahan pangan, terutama beras, terhadap angka inflasi memang besar. Mengacu data BPS komoditi pangan adalah penyumbang terbesar. Data inflasi menurut kelompok pengeluaran sepanjang 2014 menunjukkan kelompok pangan mencatatkan inflasi terbesar, yakni mencapai 4,78%.


Sebelumnya, Kepala BPS menuturkan dampak kekeringan terhadap inflasi baru akan terasa awal tahun depan. Pasalnya gangguan musim pada penghujung tahun akan mengganggu panen dan volume pasokan pangan beberapa bulan sesudahnya.


Bulan lalu, inflasi tercatat pada level 0,27% lebih rendah dari perkiraan BI dan BPS yang berada pada rentang 0,3%-0,5%. Dengan demikian inflasi tahun berjalan hingga September 2014 ada di posisi 4,53%. Sepanjang 2014 BI menargetkan inflasi sebesar 4,5% (±1%) sementara pemerintah mematoknya pada 5,3%.



BPS dan BI Perkirakan Inflasi Oktober Lebih Tinggi o,07%