Showing posts with label Industri. Show all posts
Showing posts with label Industri. Show all posts

Tuesday, January 6, 2015

Posisi daya Saing Produk Industri Indonesia di Asean Minim

Financeroll – Posisi daya saing produk industri Indonesia terhadap negara-negara Asean minim, menunjukkan hanya puluhan yang kuat.


Produk-produk tersebut masuk di dalam kuadran satu yang khusus memuat barang hasil industri berdaya saing kuat.


Dirjen Kerja sama Industri Internasional Kemenperin Agus Tjahajana, mengatakan jika kuat itu karena nilai revealed comparative advantage positif dan rata-rata pertumbuhan barang itu juga positif.


Adapun nomor-nomor HS produk industri yang tergolong berdaya saing kuat berasal dari sekitar 6.000 – 7.000 HS yang diperjual belikan dengan negara Asean.


Sementara total barang yang perjual belikan Indonesia melebihi 10.000 nomor HS atau pos tarif secara global.


Saat ini di kuadran satu, imbuh Agus, Indonesia berdaya saing kuat untuk 14 kode HS produk industri yang diperjual belikan dengan Brunei.


Sementara terhadap Kamboja kuat untuk 20 nomor HS, Myanmar lima, dan terhadap Laos ada tujuh.


Selain itu terdapat 65 nomor HS produk industri RI dijual ke Vietnam yang berdaya saing kuat.


Adapun terhadap Filipina ada 41 nomor HS, Thailand 23 nomor HS, Malaysia 29 nomor HS, dan Singapura 27 nomor HS.



Posisi daya Saing Produk Industri Indonesia di Asean Minim

Monday, January 5, 2015

Tingginya Upah Minimum Akibatkan Investor Pergi Dari Indonesia

Financeroll – Tingginya upah minimum di beberapa kawasan industri mengakibatkan sejumlah investor mulai angkat kaki dari Indonesia.


Seperti investor industri padat karya asal Korea Selatan, menilai relokasi pabrik adalah konsekuensi paling masuk akal bagi pengusaha.


Perusahaan di Bogor yang bagus padat karyanya. Tapi karena tidak didukung, akhirnya pindah ke luar negeri dan Jawa Tengah.


Pemerintah daerah memiliki peran vital dalam industri padat karya. Investor butuh jaminan dari pemerintah daerah agar industri yang dijalankan bisa berjalan kondusif dan menyerap banyak tenaga kerja.


Bagaimana mau investasi ke Indonesia kalau pemerintah daerahnya seperti ini. Apa investor bisa percaya, saat ini akan bertahan sampai 2015 di Indonesia. Kalau untuk 2016 sepertinya sudah tidak bisa.


Ketua Apindo Hariyadi Sukamdani menambahkan, sejumlah pengusaha juga telah melakukan relokasi pabrik di kawasan lain yang menetapkan upah minimum lebih rendah seperti di Jawa Tengah atau bahkan di luar negeri.


Negara lain seperti Vietnam dan Myanmar diincar oleh pengusaha Tanah Air karena tenaga kerja di sana lebih memiliki produktivitas dengan memberlakukan 48 jam kerja selama seminggu, sementara Indonesia hanya menerapkan 40 jam kerja.


Data yang diterima sejumlah perusahaan Tangerang telah pindah ke Jawa Tengah. Selain Jawa Tengah, Vietnam dan Myanmar juga bagus. Selain pekerjanya produktif, pemerintah di negara itu juga menjamin kelancaran bahan baku dan energi, dan itu lebih murah.



Tingginya Upah Minimum Akibatkan Investor Pergi Dari Indonesia

Tarif Listrik yang Fluaktif Memberatkan Pengusaha Menyusun Cost Planing

Financeroll – Pemberlakuan tarif listrik yang ditentukan berdasarkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, harga minyak mentah, serta tingkat inflasi, dituding akan menurunkan daya saing industri di Tanah Air.


Ketua Bidang Advokasi dan Pemberdayaan Daerah Asosiasi Pengusaha Indonesia Anthony Hilman mengatakan tarif listrik yang fluktuatif akan memberatkan pengusaha dalam menyusun cost planning atau perencanaan pembiayaan perusahaan.


Dengan tarif listrik yang fluktuatif itu, pengusaha akan memprediksi tingkat kenaikan biaya produksi maksimum dalam tiga bulan terakhir untuk menetapkan cost planning. Hal ini akan berpengaruh terhadap harga pokok produksi (HPP) sebuah barang.


Tentu yang dipatok itu pagu maksimum, itu mempengaruhi HPP. Ketika mempengaruhi HPP tentu menjadi beban masyarakat. Ini yang perlu dicermati pemerintah.


Ketidakpastian biaya produksi ini akan berdampak pada harga jual barang yang melambung tinggi, dan memperbesar peluang beredarnya produk asing yang lebih mampu memberikan pkepastian biaya produksi ke pasar dalam negeri.


Pengusaha tidak bisa mendikte pasar, karena produk kita penuh dengan persaingan terutama dengan produk impor itu. Tarif listrik seperti ini mempengaruhi daya saing, daya saing kita akan semakin terpuruk.



Tarif Listrik yang Fluaktif Memberatkan Pengusaha Menyusun Cost Planing

Friday, December 12, 2014

Hadapi MEA 2015, Kota Tangerang Mulai Berbenah

Financeroll – Untuk menghadapi masyarakat ekonomi Asean (MEA) yang mulai berlaku pada 2015, Pemerintah Kota Tangerang mulai berbenah, salah satunya di bidang sumber daya manusia.

