Showing posts with label Tarif Listrik. Show all posts
Showing posts with label Tarif Listrik. Show all posts

Monday, January 5, 2015

Penurunan Harga BBM Bersubsidi Meringankan Pengusaha

Financeroll – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyambut baik kebijakan pemerintah yang menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 Januari lalu.


Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani menilai penurunan harga BBM bisa menutup beban pengusaha dengan tarif listrik yang fluktuatif. Terlebih listrik adalah salah satu komponen utama di hampir seluruh sektor industri.


Penurunan harga BBM ini dampaknya sangat luas, tidak hanya pada transportasi tapi juga listrik.


Dalam kurun waktu lima tahun terakhir biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk kebutuhan listrik terus membengkak. Industri perhotelan misalnya, harus mengeluarkan 25% anggaran perusahaan untuk listrik.


Perhotelan biaya energi mencapai 25%, jadi memang sangat besar. Padahal lima tahun yang lalu hanya sekitar16%. Ini harus dikendalikan oleh pemerintah.


Ketua Himpunan Kawasan Industri Sanny Iskandar menilai penurunan harga BBM ini akan memudahkan pengusaha dalam merumuskan biaya pengeluaran di awal tahun.


Salah satu kebijakan yang dianggap sebagai langkah penyesuaian adalah penurunan harga BBM kemarin.



Penurunan Harga BBM Bersubsidi Meringankan Pengusaha

Tarif Listrik yang Fluaktif Memberatkan Pengusaha Menyusun Cost Planing

Financeroll – Pemberlakuan tarif listrik yang ditentukan berdasarkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, harga minyak mentah, serta tingkat inflasi, dituding akan menurunkan daya saing industri di Tanah Air.


Ketua Bidang Advokasi dan Pemberdayaan Daerah Asosiasi Pengusaha Indonesia Anthony Hilman mengatakan tarif listrik yang fluktuatif akan memberatkan pengusaha dalam menyusun cost planning atau perencanaan pembiayaan perusahaan.


Dengan tarif listrik yang fluktuatif itu, pengusaha akan memprediksi tingkat kenaikan biaya produksi maksimum dalam tiga bulan terakhir untuk menetapkan cost planning. Hal ini akan berpengaruh terhadap harga pokok produksi (HPP) sebuah barang.


Tentu yang dipatok itu pagu maksimum, itu mempengaruhi HPP. Ketika mempengaruhi HPP tentu menjadi beban masyarakat. Ini yang perlu dicermati pemerintah.


Ketidakpastian biaya produksi ini akan berdampak pada harga jual barang yang melambung tinggi, dan memperbesar peluang beredarnya produk asing yang lebih mampu memberikan pkepastian biaya produksi ke pasar dalam negeri.


Pengusaha tidak bisa mendikte pasar, karena produk kita penuh dengan persaingan terutama dengan produk impor itu. Tarif listrik seperti ini mempengaruhi daya saing, daya saing kita akan semakin terpuruk.



Tarif Listrik yang Fluaktif Memberatkan Pengusaha Menyusun Cost Planing

Monday, November 10, 2014

Inflasi Oktober Didorong Tarif Listrik dan Gas Elpiji

Financeroll – Kenaikan tarif listrik dan elpiji menjadi penyumbang terbesar inflasi Oktober yang mencapai 0,47%, laju tertinggi untuk periode yang sama sejak 2009.


Badan Pusat Statistik mencatat tarif listrik dan elpiji naik 4,42% dibandingkan bulan sebelumnya dan memberi andil 0,22% atau hampir separuh dari inflasi umum. Bobot kedua komoditas energi itu mencapai 5,05% dalam perhitungan inflasi.


Kepala BPS Suryamin mengungkapkan ini karena adanya kebijakan pemerintah sejak awal 2014 yang secara bertahap mengurangi subsidi listrik.


Pemerintah sejak 1 September menaikkan tarif listrik pada enam golongan pelanggan, yakni industri nonterbuka (I3), pelanggan rumah tangga dengan kapasitas daya 3.500-5500 va (R3), pemerintah dengan daya di atas 200 kva (P2), rumah tangga dengan daya 2.200 va (R1), penerangan Jalan Umum (P3), dan rumah tangga dengan daya 1.300 va (R1).


Pada bulan yang sama, Pertamina pun menaikkan harga elpiji 12 kg Rp1.500 per kg menjadi Rp7.569 per kg.


Inflasi Oktober juga didorong oleh kenaikan harga beberapa komoditas pangan akibat berkurangnya produksi seiring musim kemarau. Sementara itu, harga daging ayam ras dan telur ayam ras turun karena permintaan turun setelah Lebaran, sedangkan pasokan meningkat.


Berikut ini komoditas pendorong dan penghambat inflasi:


























KomoditasAndil (%)Perubahan Harga (%)
tarif listrik dan bahan bakar rumah tangga0,224,42
cabai merah0,1840,52
tarif angkutan udara0,033,4
beras0,030,78
cabai rawit0,0213,45
daging ayam ras-0,13-9,65
telur ayam ras-0,02-2,9

Inflasi Oktober Didorong Tarif Listrik dan Gas Elpiji

Tuesday, October 28, 2014

BPS dan BI Perkirakan Inflasi Oktober Lebih Tinggi o,07%

Financeroll – Badan Pusat Statistik (BPS) dan BI memperkirakan inflasi Oktober tahun ini akan lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata 5 tahun terakhir sebesar 0,07%.


Hingga akhir minggu kedua Oktober inflasi masih berada di kisaran 0,4%. Jika inflasi berada di rentang itu, inflasi Oktober 2014 akan menjadi yang tertinggi sejak Oktober 2008 yang ada di level 0,45%.


Deputi Kepala BPS mengatakan inflasi Oktober akan lebih banyak dipengaruhi oleh kenaikan harga cabai, tarif listrik dan sisa ikutan kenaikan elpiji 12 kilogram bulan sebelumnya.


Diprediksi demikian walaupun masih sangat tergantung pada perkembangan harga beberapa hari ke depan.


Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan faktor iklim menjadi tekanan utama inflasi. Selain karena kekeringan, kenaikan inflasi di wilayah Sumatra juga dipicu oleh ledakan Gunung Sinabung baru-baru ini. Peristiwa itu juga membuat pasokan bahan pangan terganggu.


Peranan bahan pangan, terutama beras, terhadap angka inflasi memang besar. Mengacu data BPS komoditi pangan adalah penyumbang terbesar. Data inflasi menurut kelompok pengeluaran sepanjang 2014 menunjukkan kelompok pangan mencatatkan inflasi terbesar, yakni mencapai 4,78%.


Sebelumnya, Kepala BPS menuturkan dampak kekeringan terhadap inflasi baru akan terasa awal tahun depan. Pasalnya gangguan musim pada penghujung tahun akan mengganggu panen dan volume pasokan pangan beberapa bulan sesudahnya.


Bulan lalu, inflasi tercatat pada level 0,27% lebih rendah dari perkiraan BI dan BPS yang berada pada rentang 0,3%-0,5%. Dengan demikian inflasi tahun berjalan hingga September 2014 ada di posisi 4,53%. Sepanjang 2014 BI menargetkan inflasi sebesar 4,5% (±1%) sementara pemerintah mematoknya pada 5,3%.



BPS dan BI Perkirakan Inflasi Oktober Lebih Tinggi o,07%