Walikota Kota Tangerang Arief R Wismansyah mengatakan salah satu langkah yang dilakukan Pemkot Tangerang adalah mendirikan balai latihan kerja (BLK) di setiap kecamatan.


Akan mengadakan BLK setiap kecamatan untuk mempersiapkan SDM berkualitas. Dan tidak mau cuma menonton saja investasi di Tangerang, tapi ingin juga menjadi pelakunya.


Selain menyiapkan SDM, Pemkot Tangerang juga menyiapkan diri dari segi infrastuktur transportasi. Bandara Soekarno-Hatta akan diperluas sebesar 10% atau seluas 830 hektar untuk penambahan landasan pacu dan terminal logistik.


Juga akan punya busway terintegrasi dan kereta api ekspress ke bandara yang sekarang sedang dalam tahap akhir pembebasan lahan. Tahun depan juga akan lelang light rail transit.


Selain itu, Kota Tangerang merupakan satu-satunya kota di sekitar Jakarta yang memiliki enam ruas jalan tol.


Inginnya masyarakat dan stakeholders Kota Tangerang ikut berpartisipasi dalam MEA. Tidak hanya menjadi penonton.



Hadapi MEA 2015, Kota Tangerang Mulai Berbenah

Friday, December 5, 2014

XL Axiata Beri Kesempatan Mahasiswa Menjadi CEO

Financeroll – Operator telekomunikasi seluler PT XL Axiata Tbk (EXCL) berhasil menyaring empat mahasiswa terbaik untuk mendapatkan pengalaman berharga sebagai Chief Executive Officer (CEO), Chief Service Management Officer (CSMO), Chief Digital Service Officer (CDSO) dan Chief Commerce Officer (CCO).


Keempat mahasiswa terpilih yakni Anthony Soehartono (Institute of Business Management), Hasnan Chatim (Institut Teknologi Bandung), Akhsani Indra Waskita (Universitas Gadjah Mada) dan Claristy (Universitas Indonesia), telah menjalani peran sebagai Direksi XL sejak tanggal 23-28 November 2014.


Presiden Direktur XL Axiata Hasnul Suhaimi menyatakan sesungguhnya banyak potensi yang dimiliki generasi muda untuk menjadi calon pemimpin masa depan. Mereka hanya butuh diinspirasi dan diberi kesempatan. Semua orang bisa jadi pemimpin.


Lewat program bertajuk CEO/BOD Challenge, perseroan ingin mengasah kemampuan dan keberanian mereka untuk berpikir dan merasakan pengalaman bekerja menjadi pemimpin. Sehingga ke depan dapat menumbuhkan sifat-sifat kepemimpinan mereka.


Digelar awal Mei lalu, CEO Challenge mendapatkan antusiasme luar biasa. Sekitar 2,000 mahasiswa mendaftar untuk mengikuti kompetisi dengan beberapa proses seleksi yang meliputi seleksi administrasi, orisinalitas karya tulis dan video. Akhirnya terpilih empat pemenang.



XL Axiata Beri Kesempatan Mahasiswa Menjadi CEO

Thursday, December 4, 2014

Pelaku Usaha Mikro Diimbau Harus Siap Hadapi MEA 2015

Financeroll – Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah di Sumsel diimbau untuk siap menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean yang akan dimulai pada 2015.


Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII Palembang Syarifuddin Bassara mengatakan UMKM Sumsel harus bisa bersaing di pasar bebas Asean nanti.


Harus siap karena sebentar lagi akan dimulai dan percaya UMKM Sumsel bisa menghadapi tantangan tersebut.


UMKM merupakan industri kecil yang tahan banting. Hal tersebut terbukti saat Indonesia menghadapi krisis moneter 1998 lalu di mana usaha itu mampu bertahan di tengah krisis.


Salah satu kunci untuk menghadapi era MEA adalah memperkuat permodalan melalui bantuan perbankan.


Pelaku UMKM harus berani menghadapi kredit komersial, bank juga selama ini memandang UMKM adalah pasar yang strategis untuk pembiayaan.



Pelaku Usaha Mikro Diimbau Harus Siap Hadapi MEA 2015

Tuesday, October 14, 2014

Krisis geopolitik, Jerman Pangkas Proyeksi Pertumbuhan

Financeroll – Krisis geopolitik dan pelemahan ekonomi global membuat pemerintah Jerman memangkas proyeksi pertumbuhan untuk tahun ini dan tahun depan.


Pemerintahan Jerman memangkas proyeksi pertumbuhan pada hari ini, Selasa (14/10) menjadi 1,2% dari proyeksi sebelumnya 1,8%. Sedangkan di tahun 2015, proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi 1,3% dari sebelumnya 2%.


“Ekonomi Jerman tengah berada di tengah gelombang akibat melemahnya perdagangan luar negeri,” ujar Sigmar Gabriel, Menteri Ekonomi dan Energi.


Namun demikian, kekuatan ekonomi domestik tetap utuh dengan pasar tenaga kerja kuat dapat membentuk fondasi.


“Setelah meningkatkan lingkungan internasional, daya saing perusahaan Jerman akan menghasilkan kembali ke jalur pertumbuhan yang solid di tahun depan,” sambung Gabriel bersikeras.



Krisis geopolitik, Jerman Pangkas Proyeksi Pertumbuhan